goldeneunoia

Memutuskan untuk lebih terbuka dan jujur kepada perasaanku, membawa diriku lebih mengenal sosok laki-laki yang tidak pernah berhenti membuatku kagum dan tentu membuatku semakin mencintainya. Dia adalah Qian Kun.

Setiap hari ia akan datang menjemputku dan Sheryl, mengantar putri kecilku ke sekolah lalu kami melanjutkan perjalanan ke kantor. Setiap kami turun dari mobil, tangannya akan selalu menggenggam tanganku erat. Setiap kami harus berpisah, dia selalu membisikan tiga kata yang tidak akan pernah bosan ku dengar.

'I love you, Alyssa,' begitu bunyinya.

Pulang kantor, kami kadang suka mencari makan malam bersama. Tapi akhir-akhir ini kami lebih senang belanja bahan makanan untuk kami masak di rumah kontrakanku. Setelah makan malam dan sebelum ia kembali ke rumahnya, dia akan memelukku erat dan terkadang dia suka mencuri kesempatan untuk mencium cepat bibirku. Lucunya, setelah itu dia akan minta maaf padaku.

'Maaf Lys, kelepasan,' katanya dengan nada kikuk.

Kalau dia sudah bertingkah seperti itu, biasanya aku yang suka gantian curi kesempatan membalas ciumannya. Bisa kupastikan setelahnya wajah Kun akan memerah dan dia tidak akan berhenti tersenyum seperti Sheryl kalau sedang minum Ice Chocolate.

Akhir minggu biasanya dia akan mengajak Sheryl pergi bermain, kadang di luar rumah tapi keseringannya dia akan menemani Sheryl bermain boneka-bonekaan atau masak-masakkan di rumah. Kalau sudah seperti ini, aku yang harus mengalah, karena si tuan putri kecil tidak mengizinkanku mengganggu waktu bermainnya dengan Kun. Tapi aku justru senang sekali dengan keadaan seperti ini. Aku bisa melihat kasih sayang Kun yang tulus untuk Sheryl, seperti ia menyayangi putrinya sendiri.

Kadang kalau akhir minggu kami ingin pergi berdua saja, Sheryl akan kami titipkan pada Jocelyn, adik perempuan Kun. Kalau Sheryl sudah bersama Jocelyn dan suaminya, Kun biasanya akan mengajakku pergi mengunjungi kota pinggiran Jakarta.

Pernah Kun membuatku terkejut saat dia mengajakku pergi naik pesawat. Kupikir awalnya dia hanya bercanda, tapi ternyata dia benar-benar mengajakku naik pesawat. Bahkan, dia sendiri yang mengemudikan pesawatnya.

Pernah juga dia pergi mengajakku bermain ke salah satu studio musik sewaan. Awalnya aku sedikit memarahi Kun karena ini pasti akan sia-sia karena baik aku ataupun Kun tidak ada yang bisa bermain alat musik. Nyatanya, aku salah besar. Kun diam-diam punya hobi bermain piano dan menciptakan lagu. Dia juga memamerkan bakatnya dengan memainkan beberapa lagu milik artis favoritnya yaitu Jay Chou.

Lagi-lagi dia tidak berhenti membuatku kagum dengan segudang talenta yang dia miliki.

Sekarang sudah hampir setahun kami bersama. Banyak yang mulai mempertanyakan hubungan kami, apakah akan diteruskan ke jenjang yang lebih serius atau tidak. Kun sendiri bahkan sudah menanyakan langsung kepadaku kapan aku siap menerima lamarannya. Jujur saja, aku bingung. Aku bukan bingung dengan perasaanku lagi, tapi aku bingung, apakah memang sudah saatnya?

Sudah satu bulan lamanya sejak Kun menanyakan tentang lamaran itu, dan aku hanya bisa memberikan jawaban, 'tunggu sebentar ya, Kun.'. Beruntungnya aku, Kun benar-benar sabar menunggu. Dia tidak mengungkit pertanyaan yang sama tiap kami bertemu. Perilakunya pun tetap sama seperti saat sebelum ia bertanya tentang lamaran itu.

Setelah aku mengobrol dengan Sheryl, dan meminta sedikit masukan dari Bi Santi, hari ini aku putuskan untuk mengajak Kun pergi menemui kedua orang tuaku.

“Halo Ma, Pa,” sapaku di depan pusara kedua orangtuaku. Kun kemudian membantuku membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar makam orangtuaku, lalu kami menaburkan bunga dan membacakan doa untuk orangtuaku

“Ma, Pa, maaf ya Sheryl nggak ikut. Tadi dia ketiduran, abis main kecapekan,” ucapku pelan. “Ohiya, Ma, Pa, kenalin. Ini Kun,” sambungku lalu aku mempersilahkan Kun untuk menyapa kedua orangtuaku.

Tidak banyak kalimat yang diucapkan Kun, tapi sukses membuat air mata haru membasahi kedua pipiku. Ia mengungkapkan kalau ia akan sungguh-sungguh menjagaku dan membahagiakanku dan juga Sheryl. Dia juga meminta restu untuk menjalin hubungan yang lebih serius denganku.

“Makasih banyak ya, Kun, udah mau nemenin saya kesini. Mama Papa pasti seneng,” ujarku setelah kami selesai mengunjungi kedua orangtuaku.

Kun yang berjalan sambil merangkul bahuku, mengelus pelan lenganku. “Sure, Lys. Saya juga seneng bisa kenalan sama Mama Papa kamu, sekalian minta izin.”

Aku hanya tersenyum lalu aku memeluk pinggangnya dan kami berjalan berdampingan menuju mobil Kun yang terparkir tidak terlalu jauh.

“Kita makan, ya? Saya laper,” keluh Kun yang kubalas dengan anggukan pelan.

“Makan di rumah aja ya, saya masakkin kamu makan malam.”

Kun terlihat ragu. “Nggak usah, Lys. Pasti kamu capek. Kita beli aja.”

“Saya nggak capek sama sekali, Kun. Pokoknya saya masakkin buat kamu, titik. Dilarang protes,” balasku sedikit mengancam.

Kalau sudah mendengar aku berkata seperti itu, biasanya Kun akan mengalah. Dia hanya akan tersenyum memamerkan lesung pipinya lalu mencium puncak kepalaku pelan.

'Sungguh, terima kasih Tuhan.'

“Kun?!” Sudah dua kali di hari yang sama Alyssa mendapatkan kejutan dari lelaki itu. Pertama, tadi sore saat ia muncul di depan rumah kontrakannya bersama ibunya.

Dan sekarang untuk kedua kalinya, lelaki itu kembali muncul di depan rumahnya namun sendiri. Kun hanya memakai jaket orange favoritnya yang dipadankan dengan kaus hitam polos, celana pendek jeans selutut dan juga sepasang sendal.

“Sheryl udah bobo?” tanya Kun begitu ia turun dari mobilnya. Sambil membukakan pagar untuk lelaki itu, Alyssa mengangguk.

“Udah baru aja dia tidur.”

“Berarti saya pas datengnya, hehe ….” Kun kemudian merentangkan tangannya di depan Alyssa yang kebingungan. “Mana peluknya?”

“Kamu malem-malem dateng kesini cuma mau minta peluk aja?”

Kun mengangguk, bibirnya sedikit maju karena Alyssa masih belum bergeming. “Mana?”

Alyssa sedang memperhatikan sekitarnya untuk memastikan tidak ada siapa-siapa tapi bagi Kun wanita itu terlalu lambat. Kun segera memeluk Alyssa terlebih dahulu, tidak peduli dengan protes yang dilayangkan wanita itu.

“Kun, ih, nanti kalo ada satpam lewat gimana? Lepasin dulu.”

Kun menggeleng pelan. “Biarin aja, kan pelukan doang.”

Alyssa akhirnya mengalah. Ia membalas pelukan Kun sambil mengusap pelan punggung lelaki itu.

“Akhirnya bisa peluk kamu lagi, Lys,” ujar Kun berbisik di telinga Alyssa.

