goldeneunoia

Bel pintu apartemen Lucas berbunyi, sang pemilik unit yang sedang asyik bermain game PC di kamarnya dengan langkah malas membukakan pintu untuk sang tamu.

“Sheila?”

Sheila hanya tersenyum di depan pintu unit Lucas. “Lo lupa ya, kan gue bilang mau ke apart lo.”

“Bukannya lo mau kabarin gue dulu?” tanya Lucas dengan rambutnya yang setengah acak-acakan. Ia juga hanya memakai kaus tanpa lengan dan celana pendek di atas lutut berwarna hitam.

Surprise!” ucap Sheila bersemangat lalu ia tersenyum memamerkan deretan gigi putih rapihnya.

“Masuk deh.” Lucas mempersilahkan Sheila untuk masuk ke dalam unitnya terlebih dahulu.

“Gue bingung mau bawain lo makanan apa, tapi gue tau lo suka pasta so …” Sheila mengangkat kantong belanjaan miliknya, “kita masak-masak bareng gimana?”

Lucas hanya mengangguk. “Yaudah, bentar gue matiin PC gue dulu,” pamitnya sambil berjalan masuk ke dalam kamar, sementara Sheila mulai menyiapkan berbagai bahan yang ia bawa untuk dimasak.

Selama kurang lebih 40 menit, Lucas dan Sheila memasak Spagetthi Bolognese yang merupakan kesukaan Lucas untuk makan siang mereka.

“Gimana, enak nggak?” tanya Sheila begitu Lucas menyuap suapan pertamanya.

“Hm, enak,” komen Lucas singkat, mata dan tangannya sibuk dengan sepiring Spagetthi di hadapannya.

Sambil makan sesekali Sheila mencuri pandang ke arah Lucas, sepertinya ia tidak akan pernah bisa berhenti mengagumi sosok laki-laki yang mencuri perhatiannya sejak SMA itu.

Selesai makan, Lucas dan Sheila menghabiskan waktu mereka dengan menonton series Netflix pilihan Sheila.

“Temenin ya, gue nggak berani nonton sendirian,” ujar Sheila saat ia memasang tayangan berjudul Kingdom di smart TV milik Lucas.

Lucas hanya berdeham pelan, pikirannya sibuk dengan Olivia yang sudah tidak ada kabar sejak 3 jam lalu.

Sampai film setengah berjalan, Lucas masih sibuk mengecek ponselnya hampir setiap 5 menit sekali, mengundang rasa penasaran Sheila.

“Lo nungguin kabar dari siapa sih, Cas?”

“Oliv,” jawab Lucas tanpa menutup-nutupinya.

Sheila berdecak, ia sedikit memutar tubuhnya ke arah Lucas. “Lucas, bisa nggak sih kalo lagi sama gue, lo nggak usah mikirin Olivia. Oliv, Oliv, Oliv … lama-lama gue muak!”

Lucas terperanjat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sheila sementara Sheila sendiri buru-buru menyambung kalimatnya.

“8 tahun, Cas. 8 tahun gue suka sama lo. Jelas-jelas ada perempuan yang serius suka sama lo tapi kenapa—”

“Mending lo udahan sebelum gue usir lo buat yang kedua kalinya, Shei.” Lucas memotong ucapan Sheila lalu ia bangun dari duduknya untuk pergi menghampiri Olivia di unit sebelah.

Saat Lucas membuka pintu unitnya, ternyata Olivia sudah berdiri di sana; ia baru saja ingin menekan tombol passcode unit Lucas dan memberikan kejutan untuk lelaki itu.

“Oliv?!”

Baik Lucas maupun Olivia sama-sama terkejut, tapi Olivia lebih terkejut lagi saat melihat Sheila muncul di belakang Lucas.

“Sheila? Ngapain lo di sini?” tanya Olivia bingung. Ia buru-buru menyembunyikan tangan kirinya yang terlihat membawa sesuatu di balik badannya.

Namun sayang, ternyata Lucas sudah melihatnya terlebih dahulu. “Itu apa?” tanya Lucas penasaran.

“Enggak, bukan apa-apa. Gue balik dulu,” pamit Olivia cepat dan ia buru-buru melangkah kembali ke unit miliknya.

“Liv! Olivia!” Lucas berusaha mengejar Olivia dengan Sheila membuntuti di belakangnya.

Lucas berhasil menangkap lengan Olivia sebelum perempuan itu masuk, setelah ia berhasil memasukkan passcode unitnya.

“Apaan sih, Lucas.” Olivia berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Lucas.

“Ngapain pulang?”

“Urusin dulu tamu lo,” balas Olivia ketus dan saat cengkraman Lucas melonggar, buru-buru ia melepaskan diri dan masuk ke dalam.

“Olivia tetangga lo? Sejak kapan?” Sheila yang berdiri tidak jauh di belakang Lucas kembali bersuara.

“Lo mending pulang deh, Shei.” Lucas membalas Sheila dengan nada dingin dan suara rendah khasnya.

“Kenapa gue harus pulang? Lucas, gue udah bilang sama lo kan, gue suka sama lo! Kenapa sih, lo nggak mau sekali aja kasih gue kesempatan?”

Lucas menghela nafas panjang. “Sheila, gue cuma sayang sama Olivia seorang. Gue nggak peduli berapa lama lo suka sama gue atau gimana perasaan lo sekarang. Sorry banget, Shei.

“Dan thank you lo udah jujur sama gue. Gue pun harus jujur sama lo, gue nggak bisa bales perasaan lo. Jadi lebih baik lo stop sampe di sini, sebelum lo semakin kecewa sama gue.”

Sheila hanya diam mendengar jawaban Lucas. Lelaki itu awalnya terlihat emosi, tapi saat menjawab pertanyaannya, perempuan itu bisa tahu apa yang diucapkan Lucas adalah jujur apa adanya. Sorot mata lelaki itu tidak pernah bisa menipu.

“Pulang, ya? Thanks buat makan siangnya.” Lucas menutup kalimatnya dan ia kembali masuk ke dalam apartemennya.

Olivia bergelung malas dalam selimutnya. Bolak-balik ia memeriksa room chat dirinya dengan Lucas tapi tidak ada balasan lagi dari lelaki itu.

‘Ngeselin banget deh,’ gerutu Olivia sendiri lalu ia melempar ponselnya pelan ke sisi lain kasurnya.

Tiba-tiba saja radar pendengarannya menangkap suara asing dari ruang tengahnya, seperti ada orang lain selain dirinya di dalam unit itu. Perasaan Olivia langsung tidak enak, buru-buru ia bangun dari kasurnya, mencari benda yang bisa membantunya melindungi diri namun sayang tidak ada.

Akhirnya ia mengambil gulingnya dan keluar dari kamar perlahan agar tidak menimbulkan suara lain. Orang asing di ruang tengah itu kini terdengar sedang membuka kantong plastik dan menaruh beberapa benda di atas meja makan Olivia.

Karena semua lampu sudah dimatikan, Olivia tidak dapat melihat jelas siapa orang itu; hanya terlihat samar-samar orang itu adalah seorang lelaki bertubuh tinggi. Dan sebelum lelaki itu bertindak aneh-aneh, Olivia segera memukulinya.

“Siapa lo?! Ngapain di apartemen gue?!” teriak Olivia, tangannya tidak berhenti menyerang lelaki itu dengan gulingnya.

“Liv! Liv! Ini gue, Lucas!” balas Lucas berteriak sambil berusaha melindungi diri dari serangan Olivia dan mencari tombol lampu unit itu.

“Bohong! Siapa lo, ngaku?!” Olivia tidak peduli, ia tetap memukuli lelaki itu.

Klik, lampu dinyalakan tapi Olivia masih saja menyerang Lucas karena ia panik.

“Olivia Gianna! Ini gue, Lucas!” Lucas segera meraih guling Olivia agar perempuan itu berhenti memukulinya.

Olivia terperangah, benar yang dilihatnya kini adalah Lucas yang masih berpakaian rapi; jaket kulit warna coklat tua, kaos putih polos yang dimasukkan ke dalam celana jeans tuanya dan rambut yang disisir klimis rapi.

“Kenapa datengnya diem-diem sih?!” protes Olivia kesal. Ia merebut dengan kasar gulingnya dari tangan Lucas dan kembali berjalan ke kamarnya.

Lucas membuntuti Olivia. “Sorry, gue pikir lo udah tidur. Makanya gue pelan-pelan nggak mau gangguin lo.”

Olivia berhenti tepat di depan pintu kamarnya, dengan cepat ia membalikan badannya, membuat Lucas hampir saja menabrak perempuan mungil itu kalau saja kakinya tidak cepat berhenti melangkah.

“Terus ngapain ke sini? Bukannya lo lagi seneng-seneng sama temen lo?” tanya Olivia ketus.

Lucas tersenyum lebar sambil mengacak pelan rambut bagian depan Olivia. “Soalnya ada yang khawatir sama gue. Gue juga kangen sih sama orang itu.”

Olivia memutar bola matanya lalu ia kembali berbalik badan untuk masuk ke dalam kamarnya.

