Peluk
Perlahan Olivia mengintip dari balik pintu unit apartemennya untuk memastikan tidak ada siapa-siapa di koridor. Setelah yakin koridor lantai unitnya kosong, Olivia keluar dari apartemennya dan menghampiri unit milik Lucas.
Ia menekan bel beberapa kali, tapi tidak ada jawaban dari dalam yang menandakan Lucas belum tiba.
“Mana sih kok nggak nyampe-nyampe,” gerutu Olivia sambil melihat jam di layar ponselnya. Ia ingin sekali mengirimkan pesan ke Lucas tapi ternyata rasa gengsinya masih terlalu tinggi untuk dilawan.
Saat Olivia sedang mondar-mandir di depan unit Lucas, lelaki itu datang bersama Hendery dan Dejun.
“Oliv?” tegur Lucas melihat perempuan mungil itu seperti kucing kehilangan induknya.
“Eh, udah nyampe?” tanya Olivia kikuk dan sedetik kemudian ia merutuk dirinya sendiri yang bertanya pertanyaan tidak penting seperti barusan.
“Lo dari tadi pagi di sini? Sumpah, Liv?” Lucas bertanya dengan nada tidak percaya. “Anjir lah lo Der, lama banget jemput gue. Kasian Oliv tau.” Kali ini Lucas menyemprot sahabatnya yang membantu dirinya membawa tas pakaian Lucas.
“Ya maaf, gue kan nggak tau,” balas Hendery pelan. Dejun hanya tersenyum penuh arti sambil bergantian memperhatikan Olivia dan Lucas.
“Udahlah nggak penting gue di sini dari jam berapa, ayo masuk dulu. Nyokap gue beliin makanan buat lo,” ujar Olivia sambil mengangkat sedikit kantong plastik yang sedari tadi ia bawa.
“Kayaknya kita cabut aja deh, Der. Si Lucas udah ada yang jagain.” Dejun bersuara saat Lucas sedang memasukkan lock password unitnya.
Hendery yang memahami maksud Dejun buru-buru membalasnya, “oh iya. Kita cabut ya, ini tas nya Lucas.” Hendery memberikan tas jinjing berukuran sedang berwarna hitam milik Lucas kepada Olivia.
Dejun juga ikut-ikutan memberikan kantong plastik berisikan buah-buahan kepada Olivia dan buru-buru ia menyeret Hendery untuk segera pergi dari situ.
“Heh? Woi? Lo kok pada pergi sih?” Lucas masih kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi tapi baik Dejun ataupun Hendery tidak ada yang menanggapi, mereka segera kabur dengan lift yang kebetulan tiba di lantai 25 itu.
“Cepetan buka pintunya, berat nih tas lo.” Olivia yang tangannya penuh dengan segala macam bawaan Lucas kembali bersuara.
“Eh iya, maaf.” Lucas buru-buru membuka pintu unitnya dan mempersilahkan Olivia untuk masuk.
Tanpa bicara sepatah katapun, Olivia segera menaruh dua kantong plastik berisikan makanan dan buah di atas meja makan, lalu ia masuk ke dalam kamar Lucas sebentar untuk menaruh tas pakaian Lucas.
“Sini, makan siang,” panggil Olivia dari meja makan. Ia tengah membuka bungkusan makan siang yang dikirimkan ibunya.
Lucas menurut. Dengan langkah pelan karena punggungnya masih terasa nyeri, ia menghampiri meja makannya dan duduk di sana. Setelah semuanya siap, keduanya menyantap makan siang mereka dalam diam.
“Thank you, Liv,” ucap Lucas setelah makan siangnya habis ia lahap hingga tak bersisa. Olivia hanya bergumam pelan sambil menyeruput kuah sup yang masih tersisa di mangkuknya.
“Liv, gue serius nanya, lo daritadi pagi di sini?” Lucas kembali bertanya pertanyaan yang belum terjawab sedari tadi.
“Iya,” jawab Olivia singkat. Kini perempuan itu tengah membereskan peralatan makan siang miliknya dan Lucas.