Alyssa hanya tersenyum, lalu ia mengeratkan pelukannya sambil membenamkan kepalanya di dada Kun. Wanita itu bisa mendengar cukup jelas detak jantung yang berbunyi teratur menenangkan.

“Lys, kita jalan-jalan yuk?” tanya Kun setelah mereka berpelukan cukup lama di depan rumah Alyssa.

Alyssa menaikkan sebelah alisnya. “Jalan-jalan?”

“Iya, keliling Jakarta aja. Ke Monas, Kota Tua, Menteng, Sabang, ya pokoknya jalan-jalan aja. Mau nggak? Itung-itung, first date buat kita berdua.”

Kalau dipikir-pikir selama ini mereka memang selalu pergi bertiga dengan Sheryl. Saat makan siang ke Sentul waktu itu, atau sekedar bermain ke Mal. Tidak pernah mereka menghabiskan waktu bersama berduaan selain di kantor, itupun pasti curi-curi waktu di sela jam kerja mereka.

“Yaudah deh, boleh. Saya ambil cardigan sama handphone dulu ya,” jawab Alyssa lalu ia masuk ke dalam rumah sebentar sebelum akhirnya ia pergi bersama Kun.

Perjalanan mereka mulai dari menyusuri sepanjang jalan raya Sudirman-Thamrin, lalu sampai di depan Monas mobil Kun belok kanan ke arah Gambir, melewati Tugu Tani dan tiba di kawasan Menteng.

Merasa sedikit lapar akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menepi di Taman Menteng dan membeli roti bakar di sana.

“Ih, rame ya,” gumam Alyssa saat keduanya sudah memesan roti bakar dan sedang duduk di meja bangku yang tersedia untuk menyantap makanan di sana.

“Kan malem minggu, Lys.”

“Oh iya, hehe … Saya udah nggak pernah lagi ngerasain malam minggu kayak apa,” ucap Alyssa pelan.

Kun memandangi Alyssa sesaat, terlihat sedikit kesedihan di wajah wanita itu tapi selalu ia sembunyikan dengan senyuman manisnya.

“Lys, saya boleh nanya sesuatu?”

“Apa, Kun?”

“Dulu waktu kamu sama mantan suami kamu, kalian jalan-jalan kayak gini juga? Atau gimana? Kalau kamu nggak mau jawab, nggak papa kok, saya nggak maksa.”

Lagi-lagi Alyssa tersenyum. “Dulu waktu pacaran ya kayak orang pacaran pada umumnya. Jalan-jalan ke mal atau pergi ke taman bermain. Tapi setelah menikah nggak ada lagi. Dia sibuk dengan kerjaan kantornya, saya sibuk sama Sheryl.”

“Pergi bertiga as a family, pernah?”

Alyssa terlihat berpikir sesaat. “Kayaknya enggak deh, karena mamanya Simon merasa nggak perlu,” jawab Alyssa pahit.

Kun buru-buru meraih tangan Alyssa. “Maaf ya, Lys. Harusnya saya nggak nanyain hal ini ke kamu. Kamu boleh pukul saya,” kata Kun sambil memukul-mukul kepalanya dengan tangan Alyssa yang ia genggam.

“Kun, nggak papa ….” Tangan Alyssa yang tadi digunakan untuk ‘memukul’ kepala Kun kini mengelus pelan kepala lelaki itu. “Saya sama sekali nggak papa, serius. Saya nggak bohong.”

Kun mengambil tangan Alyssa yang mengelus kepalanya dan mengecup pelan tangan itu. Di saat bersamaan datang pula roti bakar dan jus alpukat pesanan mereka.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam tapi sepertinya baik Kun dan Alyssa masih ingin menghabiskan waktu bersama. Setelah kenyang mengisi perut di daerah Taman Menteng, kini mobil Kun kembali melaju di sepanjang jalan raya Kuningan, sembari mereka berjalan pulang kembali ke rumah kontrakan Alyssa yang terletak di kawasan Kebayoran Baru.

If you get caught between the Moon and New York City The best that you can do The best that you can do is fall in love

“Saya nggak tahu ternyata kamu suka ya dengerin lagu 80-90’s kayak gini,” gumam Alyssa saat terputar lagu milik Christopher Cross dari tahun 1981 di mobil Kun.

Kun hanya nyengir. “Jadul banget ya? Kalo kamu nggak suka ganti aja ke radio yang kekinian.”

“Nggak, saya juga suka kok dengerinnya. Lagu-lagu jaman dulu tuh kayak nggak akan lekang sama waktu. Liriknya juga bagus-bagus.”

“Kalo gitu, saya punya satu lagu buat kamu.”

Dengan sabar Alyssa menunggu Kun yang sedang mencari lagu yang ia maksud dari playlist Spotify-nya.

How deep is your love, how deep is your love I really mean to learn ‘Cause we’re living a in a world of fools Breaking us down, when they all should let us be We belong to you and me

Kun bernyanyi pelan mengikuti suara sang penyanyi sementara Alyssa hanya menatap lelaki itu dengan tatapan kagum.

Selesai bernyanyi dan masih dalam keadaan menyetir, Kun menoleh sekilas ke arah Alyssa yang bertepuk tangan pelan. “Hehe, gimana?” tanya Kun malu-malu.

Alyssa menjawabnya dengan sebuah kecupan pelan di pipi kiri Kun. “Makasih ya, Kun.”

Baik Kun dan Alyssa sama-sama tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya. Senyum menghiasi wajah keduanya, dan tidak hentinya mereka saling lempar pandang kagum satu sama lain. Sabtu malam yang cerah itu menjadi saksi bisu keduanya yang sedang jatuh cinta.

Malam itu sekitar pukul 7, kedua orangtua Kun dan Jocelyn tiba di kediaman mereka. Jocelyn langsung menyambut keduanya dengan sebuah pelukan sementara Kun membantu bapak supir taksi menurunkan barang bawaan ayah dan ibunya dari taksi.

“Hai, Kun, anak mama yang ganteng,” sapa ibu Kun setelah ia selesai berpelukan dengan Jocelyn. Kun tersenyum, kemudian ia memeluk ibunya seperti yang dilakukan Jocelyn dan terakhir memeluk ayahnya.

“Apa kabar, Nak? Kerjaan lancar?” tanya ayah Kun sambil masuk ke dalam rumah dengan merangkul bahu Kun.

“Lancar, Pa,” jawab Kun singkat.

Selesai memasukkan seluruh koper ke dalam kamar, keempatnya kemudian berkumpul di meja makan dan tak lama setelahnya terdengar suara bel pintu rumah mereka berbunyi. Dengan semangat Jocelyn segera membukakan pintu dan menyambut Ten yang akan ikut acara makan malam itu.

“Ma, Pa, kenalin. Ini pacar Jocelyn, namanya Ten,” ucap Jocelyn malu-malu di hadapan kedua orangtuanya dan juga Kun. Sebenarnya, ayah dan ibu mereka sudah tau status hubungan Jocelyn dengan Ten, tapi ini adalah perkenalan resmi sekaligus menjadi pertemuan pertama antara Ten dengan kedua orangtua Jocelyn dan Kun.

Selesai memperkenalkan diri, ibu Kun segera menyuruh Ten untuk duduk di meja makan dan mereka berlima mulai menyantap masakan buatan Jocelyn yang sedikit dikoreksi oleh Kun sesaat sebelum semuanya tiba karena kata Kun ada rasa yang kurang.

Acara makan malam itu tentu diisi dengan bahan obrolan seputar hubungan Jocelyn dengan Ten, dan setelah puas menginterogasi anak perempuannya, kini ayah Kun dan Jocelyn beralih ke anak sulungnya.

“Kamu sudah ada pacar juga, Nak?”

Kun diam, ia tidak langsung menjawab pertanyaan sang ayah. “Udah, Pa. Temen kantornya dulu, namanya kak Alyssa.” Alih-alih Jocelyn yang menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk sang kakak.

