Frankness
the quality of being open, honest, and direct in speech or writing.
2015, 14 Februari
Nata
‘Nat, aku di kantin ya.’
Aku tersenyum tipis membaca pesan teks yang dikirimkan Hendery. Kalau hari Jumat memang kelas Hendery lebih dulu selesai, jadi dia selalu menungguku entah di kantin, perpustakaan atau selasar tempat di mana mahasiswa kampus kami bisa menghabiskan waktu.
Tidak lama bagiku untuk tiba di kantin dan begitu aku sampai di sana, radar mataku langsung menemukan Hendery … dan beberapa kakak tingkat yang sedang duduk bersamanya.
Dari tempatku berdiri aku dapat melihat tawa lepas Hendery saat ia bersenda gurau dengan mereka yang semuanya adalah perempuan.
Perasaan aneh timbul dalam hatiku. Kalau ditanya cemburu, ada sih. Cemburu karena para kating itu sepertinya lebih bisa membuat Hendery bahagia. Mereka juga jauh lebih menarik dibandingkan denganku.
Aku mundur satu langkah, rasanya enggan untuk menghampiri Hendery. Tapi saat aku berbalik, suara Hendery terdengar memanggilku.
“Nata!”
‘Ah, ternyata dia melihatku.’
“Nata, mau kemana? Kok pergi? Ayo gabung sini.” Hendery yang datang menghampiriku segera menarik tanganku, mengajaknya untuk duduk bergabung dengan kakak tingkat kami.
“Siapa, Der?” tanya salah seorang dari mereka. Ia memakai atasan warna merah model sabrina, rambutnya sengaja diwarnai warna coklat terang.
“Oh kenalin, Nata, pacar gue,” jawab Hendery sambil mempersilahkanku untuk duduk di sisi kanannya.
“Pacar? Serius lo pacarnya Hendery?” Kali ini seorang yang lain bertanya padaku. Aku hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis.
Sontak kakak tingkat yang berjumlah 3 orang itu memandangiku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“What’s wrong with your clothes, darling?” tanya seorang yang lain sambil memegang sedikit cardiganku di bagian lengan.
Aku menyesal hari ini aku hanya memakai blouse tanpa lengan yang ku padu dengan cardigan coklat muda dan juga celana jins warna biru terang.
“Ih tadi siapa nama kamu? Nata? Kalo jadi pacar Hendery at least glowing sedikit gitu loh.”
Aku kembali tersenyum kikuk. ‘Ya, memang harusnya aku tahu diri.’
Suasana berubah menjadi canggung dan tiba-tiba saja Hendery bangkit dari duduknya. “Kak, gue sama Nata cabut duluan, ya? Anyway thanks buat donat sama kopinya. Tapi kapan-kapan nggak usah lagi kayak gini, ngerepotin. Nggak abis juga kan, sayang.” Hendery mengangkat gelas ice coffee yang masih lumayan banyak.
“Nggak repotin sama sekali tau, Hendery. Ini kopinya bawa aja.”
Hendery hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. Ia pun segera mengunci tangannya dengan tanganku dan mengajakku untuk pergi dari situ.
“Maaf ya,” ucapnya pelan saat kami sudah keluar dari kantin. Tangannya masih saja menggenggam milikku seolah-olah dia takut kehilanganku.
“Maaf buat apa?”
“Kata-kata kating tadi. Aku tau kamu pasti nggak nyaman sama ucapan mereka tadi.”
“Oh, nggak papa. Mereka ada benernya juga.”
Hendery menghentikan langkahnya, refleks aku ikut berhenti. Ia berdiri di hadapanku lalu memegang kedua bahuku dan menatapku. “Nata, Nata begini aja udah lebih dari cukup buat aku.”
Aku menunduk, menghindari tatapannya. Aku memainkan ujung cardigan lusuhku karena tidak tahu harus menjawab apa.
“Nata …”
“Apa?”
“Kita makan es krim aja yuk?”
Mataku yang sedikit berair mencoba berani membalas tatapannya yang kulihat masih sama dengan beberapa menit sebelumnya, tatapan mata teduh yang jarang diperlihatkan Hendery kepada orang lain. Tatapan yang mampu meyakinkanku dengan segala ucapannya.
“Makan es krim di mana?”
“Beli di Indomaret, terus kita makan di rumah kamu, gimana? Ohiya, kemarin kamu bilang kamu mau tunjukkin hasil latihan kamu ke aku?”
Aku tersenyum tipis. “Iya.”
“Yaudah, yuk?” ucapnya sambil merangkulku bahuku dan kami kembali berjalan beriringan menuju mobil Hendery yang terparkir di halaman luar gedung kampus kami.
“By the way Nat, tadi ada yang kasih aku coklat pas kelas Pak Gunawan. Tapi aku tolak. Aku bilang aku alergi coklat.” Hendery bercerita sambil terkekeh pelan.
“Lho, kenapa?”
“Aku cuma mau coklat dari kamu. Mana?” Tangan kanan Hendery yang bebas mengadah di depanku.
Aku tidak langsung meresponsnya. Memang aku selalu menyiapkan coklat buatanku sendiri setiap hari Valentine, tapi karena kejadian tadi kuurungkan niatku untuk memberikan coklat itu kepada Hendery.
“Ayo mana … Aku tau kamu bikin buat aku.”
Aku tidak punya pilihan lain; aku mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasku dan memberikannya kepada Hendery. Kulihat senyum bahagia di wajah Hendery, seolah-olah dia memenangkan lotre ratusan juta rupiah.
“Makasih ya, sayang. I love you, Nata.”
Hendery selalu punya cara untuk menunjukkan kalau perasaannya tulus hanya untukku dan juga, ia selalu jujur padaku.
Seperti ceritanya tentang coklat yang ia dapatkan di kelasnya tadi, sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu tapi tidak dengan Hendery. Baginya hal-hal kecil yang sering disepelekan pasangan lain justru penting untuk hubungan aku dengannya.
Aku membalas ucapan sayangnya dengan kalimat yang sama, walaupun ada keraguan apakah aku juga bisa berlaku jujur dan tulus sama seperti Hendery.