“Kenapa nggak bilang dari semalem? Kan gue bisa minta Dery jemput pagian. Kalo kayak gini gue nggak enak sama lo.”
“Nggak enak kasih kucing,” balas Olivia datar.
“Ih Oliv, gue serius nggak enak sama lo. Gue tau lo paling nggak suka nunggu lama.”
Olivia yang sedang mencuci perkakas makan siang mereka berhenti sejenak. “Lo mending masuk kamar terus istirahat deh, biar badan lo cepet pulih. Jangan gangguin gue, gue sibuk.”
“Liv, nggak usah dicuci piringnya. Besok ada Bi Inah dateng.”
“Lucas!” Olivia memanggil Lucas dengan nada sedikit tinggi. “Bisa nggak sih nggak usah komen apa-apa gitu udah diem aja. Sana tidur di kamar, gue nggak suka kalo lagi kerja diliatin.”
Namun Lucas menghiraukan permintaan Olivia; ia malah mendekati perempuan itu dan berdiri di samping Olivia yang masih sibuk mencuci piring. Matanya tidak bergeming menatap perempuan itu dengan banyak arti.
“Liv,” panggil Lucas dengan nada rendah ciri khasnya.
“Apa lagi? Kamar lo di sana bu—”
Chu~, sebuah kecupan lembut mendarat di pipi kanan Olivia. Lucas tersenyum senang, sementara wajah Olivia yang berkulit putih pucat langsung terlihat memerah.
“Gue ke kamar dulu ya, nanti lo nyusul aja.” Lucas kemudian pergi meninggalkan Olivia sendirian di dapur.
Setelah Lucas menghilang dari radarnya, Olivia langsung mengatur nafasnya. Jantungnya berdegup cepat tidak karuan dan sebelum pikirannya mulai kemana-mana, ia memutuskan untuk segera menyelesaikan acara cuci piringnya.
Selesai dengan urusannya di dapur, Olivia menghampiri kamar Lucas. Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, memudahkan Olivia melihat Lucas yang sedang kesulitan mengganti perban lukanya di punggung.
Olivia membeku di depan kamar Lucas, bukan karena ia tidak mau membantu lelaki itu, tapi ingatannya kembali ke masa terburuknya seminggu lalu. Detik berikutnya Olivia terjatuh di depan kamar Lucas, dan tanpa disadari ia mulai menangis sambil memejamkan mata dan memegangi kepalanya, berusaha menghapus kenangan buruk yang memenuhi pikirannya.
“Liv? Oliv?!” seru Lucas panik mendengar Olivia yang ambruk di depan kamarnya. Buru-buru Lucas memakai kaosnya lalu menghampiri Olivia, ia berjongkok memeluk Olivia, mencoba meredakan tangis perempuan itu.
“Oliv, lo kenapa?” tanya Lucas lembut. Tangannya tidak berhenti mengusap-usap puncak kepala Olivia.
“Maafin gue, Cas. Maafin gue,” jawab Olivia di sela isak tangisnya. “Maafin gue ….” tangis perempuan itu kembali pecah.
“Liv, lo nggak salah apa-apa. Stop nangisnya dong, please.” Lucas mengeratkan pelukannya, membuat Olivia hampir sepenuhnya tenggelam dalam dekapan Lucas.
Setelah tangis Olivia mereda, Lucas melonggarkan pelukannya agar ia bisa melihat wajah Olivia. Mata Olivia sukses membengkak dan masih dengan isakan pendeknya, perempuan itu mencoba menarik nafas beberapa kali agar ia bisa bicara dengan lebih jelas.
“Punggungnya masih sakit nggak?” tanya Olivia dengan suara serak.
Lucas tersenyum, ia membantu Olivia untuk berdiri dan menuntunnya pelan ke ruang TV. Keduanya kini duduk di sofa ruang TV.