“Oliv … Kok marah? Kan gue udah pulang nih sesuai permintaan lo, gue pulang nggak malem-malem. Gue juga nggak minum any alcohol kok, tadi gue minum mocktail doang.” Lucas kembali membuntuti Olivia sambil memberi penjelasan kepada perempuan itu.

“Terserah, gue ngantuk. Sana balik ke apartemen lo. Balik seneng-seneng lagi juga boleh.”

Mendengar Olivia yang masih bersikap ketus padanya, Lucas segera menarik perempuan itu dan memeluknya, mencegahnya untuk kembali masuk ke dalam selimut.

“Lucas, apaan sih … Lepasin.” Olivia berusaha melepaskan diri dari pelukan Lucas tapi sulit. Kini Lucas memeluknya semakin erat, kedua tangannya yang kokoh sukses menenggelamkan Olivia dalam dekapannya.

“Maaf, tadi bikin lo panik. Gue nggak bermaksud ngingetin lo sama kejadian yang dulu-dulu ….”

Olivia hanya diam, ia berhenti memberontak untuk melepaskan diri dari pelukan Lucas. Kedua tangan Olivia yang ragu kini menggenggam pinggiran jaket kulit milik Lucas.

Lucas melonggarkan pelukannya dan menatap Olivia. “Maaf ya, Liv?” ucapnya lalu ia mencium lembut wajah Olivia. Kening, mata kanan, hidung dan yang terakhir, bibir mungil perempuan itu.

“Gue pulang, ya? Kayaknya lo emang udah ngantuk. Maaf udah ganggu waktu tidur lo,” pamit Lucas sambil melepaskan pelukannya.

Olivia masih saja diam sementara Lucas sudah berjalan keluar dari kamarnya. Suara langkah kakinya terdengar semakin menjauh.

“Lucas,” panggil Olivia tepat saat Lucas hendak keluar dari unit apartemennya.

Yang dipanggil hanya menoleh dan tersenyum tipis. “Kenapa, Liv?”

“Lo mau nemenin gue nggak, tidur di sini malem ini?”

Hendery tidak berhenti memandang kagum foto profil milik Nata di booklet konser yang ia dapatkan saat registrasi ulang. Tanpa disadari, telunjuk kirinya mengelus pelan wajah Nata, berharap sedikit energi semangat bisa ia tularkan untuk perempuan kesayangannya.

Masih ada 10 menit sebelum konser dimulai. Masih sambil melihat-lihat isi booklet, Hendery kembali teringat cerita Nata semalam, saat dirinya diminta tolong perempuan itu untuk menjadi beta audience sebelum hari konser.

2017, 23 Desember Ruang latihan rumah Nata, 7pm

Nata bercerita ia akan bermain bersama temannya, Kevin dan Ruben. Dengan Kevin, mereka akan bermain duet piano-biola repetoire karya Saint-Saëns – Introduction and Rondo Op. 28, sebuah lagu yang diciptakan untuk violinist hebat asal Spanyol, Pablo de Saraste pada tahun 1863.

Sementara dengan Ruben, Nata akan tampil membawakan repetoire karya Robert Schumann – Myrthen, Op. 25: Widmung.

“Romantis ya, orang jaman dulu kalo kasih hadiah kasihnya lagu,” komentar Nata.

“Widmung, yang barusan aku mainin, itu lagu hadiah pernikahan dari Schumann buat istrinya, Clara. Aku suka banget sama kisah cinta mereka,” sambung Nata bersemangat. Matanya berbinar-binar acapkali bercerita tentang sejarah musik klasik dan komponis favoritnya.

“Ayo, kita kayak mereka, tapi aku main drum, hehe …”

Nata tersenyum tipis, ia tidak menanggapi kembali kalimat Hendery karena kini ia sibuk membereskan partitur musiknya.

“Hendery,” panggil Nata, memecah kesunyian yang sempat tercipta di ruang latihan Nata Sabtu malam itu.

“Apa, Nat?”

“Aku ada satu lagu lagi, bukan buat konser sih, but I really want to show you this. Mau dengerin nggak?”

Hendery terlihat bersemangat. “Mau dong! Lagunya siapa? Judulnya apa?”

“Edward Elgar, judulnya Salute d’Amour.”

Tanpa berlama-lama, Nata mulai menggesekkan busur biolanya pada senar, menciptakan nada indah yang sulit dimengerti secara teori tapi menyejukkan hati.

Selama 1,5 menit, Hendery terpaku pada permainan Nata. Perempuan itu seolah sedang berbicara padanya, menyatakan rasa cintanya yang paling tulus untuk dirinya seorang.

Begitu nada terakhir selesai dimainkan, Nata tersenyum membalas tatapan kagum Hendery. Lelaki itu kemudian bangkit dari duduknya dan memeluk Nata yang hanya berjarak beberapa langkah darinya.

Everything is beautiful, especially you, Nat,” puji Hendery sambil kembali menatap manik mata berwarna coklat muda milik perempuan itu.

Nata tersenyum, tangan kirinya masih menggenggam biola beserta busurnya, sementara tangan kanannya merangkul leher Hendery, membalas pelukan lelaki itu.

Entah keberanian datang dari mana, perlahan Nata mendekatkan wajahnya dengan Hendery dan dalam hitungan detik saja kini bibir mereka sudah bertaut.

Hanya sebuah ciuman lembut dari Nata untuk Hendery, tapi hati lelaki itu tentu saja sudah berbunga-bunga seperti taman di musim semi.

I love you, Hendery,” bisik Nata lirih.

-

Hendery menepuk pelan pipinya, menyadarkan dirinya sendiri dari lamunan singkat perihal kejadian semalam.

Konser akan segera dimulai, tapi Hendery masih tidak bisa berhenti tersenyum. Ia membayangkan di akhir konser ia akan memberikan sebuket bunga yang sudah ia siapkan untuk Nata dan mungkin kalau ia punya nyali, ia akan mencium pipi perempuan manis itu.

‘Serius dulu, Dery,’ ucapnya pada dirinya sendiri tepat saat peserta pertama keluar dari backstage. Peserta itu tampil sebagai soloist piano, membawakan karya Chopin yang terkenal, Nocturne in E-flat Major.

Setiap mendengar lagu yang dimainkan oleh peserta yang tampil, Hendery akan langsung kembali teringat dengan cerita Nata semalam; mulai dari sejarah lagunya hingga kenapa teman-temannya memilih untuk membawakan lagu tersebut. Pikirannya ternyata tidak bisa lepas dari Nata.

Sampai di saatnya Nata-Kevin tampil kalau menurut booklet, tapi nyatanya yang keluar dari belakang panggung bukanlah Nata. Dua orang, yang laki-laki sepertinya memang Kevin, tapi perempuan yang kini mulai menggesekkan biolanya bukanlah Nata.

Hendery refleks duduk tegak saat ia mendengar lagu yang semalam dimainkan Nata kini dimainkan entah oleh siapa di atas panggung besar itu. Sampai lagu berakhir, tidak ada tanda Nata akan muncul.

Hendery mengirimkan pesan kepada Nata beberapa kali, tapi tidak ada satupun yang dibaca. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk menelepon Nata, walaupun ia tahu itu akan melanggar janjinya karena semalam Nata sudah mengingatkan Hendery untuk tidak menghubunginya sebelum konser usai.

Kembali ke panggung, kali ini harusnya giliran Ruben dan Nata tampil tapi lagi-lagi, tidak ada perempuan itu di atas panggung.

Hendery semakin bingung tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena peraturan dasar konser klasik yang tidak mengizinkan audiensi untuk membuat kegaduhan.

Akhirnya Ruben dan pasangannya entah siapa selesai memainkan repetoire ciptaan Schumann itu, dan Hendery bergegas keluar dari aula konser itu.

Di lobi tidak ada siapa-siapa, hanya ada dua panitia yang bertugas menjaga meja administrasi.

“Mbak, maaf mau tanya, peserta konser yang namanya Nata kok nggak tampil, ya?”

Kedua panitia itu saling lempar tatapan bingung sebelum akhirnya salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Hendery. “Naraya Talitha, ya? Dia mendadak ngundurin diri bulan lalu, Kak.”

Hendery terdiam sesaat, pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. “Ngundurin diri? Kenapa ya, kalo boleh tau?”

“Nata pergi ke Singapura, Kak. Katanya dia ketemu sama pendonor ginjal yang cocok.”

“Hah? Pendonor ginjal?”

“Iya … Nata sakit gagal ginjal, Kak. Kakak nggak tau? Tadinya dia mau berhenti les tapi—”

Hendery tidak dapat mendengar kalimat selanjutnya. Pikirannya semakin ruwet seperti benang kusut. Kakinya perlahan melangkah mundur menjauhi meja administrasi dan segera ia berlari menuju mobilnya.

Berkali-kali Hendery mencoba menghubungi pacarnya itu, baik lewat pesan teks sampai telepon, tapi percuma. Bahkan kini telepon Nata sudah di luar jangkauan, yang berarti semakin tidak memungkinkan bagi Hendery untuk mendengar penjelasan dari perempuan itu.

Kini rasa kecewa; merasa bodoh karena dibohongi dan tidak tahu apa-apa timbul di hati Hendery. Bagaimana bisa Nata menutupi semuanya itu selama ini? Bagaimana bisa sebagai pacarnya yang hampir setiap waktu selalu bertukar kabar, Hendery sama sekali tidak mengetahui kondisi kesehatan Nata?

