Awal Mula

Hendery

Juli 2011

Aku tidak bisa berhenti menatap kagum pada perempuan yang duduk di depanku saat ini. Setelah selama setahun aku hanya bisa memperhatikannya dari jauh, kini aku bisa sekelas dengannya.

“Halo, kenalin aku Naraya Talitha. Panggil aja Nata biar gampang.” Perempuan itu memperkenalkan dirinya kepadaku dan juga teman sebangku yang duduk di sisi kiriku, Mario.

“Hai Ta, gue Mario.” Mario memperkenalkan dirinya.

“Gue Hendery,” ucapku cepat. Argh rasanya nggak keren banget cara aku memperkenalkan diri dengan perempuan itu. Tapi bagaimana, duduk depan belakang saja rasanya sudah gugup apalagi harus bicara banyak dengannya?

Sebenarnya aku sama sekali tidak berminat dengan jurusan IPA. Demi apapun deh, aku ngiri banget kalau lihat Lucas dan geng IPS nya nongkrong saat kelas kosong, sementara aku harus berlatih soal yang tidak ada habisnya.

Namun, aku melakukan ini semua demi Nata. Gila, ya? Bahkan kedua orangtuaku sempat tidak percaya saat aku bilang aku berminat masuk jurusan IPA. Papaku girang setengah mati dan ia langsung membayangkan aku yang akan melanjutkan studi di fakultas Teknik atau Kedokteran, sementara mamaku hanya manut-manut saja sambil meyakinkan keputusanku, mengingat ia tahu aku anaknya suka plin-plan.

Tidak, kali ini keputusanku bulat. Walaupun aku harus gambling apakah aku akan sekelas dengan Nata atau tidak, tapi setidaknya aku harus mencoba. Dan ternyata Tuhan mengabulkan doaku, aku ditempatkan sekelas dengan perempuan cantik ini.

-

“Hendery? Hendery?”

Suara Nata membuyarkan lamunanku. Jujur saja, kelas Fisika kali ini benar-benar membosankan. Aku hampir tidak paham dengan apa yang dikatakan guruku kalau saja Mario, Nata dan juga Eva, teman sebangku Nata, tidak membantuku.

“Udah ngerti belum?” bisik Nata saat guruku sedang sibuk memeriksa catatan temanku yang lain.

Aku hanya menggeleng pelan lalu Nata dengan cepat memberikan catatannya padaku. “Cepet tulis rumus yang ini,” perintahnya sambil menunjuk sebuah rumus yang ditulis rapi dan berwarna-warni padaku.

“Cepet, 1 menit!” perintahnya lagi dan langsung saja aku menulisnya. Berkat Nata, aku selamat dari ocehan guru Fisika-ku yang terkenal galak kalau muridnya tidak memperhatikan kelasnya.

***

April 2013

“Gimana persiapan UN nya?” Nata menegurku saat aku sedang menyalin sebagian catatan Mario di perpustakaan. Aku menyalinnya bukan karena aku malas mencatat, tapi karena aku sempat absen hampir dua minggu akibat sakit Typhus yang aku derita. Bisa-bisanya menjelang ujian aku malah sakit dan harus full bed rest di rumah.

“Nggak tau, Nat. Gue ketinggalan banyak banget. Kalo gue nggak lulus gimana Nat?” keluhku pelan. Jujur saja rasa percaya diriku menurun drastis. Dari kelas dua, Nata, Eva dan Mario adalah anak-anak pintar di kelasku. Mereka tidak pernah keluar dari ranking 5 besar di kelas. Sekarang aku kelas tiga dan sekelas dengan mereka lagi pun, mereka masih sama seperti itu.

Sementara aku? Bisa dapat ranking 15 dari 24 murid saja mamaku sudah syukuran kecil-kecilan di rumah.

“Sini aku bantuin. Kamu masih kesulitan dimana? Masih nggak ngerti yang mana?” Nata mendekatkan bangkunya dengan bangkuku dan mulai melihat-lihat catatan yang kusalin dari Mario dan juga latihan soal yang aku kerjakan. Lalu ia mengeluarkan buku coret-coretannya dan juga pensil dan mulai membantuku mengerjakan latihan soal yang masih belum aku pahami.

Tidak terasa hampir dua jam aku berlatih soal dengan Nata. Saat selesai, aku refleks meregangkan otot-otot tubuhku sementara Nata sibuk membereskan barang bawaannya.

“Nata, gue anterin lo balik, ya?” tawarku saat aku melihat jam yang menunjukkan waktu pukul 5 sore.

“Nggak papa, Hendery? Rumahku kan jauh,” jawabnya ragu.

Aku menggeleng sambil memamerkan senyuman terbaikku. “Nggak papa, lagian gue selalu kepengen nganterin lo pulang.”

“Eh?” Kulihat Nata sedikit terkejut dengan ucapanku barusan, tapi aku buru-buru mengalihkan perhatiannya.

“Yuk, nanti keburu makin sore, makin macet.”

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku mengantar Nata pulang. Waktu kelas dua aku pernah mengantarnya pulang karena Nata tiba-tiba pingsan di kelas dan tidak ada satupun teman sekelasku yang bawa kendaraan mobil selain aku. Waktu kelas tiga juga beberapa kali aku ke rumah Nata untuk kerja kelompok karena permintaan khusus dari orang tua Nata.

Tapi sejak hari ini, ada yang beda dari aku dan Nata. Sepanjang perjalanan pulang kami banyak mengobrol hal lain selain pelajaran; kami membicarakan film favorit, musik favorit, atau kegiatan-kegiatan lain yang kami suka kerjakan di luar sekolah.

