Like A Fool
Olivia bergelung malas dalam selimutnya. Bolak-balik ia memeriksa room chat dirinya dengan Lucas tapi tidak ada balasan lagi dari lelaki itu.
‘Ngeselin banget deh,’ gerutu Olivia sendiri lalu ia melempar ponselnya pelan ke sisi lain kasurnya.
Tiba-tiba saja radar pendengarannya menangkap suara asing dari ruang tengahnya, seperti ada orang lain selain dirinya di dalam unit itu. Perasaan Olivia langsung tidak enak, buru-buru ia bangun dari kasurnya, mencari benda yang bisa membantunya melindungi diri namun sayang tidak ada.
Akhirnya ia mengambil gulingnya dan keluar dari kamar perlahan agar tidak menimbulkan suara lain. Orang asing di ruang tengah itu kini terdengar sedang membuka kantong plastik dan menaruh beberapa benda di atas meja makan Olivia.
Karena semua lampu sudah dimatikan, Olivia tidak dapat melihat jelas siapa orang itu; hanya terlihat samar-samar orang itu adalah seorang lelaki bertubuh tinggi. Dan sebelum lelaki itu bertindak aneh-aneh, Olivia segera memukulinya.
“Siapa lo?! Ngapain di apartemen gue?!” teriak Olivia, tangannya tidak berhenti menyerang lelaki itu dengan gulingnya.
“Liv! Liv! Ini gue, Lucas!” balas Lucas berteriak sambil berusaha melindungi diri dari serangan Olivia dan mencari tombol lampu unit itu.
“Bohong! Siapa lo, ngaku?!” Olivia tidak peduli, ia tetap memukuli lelaki itu.
Klik, lampu dinyalakan tapi Olivia masih saja menyerang Lucas karena ia panik.
“Olivia Gianna! Ini gue, Lucas!” Lucas segera meraih guling Olivia agar perempuan itu berhenti memukulinya.
Olivia terperangah, benar yang dilihatnya kini adalah Lucas yang masih berpakaian rapi; jaket kulit warna coklat tua, kaos putih polos yang dimasukkan ke dalam celana jeans tuanya dan rambut yang disisir klimis rapi.
“Kenapa datengnya diem-diem sih?!” protes Olivia kesal. Ia merebut dengan kasar gulingnya dari tangan Lucas dan kembali berjalan ke kamarnya.
Lucas membuntuti Olivia. “Sorry, gue pikir lo udah tidur. Makanya gue pelan-pelan nggak mau gangguin lo.”
Olivia berhenti tepat di depan pintu kamarnya, dengan cepat ia membalikan badannya, membuat Lucas hampir saja menabrak perempuan mungil itu kalau saja kakinya tidak cepat berhenti melangkah.
“Terus ngapain ke sini? Bukannya lo lagi seneng-seneng sama temen lo?” tanya Olivia ketus.
Lucas tersenyum lebar sambil mengacak pelan rambut bagian depan Olivia. “Soalnya ada yang khawatir sama gue. Gue juga kangen sih sama orang itu.”
Olivia memutar bola matanya lalu ia kembali berbalik badan untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Oliv … Kok marah? Kan gue udah pulang nih sesuai permintaan lo, gue pulang nggak malem-malem. Gue juga nggak minum any alcohol kok, tadi gue minum mocktail doang.” Lucas kembali membuntuti Olivia sambil memberi penjelasan kepada perempuan itu.
“Terserah, gue ngantuk. Sana balik ke apartemen lo. Balik seneng-seneng lagi juga boleh.”
Mendengar Olivia yang masih bersikap ketus padanya, Lucas segera menarik perempuan itu dan memeluknya, mencegahnya untuk kembali masuk ke dalam selimut.
“Lucas, apaan sih … Lepasin.” Olivia berusaha melepaskan diri dari pelukan Lucas tapi sulit. Kini Lucas memeluknya semakin erat, kedua tangannya yang kokoh sukses menenggelamkan Olivia dalam dekapannya.
“Maaf, tadi bikin lo panik. Gue nggak bermaksud ngingetin lo sama kejadian yang dulu-dulu ….”
Olivia hanya diam, ia berhenti memberontak untuk melepaskan diri dari pelukan Lucas. Kedua tangan Olivia yang ragu kini menggenggam pinggiran jaket kulit milik Lucas.
Lucas melonggarkan pelukannya dan menatap Olivia. “Maaf ya, Liv?” ucapnya lalu ia mencium lembut wajah Olivia. Kening, mata kanan, hidung dan yang terakhir, bibir mungil perempuan itu.
“Gue pulang, ya? Kayaknya lo emang udah ngantuk. Maaf udah ganggu waktu tidur lo,” pamit Lucas sambil melepaskan pelukannya.
Olivia masih saja diam sementara Lucas sudah berjalan keluar dari kamarnya. Suara langkah kakinya terdengar semakin menjauh.
“Lucas,” panggil Olivia tepat saat Lucas hendak keluar dari unit apartemennya.
Yang dipanggil hanya menoleh dan tersenyum tipis. “Kenapa, Liv?”
“Lo mau nemenin gue nggak, tidur di sini malem ini?”