Dan kini setelah perempuan itu pergi tanpa pamit, hanya tersisa rasa penasaran dan menyesal yang bercampur aduk di hati dan pikirannya.

the quality of being open, honest, and direct in speech or writing.

2015, 14 Februari

Nata

‘Nat, aku di kantin ya.’

Aku tersenyum tipis membaca pesan teks yang dikirimkan Hendery. Kalau hari Jumat memang kelas Hendery lebih dulu selesai, jadi dia selalu menungguku entah di kantin, perpustakaan atau selasar tempat di mana mahasiswa kampus kami bisa menghabiskan waktu.

Tidak lama bagiku untuk tiba di kantin dan begitu aku sampai di sana, radar mataku langsung menemukan Hendery … dan beberapa kakak tingkat yang sedang duduk bersamanya.

Dari tempatku berdiri aku dapat melihat tawa lepas Hendery saat ia bersenda gurau dengan mereka yang semuanya adalah perempuan.

Perasaan aneh timbul dalam hatiku. Kalau ditanya cemburu, ada sih. Cemburu karena para kating itu sepertinya lebih bisa membuat Hendery bahagia. Mereka juga jauh lebih menarik dibandingkan denganku.

Aku mundur satu langkah, rasanya enggan untuk menghampiri Hendery. Tapi saat aku berbalik, suara Hendery terdengar memanggilku.

“Nata!”

‘Ah, ternyata dia melihatku.’

“Nata, mau kemana? Kok pergi? Ayo gabung sini.” Hendery yang datang menghampiriku segera menarik tanganku, mengajaknya untuk duduk bergabung dengan kakak tingkat kami.

“Siapa, Der?” tanya salah seorang dari mereka. Ia memakai atasan warna merah model sabrina, rambutnya sengaja diwarnai warna coklat terang.

“Oh kenalin, Nata, pacar gue,” jawab Hendery sambil mempersilahkanku untuk duduk di sisi kanannya.

“Pacar? Serius lo pacarnya Hendery?” Kali ini seorang yang lain bertanya padaku. Aku hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.

Sontak kakak tingkat yang berjumlah 3 orang itu memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

What’s wrong with your clothes, darling?” tanya seorang yang lain sambil memegang sedikit cardiganku di bagian lengan.

Aku menyesal hari ini aku hanya memakai blouse tanpa lengan yang ku padu dengan cardigan coklat muda dan juga celana jins warna biru terang.

“Ih tadi siapa nama kamu? Nata? Kalo jadi pacar Hendery at least glowing sedikit gitu loh.”

Aku kembali tersenyum kikuk. ‘Ya, memang harusnya aku tahu diri.’

Suasana berubah menjadi canggung dan tiba-tiba saja Hendery bangkit dari duduknya. “Kak, gue sama Nata cabut duluan, ya? Anyway thanks buat donat sama kopinya. Tapi kapan-kapan nggak usah lagi kayak gini, ngerepotin. Nggak abis juga kan, sayang.” Hendery mengangkat gelas ice coffee yang masih lumayan banyak.

“Nggak repotin sama sekali tau, Hendery. Ini kopinya bawa aja.”

Hendery hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. Ia pun segera mengunci tangannya dengan tanganku dan mengajakku untuk pergi dari situ.

“Maaf ya,” ucapnya pelan saat kami sudah keluar dari kantin. Tangannya masih saja menggenggam milikku seolah-olah dia takut kehilanganku.

“Maaf buat apa?”

“Kata-kata kating tadi. Aku tau kamu pasti nggak nyaman sama ucapan mereka tadi.”

“Oh, nggak papa. Mereka ada benernya juga.”

Hendery menghentikan langkahnya, refleks aku ikut berhenti. Ia berdiri di hadapanku lalu memegang kedua bahuku dan menatapku. “Nata, Nata begini aja udah lebih dari cukup buat aku.”

Aku menunduk, menghindari tatapannya. Aku memainkan ujung cardigan lusuhku karena tidak tahu harus menjawab apa.

“Nata …”

“Apa?”

“Kita makan es krim aja yuk?”

Mataku yang sedikit berair mencoba berani membalas tatapannya yang kulihat masih sama dengan beberapa menit sebelumnya, tatapan mata teduh yang jarang diperlihatkan Hendery kepada orang lain. Tatapan yang mampu meyakinkanku dengan segala ucapannya.

“Makan es krim di mana?”

“Beli di Indomaret, terus kita makan di rumah kamu, gimana? Ohiya, kemarin kamu bilang kamu mau tunjukkin hasil latihan kamu ke aku?”

Aku tersenyum tipis. “Iya.”

“Yaudah, yuk?” ucapnya sambil merangkulku bahuku dan kami kembali berjalan beriringan menuju mobil Hendery yang terparkir di halaman luar gedung kampus kami.

By the way Nat, tadi ada yang kasih aku coklat pas kelas Pak Gunawan. Tapi aku tolak. Aku bilang aku alergi coklat.” Hendery bercerita sambil terkekeh pelan.

“Lho, kenapa?”

“Aku cuma mau coklat dari kamu. Mana?” Tangan kanan Hendery yang bebas mengadah di depanku.

Aku tidak langsung meresponsnya. Memang aku selalu menyiapkan coklat buatanku sendiri setiap hari Valentine, tapi karena kejadian tadi kuurungkan niatku untuk memberikan coklat itu kepada Hendery.

“Ayo mana … Aku tau kamu bikin buat aku.”

Aku tidak punya pilihan lain; aku mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasku dan memberikannya kepada Hendery. Kulihat senyum bahagia di wajah Hendery, seolah-olah dia memenangkan lotre ratusan juta rupiah.

“Makasih ya, sayang. I love you, Nata.”

Hendery selalu punya cara untuk menunjukkan kalau perasaannya tulus hanya untukku dan juga, ia selalu jujur padaku.

Seperti ceritanya tentang coklat yang ia dapatkan di kelasnya tadi, sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu tapi tidak dengan Hendery. Baginya hal-hal kecil yang sering disepelekan pasangan lain justru penting untuk hubungan aku dengannya.

Aku membalas ucapan sayangnya dengan kalimat yang sama, walaupun ada keraguan apakah aku juga bisa berlaku jujur dan tulus sama seperti Hendery.

Sekitar pukul 3 sore Olivia terbangun dari tidur siangnya yang singkat. Olivia berusaha mengingat apa saja yang terjadi sebelum ia tidur dan sedetik kemudian ia ingat akan pesan terakhir yang Lucas kirimkan untuknya.

Buru-buru Olivia mengecek depan pintu apartemennya dan benar saja, ia mendapati Lucas sedang bersandar di dinding seberang pintu unitnya sambil memainkan game di ponselnya.

“Bentar Liv, nanggung. Dikit lagi selesai,” ucap Lucas yang menyadari pintu apartemen Olivia terbuka tapi matanya tidak lepas dari layar ponselnya.

“Terserah.” Olivia kembali masuk dan menutup pintu unitnya. Beruntung gerak cepat tangan Lucas berhasil menahan pintu itu untuk tertutup rapat.

“Liv.”

Olivia tidak menggubris panggilan lelaki itu, ia kembali masuk ke unitnya dengan Lucas membuntuti di belakangnya.

“Oliv, itu yang dibilang nyonyagossip bohong, kan? Lo nggak beneran mau quit, kan?” Lucas memberondong Olivia dengan berbagai pertanyaan.

Olivia menghabiskan air putihnya lalu ia pergi ke sofa ruang TV dan bermalasan-malasan di sana tanpa menjawab pertanyaan Lucas.

“Oliv—”

“Nyonyagossip bener, gue gak mau lagi jadi selebgram. Puas?” Olivia memotong Lucas karena dia tahu lelaki itu tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan jawaban darinya.

Lucas duduk di sisi kiri Olivia dan menatap perempuan itu dengan dahi berkerut. “Kenapa?”

“Nggak mau aja, males,” jawab Olivia asal.

Lucas menghela nafas sabar. Dia tahu benar itu bukan alasan Olivia yang sebenarnya tapi, kalau dia terus-terusan memaksa perempuan itu, ia tahu percakapan ini akan berakhir dengan tidak baik.

“Lo mending pulang aja deh, gue lagi nggak mood bercandaan.”

“Gue main game di sini, boleh ya? Sepi kalo sendirian di apart,” pinta Lucas dengan nada bicara melunak.

Olivia bangkit dari sofa dan berjalan masuk ke kamarnya. “Hm, terserah lo.”

Sudah 2 jam sejak kedatangan Lucas, berarti sudah 2 jam juga Olivia mengurung diri di kamar. Entah sudah berapa puluh video Youtube ia tonton karena ia bosan dengan serial drama, dan sekarang perempuan itu juga sudah bosan dengan video-video di Youtube ini tetapi ia masih malas untuk keluar dari kamar.

Ya, dia malas karena ia akan kembali bertemu Lucas. Lelaki itu masih saja asyik bermain dengan game ponselnya di ruang tengah unit Olivia.

