Takut

Sekitar pukul 3 sore Olivia terbangun dari tidur siangnya yang singkat. Olivia berusaha mengingat apa saja yang terjadi sebelum ia tidur dan sedetik kemudian ia ingat akan pesan terakhir yang Lucas kirimkan untuknya.

Buru-buru Olivia mengecek depan pintu apartemennya dan benar saja, ia mendapati Lucas sedang bersandar di dinding seberang pintu unitnya sambil memainkan game di ponselnya.

“Bentar Liv, nanggung. Dikit lagi selesai,” ucap Lucas yang menyadari pintu apartemen Olivia terbuka tapi matanya tidak lepas dari layar ponselnya.

“Terserah.” Olivia kembali masuk dan menutup pintu unitnya. Beruntung gerak cepat tangan Lucas berhasil menahan pintu itu untuk tertutup rapat.

“Liv.”

Olivia tidak menggubris panggilan lelaki itu, ia kembali masuk ke unitnya dengan Lucas membuntuti di belakangnya.

“Oliv, itu yang dibilang nyonyagossip bohong, kan? Lo nggak beneran mau quit, kan?” Lucas memberondong Olivia dengan berbagai pertanyaan.

Olivia menghabiskan air putihnya lalu ia pergi ke sofa ruang TV dan bermalasan-malasan di sana tanpa menjawab pertanyaan Lucas.

“Oliv—”

“Nyonyagossip bener, gue gak mau lagi jadi selebgram. Puas?” Olivia memotong Lucas karena dia tahu lelaki itu tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan jawaban darinya.

Lucas duduk di sisi kiri Olivia dan menatap perempuan itu dengan dahi berkerut. “Kenapa?”

“Nggak mau aja, males,” jawab Olivia asal.

Lucas menghela nafas sabar. Dia tahu benar itu bukan alasan Olivia yang sebenarnya tapi, kalau dia terus-terusan memaksa perempuan itu, ia tahu percakapan ini akan berakhir dengan tidak baik.

“Lo mending pulang aja deh, gue lagi nggak mood bercandaan.”

“Gue main game di sini, boleh ya? Sepi kalo sendirian di apart,” pinta Lucas dengan nada bicara melunak.

Olivia bangkit dari sofa dan berjalan masuk ke kamarnya. “Hm, terserah lo.”

Sudah 2 jam sejak kedatangan Lucas, berarti sudah 2 jam juga Olivia mengurung diri di kamar. Entah sudah berapa puluh video Youtube ia tonton karena ia bosan dengan serial drama, dan sekarang perempuan itu juga sudah bosan dengan video-video di Youtube ini tetapi ia masih malas untuk keluar dari kamar.

Ya, dia malas karena ia akan kembali bertemu Lucas. Lelaki itu masih saja asyik bermain dengan game ponselnya di ruang tengah unit Olivia.

Tapi akhirnya Olivia menyerah. Kalau dipikir-pikir mau sampai kapan ia terus-terusan di kamar? Dan sekarang perutnya mulai keroncongan minta diisi.

“Mau makan malem apa?” tanya Olivia yang berjalan melewati Lucas di ruang tengahnya menuju dapur.

Lucas segera menyusul Olivia. “Ikut dong masak-masaknya! Gue bantuin.”

“Nggak usah bantuin, nanti yang ada makanannya gak jadi. Udah lo main game aja sana.” Olivia berusaha mengusir Lucas tapi lelaki itu kekeuh bertahan di dapur.

“Maunya bantuin Oliv. Boleh, ya? Ya ya ya?”

Olivia menghela nafas pasrah. “Yaudah, rebus deh pastanya.”

Lucas tersenyum lebar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Untuk sejenak keduanya kini sibuk dengan tugas masing-masing di dapur dalam diam hingga beberapa saat kemudian Lucas kembali bersuara.

“Liv, masih nggak mau cerita kenapa? Yang tadi siang.”

Olivia tidak langsung menjawab, ia masih sibuk membuat saus bolognese untuk makan malam mereka.

“Gue takut, Cas.”

Jawaban singkat Olivia membuat Lucas menoleh. “Takut? Takut apa?”

Olivia menaruh spatulanya dan gantian menatap Lucas. “Gue takut kalau gue salah pilih temen lagi. Ditambah Darren masih buron, kalau gue udah kerja lagi, dia bisa dengan gampangnya nemuin gue. Dan gue yakin banget dia masih berniat buat ngebunuh gue.”

“Jujur aja, untuk sekedar pergi keluar dari apartemen ini aja gue takut. Tapi gue sebenernya lebih takut satu hal; gue takut lo kenapa-napa karena gue, Cas.”

Lucas mendekati Olivia yang hanya berjarak selangkah darinya, ia memegang kedua bahu perempuan itu dan sedikit menekuk lututnya agar kepalanya bisa sejajar dengan Olivia.

“Oliv, gue ada di sini emang buat ngejagain lo. Kan udah sering juga lo denger nyokap bokap lo bilang, ‘tolong jagain Olivia ya, Lucas.’ Jadi, emang udah tugas gue buat jagain lo, make sure lo nggak kenapa-napa.”

“Tapi nggak sampe lo ditembak juga, Lucas.” Olivia menunduk, mencoba menghindari tatapan intens Lucas karena air mata mulai menggenang di pelupuknya.

Lucas berusaha melihat wajah Olivia yang tertutup dengan rambut panjangnya, saat ia menyadari kalau perempuan itu sedang berusaha untuk tidak menangis, ia menariknya masuk dalam pelukannya.

“Liv, lo sayang banget sama gue, ya?”

“Hah?”

“Iya, lo jadi suka nangis tiap nyebut-nyebut nama gue.”

Olivia memukul pelan dada Lucas sambil melepaskan diri dari pelukan lelaki itu. Yang dipukul hanya terkekeh pelan. “Gue lagi serius, Lucas,” ujar Olivia seraya menghapus air matanya.

“Hehe, yuk udahan nangisnya. Lo nggak perlu takut sama apapun, bahkan sama Darren sekalipun. Gue yang akan ngejagain lo. Lo juga nggak perlu takut gue kenapa-napa, oke?”

Olivia menghela nafas singkat lalu ia mengangguk setuju. “Tapi gue masih nggak mau balik kerja.”

“Kenapa lagi?”

“Lagi suka aja kayak gini.”

Jawaban ambigu Olivia membuat dahi Lucas kembali berkerut. “He? Maksudnya kayak gini?”

Olivia kini tengah sibuk menata peralatan makan di meja makannya. “Ya begini, masak, makan, ngobrol … sama lo.”

Mata Lucas yang bulat besar itu semakin membesar, sementara jantungnya seperti mau copot karena perasaan gembiranya. “Oliv?! Lo nggak lagi bercandain gue, kan?”

“Emangnya lo, kerjaannya bercanda melulu? Matiin kompornya deh, itu udah mateng.”

“Siap, ndoro putri!”