Ayah mereka membulatkan mulutnya sambil mengangguk-angguk mengerti. “Kok nggak diajak malam ini?” tanya ayah mereka lagi.

“Tadinya aku udah suruh kakak buat ajak kak Alyssa ikut, Pa, tapi nggak tau tuh dia nggak mau. Padahal pasti seru kalau sekarang ada kak Alyssa sama Sheryl.”

“Sheryl?” Kali ini gantian ibu mereka yang bertanya.

“Iya, Sheryl. Anaknya kak Alyssa,” jawab Jocelyn lagi.

Baik ayah maupun ibu Kun dan Jocelyn sama-sama tertegun, kemudian mereka berdua memandangi Kun yang sedari tadi hanya diam saja. Seketika suasananya berubah menjadi canggung. Ten dan Jocelyn saling tukar pandang bingung karena tidak tahu harus berbuat apa.

“Kun, apa benar yang Jocelyn bilang barusan? Pacar kamu sudah punya anak?” Ibu mereka kembali bertanya, memecah kesunyian yang sempat tercipta sebelumnya.

“Iya, Ma. Alyssa dulu pernah menikah dan beberapa bulan lalu resmi cerai dari suaminya.”

“Kamu nggak rebut istri orang kan, Kun?”

“Ya enggaklah, Pa!” jawab Kun dengan nada sedikit tinggi. Mengetahui nada bicaranya kelewat batas, ia buru-buru kembali bersuara. “Maaf, nggak bermaksud ngebentak Papa.”

“Kun, kamu lupa nasihat Papa?” tanya ayahnya kembali tapi kini dengan nada bicara dingin.

“Nggak, Pa.”

“Terus kenapa kamu masih pacaran sama perempuan itu?!” Gantian nada bicara ayahnya meninggi. Ibu Kun yang duduk di sampingnya pun segera mengelus pelan punggung suaminya untuk meredakan emosinya malam itu.

Kun tidak menjawab apa-apa, bahkan melanjutkan acara makan malamnya pun tidak. Jocelyn terus-terusan memandangi Kun dengan khawatir bercampur bingung, karena ia masih belum terlalu memahami ayahnya yang tiba-tiba terkesan marah dan tidak menyukai hubungan Kun dengan Alyssa.

“Lanjutin aja dulu makan malamnya. Kun, Jo, Ten, ayo nambah lagi makannya.” Lagi-lagi ibu mereka memecahkan kecanggungan di meja makan itu dan menyuruh anak-anaknya dan juga Ten untuk kembali menyantap makan malam mereka.

*

Selesai bicara empat mata dengan Ten, ayah Kun masih duduk di teras belakang rumahnya sambil menikmati segelas kopi hitam pekat dari cangkir putih yang dibuat Jocelyn selesai makan malam tadi.

“Pa,” panggil Kun pelan lalu ia duduk di bangku yang sama dengan yang diduduki Ten tadi, yaitu bangku di sisi kiri sang ayah.

Tidak ada suara yang dikeluarkan sang ayah, mau tidak mau membuat Kun juga terdiam sampai ayahnya bicara duluan karena jujur saja Kun tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Kun, kamu serius dengan perempuan itu?” Akhirnya ayah Kun buka suara.

Kun mengangguk. “Serius, Pa.”

“Kun, kamu yakin? Kamu harus ingat, menikah berbeda dengan pacaran. Apalagi menikah dengan orang yang sudah pernah menikah sebelumnya. Kamu harus berkompromi dengan masa lalunya, dengan mantan suaminya. Belum lagi dia sudah punya anak, kamu harus bisa akur dengan anaknya walaupun dia bukan darah daging kamu. Kamu yakin kamu bisa?”

Kun kembali mengangguk. “Aku yakin aku bisa, Pa. Aku sayang sama Alyssa dan juga anaknya, Sheryl. Saat aku tahu kalau aku sayang sama dia, aku belajar semua yang Papa dulu pernah nasihatin ke aku.”

Kun menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. “Pa, aku bisa pastiin Alyssa nggak seburuk dugaan Papa. Nanti aku kenalin ke Papa dan Mama. Aku sengaja nggak ajak dia makan malam sekarang karena aku tahu pasti Papa akan bereaksi kayak tadi. Aku nggak mau nyakitin hatinya Alyssa. Dia sudah terlalu banyak sakit hati, dan aku nggak mau cuma karena salah paham dia sakit hati lagi.”

Ayah Kun yang sedari tadi duduk bersandar kini menegakkan tubuhnya lalu ia menepuk-nepuk pelan punggung Kun. “Kamu ternyata benar-benar sudah dewasa ya, Kun. Papa bangga sama kamu.”

Kun tersenyum salah tingkah sendiri sambil mengusap-usap tengkuknya. “Jadi, Papa dan Mama mau ya, terima Alyssa?”

Ayah Kun kembali menyesap kopi hitamnya perlahan. “Iya, Nak,” balasnya singkat tapi cukup membuat senyum mengembang di wajah Kun malam itu.

“Kamu tuh mbok ya jangan galak-galak sama Saka,” komentar Alyssa setelah melihat obrolan singkat Kun dan Saka di Twitter.

Kun menyeruput cepat ice coffee nya hingga tersisa setengah gelas. “Saya nggak galak. Emang gitu gaya typing saya.”

“Iya, galak typing nya.”

Kun mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya ia cuma sedikit kesal karena ia menganggap Saka merusak momen cuitannya tentang Alyssa, tapi baik Saka ataupun Alyssa sama-sama tidak mempedulikan hal itu. Justru, Alyssa sekarang kedengaran seperti membela Saka.

“Kamu marah?” tanya Alyssa ragu melihat wajah Kun yang ditekuk.

“Enggak,” jawab Kun pendek, persis seperti anak yang sedang ngambek.

“Kalau marah mending kita balik aja ke kantor.”

“Saya nggak marah, Alyssa,” sergah Kun sambil berusaha meluruskan ekspresinya walaupun sulit. Alyssa yang duduk di sisi kanan Kun tersenyum tipis lalu jari telunjuknya dengan iseng menyentuh pelan wajah Kun.

“Senyum dong,” pintanya lembut.

Kun melirik sekilas ke arah Alyssa yang tengah menanti dirinya untuk tersenyum dan ia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan sederhana wanita itu.

“Nah, kan ganteng.” Alyssa kemudian menarik jari telunjuknya dari lesung pipi Kun. Mendengar pujian Alyssa, Kun malah tersenyum semakin lebar.

“Nah, kayak gitu lebih ganteng lagi deh.” Alyssa melanjutkan kalimatnya lagi.

“Udah ya, ini bukti kalau saya nggak marah.”

Alyssa mengangguk, lalu perempuan itu menopang pipi kirinya dengan tangan kirinya agar bisa memperhatikan Kun dengan leluasa. Hal yang belum pernah dilakukan Alyssa sebelumnya, dan tentu membuat Kun salah tingkah sendiri sore itu.

“Kamu ngapain sih, Lys?” tanya Kun yang kini sudah menghabiskan seluruh ice coffee-nya. Lelaki itu tidak berhenti minum karena grogi akibat perilaku Alyssa.

“Nggak ngapa-ngapain. Saya lagi seneng aja, liatin kamu. Saya belum pernah perhatiin wajah kamu secara detail.”

Mendengar kalimat Alyssa, Kun segera melakukan hal yang sama seperti Alyssa; ia menopang pipi kanannya dengan tangan kanannya dan membalas tatapan Alyssa.

Kini mereka saling adu tatap seperti adegan klise di drama Korea yang sering ditonton Jocelyn tengah malam.

Biasanya Alyssa akan salah tingkah sendiri dan buru-buru menghentikan kegiatannya, tapi kali ini tidak. Ia tidak berhenti menatap kagum wajah Kun yang tergolong sempurna.

“Cantik,” ucap Kun pelan, namun cukup jelas di telinga Alyssa.

Alyssa hanya tersenyum simpul, tangan kanannya yang bebas membenarkan rambut depan Kun yang menutupi mata lelaki itu.