Tapi akhirnya Olivia menyerah. Kalau dipikir-pikir mau sampai kapan ia terus-terusan di kamar? Dan sekarang perutnya mulai keroncongan minta diisi.

“Mau makan malem apa?” tanya Olivia yang berjalan melewati Lucas di ruang tengahnya menuju dapur.

Lucas segera menyusul Olivia. “Ikut dong masak-masaknya! Gue bantuin.”

“Nggak usah bantuin, nanti yang ada makanannya gak jadi. Udah lo main game aja sana.” Olivia berusaha mengusir Lucas tapi lelaki itu kekeuh bertahan di dapur.

“Maunya bantuin Oliv. Boleh, ya? Ya ya ya?”

Olivia menghela nafas pasrah. “Yaudah, rebus deh pastanya.”

Lucas tersenyum lebar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Untuk sejenak keduanya kini sibuk dengan tugas masing-masing di dapur dalam diam hingga beberapa saat kemudian Lucas kembali bersuara.

“Liv, masih nggak mau cerita kenapa? Yang tadi siang.”

Olivia tidak langsung menjawab, ia masih sibuk membuat saus bolognese untuk makan malam mereka.

“Gue takut, Cas.”

Jawaban singkat Olivia membuat Lucas menoleh. “Takut? Takut apa?”

Olivia menaruh spatulanya dan gantian menatap Lucas. “Gue takut kalau gue salah pilih temen lagi. Ditambah Darren masih buron, kalau gue udah kerja lagi, dia bisa dengan gampangnya nemuin gue. Dan gue yakin banget dia masih berniat buat ngebunuh gue.”

“Jujur aja, untuk sekedar pergi keluar dari apartemen ini aja gue takut. Tapi gue sebenernya lebih takut satu hal; gue takut lo kenapa-napa karena gue, Cas.”

Lucas mendekati Olivia yang hanya berjarak selangkah darinya, ia memegang kedua bahu perempuan itu dan sedikit menekuk lututnya agar kepalanya bisa sejajar dengan Olivia.

“Oliv, gue ada di sini emang buat ngejagain lo. Kan udah sering juga lo denger nyokap bokap lo bilang, ‘tolong jagain Olivia ya, Lucas.’ Jadi, emang udah tugas gue buat jagain lo, make sure lo nggak kenapa-napa.”

“Tapi nggak sampe lo ditembak juga, Lucas.” Olivia menunduk, mencoba menghindari tatapan intens Lucas karena air mata mulai menggenang di pelupuknya.

Lucas berusaha melihat wajah Olivia yang tertutup dengan rambut panjangnya, saat ia menyadari kalau perempuan itu sedang berusaha untuk tidak menangis, ia menariknya masuk dalam pelukannya.

“Liv, lo sayang banget sama gue, ya?”

“Hah?”

“Iya, lo jadi suka nangis tiap nyebut-nyebut nama gue.”

Olivia memukul pelan dada Lucas sambil melepaskan diri dari pelukan lelaki itu. Yang dipukul hanya terkekeh pelan. “Gue lagi serius, Lucas,” ujar Olivia seraya menghapus air matanya.

“Hehe, yuk udahan nangisnya. Lo nggak perlu takut sama apapun, bahkan sama Darren sekalipun. Gue yang akan ngejagain lo. Lo juga nggak perlu takut gue kenapa-napa, oke?”

Olivia menghela nafas singkat lalu ia mengangguk setuju. “Tapi gue masih nggak mau balik kerja.”

“Kenapa lagi?”

“Lagi suka aja kayak gini.”

Jawaban ambigu Olivia membuat dahi Lucas kembali berkerut. “He? Maksudnya kayak gini?”

Olivia kini tengah sibuk menata peralatan makan di meja makannya. “Ya begini, masak, makan, ngobrol … sama lo.”

Mata Lucas yang bulat besar itu semakin membesar, sementara jantungnya seperti mau copot karena perasaan gembiranya. “Oliv?! Lo nggak lagi bercandain gue, kan?”

“Emangnya lo, kerjaannya bercanda melulu? Matiin kompornya deh, itu udah mateng.”

“Siap, ndoro putri!”

Nata

Sudah empat tahun lebih aku resmi berpacaran dengan Hendery, tiba-tiba saja aku teringat dengan masa awal kami berpacaran.

Di masa itu, banyak yang tidak percaya dengan hubungan kami. Bahkan sahabat Hendery, Lucas, dengan santainya memprediksi hubungan kami tidak akan lebih dari dua bulan. Terlalu jujur sih, tapi memang prediksinya bisa saja benar kalau aku dan Hendery tidak pandai merawat hubungan kami.

Kalau kalian tidak tahu, aku dan Hendery itu bagaikan langit dan bumi. Aku lebih suka menyendiri dengan duniaku sementara Hendery lebih senang menjadi social butterfly. Tidak heran dulu banyak sekali yang diam-diam menyukai Hendery di kampus kami.

Cemburu? Tentu saja. Bagaimana tidak, kebanyakan yang menyukai Hendery adalah kakak tingkat yang dari penampilannya saja jauh lebih menarik dibandingkan denganku.

Aku hanya suka memakai kaus dan juga cardigan serta celana jeans dan sepatu keds, sementara kakak kelasku jauh lebih modis dan fashionista daripada aku.

Namun, Hendery sama sekali tidak pernah tergoda dengan satupun dari mereka. Entah sudah berapa ratus kali aku suka bertanya pada Hendery apakah ia pernah naksir dengan salah seorang dari mereka dan jawabannya selalu tidak.

‘Nata, kamu itu lebih dari cukup. Cuma kamu yang selalu bisa ngertiin aku dan bisa ngimbangin aku. Cuma kamu, Nat.’

Entah, aku sendiri tidak yakin dengan apa yang Hendery katakan padaku. Tapi dia tidak pernah bosan untuk bilang seperti itu padaku.

Di sisi lain, Hendery selalu terbuka padaku. Ia akan menceritakan segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Mungkin ini juga alasan kenapa hubungan kami awet dan kami jarang bertengkar untuk hal-hal yang tidak penting.

Bicara karakter Hendery, selain outgoing mudah berbaur dengan siapapun, dia juga orang yang penuh kejutan; tidak jarang aku suka sulit memahami isi pikirannya.

Pernah suatu hari ia mengirimkan foto sedang berhadapan dengan tembok.

‘Kamu ngapain? Mau cium tembok?’

‘Iya. Nama temboknya Naraya Talitha.’

Pernah juga saat kami sedang video call, dia pamer padaku sendal rumahnya yang baru, hasil belanja online pertamanya. Tapi sialnya, dia tidak dikirimkan sepasang kanan-kiri, tapi dua-duanya sama-sama untuk kaki kanan. Saat ia sibuk menggerutu, aku tidak bisa berhenti tertawa.

‘Kamu seneng banget ya ketawanya, Nat.’

‘Abisnya lucu banget, Dery. Aku sampe nangis nih ketawain kamu.’

‘Nggak papa deh aku salah dapet sendal begini, yang penting aku bisa liat kamu ketawa bahagia karena aku.’

Mungkin kedengarannya sedikit gombal, tapi bagiku Hendery adalah duniaku.

Dia yang paling pengertian tentunya selain kedua orang tuaku dengan segala kesibukanku. Dia mungkin kelihatannya selalu bercanda dan sulit untuk serius, tapi dia tidak pernah ingkar dengan semua janjinya. Ah, kecuali masalah tidur malam. Dia masih suka berbohong, menyebalkan.

Aku hanya berharap kalau dia akan selalu menjadi duniaku. Mungkin kesannya aku egois, tapi aku sungguh berharap Hendery tidak akan pernah meninggalkanku, walaupun aku sendiri tidak yakin dengan kalimatku ini.

Perlahan Olivia mengintip dari balik pintu unit apartemennya untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di koridor. Setelah yakin koridor lantai unitnya kosong, Olivia keluar dari apartemennya dan menghampiri unit milik Lucas.

Ia menekan bel beberapa kali, tapi tidak ada jawaban dari dalam yang menandakan Lucas belum tiba.

“Mana sih kok nggak nyampe-nyampe,” gerutu Olivia sambil melihat jam di layar ponselnya. Ia ingin sekali mengirimkan pesan ke Lucas tapi ternyata rasa gengsinya masih terlalu tinggi untuk dilawan.

Saat Olivia sedang mondar-mandir di depan unit Lucas, lelaki itu datang bersama Hendery dan Dejun.

“Oliv?” tegur Lucas melihat perempuan mungil itu seperti kucing kehilangan induknya.

“Eh, udah nyampe?” tanya Olivia kikuk dan sedetik kemudian ia merutuk dirinya sendiri yang bertanya pertanyaan tidak penting seperti barusan.

“Lo dari tadi pagi di sini? Sumpah, Liv?” Lucas bertanya dengan nada tidak percaya. “Anjir lah lo Der, lama banget jemput gue. Kasian Oliv tau.” Kali ini Lucas menyemprot sahabatnya yang membantu dirinya membawa tas pakaian Lucas.

“Ya maaf, gue kan nggak tau,” balas Hendery pelan. Dejun hanya tersenyum penuh arti sambil bergantian memperhatikan Olivia dan Lucas.

