The Proposal
Seperti hari-hari sebelumnya, seusai jam kerja Kun dan Alyssa akan janjian bertemu di lobby gedung kantor mereka untuk pulang bersama.
“How’s your day, Kun?” tanya Alyssa saat mereka berdua sedang berjalan menuju mobil Kun yang terparkir di basement.
Kun hanya tersenyum tipis, kemudian pembicaraan mereka terpotong karena sekarang mereka sama-sama masuk ke dalam mobil dan sibuk dengan seat belt masing-masing. Tidak lupa Kun menyetel playlist dari Spotify nya untuk menemani perjalanan pulang mereka sore itu.
“Hari ini kita mau belanja dulu? Atau mau beli makanan jadi?” tanya Alyssa di tengah perjalanan pulang mereka.
“Beli aja,” jawab Kun singkat.
Melihat Kun yang tidak banyak bicara seperti biasanya, atau sekedar menggenggam tangan Alyssa sambil ia menyetir, membuat Alyssa kembali bertanya. “Kamu beneran lagi ada masalah ya, Kun?”
Kun sedikit terperangah. “Hah? Enggak kok, Lys. Aku nggak papa,” jawabnya kikuk.
“Sorry kalau kesannya aku kayak maksa, tapi nggak tau kenapa feeling aku ngerasa kamu kayak lagi ada sesuatu tapi kamu nggak mau cerita. Kamu ada pikiran?”
“Lys, kita makan malem nasi goreng itu aja, ya?” Kun menjawab pertanyaan Alyssa dengan menunjuk abang nasi goreng yang terlihat di depan matanya.
“Yaudah, oke,” balas Alyssa menyetujui ajakan Kun. Dugaan Alyssa menguat tentang Kun yang punya sesuatu yang disembunyikan, tapi melihat reaksi Kun, Alyssa memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
Mobil Kun segera merapat mendekati gerobak nasi goreng itu lalu dari dalam mobil Kun memesan dua piring nasi goreng.
Sambil menunggu nasi goreng, keduanya sama-sama terdiam. Hanya terdengar suara Alyssa yang menelepon Sheryl untuk memberikan kabar kepada putrinya.
“Yaudah, Sheryl kerjain dulu PR nya. Nanti Mama periksa sebelum tidur … Iya, besok Sheryl boleh main barbie barunya, sekarang kerjain PR dulu ditemenin Bi Santi, ya? Oke, bye kesayangannya Mama. Love you.”
“Sheryl baik-baik aja, Lys?” Akhirnya Kun buka suara begitu Alyssa menutup teleponnya.
“Iya, Kun. Biasalah, ibu-ibu harus ngontrol anak kayak gini, biar nggak main melulu, hehe ….”
Kun hanya tersenyum mendengar kalimat Alyssa. Dipandanginya wanita itu, membuat keraguan semakin timbul semakin banyak di hati kecil Kun.
“Permisi, mbak mas, ini nasi gorengnya.” Dari luar jendela, abang nasi goreng mengantarkan pesanan mereka dan segera Kun dan Alyssa menyantap makan malam mereka.
“Maaf ya, Lys. Tadinya saya mau ajak kamu fine dining, tapi saya banyak kerjaan jadi nggak sempet reserved tempat. Tadi saya coba telfon tempat yang saya mau tapi semua udah full booked malam ini.”
Alyssa refleks tersenyum. “Jadi daritadi tuh kamu banyak pikiran karena ini?”
Kun mengangguk pelan karena merasa bersalah.
“Kun, nggak papa. Masih ada hari lain buat fine dining. Lagipula, saya lebih seneng yang kayak gini sama kamu. Lebih berkesan aja buat saya sendiri. Kalau di tempat mewah gitu saya malah awkward.”
“Lys, ada yang mau saya omongin sama kamu.”
Alyssa yang tengah menyuap nasi gorengnya menoleh ke arah Kun. Pria itu memegang piring nasi gorengnya dengan kikuk.
“Saya … Saya …”
“Kun, boleh saya ngomong duluan?”
Kun yang masih ragu dengan apa yang mau diucapkannya mempersilahkan Alyssa untuk bicara terlebih dahulu.
