goldeneunoia

⚠️ tw // kidnapping, abuse, blood

Pagi ini aku memasuki ruangan gelap itu. Debu yang cukup tebal membuatku terbatuk, membangunkan tamu spesialku yang sudah berada disini sejak semalam.

“Devina?!” tanyanya begitu ia tersadar.

Aku tidak menjawabnya, yang kulakukan hanya mendekatinya lalu berjongkok dan mengelus pelan wajah cantiknya.

“Selamat pagi, Cantik,” ucapku dari balik masker hitam yang ku kenakan.

“Siapa?” tanyanya linglung.

Aku menurunkan maskerku dan bisa kulihat matanya terbelalak terkejut saat mengenaliku. “Darren?!”

Aku lagi-lagi hanya diam. Aku bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir di dekatnya.

“Darren, kamu dateng buat nolongin aku, kan? Devina jahat, Ren!”

Langkahku berhenti. Dari tempat aku berdiri, aku menatap dia yang masih tersungkur disana. “Siapa Darren?”

Raut wajah si Cantik terlihat kebingungan. Ah, ternyata dia masih belum memahami permainan ini.

“Lo ternyata bener-bener bodoh ya, persis kata Devina,” balasku dingin.

Dia semakin bingung dan sedikit terkejut mendengar nada bicaraku. “L-lo siapa ...?”

Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Yang kulakukan saat ini menegakkan kembali kursinya agar aku lebih mudah berbicara dengannya.

“Lo siapa?!” tanyanya galak dengan tatapan mata menyalang.

“Kok bisa berdarah gini sih?” kataku sambil membersihkan darah di bibirnya dan mengusap pelan luka lebam di pipinya.

Dia berusaha menghindar tapi karena ruang gerak yang sempit, dia tidak bisa melakukan lebih dari sekedar menggelengkan kepalanya. “Jawab pertanyaan gue! Lo siapa?!”

“Iya, aku Darren, sayang,” jawabku lalu aku mencium pelan bibirnya. Bibir itu terasa kering, berbeda sekali dengan waktu kami berciuman pertama kali di rumahnya. Aku melihat air mata mengalir di wajah pucatnya dan dia menatapku dengan jijik.

“Lepasin!” raungnya marah, tapi tidak kugubris sedikitpun. Kini dengan jarak sedekat ini dan dalam posisi dia tidak bisa berbuat apa-apa, aku bisa bebas memandangi setiap sudut tubuhnya. Pantas saja bocah itu naksir habis-habisan dengan perempuan ini, sayangnya dia terlalu bodoh dan ceroboh.

“Darren apa maksud kamu begini?! Kamu sekongkol sama Devina?!” tanyanya lagi setelah aku menjauhinya dan bersandar di meja yang terletak bersebrangan dengan kursinya.

“Iya,” jawabku singkat.

“Tapi … kenapa?! Aku salah apa sama kamu?”

Aku mendengus kesal, “emang manusia itu perlu dihukum dulu ya, buat sadar atas kesalahan mereka.”

Aku merogoh kantong, mengambil ponselku dan menunjukkan sebuah foto padanya.

“Rendra?” tanyanya bingung.

“Iya, Rendra. Adek gue yang lo bunuh 10 tahun lalu.”

Matanya menyiratkan ketakutan saat mendengar jawabanku. “Bukan gue … Bukan gue!” teriaknya nyaring.

“Lo! Lo yang bunuh adek gue! Lo yang bikin dia nekat loncat dari gedung sekolah!”

“Bukan gue!!!” kali ini teriakannya semakin nyaring dan bercampur dengan isak tangisnya.

“Kalau lo nggak pernah dateng ke Semarang, kalau lo nggak sekolah disana, pasti adek gue sekarang masih hidup! Pasti adek gue bakal jadi komikus sukses! Dan hidup keluarga gue nggak akan berantakan!”

Aku diam sejenak untuk mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Cukup melegakan karena pagi ini aku sukses mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini tertahan di kepalaku.

Aku mengeluarkan pisau lipat dari saku celanaku, ujungnya aku gunakan untuk mengelus wajah cantiknya. Matanya mengawasi ujung pisauku, sepertinya dia takut kalau aku akan melukai wajahnya.