Dan karena cerita-cerita baru dari Nata, aku semakin menyukainya. Awalnya aku menyukai perempuan ini karena ia cantik. Cantiknya tuh beda dengan perempuan lain yang jadi primadona di sekolah, sampai Lucas agak bingung dengan seleraku.

Lalu sejak sekelas dengan Nata, aku semakin naksir karena dia pintar. Sudahlah cantik, pintar ... idaman banget, kan?

Sekarang mendengar selera musik, film favorit, makanan favorit dan juga kegiatannya di luar sekolah ... Aku benar-benar jatuh cinta pada perempuan ini. Kalau kata Lucas, 'anak SMA tau apa sih tentang cinta-cintaan?'. Terserah, aku tidak peduli. Akan kubuktikan kalau aku memang tulus mencintainya.

Sampai tiba hari kelulusan kami, jujur saja saat yang lainnya senang karena akan melepas status mereka sebagai pelajar SMA, aku justru sedih. Aku tidak bisa membayangkan hari-hariku selanjutnya tanpa Nata (dan juga Mario dan Eva).

“Hendery, selamat ya!” ucap Nata saat ia menghampiriku yang sedang duduk sendirian di taman belakang sekolah. Sebenarnya sedang ada acara makan siang di aula sekolah, tapi aku sama sekali tidak punya semangat untuk bergabung di acara itu.

Aku tersenyum. “Makasih ya, Nata. Lo juga selamat, dapet ranking 3 satu angkatan, keren banget!” pujianku untuknya mengalir begitu saja.

Nata duduk di sebelahku dan kami berdua sama-sama terdiam. Aku tidak tahu apa yang Nata pikirkan, tapi kalau aku, banyak sekali yang aku pikirkan. Aku penasaran Nata akan melanjutkan studinya kemana, tapi aku tidak mau mendengarnya. Aku takut jawabannya akan membuatku semakin sedih.

“Hendery rencana kuliah di mana?”

Ah, tapi aku tidak akan bisa mengelak dari topik ini. Pada akhirnya Nata yang bertanya padaku lebih dulu.

“Belum tau, Nat. Kalo lo?”

Nata mengangkat kedua bahunya. “Kepengennya masuk design atau apa aja deh yang berhubungan sama gambar-gambar. Tapi belum tau juga.”

Aku melongo. Aku pikir Nata akan mengambil jurusan Kedokteran atau Ekonomi seperti Mario dan Eva. “Lo mau masuk design? Seriusan?”

Nata mengangguk. “Serius. Kenapa? Kok kamu nanyanya kayak nggak yakin gitu aku bisa masuk design?”

Buru-buru aku menggeleng. “Bukan, bukan gitu. Kaget aja. Kirain lo minat sama eksak yang kayak Matematika atau Kedokteran gitu-gitu.”

“Nggak, aku nggak mau jadi Dokter. Aku takut, hehe ....”

Aku membatin bingung. 'Takut? Takut kenapa?'. Tapi kuurungkan niatku untuk bertanya.

“Hendery, kita masuk yuk. Takutnya dicariin sama guru-guru.” Nata bangkit dari duduknya tapi aku segera memegang pergelangan tangannya dan ikut bangkit berdiri agar ia tidak segera pergi.

“Nat, ada yang mau gue omongin sama lo,” ujarku gugup. Sebenarnya ini di luar rencanaku tapi masa bodohlah, daripada aku tunda terus-terusan, sebaiknya aku segera mengutarakannya sebelum terlambat.

“Ada apa, Dery?”

“Gue ... Gue suka sama lo, Nat. Dari kelas satu, hehe ....” Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri. 'Ngapain lo pake acara ketawa sih?'

“Gue takut kalo ternyata kita kuliahnya nggak bareng, atau mungkin lo ke luar negeri, gue nggak bisa ngomong kayak gini sama lo. Makanya gue pilih buat ngomong sama lo sekarang. Gue suka sama lo, Nata.”

Nata sama sekali tidak bergeming. Bahkan ia tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, membuatku menyesali ucapanku barusan.

“Nata, kalo lo nggak mau pacaran nggak papa kok. Gue nggak maksa. Gue cuma mau ngutarain perasaan gue aja, biar lega.”

Kali ini Nata tersenyum, tapi aku semakin takut untuk mendengar kalimat yang akan ia ucapkan. “Makasih ya, Hendery, udah suka sama aku.”

Huft, aku yakin sekali ini adalah kalimat pembukaan untuk menolak seseorang.

“Aku bingung sebenernya mau jawab apa, tapi aku juga kayaknya suka sama kamu deh.”

Mataku melebar. Apa ini? Aku tidak salah dengar, kan? Hey, ini bukan mimpi siang bolong, kan?

“L-lo suka sama gue juga, Nat?” tanyaku tergagap. Nata mengangguk dengan senyuman terbaiknya.

“Lo mau jadi pacar gue, Nat?” sambungku lagi. Kali ini Nata tidak langsung menjawab, tapi kemudian kulihat kepalanya kembali mengangguk.

“Iya, Hendery.”

Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. Gila, rasanya sulit untuk percaya kalau apa yang kudengar siang ini bukanlah mimpi. Dari awalnya aku yang cuma naksir diam-diam, lalu nekat ambil jurusan IPA, sekelas dengan Nata dan sekarang aku pacaran dengan perempuan ini?

“Hendery.” Suara Nata membuyarkan lamunanku tapi tidak sampai disitu saja, sekarang ia mengambil tangan kananku dan menggandengnya erat. “Ayo masuk, nanti dicariin Bu Wid,” sambungnya sambil menarik tanganku agar ikut dengannya kembali ke aula sekolah.

Aku mengangguk. Terserah deh Nat, kamu mau seret aku kemana aja aku nggak peduli. Aku benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum bahagia. Rasanya, hidupku sempurna.