“Udahlah nggak penting gue di sini dari jam berapa, ayo masuk dulu. Nyokap gue beliin makanan buat lo,” ujar Olivia sambil mengangkat sedikit kantong plastik yang sedari tadi ia bawa.

“Kayaknya kita cabut aja deh, Der. Si Lucas udah ada yang jagain.” Dejun bersuara saat Lucas sedang memasukkan lock password unitnya.

Hendery yang memahami maksud Dejun buru-buru membalasnya, “oh iya. Kita cabut ya, ini tas nya Lucas.” Hendery memberikan tas jinjing berukuran sedang berwarna hitam milik Lucas kepada Olivia.

Dejun juga ikut-ikutan memberikan kantong plastik berisikan buah-buahan kepada Olivia dan buru-buru ia menyeret Hendery untuk segera pergi dari situ.

“Heh? Woi? Lo kok pada pergi sih?” Lucas masih kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi tapi baik Dejun ataupun Hendery tidak ada yang menanggapi, mereka segera kabur dengan lift yang kebetulan tiba di lantai 25 itu.

“Cepetan buka pintunya, berat nih tas lo.” Olivia yang tangannya penuh dengan segala macam bawaan Lucas kembali bersuara.

“Eh iya, maaf.” Lucas buru-buru membuka pintu unitnya dan mempersilahkan Olivia untuk masuk.

Tanpa bicara sepatah katapun, Olivia segera menaruh dua kantong plastik berisikan makanan dan buah di atas meja makan, lalu ia masuk ke dalam kamar Lucas sebentar untuk menaruh tas pakaian Lucas.

“Sini, makan siang,” panggil Olivia dari meja makan. Ia tengah membuka bungkusan makan siang yang dikirimkan ibunya.

Lucas menurut. Dengan langkah pelan karena punggungnya masih terasa nyeri, ia menghampiri meja makannya dan duduk di sana. Setelah semuanya siap, keduanya menyantap makan siang mereka dalam diam.

Thank you, Liv,” ucap Lucas setelah makan siangnya habis ia lahap hingga tak bersisa. Olivia hanya bergumam pelan sambil menyeruput kuah sup yang masih tersisa di mangkuknya.

“Liv, gue serius nanya, lo daritadi pagi di sini?” Lucas kembali bertanya pertanyaan yang belum terjawab sedari tadi.

“Iya,” jawab Olivia singkat. Kini perempuan itu tengah membereskan peralatan makan siang miliknya dan Lucas.

“Kenapa nggak bilang dari semalem? Kan gue bisa minta Dery jemput pagian. Kalo kayak gini gue nggak enak sama lo.”

“Nggak enak kasih kucing,” balas Olivia datar.

“Ih Oliv, gue serius nggak enak sama lo. Gue tau lo paling nggak suka nunggu lama.”

Olivia yang sedang mencuci perkakas makan siang mereka berhenti sejenak. “Lo mending masuk kamar terus istirahat deh, biar badan lo cepet pulih. Jangan gangguin gue, gue sibuk.”

“Liv, nggak usah dicuci piringnya. Besok ada Bi Inah dateng.”

“Lucas!” Olivia memanggil Lucas dengan nada sedikit tinggi. “Bisa nggak sih nggak usah komen apa-apa gitu udah diem aja. Sana tidur di kamar, gue nggak suka kalo lagi kerja diliatin.”

Namun Lucas menghiraukan permintaan Olivia; ia malah mendekati perempuan itu dan berdiri di samping Olivia yang masih sibuk mencuci piring. Matanya tidak bergeming menatap perempuan itu dengan banyak arti.

“Liv,” panggil Lucas dengan nada rendah ciri khasnya.

“Apa lagi? Kamar lo di sana bu—”

Chu~, sebuah kecupan lembut mendarat di pipi kanan Olivia. Lucas tersenyum senang, sementara wajah Olivia yang berkulit putih pucat langsung terlihat memerah.

“Gue ke kamar dulu ya, nanti lo nyusul aja.” Lucas kemudian pergi meninggalkan Olivia sendirian di dapur.

Setelah Lucas menghilang dari radarnya, Olivia langsung mengatur nafasnya. Jantungnya berdegup cepat tidak karuan dan sebelum pikirannya mulai kemana-mana, ia memutuskan untuk segera menyelesaikan acara cuci piringnya.

Selesai dengan urusannya di dapur, Olivia menghampiri kamar Lucas. Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, memudahkan Olivia melihat Lucas yang sedang kesulitan mengganti perban lukanya di punggung.

Olivia membeku di depan kamar Lucas, bukan karena ia tidak mau membantu lelaki itu, tapi ingatannya kembali ke masa terburuknya seminggu lalu. Detik berikutnya Olivia terjatuh di depan kamar Lucas, dan tanpa disadari ia mulai menangis sambil memejamkan mata dan memegangi kepalanya, berusaha menghapus kenangan buruk yang memenuhi pikirannya.

“Liv? Oliv?!” seru Lucas panik mendengar Olivia yang ambruk di depan kamarnya. Buru-buru Lucas memakai kaosnya lalu menghampiri Olivia, ia berjongkok memeluk Olivia, mencoba meredakan tangis perempuan itu.

“Oliv, lo kenapa?” tanya Lucas lembut. Tangannya tidak berhenti mengusap-usap puncak kepala Olivia.

“Maafin gue, Cas. Maafin gue,” jawab Olivia di sela isak tangisnya. “Maafin gue ….” tangis perempuan itu kembali pecah.

“Liv, lo nggak salah apa-apa. Stop nangisnya dong, please.” Lucas mengeratkan pelukannya, membuat Olivia hampir sepenuhnya tenggelam dalam dekapan Lucas.

Setelah tangis Olivia mereda, Lucas melonggarkan pelukannya agar ia bisa melihat wajah Olivia. Mata Olivia sukses membengkak dan masih dengan isakan pendeknya, perempuan itu mencoba menarik nafas beberapa kali agar ia bisa bicara dengan lebih jelas.

“Punggungnya masih sakit nggak?” tanya Olivia dengan suara serak.

Lucas tersenyum, ia membantu Olivia untuk berdiri dan menuntunnya pelan ke ruang TV. Keduanya kini duduk di sofa ruang TV.

“Sedikit. Tapi nggak papa kok. Ada untungnya juga biasa dipukulin bokap, jadi udah tahan banting sama rasa sakit-sakit kayak gini,” jawab Lucas santai.

Olivia memukul pelan lengan Lucas. “Bego, apa untungnya?”

Senyum di wajah Lucas belum memudar. Ia tahu benar kalau perempuan di hadapannya ini sedang mengkhawatirkan dirinya.

“Tadi nangis kenapa?”

“Gue keingetan kejadian kemarin.”

Kembali Lucas memeluk Olivia dan mengusap pelan puncak kepala perempuan itu. “Liv, tunggu sebentar, ya. Begitu gue sembuh, gue bakal cari bajingan itu.”

Olivia menggeleng. “Jangan, gue nggak mau lo kenapa-napa lagi.”

“Nggak, gue nggak akan kenapa-napa, Liv. Gue kan strong, hehe ….”

Olivia mendorong pelan dada Lucas sambil memanyunkan bibirnya sebal. Sebal karena Lucas hobi sekali bercanda di saat dirinya sedang benar-benar khawatir pada lelaki itu.

“Hehe, jangan cemberut gitu. Beneran, lo tenang aja, gue nggak akan kenapa-napa. Lo nggak usah takut atau khawatir.”

Lucas kembali menarik Olivia masuk ke dalam dekapannya dan perempuan itu menurut. Ia membiarkan kepala Olivia bersandar pada dada bidang Lucas.

“Liv.”

“Hm?”

“Boleh nggak, gue peluk lo terus kayak gini? Mau peluk yang lama, biar cepet sembuh.”

Olivia memutar bola matanya. Kalau sifat manjanya Lucas sudah kumat, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Ia langsung ingat kalau dulu ia akan mati-matian menolak Lucas, tidak peduli apa kata hatinya yang sebenarnya berlawanan dengan pikirannya. Tapi sekarang ia tidak mau membiarkan rasa gengsi mengalahkan kemauan hatinya.

“Boleh. Sampe besok juga boleh.”

Giliran Lucas yang kaget. Ia refleks melepas pelukannya sesaat. “Hah? Besok? Lo mau nginep? Emang lo nggak dicariin nyokap lo? Oliv? Lo bercanda, kan?”

Olivia berdecak pelan. “Cerewet, gue tinggal pulang, ya?” Olivia bergegas bangkit dari duduknya tapi Lucas dengan cepat memegang pergelangan tangannya.

“Ih jangan.” Lucas menarik pelan tangan Olivia agar perempuan itu kembali duduk di sampingnya. “Pulangnya nanti aja. Nanti kalo nyokap lo nyariin, gue yang bakal telfon nyokap lo.”

“Nyokap gue nggak bakal nyariin. Dia udah tau gue di sini.”

Mata Lucas membesar, ia masih sulit mencerna maksud ucapan Olivia. “Liv? Lo seriusan? Apa sih Oliv jangan bikin gue mikir aneh-aneh dong.”