Kun meraih tangan kanan Alyssa, kemudian ia menggenggam tangan itu di bawah sehingga tidak terlihat oleh siapapun. Kali ini mereka benar-benar terlihat persis seperti sedang mereka ulang adegan romantis di drama-drama Korea.

“Makasih ya Kun, kamu udah hadir di kehidupan saya. Udah kasih saya pandangan baru buat hidup saya yang jauh dari kata sempurna,” kata Alyssa masih dengan posisi yang sama. Sepertinya mereka tidak lagi canggung untuk menunjukkan rasa saling suka yang mereka rasakan.

Mereka juga sepertinya tidak peduli dengan orang yang lalu lalang di lobby, padahal kondisi lobby gedung kantor mereka sore itu cukup ramai karena memang lagi jam-jamnya para karyawan mencari segelas kopi untuk meningkatkan kembali semangat kerja mereka.

Gantian tangan kiri Kun yang bebas mengelus pelan puncak kepala Alyssa. “Lys, kayaknya saya nggak pernah ngomong ini langsung sama kamu.”

“Apa?”

I love you, Alyssa.”

Alyssa seketika langsung duduk tegak. Wajahnya memerah dan ia buru-buru menyeruput ice coffee-nya yang es batunya mulai mencair karena kelamaan didiamkan.

Kun terkekeh pelan. “Pelan-pelan minumnya, nanti keselek. Tuh kan, airnya jadi kemana-mana.”

Karena Alyssa mengangkat gelas kopinya, tentu saja air yang menempel di gelas dingin itu langsung membasahi baju Alyssa, dan buru-buru Kun memberikan beberapa lembar tissue kepada Alyssa agar wanita itu bisa mengeringkan pakaiannya. Ia juga membantu Alyssa mengeringkan gelasnya agar tidak basah lagi.

“Udah ah, udah setengah jam lebih. Astaga, udah mau satu jam, Kun. Duh, nanti saya dicariin sama bos.”

Kun lagi-lagi hanya tertawa kecil mendengar gerutuan Alyssa. Ia yakin sebenarnya nggak akan ada yang memarahi Alyssa, toh wajar saja kok bagi karyawan di gedung itu untuk sejenak keluar dari rutinitas kerjanya. Para atasan mereka juga sudah paham dengan kegiatan ngopi sore-sore dan mereka setuju-setuju saja, selama pekerjaan yang ditugaskan tetap dikerjakan. Ditambah Kun juga yakin Alyssa adalah pekerja keras, pasti hampir seluruh pekerjaannya sudah ia selesaikan sebelum jam makan siang tadi.

“Kalau kamu dipecat, kamu balik ke kantor saya aja lagi,” celetuk Kun bercanda.

“Hush, ngaco. Udah ya, saya naik duluan. Jangan lupa kamu beli kopi buat Saka.”

“Ini kalimat saya yang tadi nggak mau dibales?” tanya Kun jahil sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Saya udah bales,” jawab Alyssa yang kini sudah berdiri dan siap meninggalkan Kun untuk kembali ke kantornya.

“Kapan? Saya nggak denger.”

“Saya balesnya dalem hati. Udah ya, bye Kun!”

Kun geleng-geleng kepala dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Ia tidak berhenti memandangi punggung Alyssa yang semakin menjauh sampai akhirnya menghilang di antara kerumunan orang yang mengantri untuk naik lift.

Sementara Alyssa yang kini sedang menaiki lift untuk kembali ke kantornya tidak berhenti menghela nafas panjang.

“Kun, kalau gini caranya lama kelamaan jantung saya yang nggak sehat.”

Setelah bertemu dengan Jocelyn dan Ten di Foodcourt dan menceritakan kejadian yang baru saja terjadi pada dirinya dan Alyssa, akhirnya Kun berinisiatif mengantar Sheryl pulang untuk sekaligus menemui Alyssa.

“Kun?” tanya Alyssa sedikit bingung saat ia mendapati Kun berdiri di depan pintu rumah kontrakannya.

“Kamar Sheryl dimana?” tanya Kun yang sedang menggendong Sheryl yang terlelap di dekapannya. Ternyata gadis kecil itu tertidur pulas saat dalam perjalanan pulang tadi.

Alyssa sebenarnya masih ingin menghindari Kun, tapi ia tidak punya pilihan lain selain memberitahu Kun di mana letak kamar Sheryl.

“Bukannya Jo nggak mau anterin Sheryl, tapi saya yang sengaja anter Sheryl supaya bisa ketemu kamu,” jelas Kun setelah ia selesai menidurkan Sheryl di kamarnya dan menutup pintu kamar itu, agar tidak ada salah paham di antara Alyssa dan juga adik perempuannya.

“Makasih banyak, Kun. Kalo nggak ada perlu apa-apa lagi, tolong kamu pulang ya, saya masih ada kerjaan yang harus diurus,” balas Alyssa berbohong.

“Alyssa, maaf.”

Suara pelan Kun menghentikan langkah Alyssa yang tadinya ingin pergi meninggalkan Kun. Wanita itu menoleh ke arah Kun yang masih berdiri di depan kamar Sheryl.

“Saya tahu kamu dengar semua ucapan teman-teman saya. Maaf, kalau kamu harus dengar itu semua.”

“Kamu nggak perlu minta maaf, kamu nggak salah. Mereka juga nggak salah, apa yang mereka bilang semua benar. Saya janda, sementara kamu masih lajang. Kamu bisa dapat yang lebih baik dari saya. Bagian mana yang salah?”

“Mereka nggak berhak buat ngomong seperti itu, Lys.”

“Tapi yang mereka bilang bener, Kun, kamu—”

“Saya nggak bilang mereka salah, tapi mereka nggak berhak untuk ngomong seperti itu! Mereka nggak pantes mengkotak-kotakkan status kita seperti tadi!” Kun memotong kalimat Alyssa dengan nada bicara yang sedikit tinggi.

Alyssa sedikit terkejut dengan nada bicara Kun barusan, sementara pria itu buru-buru melanjutkan kalimatnya dengan nada bicara yang melunak. “Sorry, saya kelewat emosi sampai ngomong nada tinggi ke kamu. Tapi, please Lys, bisa nggak kamu egois sedikit aja buat kebahagiaan kamu?”

“Saya benar-benar tulus sayang sama kamu dan Sheryl, persetan dengan status janda dan lajang itu, saya nggak peduli. Yang saya peduliin sekarang cuma kamu dan Sheryl dan kebahagiaan yang pantas kalian dapetin.”

Kun mendekati Alyssa yang berjarak hanya beberapa langkah darinya. Ia memegang kedua lengan Alyssa dan menatap wanita itu lekat-lekat. “Tolong berhenti bersikap seperti ini ya, Lys? Saya mencintai kamu dengan segala kekurangan dan kelebihan kamu.”

Air mata Alyssa yang sedari tadi menggunung di pelupuk matanya kini mengalir bebas, membasahi wajah cantik wanita itu. Ia terharu, rasanya seumur hidupnya belum pernah ia merasa diperjuangkan dan dihargai seperti yang Kun selalu lakukan kepada dirinya.

Kun menyeka pelan air mata Alyssa dengan kedua ibu jarinya lalu memeluk wanita itu erat sambil sesekali mengusap pelan puncak kepala Alyssa.

“Kun, makasih ya,” ucap Alyssa pelan, masih di dalam pelukan Kun.

“Harusnya saya yang berterima kasih sama kamu, Alyssa. Terima kasih, kamu udah ngajarin ke saya bagaimana mencintai seseorang tanpa memandang apapun.”

Kini air mata yang mengalir di wajah Alyssa adalah air mata haru bahagia. Tidak terasa waktu cepat berlalu, banyak hal yang berubah dalam hidupnya dan juga caranya memandang dunia.

Dulu sempat terbesit di benak Alyssa bahwa hidupnya akan selalu penuh dengan kesialan; semua yang ia cintai satu persatu akan pergi meninggalkannya.

Bahkan sampai Alyssa berpegang pada satu keyakinan, bahwa tidak akan ada yang bertahan selamanya dalam kehidupan ini.

