Pergi

Hendery tidak berhenti memandang kagum foto profil milik Nata di booklet konser yang ia dapatkan saat registrasi ulang. Tanpa disadari, telunjuk kirinya mengelus pelan wajah Nata, berharap sedikit energi semangat bisa ia tularkan untuk perempuan kesayangannya.

Masih ada 10 menit sebelum konser dimulai. Masih sambil melihat-lihat isi booklet, Hendery kembali teringat cerita Nata semalam, saat dirinya diminta tolong perempuan itu untuk menjadi beta audience sebelum hari konser.

2017, 23 Desember Ruang latihan rumah Nata, 7pm

Nata bercerita ia akan bermain bersama temannya, Kevin dan Ruben. Dengan Kevin, mereka akan bermain duet piano-biola repetoire karya Saint-Saëns – Introduction and Rondo Op. 28, sebuah lagu yang diciptakan untuk violinist hebat asal Spanyol, Pablo de Saraste pada tahun 1863.

Sementara dengan Ruben, Nata akan tampil membawakan repetoire karya Robert Schumann – Myrthen, Op. 25: Widmung.

“Romantis ya, orang jaman dulu kalo kasih hadiah kasihnya lagu,” komentar Nata.

“Widmung, yang barusan aku mainin, itu lagu hadiah pernikahan dari Schumann buat istrinya, Clara. Aku suka banget sama kisah cinta mereka,” sambung Nata bersemangat. Matanya berbinar-binar acapkali bercerita tentang sejarah musik klasik dan komponis favoritnya.

“Ayo, kita kayak mereka, tapi aku main drum, hehe …”

Nata tersenyum tipis, ia tidak menanggapi kembali kalimat Hendery karena kini ia sibuk membereskan partitur musiknya.

“Hendery,” panggil Nata, memecah kesunyian yang sempat tercipta di ruang latihan Nata Sabtu malam itu.

“Apa, Nat?”

“Aku ada satu lagu lagi, bukan buat konser sih, but I really want to show you this. Mau dengerin nggak?”

Hendery terlihat bersemangat. “Mau dong! Lagunya siapa? Judulnya apa?”

“Edward Elgar, judulnya Salute d’Amour.”

Tanpa berlama-lama, Nata mulai menggesekkan busur biolanya pada senar, menciptakan nada indah yang sulit dimengerti secara teori tapi menyejukkan hati.

Selama 1,5 menit, Hendery terpaku pada permainan Nata. Perempuan itu seolah sedang berbicara padanya, menyatakan rasa cintanya yang paling tulus untuk dirinya seorang.

Begitu nada terakhir selesai dimainkan, Nata tersenyum membalas tatapan kagum Hendery. Lelaki itu kemudian bangkit dari duduknya dan memeluk Nata yang hanya berjarak beberapa langkah darinya.

Everything is beautiful, especially you, Nat,” puji Hendery sambil kembali menatap manik mata berwarna coklat muda milik perempuan itu.

Nata tersenyum, tangan kirinya masih menggenggam biola beserta busurnya, sementara tangan kanannya merangkul leher Hendery, membalas pelukan lelaki itu.

Entah keberanian datang dari mana, perlahan Nata mendekatkan wajahnya dengan Hendery dan dalam hitungan detik saja kini bibir mereka sudah bertaut.

Hanya sebuah ciuman lembut dari Nata untuk Hendery, tapi hati lelaki itu tentu saja sudah berbunga-bunga seperti taman di musim semi.

I love you, Hendery,” bisik Nata lirih.

-

Hendery menepuk pelan pipinya, menyadarkan dirinya sendiri dari lamunan singkat perihal kejadian semalam.

Konser akan segera dimulai, tapi Hendery masih tidak bisa berhenti tersenyum. Ia membayangkan di akhir konser ia akan memberikan sebuket bunga yang sudah ia siapkan untuk Nata dan mungkin kalau ia punya nyali, ia akan mencium pipi perempuan manis itu.

‘Serius dulu, Dery,’ ucapnya pada dirinya sendiri tepat saat peserta pertama keluar dari backstage. Peserta itu tampil sebagai soloist piano, membawakan karya Chopin yang terkenal, Nocturne in E-flat Major.

Setiap mendengar lagu yang dimainkan oleh peserta yang tampil, Hendery akan langsung kembali teringat dengan cerita Nata semalam; mulai dari sejarah lagunya hingga kenapa teman-temannya memilih untuk membawakan lagu tersebut. Pikirannya ternyata tidak bisa lepas dari Nata.

Sampai di saatnya Nata-Kevin tampil kalau menurut booklet, tapi nyatanya yang keluar dari belakang panggung bukanlah Nata. Dua orang, yang laki-laki sepertinya memang Kevin, tapi perempuan yang kini mulai menggesekkan biolanya bukanlah Nata.

Hendery refleks duduk tegak saat ia mendengar lagu yang semalam dimainkan Nata kini dimainkan entah oleh siapa di atas panggung besar itu. Sampai lagu berakhir, tidak ada tanda Nata akan muncul.

Hendery mengirimkan pesan kepada Nata beberapa kali, tapi tidak ada satupun yang dibaca. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk menelepon Nata, walaupun ia tahu itu akan melanggar janjinya karena semalam Nata sudah mengingatkan Hendery untuk tidak menghubunginya sebelum konser usai.

Kembali ke panggung, kali ini harusnya giliran Ruben dan Nata tampil tapi lagi-lagi, tidak ada perempuan itu di atas panggung.

Hendery semakin bingung tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena peraturan dasar konser klasik yang tidak mengizinkan audiensi untuk membuat kegaduhan.

Akhirnya Ruben dan pasangannya entah siapa selesai memainkan repetoire ciptaan Schumann itu, dan Hendery bergegas keluar dari aula konser itu.

Di lobi tidak ada siapa-siapa, hanya ada dua panitia yang bertugas menjaga meja administrasi.

“Mbak, maaf mau tanya, peserta konser yang namanya Nata kok nggak tampil, ya?”

Kedua panitia itu saling lempar tatapan bingung sebelum akhirnya salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Hendery. “Naraya Talitha, ya? Dia mendadak ngundurin diri bulan lalu, Kak.”

Hendery terdiam sesaat, pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. “Ngundurin diri? Kenapa ya, kalo boleh tau?”

“Nata pergi ke Singapura, Kak. Katanya dia ketemu sama pendonor ginjal yang cocok.”

“Hah? Pendonor ginjal?”

“Iya … Nata sakit gagal ginjal, Kak. Kakak nggak tau? Tadinya dia mau berhenti les tapi—”

Hendery tidak dapat mendengar kalimat selanjutnya. Pikirannya semakin ruwet seperti benang kusut. Kakinya perlahan melangkah mundur menjauhi meja administrasi dan segera ia berlari menuju mobilnya.

Berkali-kali Hendery mencoba menghubungi pacarnya itu, baik lewat pesan teks sampai telepon, tapi percuma. Bahkan kini telepon Nata sudah di luar jangkauan, yang berarti semakin tidak memungkinkan bagi Hendery untuk mendengar penjelasan dari perempuan itu.

Kini rasa kecewa; merasa bodoh karena dibohongi dan tidak tahu apa-apa timbul di hati Hendery. Bagaimana bisa Nata menutupi semuanya itu selama ini? Bagaimana bisa sebagai pacarnya yang hampir setiap waktu selalu bertukar kabar, Hendery sama sekali tidak mengetahui kondisi kesehatan Nata?

Dan kini setelah perempuan itu pergi tanpa pamit, hanya tersisa rasa penasaran dan menyesal yang bercampur aduk di hati dan pikirannya.