“Maaf saya telat jawab pertanyaan kamu tentang lamaran waktu itu. Kemarin saya emang masih ragu apakah saya sudah siap atau belum, tapi sekarang saya udah yakin.”
Alyssa berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan kata-katanya. “Saya sudah siap, Kun. Saya mau hidup bahagia sama kamu, sampai maut memisahkan kita.”
Kun melebarkan matanya, masih sulit buat dirinya mencerna apa yang didengarnya barusan.
“Kun? Kun? Kamu denger saya kan?” Suara Alyssa membuyarkan lamunan Kun.
“Eh? Denger, Lys.”
“Saya udah kasih jawabannya ke kamu. Nggak ada lagi utang yah,” ucap Alyssa sambil tersenyum lalu ia kembali menyantap nasi gorengnya.
Kun yang seperti tersadar dari lamunannya buru-buru menaruh piring nasi gorengnya di dashboard mobil dan mengambil kotak kecil dari dalam saku jas nya.
“Lys.” Kun berdeham pelan lalu ia membuka kotak kecil itu dan memperlihatkan isinya kepada Alyssa. Alyssa yang masih sibuk mengunyah tidak kuasa untuk menahan tawanya.
“Kok ketawa sih?” protes Kun bingung. Alyssa kemudian ikut menaruh piring nasi gorengnya di dashboard mobil agar ia bisa lebih leluasa bicara dengan Kun.
“I just love to see how cute you are while being nervous. Jadi ini alasan kenapa tadi mau fine dining?”
Kun mengangguk malu, lalu ia menutup kotak kecil tadi dan hendak menyimpannya tapi Alyssa mencegahnya. “Kok nggak jadi? Ayo pasang di sini.” Alyssa mengulurkan tangan kanannya ke arah Kun.
Kun mengusap-usap tengkuknya. “Seharusnya nggak gini, Lys. Maaf, saya failed banget.”
“Ayo, tangan saya udah pegel dan saya masih laper mau makan lagi.” Alyssa mengabaikan keluhan Kun.
“Kamu nggak papa dilamar kayak gini?”
“Kun, yang paling penting ini.” Alyssa menunjuk pelan dada Kun seraya tersenyum manis.
Senyum Kun mengembang di wajahnya. Ia segera mengambil cincin berlian dari kotak kecil tadi dan memasangkannya di jari manis Alyssa. Alyssa tidak berhenti menatap kagum benda berkilau yang menghiasi jarinya.
“Cantik, cocok banget sama kamu,” puji Kun.
Alyssa segera mencium pelan pipi Kun. “Makasih banyak ya, Sayang,” ucapnya lalu ia kembali melanjutkan makan malamnya.
“Hah? Kamu tadi bilang apa?”
“Makasih banyak ya, Kun sayang.”
Kun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya sore hari itu. Masih dengan senyuman lebar, ia kembali menikmati nasi goreng yang mereka beli tadi.
“Suka nggak sama cincinnya?”
Alyssa mengangguk-angguk semangat, persis Sheryl kalau dapat mainan baru. “Suka. Tapi lebih suka sama yang ngasih sih.”
Wajah Kun memerah. “Alyssa, kamu sekarang udah berani godain saya, ya?”
Alyssa hanya menjulurkan lidahnya sedikit sebelum ia kembali menyantap nasi goreng miliknya.
“Ohiya, saya punya lagu spesial buat kamu, Lys. Sebentar ya.”
Kun kemudian mengutak-atik ponselnya sesaat sebelum terputar sebuah lagu yang Alyssa kenal betul judul dan penyanyinya.
You're the meaning in my life You're the inspiration You bring feeling to my life You're the inspiration (You’re the Inspiration – Chicago)
“Makasih banyak ya, Kun. Saya nggak pernah merasa se-spesial ini dalam hidup saya. Saya bener-bener bersyukur banget bisa ketemu sama kamu. Kamu bener-bener dikirimkan Tuhan buat saya di waktu yang tepat.”
Untuk sesaat keduanya saling diam sambil menatap kagum satu sama lain, hanya samar lagu yang dipersembahkan Kun untuk Alyssa terdengar mengisi kekosongan di mobil itu.
You should know (yes, you need to know) Everywhere I go Always on my mind You're in my heart, in my soul
“I love you, Alyssa.”
“I love you too, Qian Kun.”