Untold Story
“Lo yakin ini rumahnya?”
“Itu liat mobilnya si Lucas. Udah pasti ini rumahnya.”
“Lucas kemana?”
“Mana gue tau, gue kan sama lo daritadi. Beneran otak lo dipake dulu coba, Der.”
Setelah sedikit cekcok, baik Hendery maupun Dejun sama-sama terdiam. Hanya samar terdengar suara radio yang dipasang Hendery di mobilnya.
“Ini kita diem-diem aja?” tanya Dejun setelah beberapa saat mereka berdua tidak berbicara sepatah katapun.
“Terus, mau ngapain? Mau masuk ke dalem?” Hendery melempar balik pertanyaannya ke Dejun.
“Ya, coba aja? Si Lucas nggak ada di mobilnya kan? Gue yakin dia—“
Dor dor dor!
Kalimat Dejun terputus kala keduanya mendengar suara letusan pistol yang cukup keras dari dalam rumah Devina.
“Anjrit! Itu suara pistol?!”
“Ya kali bocah main petasan siang-siang!”
Dejun dan Hendery segera keluar dari mobil Hendery dan masuk ke dalam rumah Devina. Beruntung pintu pagar rumah itu tidak lagi terkunci. Satpam yang bertugas di rumah Devina lari tergopoh-gopoh dari pondok kecil yang terletak tidak jauh dari pintu pagar.
“Itu suara apa ya, Mas?” tanya sang satpam polos.
“Itu dari dalem rumah ini, Bapak!”
“Mas-mas ini siapa? Kalian mau mencuri ya?!”
Saat Pak Satpam sedang menginterogasi Hendery dan Dejun, sebuah motor Kawasaki Ninja berwarna hitam memotong pembicaraan mereka. Motor itu tancap gas tanpa mempedulikan siapapun yang berada di sana.
“Anjrit! Itu pelakunya, cepet kejar!” teriak Hendery panik. Tapi di saat bersamaan terdengar cukup nyaring suara minta tolong dari dalam rumah Devina.
“Lucas dulu, bego!” ujar Dejun setengah kesal sambil berlari masuk ke dalam rumah di susul Hendery dan juga Pak Satpam.
Tidak sulit mencari keberadaan Lucas dan Olivia karena suara Olivia yang terus-terusan berteriak minta tolong membantu langkah Dejun dan Hendery menemui mereka.
“Lucas!! Lucas!!” panggil Hendery dan Dejun heboh begitu mereka melihat Lucas yang sedang memeluk Olivia sudah tidak sadarkan diri.
“Liv, lo nggak papa?” tanya Dejun sambil berusaha melepaskan ikatan pada tubuh Olivia.
Olivia hanya mengangguk sambil terus-terusan menangis. “Lucas, tolongin Lucas. Please tolongin Lucas!” pintanya di sela isak tangisnya yang semakin menjadi.
Hendery berusaha menutup luka tembak di punggung Lucas dengan kedua tangannya, sementara Dejun membantu Olivia dan Pak Satpam menelepon ambulans.
***
Perlahan Olivia membuka kedua matanya. Hal pertama yang ia temui adalah ayah dan ibunya yang terlihat khawatir.
“Olivia,” panggil ibunya yang sedari tadi tidak bisa berhenti menangis. Ibu Olivia memeluk Olivia yang masih setengah tersadar.
“Mi, Lucas mana? Lucas nggak papa, kan? Mami, Oliv mau ketemu Lucas!”
Kedua orangtua Olivia berusaha menenangkan putrinya yang tergesa-gesa ingin segera turun dari ranjangnya untuk menemui Lucas.
“Lucas …”
“Lucas kenapa, Pi? Papi jawab pertanyaan Olivia! Lucas nggak papa kan?” Olivia memotong kalimat ayahnya, air matanya kembali tumpah. Ia tidak bisa tidak berhenti menangis, membayangkan skenario terburuk yang bisa saja terjadi pada Lucas saat itu.
Belum sempat mendengar jawaban ayah dan ibunya, Olivia sudah kembali menangis histeris sehingga kedua orangtua Olivia kembali memanggil dokter untuk menenangkan Olivia.
***
Sudah hampir 24 jam sejak Lucas selesai menjalani operasi untuk punggungnya yang tertembak, tapi sampai detik ini lelaki itu masih tertidur pulas di ranjangnya. Olivia yang duduk di sisi ranjang Lucas tidak berhenti menatap lelaki itu khawatir sembari menggenggam tangan Lucas.
“Cas, bangun … Please. Lo kan kuat, tenaga lo tenaga kuda, masa sama peluru gitu aja kalah?”
“Cas, maafin gue. Gue banyak salah sama lo, mulai dari gue yang selalu jahat sama lo, nggak pernah peduliin kata-kata lo, bahkan gue selalu nge-push lo buat jauh-jauh dari gue padahal gue tau lo ngelakuin itu semua karena emang lo tulus mau ngejagain gue.”
“Maafin gue yang kerjaannya cuma ngomelin lo doang. Gue janji kalo lo bangun, gue nggak bakal ngomelin lo lagi. Gue juga nggak bakal nge-push lo lagi. Gue sayang sama lo, Cas ….”
Olivia menunduk untuk menyembunyikan tangisnya di balik rambut panjangnya. Tanpa ia sadari, Lucas sudah membuka matanya dan kini sedang menatap Olivia yang tertunduk.
“Janji ya, Liv?” Suara serak Lucas menyela tangis pelan Olivia.
Olivia mengangkat kepalanya, dilihatnya Lucas sedang tersenyum ke arahnya. “Lucas? Lucas lo beneran sadar? Lo masih inget gue kan?”
Lucas tertawa pelan walaupun sambil sedikit meringis kesakitan. “Yang ditembak punggung gue, Liv, bukan kepala gue.”
Olivia buru-buru melepas genggaman tangannya dari tangan Lucas lalu ia menyeka air matanya dengan cepat.
Melihat tingkah Olivia, Lucas lagi-lagi terkekeh. “Tadi katanya janji nggak mau ngomelin gue lagi? Terus apa tadi, lo sayang sama gue?”
Mata Olivia melebar. “Nggak. Lagian kenapa lo dengerin kata-kata gue tadi?!”
“Lah, gue punya kuping? Lagian gue udah sadar tau daritadi, tapi tiba-tiba lo dateng. Kirain mau marah-marah makanya gue pura-pura tidur. Eh, nggak taunya lo malah nangis.”
Olivia segera bangkit dari tempat duduknya, lalu ia mendorong tiang infus yang sedari tadi menemani dirinya dan berjalan keluar dari ruangan Lucas.
“Liv? Mau kemana? Kok ninggalin gue?” tanya Lucas bingung.
“Gue ngantuk.”
Di dalam kamar rawat inapnya Lucas berusaha menahan tawa melihat Olivia yang salah tingkah sementara Olivia berjalan kembali ke kamarnya sambil berusaha menahan malu akibat pengakuan kecilnya barusan.