“Lo mikir aneh-aneh apa sih? Gue sekarang tinggal di unit sebelah, Lucas.”

Lucas semakin membesarkan mata bulatnya, alisnya hampir menyatu karena ia bingung. “Unit sebelah?? Lo pindah?? Atau gimana??”

“Ini mau jadi peluk nggak? Gue tinggal beneran kalo lo masih banyak nanya kayak wartawan.”

Buru-buru Lucas mendekap Olivia lalu bersandar nyaman di sofanya. “Oke, gue diem.”

Olivia tersenyum. Ia melingkarkan tangannya di tubuh Lucas, membalas pelukan lelaki itu sembari membenarkan posisi kepalanya di dalam pelukan Lucas.

“Lucas.”

“Apa, Liv?”

“Gue sayang sama lo.”

Senyum sumringah menghiasi wajah Lucas. Baginya tidak ada perasaan yang lebih baik selain apa yang ia rasakan saat ini. Refleks ia mengeratkan pelukannya lalu mencium pelan puncak kepala Olivia.

“Gue juga sayang sama lo, Olivia.”

Hendery

Juli 2011

Aku tidak bisa berhenti menatap kagum pada perempuan yang duduk di depanku saat ini. Setelah selama setahun aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh, kini aku bisa sekelas dengannya.

“Halo, kenalin aku Naraya Talitha. Panggil aja Nata biar gampang.” Perempuan itu memperkenalkan dirinya kepadaku dan juga teman sebangku yang duduk di sisi kiriku, Mario.

“Hai Ta, gue Mario.” Mario memperkenalkan dirinya.

“Gue Hendery,” ucapku cepat. Argh rasanya nggak keren banget cara aku memperkenalkan diri dengan perempuan itu. Tapi bagaimana, duduk depan belakang saja rasanya sudah gugup apalagi harus bicara banyak dengannya?

Sebenarnya aku sama sekali tidak berminat dengan jurusan IPA. Demi apapun deh, aku ngiri banget kalau lihat Lucas dan geng IPS nya nongkrong saat kelas kosong, sementara aku harus berlatih soal yang tidak ada habisnya.

Namun, aku melakukan ini semua demi Nata. Gila, ya? Bahkan kedua orangtuaku sempat tidak percaya saat aku bilang aku berminat masuk jurusan IPA. Papaku girang setengah mati dan ia langsung membayangkan aku yang akan melanjutkan studi di fakultas Teknik atau Kedokteran, sementara mamaku hanya manut-manut saja sambil meyakinkan keputusanku, mengingat ia tahu aku anaknya suka plin-plan.

Tidak, kali ini keputusanku bulat. Walaupun aku harus gambling apakah aku akan sekelas dengan Nata atau tidak, tapi setidaknya aku harus mencoba. Dan ternyata Tuhan mengabulkan doaku, aku ditempatkan sekelas dengan perempuan cantik ini.

-

“Hendery? Hendery?”

Suara Nata membuyarkan lamunanku. Jujur saja, kelas Fisika kali ini benar-benar membosankan. Aku hampir tidak paham dengan apa yang dikatakan guruku kalau saja Mario, Nata dan juga Eva, teman sebangku Nata, tidak membantuku.

“Udah ngerti belum?” bisik Nata saat guruku sedang sibuk memeriksa catatan temanku yang lain.

Aku hanya menggeleng pelan lalu Nata dengan cepat memberikan catatannya padaku. “Cepet tulis rumus yang ini,” perintahnya sambil menunjuk sebuah rumus yang ditulis rapi dan berwarna-warni padaku.

“Cepet, 1 menit!” perintahnya lagi dan langsung saja aku menulisnya. Berkat Nata, aku selamat dari ocehan guru Fisika-ku yang terkenal galak kalau muridnya tidak memperhatikan kelasnya.

***

April 2013

“Gimana persiapan UN nya?” Nata menegurku saat aku sedang menyalin sebagian catatan Mario di perpustakaan. Aku menyalinnya bukan karena aku malas mencatat, tapi karena aku sempat absen hampir dua minggu akibat sakit Typhus yang aku derita. Bisa-bisanya menjelang ujian aku malah sakit dan harus full bed rest di rumah.

“Nggak tau, Nat. Gue ketinggalan banyak banget. Kalo gue nggak lulus gimana Nat?” keluhku pelan. Jujur saja rasa percaya diriku menurun drastis. Dari kelas dua, Nata, Eva dan Mario adalah anak-anak pintar di kelasku. Mereka tidak pernah keluar dari ranking 5 besar di kelas. Sekarang aku kelas tiga dan sekelas dengan mereka lagi pun, mereka masih sama seperti itu.

Sementara aku? Bisa dapat ranking 15 dari 24 murid saja mamaku sudah syukuran kecil-kecilan di rumah.

“Sini aku bantuin. Kamu masih kesulitan dimana? Masih nggak ngerti yang mana?” Nata mendekatkan bangkunya dengan bangkuku dan mulai melihat-lihat catatan yang kusalin dari Mario dan juga latihan soal yang aku kerjakan. Lalu ia mengeluarkan buku coret-coretannya dan juga pensil dan mulai membantuku mengerjakan latihan soal yang masih belum aku pahami.

Tidak terasa hampir dua jam aku berlatih soal dengan Nata. Saat selesai, aku refleks meregangkan otot-otot tubuhku sementara Nata sibuk membereskan barang bawaannya.

“Nata, gue anterin lo balik, ya?” tawarku saat aku melihat jam yang menunjukkan waktu pukul 5 sore.

“Nggak papa, Hendery? Rumahku kan jauh,” jawabnya ragu.

Aku menggeleng sambil memamerkan senyuman terbaikku. “Nggak papa, lagian gue selalu kepengen nganterin lo pulang.”

“Eh?” Kulihat Nata sedikit terkejut dengan ucapanku barusan, tapi aku buru-buru mengalihkan perhatiannya.

“Yuk, nanti keburu makin sore, makin macet.”

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku mengantar Nata pulang. Waktu kelas dua aku pernah mengantarnya pulang karena Nata tiba-tiba pingsan di kelas dan tidak ada satupun teman sekelasku yang bawa kendaraan mobil selain aku. Waktu kelas tiga juga beberapa kali aku ke rumah Nata untuk kerja kelompok karena permintaan khusus dari orang tua Nata.

Tapi sejak hari ini, ada yang beda dari aku dan Nata. Sepanjang perjalanan pulang kami banyak mengobrol hal lain selain pelajaran; kami membicarakan film favorit, musik favorit, atau kegiatan-kegiatan lain yang kami suka kerjakan di luar sekolah.

Dan karena cerita-cerita baru dari Nata, aku semakin menyukainya. Awalnya aku menyukai perempuan ini karena ia cantik. Cantiknya tuh beda dengan perempuan lain yang jadi primadona di sekolah, sampai Lucas agak bingung dengan seleraku.

Lalu sejak sekelas dengan Nata, aku semakin naksir karena dia pintar. Sudahlah cantik, pintar ... idaman banget, kan?

Sekarang mendengar selera musik, film favorit, makanan favorit dan juga kegiatannya di luar sekolah ... Aku benar-benar jatuh cinta pada perempuan ini. Kalau kata Lucas, 'anak SMA tau apa sih tentang cinta-cintaan?'. Terserah, aku tidak peduli. Akan kubuktikan kalau aku memang tulus mencintainya.

Sampai tiba hari kelulusan kami, jujur saja saat yang lainnya senang karena akan melepas status mereka sebagai pelajar SMA, aku justru sedih. Aku tidak bisa membayangkan hari-hariku selanjutnya tanpa Nata (dan juga Mario dan Eva).

“Hendery, selamat ya!” ucap Nata saat ia menghampiriku yang sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah. Sebenarnya sedang ada acara makan siang di aula sekolah, tapi aku sama sekali tidak punya semangat untuk bergabung di acara itu.

Aku tersenyum. “Makasih ya, Nata. Lo juga selamat, dapet ranking 3 satu angkatan, keren banget!” pujianku untuknya mengalir begitu saja.

Nata duduk di sebelahku dan kami berdua sama-sama terdiam. Aku tidak tahu apa yang Nata pikirkan, tapi kalau aku, banyak sekali yang aku pikirkan. Aku penasaran Nata akan melanjutkan studinya kemana, tapi aku tidak mau mendengarnya. Aku takut jawabannya akan membuatku semakin sedih.

“Hendery rencana kuliah di mana?”

Ah, tapi aku tidak akan bisa mengelak dari topik ini. Pada akhirnya Nata yang bertanya padaku lebih dulu.

“Belum tau, Nat. Kalo lo?”

Nata mengangkat kedua bahunya. “Kepengennya masuk design atau apa aja deh yang berhubungan sama gambar-gambar. Tapi belum tau juga.”

Aku melongo. Aku pikir Nata akan mengambil jurusan Kedokteran atau Ekonomi seperti Mario dan Eva. “Lo mau masuk design? Seriusan?”

Nata mengangguk. “Serius. Kenapa? Kok kamu nanyanya kayak nggak yakin gitu aku bisa masuk design?”

Buru-buru aku menggeleng. “Bukan, bukan gitu. Kaget aja. Kirain lo minat sama eksak yang kayak Matematika atau Kedokteran gitu-gitu.”