“Sedikit. Tapi nggak papa kok. Ada untungnya juga biasa dipukulin bokap, jadi udah tahan banting sama rasa sakit-sakit kayak gini,” jawab Lucas santai.
Olivia memukul pelan lengan Lucas. “Bego, apa untungnya?”
Senyum di wajah Lucas belum memudar. Ia tahu benar kalau perempuan di hadapannya ini sedang mengkhawatirkan dirinya.
“Tadi nangis kenapa?”
“Gue keingetan kejadian kemarin.”
Kembali Lucas memeluk Olivia dan mengusap pelan puncak kepala perempuan itu. “Liv, tunggu sebentar, ya. Begitu gue sembuh, gue bakal cari bajingan itu.”
Olivia menggeleng. “Jangan, gue nggak mau lo kenapa-napa lagi.”
“Nggak, gue nggak akan kenapa-napa, Liv. Gue kan strong, hehe ….”
Olivia mendorong pelan dada Lucas sambil memanyunkan bibirnya sebal. Sebal karena Lucas hobi sekali bercanda di saat dirinya sedang benar-benar khawatir pada lelaki itu.
“Hehe, jangan cemberut gitu. Beneran, lo tenang aja, gue nggak akan kenapa-napa. Lo nggak usah takut atau khawatir.”
Lucas kembali menarik Olivia masuk ke dalam dekapannya dan perempuan itu menurut. Ia membiarkan kepala Olivia bersandar pada dada bidang Lucas.
“Liv.”
“Hm?”
“Boleh nggak, gue peluk lo terus kayak gini? Mau peluk yang lama, biar cepet sembuh.”
Olivia memutar bola matanya. Kalau sifat manjanya Lucas sudah kumat, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Ia langsung ingat kalau dulu ia akan mati-matian menolak Lucas, tidak peduli apa kata hatinya yang sebenarnya berlawanan dengan pikirannya. Tapi sekarang ia tidak mau membiarkan rasa gengsi mengalahkan kemauan hatinya.
“Boleh. Sampe besok juga boleh.”
Giliran Lucas yang kaget. Ia refleks melepas pelukannya sesaat. “Hah? Besok? Lo mau nginep? Emang lo nggak dicariin nyokap lo? Oliv? Lo bercanda, kan?”
Olivia berdecak pelan. “Cerewet, gue tinggal pulang, ya?” Olivia bergegas bangkit dari duduknya tapi Lucas dengan cepat memegang pergelangan tangannya.
“Ih jangan.” Lucas menarik pelan tangan Olivia agar perempuan itu kembali duduk di sampingnya. “Pulangnya nanti aja. Nanti kalo nyokap lo nyariin, gue yang bakal telfon nyokap lo.”
“Nyokap gue nggak bakal nyariin. Dia udah tau gue di sini.”
Mata Lucas membesar, ia masih sulit mencerna maksud ucapan Olivia. “Liv? Lo seriusan? Apa sih Oliv jangan bikin gue mikir aneh-aneh dong.”
“Lo mikir aneh-aneh apa sih? Gue sekarang tinggal di unit sebelah, Lucas.”
Lucas semakin membesarkan mata bulatnya, alisnya hampir menyatu karena ia bingung. “Unit sebelah?? Lo pindah?? Atau gimana??”
“Ini mau jadi peluk nggak? Gue tinggal beneran kalo lo masih banyak nanya kayak wartawan.”
Buru-buru Lucas mendekap Olivia lalu bersandar nyaman di sofanya. “Oke, gue diem.”
Olivia tersenyum. Ia melingkarkan tangannya di tubuh Lucas, membalas pelukan lelaki itu sembari membenarkan posisi kepalanya di dalam pelukan Lucas.
“Lucas.”
“Apa, Liv?”
“Gue sayang sama lo.”
Senyum sumringah menghiasi wajah Lucas. Baginya tidak ada perasaan yang lebih baik selain apa yang ia rasakan saat ini. Refleks ia mengeratkan pelukannya lalu mencium pelan puncak kepala Olivia.
“Gue juga sayang sama lo, Olivia.”