Memang, apa yang diyakini Alyssa ada benarnya. Segala yang ada di dunia ini fana, termasuk kehadiran seseorang yang berarti di dalam kehidupan kita.

Namun sejak mengenal sosok pria bernama Kun, Alyssa belajar hal baru, bahwa selama ia diberikan kesempatan untuk memberi dan menerima cinta, ia harus gunakan kesempatan itu baik-baik, sampai waktu yang Tuhan tentukan tiba.

singgah (sing•gah): berhenti sebentar di suatu tempat ketika dalam perjalanan; mampir.


‘Ryu, I’ll be in Spore tomorrow for 3 days. Make sure you spare some of ur busy time for me. Xx, Kakak Cantik.’

Yangyang tersenyum membaca pesan yang masuk untuknya siang itu. Saat penat sedang melanda perkara atasan yang meminta design di luar dugaan, pesan itu datang seperti angin segar.

Memang bukan pesan dari kekasih hati, tapi perempuan ini memiliki tempat spesial di hati.

*

Setelah semalam memutuskan untuk bertemu di kedai kaya toast kesukaan mereka berdua, pagi ini sekitar jam 8 waktu setempat Yangyang sudah tiba di sana.

Karena perempuan itu belum tiba juga, Yangyang memesan duluan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Jangan heran, Yangyang sudah hafal luar kepala apa yang akan dipesan perempuan itu.

“Ryu!” panggilnya dari jarak 5 meter. Yangyang berdiri lalu menyambut perempuan itu dengan sebuah pelukan. “How are you, Kak?” tanyanya setelah ia melepas pelukan itu.

Elena, perempuan itu, memilih untuk duduk terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Yangyang.

“Hmm, kinda fine,” jawabnya dengan nada menggantung, menimbulkan kerutan tipis di dahi Yangyang.

Something happened?

Elena hanya tersenyum tipis sementara Yangyang melanjutkan pertanyaannya. “Kak, don’t tell me kakak kesini karena—”

“Udah ah bisa nggak, nggak usah bahas dia dulu?” Elena langsung memotong ucapan Yangyang.

Yangyang langsung diam, walaupun sebenarnya ia masih penasaran tetapi ia memilih untuk tidak bertanya lagi.

“Aku udah pesen ice coffee sama kaya toast. Is it okay?” Yangyang mengganti topik pembicaraan mereka dengan menu sarapan yang sudah ia pesan.

Elena mengangguk. Sekilas terlihat perempuan itu sibuk dengan ponselnya sebelum akhirnya ia menyimpan ponsel itu di dalam tas selempangnya.

“Pokoknya hari ini we are going to having fun, okay? Jangan bahas yang lain-lain ya, please?”

Gantian Yangyang yang mengangguk. Lagian bagi Yangyang, untuk apa sudah lama tidak bertemu Elena, justru saat bertemu mereka malah membicarakan hal lain?

Sekali-kali Yangyang ingin egois, sudah banyak sekali ia mengalah demi perempuan itu, dan hari ini ia mau memuaskan diri menghabiskan waktu bersama Elena tanpa memikirkan hal lain.

How’s Japan, Kak? Terus ngapain ke Spore 3 hari?”

Pertanyaan Yangyang tidak langsung dijawab Elena karena seorang pegawai kedai datang mengantarkan pesanan mereka. Elena buru-buru menyeruput es kopinya untuk menghilangkan rasa hausnya.

Japan is great, Ryu. Kalau tahun ini atau tahun depan ada lagi exclusive contract-nya, kamu coba apply aja. Itung-itung pengalaman.”

“Kepengen sih, tapi masih belum pede, hehehe ….”

Elena mengerutkan dahinya bingung. “Why?

Yangyang mengangkat kedua bahunya. “Entahlah, rasanya kayak berat aja ninggalin Singapur. Udah betah banget disini. Bahkan, aku sampe diomelin Mami karena balik Surabaya tiap Christmas doang,” jawab Yangyang panjang lebar.

“Berarti cari jodohnya juga orang Singapur dong? Biar makin betah disini,” ledek Elena sambil terkekeh pelan. Yangyang hanya mengerucutkan bibirnya, mulutnya sibuk mengunyah roti kaya untuk memenuhi perutnya pagi itu.

“Terus kakak 3 hari di sini ngapain aja?” Yangyang mengulang pertanyaan yang belum dijawab Elena.

Elena terlihat berpikir sesaat sebelum menjawab pertanyaan Yangyang. “Mm … kemarin sore aku nyampe langsung check-in hotel, terus malemnya makan sendiri di Clarke Quay, balik hotel terus tidur.”

“Hari ini seharian sama kamu, besok kayaknya aku mau ketemu sama ma’am Emma sekalian lunch bareng, abis itu ke Orchard sebentar baru deh malemnya ke airport.”

Yangyang membulatkan mulutnya tanda ia memahami jawaban Elena, dan setelah itu acara sarapan mereka diisi dengan obrolan pengalaman Elena dan juga Creativans Jepang.

-

Setelah selesai menghabiskan sarapan mereka, Yangyang dan Elena segera meninggalkan daerah China Town dan pergi menuju barat Singapura untuk mengunjungi Singapore Discovery Center.

Pergi ke discovery center adalah ide Yangyang karena menurut pengakuannya, tidak ada satupun kawannya yang mau diajak pergi ke sana dengan alasan tempat itu membosankan. Tapi tidak dengan Elena, perempuan itu menuruti kemauan sederhana Yangyang untuk berwisata sekaligus mengenali sejarah Singapura disana.

Setelah hampir 3 jam mereka berada di discovery center, Yangyang dan Elena mampir di daerah Clementi untuk makan siang dan setelahnya mereka pergi Bugis sesuai permintaan Elena untuk mencuci mata di pasar tradisionalnya sebelum menutup hari dengan menikmati semilir angin sore di East Coast Park.

“Nih, buat Kakak.” Yangyang menyodorkan segelas Ice Americano Double Shot with liquid whipped cream kesukaan Elena yang ia beli dari stall Starbucks tidak jauh dari tempat mereka duduk.

Thank you,” ujar Elena sembari ia menerima kopinya dan mulai menyeruputnya pelan, menikmati sensasi pahit, sedikit manis dan kental dari perpaduan americano dan liquid whipped cream.

“Gimana hari ini, were you happy?” tanya Yangyang setelah ia selesai meminum sedikit Ice Americano miliknya.

Sure!” jawab Elena antusias lalu ia mengeluarkan beberapa foto polaroid hasil jepretannya selama perjalanan hari ini dari dalam tas selempangnya dan membagi foto-foto itu kepada Yangyang.

“Buat kenang-kenangan,” sambung Elena singkat.

Yangyang hanya diam. Dipandanginya foto-foto yang mereka ambil mulai dari sarapan, saat mengunjungi discovery center, makan siang di Clementi, cuci mata di Bugis hingga foto terakhir yang diambil Elena yaitu saat Yangyang sedang mengantri membeli kopi.

“Kak,” panggil Yangyang pelan setelah beberapa saat, membuat Elena menoleh ke arahnya. “Promise me, it gonna be our last, ya?” sambungnya.

Elena mengerutkan dahinya. “Kenapa?”

This is not right, Kak. Buat kakak, buat aku, buat Kak Dejun.”

Elena diam. Kunjungannya ke Singapura kali ini dan juga kebersamaannya dengan Yangyang hari ini memang hanya akan menyisakan luka, baik untuk Yangyang ataupun untuk kekasihnya, Dejun.

Forgetting you, letting you go with him weren’t easy for me, Kak. Terus sekarang kakak tiba-tiba dateng, we were having fun like nothing ever happened between usi don’t know why, rasanya sakit aja.”

No, bukan berarti aku benci kakak dan nggak mau kalo kakak ajak aku pergi lagi,” Yangyang buru-buru meralat kalimatnya, “tapi, kalau konteks atau tujuannya kayak hari ini, aku nggak mau. Aku tau kakak lagi punya masalah sama kak Dejun, and you solve it with pergi kesini … Cara ini salah, Kak.”