“Tenang, gue nggak akan ngelukain wajah cantik yang adek gue taksir mati-matian selama 3 tahun.”

“Anceman di BeauSkin, kamar gue dan juga waktu gue pindah ke Jakarta tahun lalu … Semua kerjaan lo?”

Aku tertawa, akhirnya dia sadar juga. “Iya. Hitung-hitung pemanasan sebelum hari ini. Gimana? Suka sama kadonya, Cantik?”

Olivia kembali bergidik ngeri. Kali ini aku menyimpan pisau lipatku karena tidak, aku tidak akan membunuhnya sekarang. Aku mau dia merasa tersiksa terlebih dahulu.

“Ah, ada satu teka-teki yang belum lo tebak.” Aku diam sebentar untuk melihat reaksinya. “Kenapa nama gue Darren?”

Dahinya mengerut bingung. “How do you spell Darren? It’s D-A-R-R-E-N right?” sambungku lagi.

“Darren … Dar … Ren … Rendra?”

Aku mengangguk puas, “Yes, honey. Lo pasti tau nama Voldemort diambil dari nama aslinya, Tom Marvolo Riddle, kan? Same case with me. Gue pake nama adek gue selama kita pacaran untuk menuhin permintaan terakhirnya sebelum dia mati.”

“Psikopat gila!” umpatnya mendesis. Olivia kembali berusaha melepaskan diri dari ikatan tali di tubuhnya. “Sekarang mau lo apa?” sambungnya bertanya.

“Lo mati,” jawabku singkat padat jelas. “Tapi, tenang. Gue nggak akan bunuh lo sekarang kok. Gue bakal kasih waktu ke lo buat nyiapin diri.” Aku menyambung jawabanku sambil menaruh buku diary milik adikku Rendra dan beberapa fotonya di pangkuan Olivia. Mulai dari fotonya semasa sekolah, foto selfienya dengan Olivia sampai foto saat tubuhnya terbujur kaku di dalam peti mati.

“Sambil lo liat foto adik gue, biar waktu lo mati lo tetep inget sama dia.”

Kemudian aku berjalan pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah ringan, sementara Olivia terus-terusan berteriak memanggil namaku.

“Darren! Darren!!!”

⚠️ tw // physical abuse, kidnapping, blood

Hari yang kunanti-nantikan akhirnya tiba, hari pembalasan dendamku kepada perempuan yang sudah merebut semuanya dariku.

Aku menantikan hari ini selama setahun, dengan segala sandiwara memuakkan yang harus kumainkan semuanya. Demi hari ini.

Aku mematut diri di cermin, kemudian aku memoles lipstik merah favoritku di bibir sebelum aku menuntaskan hari yang kunanti ini.

Kini di hadapanku terdapat makhluk tak berdaya yang sedang meraung-raung minta tolong. Namun percuma, karena tidak akan ada satupun yang menolongnya. Tidak akan ada yang bisa menemukannya disini. Mulutnya ku sumpal dengan kain agar suara cemprengnya tidak berisik memenuhi ruang rahasiaku.

Shut up, bitch! Berisik!” protesku sambil menendang kasar kursi tempat dimana dia duduk dan diikat disana.

Aku membuka kain hitam yang sedari tadi menutupi wajahnya. Kudapatkan wajah yang seringkali orang puji ‘cantik’ tapi terlihat menjijikan bagiku. Sorot matanya terlihat terkejut seperti melihat hantu di siang bolong.

“Hai, Olivia cantik,” sapaku penuh penekanan pada kata ‘cantik’. Satu kata yang selalu ditujukan untuknya, sungguh menyebalkan sekali.

Kemudian aku sengaja melepas sumpalan kain dari mulutnya agar ia bisa leluasa berbicara. Huh, aku baik sekali, kan?

“Devina ... Apa maksud lo begini?”

Tawaku menggelegar memenuhi ruangan itu. Sungguh, perempuan ini bodoh sekali.

“Devina! Lepasin gue!”

Aku menggeleng pelan sambil mendekatkan mulutku ke telinganya. “Never, darling.

Detik berikutnya dia menjerit sambil berusaha melepaskan diri dari ikatanku. Tangisnya pecah dan memang itu yang aku harapkan, aku ingin melihatnya tersiksa.