“Nggak, aku nggak mau jadi Dokter. Aku takut, hehe ....”

Aku membatin bingung. 'Takut? Takut kenapa?'. Tapi kuurungkan niatku untuk bertanya.

“Hendery, kita masuk yuk. Takutnya dicariin sama guru-guru.” Nata bangkit dari duduknya tapi aku segera memegang pergelangan tangannya dan ikut bangkit berdiri agar ia tidak segera pergi.

“Nat, ada yang mau gue omongin sama lo,” ujarku gugup. Sebenarnya ini di luar rencanaku tapi masa bodohlah, daripada aku tunda terus-terusan, sebaiknya aku segera mengutarakannya sebelum terlambat.

“Ada apa, Dery?”

“Gue ... Gue suka sama lo, Nat. Dari kelas satu, hehe ....” Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri. 'Ngapain lo pake acara ketawa sih?'

“Gue takut kalo ternyata kita kuliahnya nggak bareng, atau mungkin lo ke luar negeri, gue nggak bisa ngomong kayak gini sama lo. Makanya gue pilih buat ngomong sama lo sekarang. Gue suka sama lo, Nata.”

Nata sama sekali tidak bergeming. Bahkan ia tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, membuatku menyesali ucapanku barusan.

“Nata, kalo lo nggak mau pacaran nggak papa kok. Gue nggak maksa. Gue cuma mau ngutarain perasaan gue aja, biar lega.”

Kali ini Nata tersenyum, tapi aku semakin takut untuk mendengar kalimat yang akan ia ucapkan. “Makasih ya, Hendery, udah suka sama aku.”

Huft, aku yakin sekali ini adalah kalimat pembukaan untuk menolak seseorang.

“Aku bingung sebenernya mau jawab apa, tapi aku juga kayaknya suka sama kamu deh.”

Mataku melebar. Apa ini? Aku tidak salah dengar, kan? Hey, ini bukan mimpi siang bolong, kan?

“L-lo suka sama gue juga, Nat?” tanyaku tergagap. Nata mengangguk dengan senyuman terbaiknya.

“Lo mau jadi pacar gue, Nat?” sambungku lagi. Kali ini Nata tidak langsung menjawab, tapi kemudian kulihat kepalanya kembali mengangguk.

“Iya, Hendery.”

Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Gila, rasanya sulit untuk percaya kalau apa yang kudengar siang ini bukanlah mimpi. Dari awalnya aku yang cuma naksir diam-diam, lalu nekat ambil jurusan IPA, sekelas dengan Nata dan sekarang aku pacaran dengan perempuan ini?

“Hendery.” Suara Nata membuyarkan lamunanku tapi tidak sampai disitu saja, sekarang ia mengambil tangan kananku dan menggandengnya erat. “Ayo masuk, nanti dicariin Bu Wid,” sambungnya sambil menarik tanganku agar ikut dengannya kembali ke aula sekolah.

Aku mengangguk. Terserah deh Nat, kamu mau seret aku kemana aja aku nggak peduli. Aku benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum bahagia. Rasanya, hidupku sempurna.

Seperti hari-hari sebelumnya, seusai jam kerja Kun dan Alyssa akan janjian bertemu di lobby gedung kantor mereka untuk pulang bersama.

How’s your day, Kun?” tanya Alyssa saat mereka berdua sedang berjalan menuju mobil Kun yang terparkir di basement.

Kun hanya tersenyum tipis, kemudian pembicaraan mereka terpotong karena sekarang mereka sama-sama masuk ke dalam mobil dan sibuk dengan seat belt masing-masing. Tidak lupa Kun menyetel playlist dari Spotify nya untuk menemani perjalanan pulang mereka sore itu.

“Hari ini kita mau belanja dulu? Atau mau beli makanan jadi?” tanya Alyssa di tengah perjalanan pulang mereka.

“Beli aja,” jawab Kun singkat.

Melihat Kun yang tidak banyak bicara seperti biasanya, atau sekedar menggenggam tangan Alyssa sambil ia menyetir, membuat Alyssa kembali bertanya. “Kamu beneran lagi ada masalah ya, Kun?”

Kun sedikit terperangah. “Hah? Enggak kok, Lys. Aku nggak papa,” jawabnya kikuk.

Sorry kalau kesannya aku kayak maksa, tapi nggak tau kenapa feeling aku ngerasa kamu kayak lagi ada sesuatu tapi kamu nggak mau cerita. Kamu ada pikiran?”

“Lys, kita makan malem nasi goreng itu aja, ya?” Kun menjawab pertanyaan Alyssa dengan menunjuk abang nasi goreng yang terlihat di depan matanya.

“Yaudah, oke,” balas Alyssa menyetujui ajakan Kun. Dugaan Alyssa menguat tentang Kun yang punya sesuatu yang disembunyikan, tapi melihat reaksi Kun, Alyssa memutuskan untuk tidak bertanya lagi.

Mobil Kun segera merapat mendekati gerobak nasi goreng itu lalu dari dalam mobil Kun memesan dua piring nasi goreng.

Sambil menunggu nasi goreng, keduanya sama-sama terdiam. Hanya terdengar suara Alyssa yang menelepon Sheryl untuk memberikan kabar kepada putrinya.

“Yaudah, Sheryl kerjain dulu PR nya. Nanti Mama periksa sebelum tidur … Iya, besok Sheryl boleh main barbie barunya, sekarang kerjain PR dulu ditemenin Bi Santi, ya? Oke, bye kesayangannya Mama. Love you.”

“Sheryl baik-baik aja, Lys?” Akhirnya Kun buka suara begitu Alyssa menutup teleponnya.

“Iya, Kun. Biasalah, ibu-ibu harus ngontrol anak kayak gini, biar nggak main melulu, hehe ….”

Kun hanya tersenyum mendengar kalimat Alyssa. Dipandanginya wanita itu, membuat keraguan semakin timbul semakin banyak di hati kecil Kun.

“Permisi, mbak mas, ini nasi gorengnya.” Dari luar jendela, abang nasi goreng mengantarkan pesanan mereka dan segera Kun dan Alyssa menyantap makan malam mereka.

“Maaf ya, Lys. Tadinya saya mau ajak kamu fine dining, tapi saya banyak kerjaan jadi nggak sempet reserved tempat. Tadi saya coba telfon tempat yang saya mau tapi semua udah full booked malam ini.”

Alyssa refleks tersenyum. “Jadi daritadi tuh kamu banyak pikiran karena ini?”

Kun mengangguk pelan karena merasa bersalah.

“Kun, nggak papa. Masih ada hari lain buat fine dining. Lagipula, saya lebih seneng yang kayak gini sama kamu. Lebih berkesan aja buat saya sendiri. Kalau di tempat mewah gitu saya malah awkward.”

“Lys, ada yang mau saya omongin sama kamu.”

Alyssa yang tengah menyuap nasi gorengnya menoleh ke arah Kun. Pria itu memegang piring nasi gorengnya dengan kikuk.

“Saya … Saya …”

“Kun, boleh saya ngomong duluan?”

Kun yang masih ragu dengan apa yang mau diucapkannya mempersilahkan Alyssa untuk bicara terlebih dahulu.

“Maaf saya telat jawab pertanyaan kamu tentang lamaran waktu itu. Kemarin saya emang masih ragu apakah saya sudah siap atau belum, tapi sekarang saya udah yakin.”

Alyssa berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan kata-katanya. “Saya sudah siap, Kun. Saya mau hidup bahagia sama kamu, sampai maut memisahkan kita.”

Kun melebarkan matanya, masih sulit buat dirinya mencerna apa yang didengarnya barusan.

“Kun? Kun? Kamu denger saya kan?” Suara Alyssa membuyarkan lamunan Kun.

“Eh? Denger, Lys.”

“Saya udah kasih jawabannya ke kamu. Nggak ada lagi utang yah,” ucap Alyssa sambil tersenyum lalu ia kembali menyantap nasi gorengnya.

Kun yang seperti tersadar dari lamunannya buru-buru menaruh piring nasi gorengnya di dashboard mobil dan mengambil kotak kecil dari dalam saku jas nya.

“Lys.” Kun berdeham pelan lalu ia membuka kotak kecil itu dan memperlihatkan isinya kepada Alyssa. Alyssa yang masih sibuk mengunyah tidak kuasa untuk menahan tawanya.

“Kok ketawa sih?” protes Kun bingung. Alyssa kemudian ikut menaruh piring nasi gorengnya di dashboard mobil agar ia bisa lebih leluasa bicara dengan Kun.

I just love to see how cute you are while being nervous. Jadi ini alasan kenapa tadi mau fine dining?”

Kun mengangguk malu, lalu ia menutup kotak kecil tadi dan hendak menyimpannya tapi Alyssa mencegahnya. “Kok nggak jadi? Ayo pasang di sini.” Alyssa mengulurkan tangan kanannya ke arah Kun.

Kun mengusap-usap tengkuknya. “Seharusnya nggak gini, Lys. Maaf, saya failed banget.”

“Ayo, tangan saya udah pegel dan saya masih laper mau makan lagi.” Alyssa mengabaikan keluhan Kun.