Yangyang kembali menyeruput minumannya karena tenggorokannya terasa kering akibat bicara panjang lebar.

Sorry, Ryu. Aku nggak bermaksud nyakitin hati kamu. I’m so sorry.”

Yangyang tersenyum mendengar balasan Elena. Ia yakin perempuan itu sebenarnya tahu apa yang seharusnya ia lakukan.

It’s okay, Kak. Di satu sisi aku seneng sih, jadi bisa ngerasain pacaran sama kakak kayak gimana, hehehe ….”

Terdengar tawa pahit dibalik senyuman Yangyang. Elena hanya mendorong pelan bahu Yangyang lalu ia kembali menikmati minumannya.

Thank you ya, Ryu,” ucap Elena pelan. “Thank you udah kasih tau aku kalau ini salah. Thank you juga karena selalu ada buat aku. You deserved someone better than me.”

Yangyang lagi-lagi hanya tersenyum. Ia tahu ia pantas dapatkan yang lebih baik daripada kakak kelasnya yang ia idolakan selama 10 tahun ini. Tapi kenapa hati kecilnya sulit sekali untuk berkompromi dengan otaknya?

Saat bertemu kembali dengan Elena di Singapura tahun lalu, Yangyang merasa Tuhan menjawab doanya selama ini. Tapi, ternyata Yangyang salah karena saat itu Elena datang hanya untuk lari dari masalahnya.

Dan sekarang, perempuan itu datang lagi untuk lari lagi dari masalahnya.

Sempat terpikir hari ini mungkin menjadi hari dimana Tuhan menjawab doanya. Ya, memang Yangyang sudah merelakan Elena bersama dengan Dejun, tapi sedikit berharap tidak ada salahnya, kan?

Namun sayangnya harapan itu harus kembali pupus saat Yangyang tidak sengaja membaca isi pesan teks yang dikirimkan Dejun untuk Elena tadi siang.

Saat itulah Yangyang sadar, kalau dirinya memang hanya menjadi tempat singgah saja bagi perempuan itu, bukan untuk berlabuh.

Biasanya ini yang akan kami lakukan setelah seharian bekerja; kami akan duduk di sofa favorit kami di ruang tengah, Ten akan menyalakan lilin aromatherapy dan juga memutar lagu-lagu dari piringan hitam yang kami punya lalu kami akan saling bertukar cerita satu sama lain.

Hari ini mood-ku agak sedikit berantakan akibat kelakuan mobil menyebalkan di jalanan tadi. Bagaimana tidak menyebalkan, mobil itu tidak berhenti mengklaksoniku, padahal kalau butuh cepat-cepat bisa saja kan dia menyalip dari kiri dan tidak perlu menyuruhku untuk pindah lajur. Ah sudahlah, kalau diingat lagi akan membuat mood-ku semakin jelek.

Ten datang dengan dua cangkir berisikan kopi hitam kesukaan kami berdua. “Thank you,” ucapku lalu aku menyesap pelan kopi panas itu. Seketika wangi kopi dan lilin aromatherapy beradu memenuhi ruangan itu.

“Sini, kakinya selonjorin disini,” ucap Ten sambil menepuk pahanya. Aku menurut, aku menaruh kedua kaki di atas pangkuannya lalu Ten mulai memijat pelan kakiku.

“Pasti pegel ya tadi nyetir?” tanyanya dengan kedua tangan yang sibuk memijat.

“Nggak terlalu,” jawabku singkat. “Maaf ya, maksud hati mau jemput kamu karena kamu capek kerja seharian, malah aku jadi nyusahin kamu gini,” sesalku kemudian.

Memang tujuan dan maksudku sore ini adalah menjemput dan menyetir untuknya. Aku tahu saat ini dia sedang punya banyak project; kadang kalau aku telfon siang-siang dia suka bilang kalau dia belum sempat makan siang. Jam tidurnya pun berantakan; Ten bisa baru menutup laptopnya dan tidur sekitar pukul 3 dini hari dan harus kembali ke kantor jam 8 pagi.

Ten seperti biasa, dia hanya tersenyum. “It’s okay, sweetheart. Makasih banyak ya, love you,” balasnya manis kemudian ia memijat-mijat pelan kaki ku lagi.

Kadang aku berpikir, hatinya Ten tuh terbuat dari apa sih? Kok bisa ada laki-laki sebaik dan sesabar dia?

Project kamu gimana kabarnya?” Aku membuka topik pembicaraan yang lain.

Ten yang sudah selesai memijat kakiku tapi membiarkan kakiku tetap berada di pangkuannya kini menyesap kopi hitam yang tadi dia bawa sebelum menjawab pertanyaanku. “Ada aja revisinya, tumben kantor dapet client agak resek.”

“Sebenernya bukan resek gimana sih, cuma detail banget. Jadi karena mereka detail banget, otomatis aku sama tim juga kerjanya lebih detail. Malah hal-hal yang dulu aku nggak terlalu perhatiin, sekarang jadi aku perhatiin. So, I’ll take it as… new learning? Experience? … Ya, semacam itulah, hehehe ….”

Aku hanya diam mendengar jawabannya. Aku yakin sekali kalau aku di posisi Ten pasti aku sudah bete setengah mati, apalagi aku orangnya gampang emosian. Tapi tidak dengan Ten, dia sangat sabar sekali. Ten selalu melihat masalah dari segala sisi sehingga aku tidak heran kalau dia bisa sesabar dan sebijaksana ini. Karena sifat Ten ini pun aku perlahan mencoba berubah menjadi Jocelyn yang lebih sabar dan tidak mudah emosian. Benar-benar aku bersyukur sekali Tuhan mengirimkan aku seorang Ten yang bisa mengubahku menjadi pribadi yang lebih baik.

“Jo? Sayang? Kok bengong?”

Suara Ten membuyarkan lamunanku. “Hah? Oh, enggak kok.”

“Kamu tadi ketemu temen kamu siapa? Terus kalian ngapain aja?” Gantian Ten yang menanyakan kegiatanku hari ini.

“Temen SMA aku namanya Caroline, panggilannya Olin. Dia punya coffeeshop di daerah Gunawarman situ, terus pas dia tau aku suka open PO kue-kue, dia mau aku jadi supplier kue-kue di coffeeshop-nya.”

Wajah Ten langsung berubah sumringah setelah mendengar ceritaku. “Wow, good things banget, yang. Terus gimana lanjutannya?”

“Tadi kami ketemuan, aku minta dia food test dulu. Responsnya dia bagus banget, dia makin yakin buat aku yang supply. Ini aku juga udah dikasih kontraknya, dia minta aku baca dulu, kalau aku setuju baru tanda tangan kontraknya.”

So … Will you?

“Menurut kamu?” Aku malah melempar balik pertanyaan Ten ke lelaki itu.

Ten tertawa pelan, “kok aku sih, yang?”

“Nggak tau, bingung.”

Ten menurunkan kakiku dari pangkuannya lalu ia menggeser duduknya ke dekatku agar ia bisa merangkulku. “Jo, you are amazing, did you know?”

“Aku tau, hati kamu sebenernya mau banget tanda tangan kontrak itu. Tapi di sisi lain kamu ada keraguan. Keraguan kamu kira-kira gini, ‘duh gue bisa nggak ya? Gue mampu nggak ya?’. Jo, you need to know that you’re capable to do this. Kamu bisa, kamu mampu.”

Aku menoleh ke arah Ten dan mendapatkan lelaki itu sedang memandangiku tiada henti. “Gitu ya? Jadi aku tanda tangan aja? Kamu yakin aku mampu?”

Ten mengangguk lalu ia mengecup pelan keningku. “Liat deh ke dapur,” ucap Ten membuatku refleks menengok ke arah dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang tengah. “Look at those baking equipment dan inget orderan apa aja yang udah pernah kamu kerjain.”