“Apa rasanya duduk disitu, Liv?” tanyaku sambil berjalan memutari kursinya. Dia hanya menatapku dengan tatapan menyalang sambil sesekali berusaha melepaskan diri.

“Rasanya pasti sakit. Sama kayak gue, saat gue nggak pernah dapet kesempatan buat jadi Brand Ambassador dari produk yang gue mau!”

“Huh, keep dreaming, Devina!”

What?! Sudah aku ikat seperti ini masih sempat-sempatnya dia mengejekku?! Aku menendang kursinya hingga jatuh kemudian aku berjongkok dan menarik rambutnya kasar. “Apa maksud lo?!”

“Jadi lo ngurung gue dengan harapan lo bisa ngerebut semua yang gue punya? Jangan harap!”

Aku melepas jambakkan rambutnya dengan kasar. Wajah cantiknya membentur lantai dan ku lihat bibirnya berdarah.

Aku bangkit berdiri, mengambil ponsel milik Olivia dari dalam tasnya dan memainkannya. Senang sekali rasanya dipercaya sebagai seorang sahabat, sampai aku bisa mengetahui kata sandi yang ia pasang di ponselnya.

“Cowok lo nih, berisik,” ujarku sambil bersandar di meja yang terletak bersebrangan tidak jauh dari tempatnya tersungkur.

“Darren?!”

“Siapa Darren?” tanyaku mengejek sambil tertawa puas. Sekilas aku melihat kebingungan di wajahnya, dasar perempuan bodoh.

“Gue harus jawab chat Lucas gimana nih?” tanyaku lagi sambil membalas pesan dari Lucas yang terus menerus masuk ke dalam ponselnya.

“Gue bilang aja ya, ‘Gue lagi di tempat Devina.’ He will believe me for sure.”

“Sialan!” umpatnya tak berdaya.

Sent! Tidak sampai semenit, Lucas sudah membalas pesanku dan sesuai dugaan, dia benar-benar percaya dengan kata-kataku.

“Jauhin Lucas!” ancamnya berteriak.

Aku tersenyum dan kembali mendekatinya, “gue nggak akan rebut Lucas kok. He’s hot and to be honest I like him though ... but, gue lebih mementingkan tujuan utama gue.” Kemudian aku menarik kembali rambut panjangnya agar wajahnya terangkat, matanya menatapku dengan tatapan menyalang. “Gue mau lo putusin semua kontrak Brand Ambassador lo dan setelah itu, lo pergi dari sini.”

Olivia hanya terdiam sambil tidak hentinya menatapku sementara aku bersiap untuk pergi dari situ.

“Gue chat Mbak Karen dulu kali ya?” tanyaku dengan nada riang sambil berjalan meninggalkan dia sendiri di ruangan itu.

Di depan pintu aku kembali memutar tubuh dan mengajaknya bicara untuk terakhir kali. “Besok bakal ada tamu, sebaiknya lo sekarang tidur. Mimpi indah, Olivia.”

Begitu pintu kututup dan kukunci rapat, aku bisa mendengar suaranya memaki dan memanggil namaku berulang kali.

Aku berjalan dengan senyum puas terukir di wajahku. Tidak pernah aku sebahagia ini dalam hidupku.

“Olivia, this is your end.”

Aku berjalan memasuki sekolah tua itu dengan langkah gontai. Seharusnya hari pertama sebagai siswa SMA terasa menyenangkan, tapi tidak bagiku.

Bagiku 3 tahun ke depan ini akan sama saja menyedihkannya seperti saat aku duduk di bangku SMP, di mana makanan setiap hariku adalah cacian dan bully dari teman-temanku karena paras yang tidak menarik.

Aku sedang membenarkan tali sepatuku yang tidak sengaja terlepas saat seseorang menabrakku hingga kacamataku lepas dan terlempar.

‘Ah, baru hari pertama saja sudah sial,’ gerutuku dalam hati.

“Maaf, nggak sengaja. Lo nggak papa kan?” tanya suara yang menabrakku dengan ramah.

