Feelings
Bel pintu apartemen Lucas berbunyi, sang pemilik unit yang sedang asyik bermain game PC di kamarnya dengan langkah malas membukakan pintu untuk sang tamu.
“Sheila?”
Sheila hanya tersenyum di depan pintu unit Lucas. “Lo lupa ya, kan gue bilang mau ke apart lo.”
“Bukannya lo mau kabarin gue dulu?” tanya Lucas dengan rambutnya yang setengah acak-acakan. Ia juga hanya memakai kaus tanpa lengan dan celana pendek di atas lutut berwarna hitam.
“Surprise!” ucap Sheila bersemangat lalu ia tersenyum memamerkan deretan gigi putih rapihnya.
“Masuk deh.” Lucas mempersilahkan Sheila untuk masuk ke dalam unitnya terlebih dahulu.
“Gue bingung mau bawain lo makanan apa, tapi gue tau lo suka pasta so …” Sheila mengangkat kantong belanjaan miliknya, “kita masak-masak bareng gimana?”
Lucas hanya mengangguk. “Yaudah, bentar gue matiin PC gue dulu,” pamitnya sambil berjalan masuk ke dalam kamar, sementara Sheila mulai menyiapkan berbagai bahan yang ia bawa untuk dimasak.
Selama kurang lebih 40 menit, Lucas dan Sheila memasak Spagetthi Bolognese yang merupakan kesukaan Lucas untuk makan siang mereka.
“Gimana, enak nggak?” tanya Sheila begitu Lucas menyuap suapan pertamanya.
“Hm, enak,” komen Lucas singkat, mata dan tangannya sibuk dengan sepiring Spagetthi di hadapannya.
Sambil makan sesekali Sheila mencuri pandang ke arah Lucas, sepertinya ia tidak akan pernah bisa berhenti mengagumi sosok laki-laki yang mencuri perhatiannya sejak SMA itu.
Selesai makan, Lucas dan Sheila menghabiskan waktu mereka dengan menonton series Netflix pilihan Sheila.
“Temenin ya, gue nggak berani nonton sendirian,” ujar Sheila saat ia memasang tayangan berjudul Kingdom di smart TV milik Lucas.
Lucas hanya berdeham pelan, pikirannya sibuk dengan Olivia yang sudah tidak ada kabar sejak 3 jam lalu.
Sampai film setengah berjalan, Lucas masih sibuk mengecek ponselnya hampir setiap 5 menit sekali, mengundang rasa penasaran Sheila.
“Lo nungguin kabar dari siapa sih, Cas?”
“Oliv,” jawab Lucas tanpa menutup-nutupinya.
Sheila berdecak, ia sedikit memutar tubuhnya ke arah Lucas. “Lucas, bisa nggak sih kalo lagi sama gue, lo nggak usah mikirin Olivia. Oliv, Oliv, Oliv … lama-lama gue muak!”
Lucas terperanjat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sheila sementara Sheila sendiri buru-buru menyambung kalimatnya.
“8 tahun, Cas. 8 tahun gue suka sama lo. Jelas-jelas ada perempuan yang serius suka sama lo tapi kenapa—”
“Mending lo udahan sebelum gue usir lo buat yang kedua kalinya, Shei.” Lucas memotong ucapan Sheila lalu ia bangun dari duduknya untuk pergi menghampiri Olivia di unit sebelah.
Saat Lucas membuka pintu unitnya, ternyata Olivia sudah berdiri di sana; ia baru saja ingin menekan tombol passcode unit Lucas dan memberikan kejutan untuk lelaki itu.
“Oliv?!”
Baik Lucas maupun Olivia sama-sama terkejut, tapi Olivia lebih terkejut lagi saat melihat Sheila muncul di belakang Lucas.
“Sheila? Ngapain lo di sini?” tanya Olivia bingung. Ia buru-buru menyembunyikan tangan kirinya yang terlihat membawa sesuatu di balik badannya.
Namun sayang, ternyata Lucas sudah melihatnya terlebih dahulu. “Itu apa?” tanya Lucas penasaran.
“Enggak, bukan apa-apa. Gue balik dulu,” pamit Olivia cepat dan ia buru-buru melangkah kembali ke unit miliknya.
“Liv! Olivia!” Lucas berusaha mengejar Olivia dengan Sheila membuntuti di belakangnya.
Lucas berhasil menangkap lengan Olivia sebelum perempuan itu masuk, setelah ia berhasil memasukkan passcode unitnya.
“Apaan sih, Lucas.” Olivia berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Lucas.
“Ngapain pulang?”
“Urusin dulu tamu lo,” balas Olivia ketus dan saat cengkraman Lucas melonggar, buru-buru ia melepaskan diri dan masuk ke dalam.
“Olivia tetangga lo? Sejak kapan?” Sheila yang berdiri tidak jauh di belakang Lucas kembali bersuara.
“Lo mending pulang deh, Shei.” Lucas membalas Sheila dengan nada dingin dan suara rendah khasnya.
“Kenapa gue harus pulang? Lucas, gue udah bilang sama lo kan, gue suka sama lo! Kenapa sih, lo nggak mau sekali aja kasih gue kesempatan?”
Lucas menghela nafas panjang. “Sheila, gue cuma sayang sama Olivia seorang. Gue nggak peduli berapa lama lo suka sama gue atau gimana perasaan lo sekarang. Sorry banget, Shei.
“Dan thank you lo udah jujur sama gue. Gue pun harus jujur sama lo, gue nggak bisa bales perasaan lo. Jadi lebih baik lo stop sampe di sini, sebelum lo semakin kecewa sama gue.”
Sheila hanya diam mendengar jawaban Lucas. Lelaki itu awalnya terlihat emosi, tapi saat menjawab pertanyaannya, perempuan itu bisa tahu apa yang diucapkan Lucas adalah jujur apa adanya. Sorot mata lelaki itu tidak pernah bisa menipu.
“Pulang, ya? Thanks buat makan siangnya.” Lucas menutup kalimatnya dan ia kembali masuk ke dalam apartemennya.