Aku langsung bisa membayangkan diriku yang sedang bekerja di dapur. Ah, benar kata Ten. Kenapa aku harus ragu? Selama ini aku mampu mengerjakan seluruh orderan yang tidak jarang membuat badanku pegal-pegal tapi hatiku senang. Kini aku kembali menatap Ten, “thank you, sayang. You’re also amazing as always.”

“Aku mah nggak usah dikasih tau juga aku udah tau kalo aku amazing.”

Aku menendang pelan pahanya sementara Ten sendiri hanya tertawa. Sisi narsisnya kadang suka menyebalkan tapi itulah salah satu daya tarik Ten yang aku sukai.

“Yang, inget lagu ini nggak?” tanya Ten saat terputar lagu terkenal milik Frankie Valli dari piringan hitam yang Ten pasang.

Aku mengangguk, aku ingat sekali lagu ini menemani perjalanan kami ke Anyer sesaat sebelum aku dan Ten berpacaran.

Tiba-tiba Ten berdiri di depanku, ia menjulurkan tangannya dan sedikit berlutut. “Shall we dance, Mrs. Lee?”

Aku menyambut uluran tangannya, kemudian Ten menarik tanganku pelan dan mulai mengajakku berdansa di ruang tengah. Kami berdansa sambil menatap wajah satu sama lain, tawa bahagia menghiasi wajah kami, ditemani Louis dan Leon yang tidak mau kalah ikut berdansa di dekat kaki kami.

I love you, baby And if it's quite alright I need you, baby To warm the lonely night I love you, baby Trust in me when I say —Can’t Take My Eyes Off You, Frankie Valli

Dan seperti inilah cara kami; berbagi cerita dan solusi, menguatkan dan meyakinkan serta menghibur satu sama lain. Dan memang seharusnya seperti ini, bukan? Pasangan hadir bukan hanya di saat bahagia saja, tapi justru di saat kita perlu didengar dan dikuatkan.

Sinar matahari sore itu menemani langkah kaki kecil Olivia menyusuri jalan setapak di sebuah tempat peristirahatan terakhir yang jauh dari hiruk pikuk kota. Semilir angin meniup bebas rambut panjangnya.

“Hai, sorry ya, gue baru sempet kesini,” ucapnya kikuk di depan sebuah gundukan tanah yang berselimut rapi rumput hijau.

Olivia berjongkok, ia menaruh sebuket mawar kuning yang ia bawa di atas batu nisan yang terbuat dari batu marmer putih. Terukir nama seseorang yang dikenalnya sangat baik disitu.

Setelah selesai membaca beberapa doa, Olivia mulai mengajak penghuni ‘rumah’ itu mengobrol. “Apa kabar?” tanyanya pelan.

Olivia terdiam. Banyak sekali yang sebenarnya ingin ia sampaikan tapi ia tidak tahu harus memulainya dari mana.

“Maaf, gue baru sempet kesini. Pasti lo marah banget sama gue, ya? Hehehe …” Terdengar tawa pelan Olivia yang agak dipaksakan.

“Banyak yang gue laluin setelah nggak ada lo. Gue harus ke psikiater, temen-temen gue satu per satu ninggalin gue, alesannya mereka nggak mau temenan sama cewek gila. Haha, lucu ya?”

“Berbagai cara gue lakuin supaya gue lupain hari itu. Dan akhirnya, gue berhasil. Sekarang gue udah jauh lebih baik bahkan lebih kuat dibandingkan Olivia yang dulu.”

Olivia tersenyum tipis sambil mengelus pelan foto dari lelaki yang berbaring di dalam sana, yang terpampang jelas di samping namanya di batu nisan.

Thank you ya, selama ada lo, lo udah banyak bantuin gue. Maaf gue nggak bisa bales kebaikan lo, tapi gue yakin dan percaya, orang baik di sayang Tuhan. Pasti di sana lo bahagia kan?”

Olivia menyeka pelan air mata yang mulai membasahi wajahnya. “Sebisa mungkin gue bakal sering kesini. Tapi kalo gue lagi sibuk, tolong jangan marahin gue, ya?”

Olivia kemudian bangkit berdiri, “gue pamit dulu, ya. Tolong jagain gue dari sana. Kalo nggak mau juga gapapa sih, gue nggak maksa kok.”

Kemudian Olivia melirik sekilas seseorang yang sedari tadi menunggu di bawah pohon rindang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. “Bye, kapan-kapan kita ngobrol lagi, ya.”

-

“Udah?” tanyanya saat ia melihat Olivia berjalan mendekatinya. Olivia mengangguk, kemudian ia merangkul bahu tubuh mungil perempuan itu dan mengajaknya pergi menuju mobil biru metalik yang terparkir tidak jauh dari sana.

“Mau makan nggak?”

“Boleh. Makan apa?”

“Soto Bangkong.”

Olivia mengerutkan dahinya, “dari kemarin kita makan itu melulu. Nggak bosen?”

Pertanyaan Olivia dijawab dengan sebuah gelengan cepat. “Nggak … Soto Bangkong ya, please?” pintanya dengan wajah memelas.

“Yaudah.”

Tanggapan terakhir Olivia dibalas dengan sebuah kecupan pelan di puncak kepala Olivia, membuat perempuan itu tersenyum hangat.

‘Sesuatu yang berakhir tidak selamanya menyedihkan, seringkali menjadi awalan yang baru untuk hidup yang tak lagi semu.’

Tidak lama setelah aku bertukar pesan dengan Winwin, aku melihat sebuah motor Kawasaki Ninja Hitam berhenti di depan pintu pagar rumah Devina. Bisa kupastikan dia adalah Darren yang dimaksud Winwin tadi. Kemudian motor itu masuk setelah seseorang dari dalam membukakan pintu pagarnya.

Aku putar otak mencari cara untuk bisa masuk ke dalam rumah Devina karena entah kenapa instingku kuat sekali mengatakan kalau Olivia ada di dalam sana dan kondisinya tidak baik.

Dari mobil aku memantau daerah sekitar rumah Devina. Kebetulan rumah Devina terletak di hook dan sisi kirinya adalah kebun dengan pohon besar tumbuh tinggi disana. Ranting pohon itu sebagian menjulur masuk ke dalam halaman rumah Devina dan aku langsung memutuskan untuk masuk lewat situ.

Tulang rusukku masih terasa nyeri saat aku memaksakan diri memanjat pohon itu, tapi aku tidak peduli. Aku harus mengetahui dimana Olivia berada. Setelah sukses memanjat dan memasuki halaman rumah Devina tanpa ketahuan, aku berjalan mengendap menuju pintu belakang rumahnya.

Halaman rumah Devina sangat luas. Rumahnya terkesan kuno, dengan pilar-pilar yang terbuat dari kayu jati dan ukiran-ukiran Jepara memberikan aksen tradisional yang cukup kental.

Dari kaca pintu belakang, aku mengintip ke dalam. Ternyata pintu itu terhubung dengan dapur dan tidak ada siapapun disana. Aku memberanikan diri untuk masuk.

Begitu sampai di dapur aku kembali memastikan semuanya dalam keadaan aman. Kini aku bisa melihat ruang tengah rumah Devina tapi tidak kutemukan Darren disana. Hanya ada helm yang ia gunakan tadi yang ditaruh di atas meja dekat TV.

Baru saja aku hendak memasuki ruang tengah, tiba-tiba saja Darren keluar dari kamar mandi yang terletak dekat tangga. Buru-buru aku bersembunyi sambil terus mengawasinya. Aku bisa mendengar siulannya yang terdengar riang.

Yang kulihat berikutnya sungguh di luar pikiranku; aku melihat Darren mengeluarkan pistol revolver dari jaket kulitnya. Ia mengecek peluru yang tersimpan di dalamnya sebelum kembali menyembunyikan pistol itu di dalam jaketnya dan pergi meninggalkan ruang tengah menuju sebuah ruangan lain di balik pintu yang terletak persis di bawah tangga besar rumah Devina.