“Kamu nggak papa dilamar kayak gini?”

“Kun, yang paling penting ini.” Alyssa menunjuk pelan dada Kun seraya tersenyum manis.

Senyum Kun mengembang di wajahnya. Ia segera mengambil cincin berlian dari kotak kecil tadi dan memasangkannya di jari manis Alyssa. Alyssa tidak berhenti menatap kagum benda berkilau yang menghiasi jarinya.

“Cantik, cocok banget sama kamu,” puji Kun.

Alyssa segera mencium pelan pipi Kun. “Makasih banyak ya, Sayang,” ucapnya lalu ia kembali melanjutkan makan malamnya.

“Hah? Kamu tadi bilang apa?”

“Makasih banyak ya, Kun sayang.”

Kun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya sore hari itu. Masih dengan senyuman lebar, ia kembali menikmati nasi goreng yang mereka beli tadi.

“Suka nggak sama cincinnya?”

Alyssa mengangguk-angguk semangat, persis Sheryl kalau dapat mainan baru. “Suka. Tapi lebih suka sama yang ngasih sih.”

Wajah Kun memerah. “Alyssa, kamu sekarang udah berani godain saya, ya?”

Alyssa hanya menjulurkan lidahnya sedikit sebelum ia kembali menyantap nasi goreng miliknya.

“Ohiya, saya punya lagu spesial buat kamu, Lys. Sebentar ya.”

Kun kemudian mengutak-atik ponselnya sesaat sebelum terputar sebuah lagu yang Alyssa kenal betul judul dan penyanyinya.

You're the meaning in my life You're the inspiration You bring feeling to my life You're the inspiration (You’re the Inspiration – Chicago)

“Makasih banyak ya, Kun. Saya nggak pernah merasa se-spesial ini dalam hidup saya. Saya bener-bener bersyukur banget bisa ketemu sama kamu. Kamu bener-bener dikirimkan Tuhan buat saya di waktu yang tepat.”

Untuk sesaat keduanya saling diam sambil menatap kagum satu sama lain, hanya samar lagu yang dipersembahkan Kun untuk Alyssa terdengar mengisi kekosongan di mobil itu.

You should know (yes, you need to know) Everywhere I go Always on my mind You're in my heart, in my soul

I love you, Alyssa.”

I love you too, Qian Kun.”

“Lo yakin ini rumahnya?”

“Itu liat mobilnya si Lucas. Udah pasti ini rumahnya.”

“Lucas kemana?”

“Mana gue tau, gue kan sama lo daritadi. Beneran otak lo dipake dulu coba, Der.”

Setelah sedikit cekcok, baik Hendery maupun Dejun sama-sama terdiam. Hanya samar terdengar suara radio yang dipasang Hendery di mobilnya.

“Ini kita diem-diem aja?” tanya Dejun setelah beberapa saat mereka berdua tidak berbicara sepatah katapun.

“Terus, mau ngapain? Mau masuk ke dalem?” Hendery melempar balik pertanyaannya ke Dejun.

“Ya, coba aja? Si Lucas nggak ada di mobilnya kan? Gue yakin dia—“

Dor dor dor!

Kalimat Dejun terputus kala keduanya mendengar suara letusan pistol yang cukup keras dari dalam rumah Devina.

“Anjrit! Itu suara pistol?!”

“Ya kali bocah main petasan siang-siang!”

Dejun dan Hendery segera keluar dari mobil Hendery dan masuk ke dalam rumah Devina. Beruntung pintu pagar rumah itu tidak lagi terkunci. Satpam yang bertugas di rumah Devina lari tergopoh-gopoh dari pondok kecil yang terletak tidak jauh dari pintu pagar.

“Itu suara apa ya, Mas?” tanya sang satpam polos.

“Itu dari dalem rumah ini, Bapak!”

“Mas-mas ini siapa? Kalian mau mencuri ya?!”

Saat Pak Satpam sedang menginterogasi Hendery dan Dejun, sebuah motor Kawasaki Ninja berwarna hitam memotong pembicaraan mereka. Motor itu tancap gas tanpa mempedulikan siapapun yang berada di sana.

“Anjrit! Itu pelakunya, cepet kejar!” teriak Hendery panik. Tapi di saat bersamaan terdengar cukup nyaring suara minta tolong dari dalam rumah Devina.

“Lucas dulu, bego!” ujar Dejun setengah kesal sambil berlari masuk ke dalam rumah di susul Hendery dan juga Pak Satpam.

Tidak sulit mencari keberadaan Lucas dan Olivia karena suara Olivia yang terus-terusan berteriak minta tolong membantu langkah Dejun dan Hendery menemui mereka.

“Lucas!! Lucas!!” panggil Hendery dan Dejun heboh begitu mereka melihat Lucas yang sedang memeluk Olivia sudah tidak sadarkan diri.

“Liv, lo nggak papa?” tanya Dejun sambil berusaha melepaskan ikatan pada tubuh Olivia.

Olivia hanya mengangguk sambil terus-terusan menangis. “Lucas, tolongin Lucas. Please tolongin Lucas!” pintanya di sela isak tangisnya yang semakin menjadi.

Hendery berusaha menutup luka tembak di punggung Lucas dengan kedua tangannya, sementara Dejun membantu Olivia dan Pak Satpam menelepon ambulans.

***

Perlahan Olivia membuka kedua matanya. Hal pertama yang ia temui adalah ayah dan ibunya yang terlihat khawatir.

“Olivia,” panggil ibunya yang sedari tadi tidak bisa berhenti menangis. Ibu Olivia memeluk Olivia yang masih setengah tersadar.

“Mi, Lucas mana? Lucas nggak papa, kan? Mami, Oliv mau ketemu Lucas!”

Kedua orangtua Olivia berusaha menenangkan putrinya yang tergesa-gesa ingin segera turun dari ranjangnya untuk menemui Lucas.

“Lucas …”

“Lucas kenapa, Pi? Papi jawab pertanyaan Olivia! Lucas nggak papa kan?” Olivia memotong kalimat ayahnya, air matanya kembali tumpah. Ia tidak bisa tidak berhenti menangis, membayangkan skenario terburuk yang bisa saja terjadi pada Lucas saat itu.

Belum sempat mendengar jawaban ayah dan ibunya, Olivia sudah kembali menangis histeris sehingga kedua orangtua Olivia kembali memanggil dokter untuk menenangkan Olivia.

***

Sudah hampir 24 jam sejak Lucas selesai menjalani operasi untuk punggungnya yang tertembak, tapi sampai detik ini lelaki itu masih tertidur pulas di ranjangnya. Olivia yang duduk di sisi ranjang Lucas tidak berhenti menatap lelaki itu khawatir sembari menggenggam tangan Lucas.

“Cas, bangun … Please. Lo kan kuat, tenaga lo tenaga kuda, masa sama peluru gitu aja kalah?”

“Cas, maafin gue. Gue banyak salah sama lo, mulai dari gue yang selalu jahat sama lo, nggak pernah peduliin kata-kata lo, bahkan gue selalu nge-push lo buat jauh-jauh dari gue padahal gue tau lo ngelakuin itu semua karena emang lo tulus mau ngejagain gue.”

“Maafin gue yang kerjaannya cuma ngomelin lo doang. Gue janji kalo lo bangun, gue nggak bakal ngomelin lo lagi. Gue juga nggak bakal nge-push lo lagi. Gue sayang sama lo, Cas ….”

Olivia menunduk untuk menyembunyikan tangisnya di balik rambut panjangnya. Tanpa ia sadari, Lucas sudah membuka matanya dan kini sedang menatap Olivia yang tertunduk.

“Janji ya, Liv?” Suara serak Lucas menyela tangis pelan Olivia.

Olivia mengangkat kepalanya, dilihatnya Lucas sedang tersenyum ke arahnya. “Lucas? Lucas lo beneran sadar? Lo masih inget gue kan?”

Lucas tertawa pelan walaupun sambil sedikit meringis kesakitan. “Yang ditembak punggung gue, Liv, bukan kepala gue.”

Olivia buru-buru melepas genggaman tangannya dari tangan Lucas lalu ia menyeka air matanya dengan cepat.

Melihat tingkah Olivia, Lucas lagi-lagi terkekeh. “Tadi katanya janji nggak mau ngomelin gue lagi? Terus apa tadi, lo sayang sama gue?”

Mata Olivia melebar. “Nggak. Lagian kenapa lo dengerin kata-kata gue tadi?!”

“Lah, gue punya kuping? Lagian gue udah sadar tau daritadi, tapi tiba-tiba lo dateng. Kirain mau marah-marah makanya gue pura-pura tidur. Eh, nggak taunya lo malah nangis.”

Olivia segera bangkit dari tempat duduknya, lalu ia mendorong tiang infus yang sedari tadi menemani dirinya dan berjalan keluar dari ruangan Lucas.

“Liv? Mau kemana? Kok ninggalin gue?” tanya Lucas bingung.

“Gue ngantuk.”

Di dalam kamar rawat inapnya Lucas berusaha menahan tawa melihat Olivia yang salah tingkah sementara Olivia berjalan kembali ke kamarnya sambil berusaha menahan malu akibat pengakuan kecilnya barusan.