Aku menoleh untuk melihat siapa yang menabrakku, seorang gadis berparas cantik dengan tubuh mungil dan rambut panjang yang ia biarkan tergerai begitu saja. Kulitnya putih pucat dan bibirnya yang berwarna merah delima terlihat mengkilap berkat polesan lip gloss.

“I-iya, aku nggak papa,” jawabku tergagap. Logat daerahku kental sekali, berbanding terbalik dengan gadis ini yang sepertinya seorang pendatang.

“Yah, kacanya pecah ...,” katanya lagi sambil mengambil kacamatku yang terlempar cukup jauh. “Nanti pulang sekolah gue ganti ya. Pulang sekolah kita ketemuan lagi disini, gimana?”

“Eh, iya, boleh.” Aku benar-benar terdengar seperti anak culun walaupun kenyataannya aku memang culun saat menjawab pertanyaannya.

Kemudian gadis itu memberikan kacamataku, “see you nanti siang! Gue duluan, ya!” pamitnya lalu ia segera pergi masuk ke dalam gedung sekolah, meninggalkanku sendiri dengan segudang tekad bahwa aku akan mencari tahu siapa gadis itu lebih lanjut.

*

Namanya Olivia Gianna, ternyata dia adalah siswi pindahan dari Jakarta. Pantas saja gaya bicaranya terdengar modern, tidak kampungan seperti aku.

“Eh, ternyata kita sekelas,” sapa Olivia saat ia menyadari aku yang duduk di pojok belakang kelas. Aku yang tidak suka dengan kerumunan selama ini cenderung memilih tempat duduk yang menyempil, bahkan kalau perlu invisible alias tidak terlihat siapapun.

Aku hanya garuk-garuk kepala yang tidak terasa gatal, sementara Olivia mengeluarkan dompet kecil dari kantong roknya. “Gue nggak tau harga kacamata lo berapa, kalau ini kurang besok bilang aja ya, nanti gue tambahin,” sambungnya lalu ia menaruh 3 lembar uang seratus ribu di atas mejaku dan pergi.

Pertama, aku kaget. Untuk usia anak SMA, uang jajannya banyak sekali. Aku yakin masih ada beberapa lembar ratusan ribu di dalam dompetnya tadi.

Kedua, sebenarnya aku tidak terlalu ambil pusing kalau dia tidak mengganti kacamataku. Toh aku bisa bilang ke Ayahku dan dia akan menggantikannya tanpa peduli apa alasannya.

Sekarang tekadku berubah, aku tidak hanya ingin mencari tahu tentang dirinya, tapi aku juga ingin lebih dekat dengannya.

*

Hampir sebulan aku menyandang status sebagai pelajar SMA dan ternyata tidak seburuk dugaanku. Teman-temanku disini cenderung acuh padaku, sesuai dengan harapanku yaitu tidak terlihat alias invisible kecuali pada satu orang, Olivia.

Kupikir Olivia akan sulit didekati, melihat parasnya yang cantik, pasti akan banyak cowok-cowok keren dari kelas lain atau bahkan kakak kelas yang akan mendekatinya. Belum lagi cewek-cewek yang berusaha untuk menjadi circle-nya.

Namun, ternyata aku salah. Olivia tidak jarang dirundung dengan teman sekelas kami karena alasan mereka Olivia angkuh dan juga selalu bersikap dingin. Padahal menurutku itu pilihan Olivia dan sah-sah saja jika dia ingin bersikap dingin kepada siapapun.

Berangkat dari pengalaman tidak menyenangkanku yang dirundung selama SMP, kini aku juga bertekad untuk melindungi Olivia dari rundungan teman-teman sekelas.

Namun bagaimana bisa? Aku yang tidak ingin terlihat siapapun mau membela Olivia? Dan juga penampilanku yang culun seperti ini ... yang ada orang-orang malah akan semakin merundung kami berdua.

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk berubah. Dengan bantuan kakakku yang sangat berbeda denganku, aku mengubah penampilanku agar menjadi terlihat lebih layak saat bersama Olivia.

“Lo lagi suka cewek ya?” goda kakakku saat aku sedang mematut diri di depan cermin. Aku hanya tersenyum simpul. “Siapa sih? Temen sekelas lo? Kapan-kapan kenalin dong.”