Setelah aku pastikan Darren sudah masuk ke dalam sana, perlahan aku membuntuti lelaki itu. Ku buka pintu yang sama persis dengan Darren tadi dan ku dapati sebuah gudang berisikan barang-barang tidak terpakai. Yang langsung menarik perhatianku adalah sebuah tangga menuju basement yang dibiarkan Darren terbuka begitu saja.

Langsung saja aku menuruni tangga itu dan aku mendapati pintu lain yang tidak tertutup rapat.

Byur!

Ku dengar Darren seperti menyiram sesuatu dan setelahnya ku dengar lagi orang lain yang kaget dengan siraman tadi.

“Bangun, Cantik. Udah siang. Kamu kan bukan pemalas.”

Suara Darren terdengar jelas dan begitu aku mengintip dari balik pintu aku bisa melihat sosok yang kukenal sedang dibangunkan Darren dalam posisi terikat di dalam sana.

‘Shit!’ umpatku dalam hati. Awalnya aku mau langsung menerobos masuk dan memukuli Darren sampai dia mampus, tapi ku urungkan niat itu karena Darren kembali mengajak Olivia berbicara.

“Gimana? Dua hari sama adek gue pasti rasanya menyenangkan, kan? Pasti lo langsung inget sama masa lalu kalian …”

Aku mengerutkan dahi bingung karena tidak mengerti apa maksudnya.

“Sekarang giliran lo, Cantik,” ujar Darren lagi lalu ia mengeluarkan pistolnya yang tadi dan mengarahkannya tepat ke dada Olivia.

“Selamat jalan, Cantik. Salam buat Rendra disana.”

Saat Darren menarik pelatuk pistol itu, secepat mungkin aku berlari memasuki ruangan itu; aku menghamburkan diri memeluk tubuh Olivia untuk melindunginya dari serangan peluru milik Darren.

1 … 2 … 3 …

Bisa kurasakan beberapa logam timbal dingin menembus kulit punggungku. Aku dan Olivia sama-sama terhuyung lalu jatuh ke lantai. Baju yang kupakai pun perlahan terasa basah dan aku yakin itu pasti karena darahku sendiri.

“Lucas? Lucas! Lucas!!!” Olivia memanggil namaku berulang kali. Aku tersenyum tipis. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat wajah yang biasanya bisa kulihat setiap hari; aku merindukannya.

“Hehe, hai Liv,” balasku sambil berusaha menahan rasa nyeri di punggungku. Huh, sudahlah tulang rusukku masih nyut-nyutan sekarang harus ketambahan peluru ini.

“Tolong!! Tolong!!! Tolong!!!” Aku mendengar Olivia berteriak dengan suara cempreng khasnya. Ah, aku juga rindu suaranya. Suara yang selalu memprotesku tapi aku tahu sebenarnya itu adalah bentuk perhatiannya untukku.

“Liv …,” panggilku pelan dengan tenaga yang tersisa. Padahal aku tidak ngapa-ngapain, tapi rasanya aku lelah sekali, seperti habis bermain sepak bola 120 menit nonstop.

“Lucas, please jangan pergi … Please lo harus bertahan demi kita … Lucas, gue sayang sama lo …,” ucap Olivia di sela isak tangisnya.

Aku kembali tersenyum. Walaupun rasa sakit sudah menjalar di seluruh tubuhku, tapi hatiku bahagia sekali.

“Gue juga sayang sama lo, Olivia.”

Berikutnya kurasakan badanku semakin lemas dan pandanganku perlahan menjadi gelap. Suara Olivia dari yang awalnya terdengar jelas, lambat laun terdengar seperti sayup-sayup angin lalu dan akhirnya … hilang. Tidak lagi aku dengar suara Olivia yang mungkin masih memanggilku tiada henti.

“Olivia, sepertinya sekarang kita sudah berada di dunia yang berbeda.”

Sudah 3 hari aku terkurung di tempat menyeramkan ini tapi rasanya seperti sudah berminggu-minggu. Waktu berjalan sangat lambat sekali dan tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain berdoa, memohon agar Tuhan mengirimkan siapapun untuk menolongku. Kadang aku juga memohon supaya Devina dan Darren gadungan itu bisa sadar atas perbuatan gilanya ini dan mau melepaskanku dari sini.

Mau menangis juga air mataku sepertinya sudah kering. Perutku rasanya perih sekali dan juga tenggorokkanku terasa kering karena sudah 3 hari ini aku tidak makan ataupun minum.

Aku sesekali memejamkan mata, berharap bahwa saat aku nembuka mata semua ini hanyalah mimpi buruk. Tapi nyatanya tidak, yang kulihat malah foto-foto Rendra yang sengaja di taruh di atas pangkuanku.

Beberapa lembar foto telah jatuh berserakan di lantai karena aku beberapa kali berusaha melepaskan diri dari jeratan tali ini. Buku diary yang ditinggalkan untukku juga terjatuh dan terbuka di satu halaman, dimana aku bisa membaca cukup jelas tulisan Rendra yang rapi.

Di halaman itu Rendra menceritakan kisahnya saat aku bilang padanya kalau aku sedang naksir seorang kakak kelas.

‘… Olivia bilang dia suka kakak kelas… gue benci dengernya! Dia cuma boleh suka sama gue. Gue harus cari cara supaya Olivia cuma suka sama gue. Liv, gue yang bakal lindungin lo. Gue yang bakal selalu ada buat lo. Kakak kelas itu nggak akan, jadi, tolong berhenti suka sama dia!’

Di bawah curahan hatinya ada fotoku yang ia tempel, foto yang diam-diam diambil saat aku sedang menulis di kelas.

Aku refleks bergidik ngeri. Tidak ku sangka Rendra memiliki obsesi berlebihan padaku yang justru menyelakai dirinya sendiri pada akhirnya.

Tidak, dia loncat dari gedung sekolah bukanlah salahku. Aku berulang kali meyakinkan diriku dengan akal sehatku. Itu kemauan dia sendiri, itu kecerobohannya sendiri dan bukan tanggung jawabku.

Tapi sial! Kenapa sekarang aku jadi dikurung seperti ini? Apa kakaknya Rendra tidak tahu, kalau aku juga menjadi korban? Setelah kejadian itu, aku butuh waktu berbulan-bulan bolak-balik psikiater dan terpaksa mengubur mimpiku untuk kuliah jurusan Sastra Inggris di Universitas impianku?

Dia juga tidak tahu kan, karena kejadian itu juga keluargaku sengaja membawaku pergi bolak-balik ke Australia dan Singapura agar aku bisa benar-benar melupakan malam naas itu.

Sampai pada akhirnya aku memberanikan diri untuk pulang ke Semarang, tapi karena kekhawatiran berlebih orang tuaku, akhirnya mereka menyuruhku pindah ke Jakarta sekaligus menjodohkanku dengan Lucas.

Ah, Lucas. Dalam hati aku kembali menangis, menyesali perbuatan burukku selama bersamanya. Aku sempat terpikir untuk mati saja disini, karena lebih baik aku mati daripada harus tersiksa seperti ini. Tapi begitu mengingat Lucas, aku seperti punya motivasi untuk bertahan.

Aku harus bertemu kembali dengan Lucas. Ada hal yang kami belum sempat bicarakan satu sama lain dan aku ingin menyelesaikannya. Dan juga, aku ingin sekali memeluknya. Aku merindukannya … sepertinya aku benar-benar sudah jatuh hati padanya.

Tapi, rasa sakit di tubuhku perlahan memupuskan harapan dan keinginan itu. Kepalaku tiba-tiba terasa pusing sekali, tubuhku kini oleng tak berdaya dan akhirnya aku kembali jatuh ke lantai. Di saat kritis seperti ini aku memohon kepada Tuhan sebagai permintaan terakhirku.

“Tuhan, tolong jaga Lucas. Tolong buat dia bahagia.”

Kini tatapanku kabur karena air mata yang memenuhi pelupuk mataku dan perlahan semua yang ada di hadapanku menjadi semu dan … gelap.

“Lucas, maaf sepertinya aku harus pergi terlebih dahulu.”