“Iya, bawel,” balasku lalu aku segera meninggalkan kakakku sendiri di kamar sebelum ia kembali memberondongku dengan pertanyaan lainnya.

“Hai, Olivia,” sapaku saat kami tidak sengaja berpapasan di gerbang sekolah. Aku bisa melihat raut wajah Olivia yang sedikit terkejut dengan penampilanku.

“Rendra?” tanyanya meyakinkan dan aku mengangguk mantap.

“Keren banget ih!” pujinya kemudian, membuatku tidak bisa berhenti tersenyum dan hatiku ikut berbunga-bunga.

Selama aku dan Olivia berjalan menyusuri koridor menuju kelas kami, tidak sedikit pasang mata yang mencuri pandang ke arah kami. Ternyata seperti ini rasanya menjadi pusat perhatian karena parasmu rupawan, sangat menyenangkan.

“Liv, lo masih suka digangguin sama anak-anak?” tanyaku dengan gaya bicara yang perlahan aku ubah agar kekinian.

“Kadang, tapi nggak papa kok udah biasa. Gue kan emang nyebelin, hehehe ....”

“Kalo masih ada yang suka bully lo, kasih tau gue aja.”

Kalimatku dijawab dengan anggukan Olivia.

*

Hari-hari selanjutnya sungguh di luar dugaanku. Saat aku menjadi siswa kelas 2, aku mulai menerima banyak surat kaleng berisikan pernyataan cinta, entah dari teman seangkatan atau adik kelas. Hal yang sama terjadi pada Olivia. Bedanya, aku tidak pernah menggubris satupun surat-surat itu, sementara Olivia terkadang masih suka menanggapi mereka.

“Lo suka ya, sama si Kiel?” tanyaku saat kami sedang menyantap es krim di taman belakang sekolah.

“Dikit,” jawab Olivia irit.

“Tapi dia kan adik kelas.”

“Ganteng, gimana dong?”

Nada bicara Olivia terdengar bercanda, tapi hatiku terasa panas karena cemburu. Tidak, tidak boleh ada yang Olivia anggap berparas tampan selain aku. Mulai detik itu juga, aku kembali mengubah penampilanku agar semakin layak dan disukai Olivia.

Aku mulai mengikuti penampilan ataupun gaya dari cowok-cowok yang ditaksir Olivia dan hasilnya tidak sia-sia, Olivia tidak henti-hentinya memujiku. Dan hal sederhana ini membuat hari-hariku terasa lebih berwarna.

*

Sampai kami di kelas 3, aku dan Olivia dikenal sebagai sepasang sahabat visual. Bagaimana tidak, kami sama-sama berparas menarik, nilai kami pun tidak jelek-jelek amat. Aku beberapa kali mewakili sekolah untuk Olimpiade Matematika antar sekolah atau wilayah, sementara Olivia mewakili sekolah dalam lomba pidato Bahasa Inggris.

Yang awalnya diterima Olivia rundungan, kini perlahan berubah menjadi dukungan. Tentu saja, dengan bantuanku yang selalu melindungi Olivia apabila ada yang berani mengganggu dia.

Tiga tahun kuhabiskan bersama Olivia dengan status sahabat dan sekarang aku mau lebih. Aku mau menghilangkan kata “sahabat” dalam julukan kami berdua. Jadi, di malam pesta perpisahan ini aku akan menyatakan perasaanku pada Olivia.

Aku mengajaknya ke rooftop agar aku dapat berbicara lebih leluasa. Malam itu Olivia terlihat lebih cantik; rambut panjangnya dicepol, riasan wajah minimalis tapi mampu membuat dia terlihat berbeda dari biasanya, disempurnakan dengan gaun hitam panjang selutut.

“Lo mau ngomong apa sih sampe kita harus ke rooftop gini?”

Aku hanya tersenyum mendengar protes Olivia. Karena wajah mengkerutnya terlihat menggemaskan, aku mencolek pelan hidungnya. “Itu muka galaknya ilangin dulu coba.”

“Siapa yang galak?!”

“Liv, mau nggak jadi pacar gue?”

Akhirnya, aku berani mengucapkan kalimat yang selama ini hanya berani aku ucapkan di depan kaca kamar tidurku. Jantungku berdegup cepat tidak karuan, rasanya aku ingin segera memeluk gadis ini saat ia menjawab dengan satu kata; “Ya.”

“Lo serius?” Tapi yang aku dapat justru pertanyaan yang membuat perasaanku sedikit kecewa.

“Gue keliatan bercanda? Liv, gue suka sama lo dari awal kita kenal. Sengaja gue nggak pernah ngomong sama lo, karena gue emang pengen bilang pas kita udah lulus.”

Ya, sepertinya aku harus bicara lebih jelas seperti ini agar ia memahami perasaanku. Tapi nyatanya aku salah. Sedetik kemudian aku malah mendengar pengakuan konyol yang sangat aku benci.

“Gue ... Udah jadian sama Kak Farrel. Dua hari lalu. Sorry belum sempet cerita ke lo.”

Shit! Farrel? Kakak kelas yang waktu itu tidak sengaja melempar bola basketnya ke arah Olivia sampai-sampai kepala Olivia benjol cukup besar dan dia harus dilarikan ke Rumah Sakit, dia yang dipilih Olivia untuk jadi pacarnya? Kenapa bukan aku?!

”Lo, berani jadian sama Farrel? Lo nggak tau, gimana gue berjuang mati-matian buat berubah jadi tipe ideal lo?”

Aku tidak tahan untuk terus-terusan memendam perasaan ini. Aku harus mendapatkan Olivia malam ini juga.

“Lo harus tau juga gimana gue selalu belain lo mati-matian setiap kali ada yang ngatain lo! Tapi apa yang gue dapet?!”

“Tapi kita kan masih bisa temenan—”

‘Olivia, are you serious? Lo mau kita cuma temenan selamanya?’

“Gue sayang sama lo, Liv. Udah cukup 3 tahun jadi temen lo doang. Gue mau lebih dari itu! Lo cuma milik gue seorang! Gue yang selalu belain lo, gue yang selalu lindungin lo! Nggak ada lagi selain gue!”

Aku berhenti sesaat untuk mengatur nafasku yang tersengal tatkala aku mengeluarkan seluruh isi hatiku kepada Olivia. Kemudian aku kembali mendekati Olivia, memegang kedua bahunya dan menatap gadis itu lekat-lekat.

“Jadi, orang lain nggak berhak untuk milikin lo.” Aku menutup kalimatku yang kuyakini bisa mengubah pikiran dan perasaan Olivia detik itu juga.

Sorry, tapi gue sayang beneran sama Kak Farrel ... Dan gue nggak bisa putusin dia gitu aja ....”

Argh! Rasanya saat itu juga aku ingin membunuh Farrel. Olivia tidak boleh dimiliki siapapun kecuali aku! Aku yang pertama kali berkenalan dengannya. Aku juga yang selalu membelanya saat teman-teman yang lain mengganggunya. Tapi, kenapa Olivia pilih yang lain?!

Aku marah, aku kecewa dan aku tidak bisa membiarkan perasaan ini terus mengganggu.

“Kalau gue nggak bisa miliki lo, mending gue mati. Biar lo akan selalu inget gue. Gue mati karena lo.”

Ya, kupikir ini adalah satu-satunya cara terakhir agar Olivia selalu mengingatku. Jika tidak bisa memilikinya, setidaknya aku bisa terus diingat olehnya sama seperti aku yang akan terus mengingatnya dari sana.

Lagipula, daripada aku harus melihatnya bersama dengan lelaki lain, lebih baik seperti ini, kan?

Tanpa keraguan aku berlari menembus gelapnya malam, melawan angin kencang yang berhembus di atas gedung sekolahku. Tubuhku sesaat melayang bebas sebelum terantuk tanah.

Sayup-sayup aku masih bisa mendengar suara Olivia memanggilku, tapi lambat laun pandanganku semakin kabur dan ... gelap.

⚠️ tw // blood, suicide

Semarang, Mei 2011

Malam ini siswa-siswi kelas 3 SMA Pelita merayakan kelulusan mereka dengan mengadakan pesta, yang sekaligus menjadi pesta perpisahan mereka sebelum mereka memilih jalannya masing-masih di jenjang pendidikan berikutnya.

Awalnya, semua tampak baik-baik saja. Pesta berjalan dengan meriah; beberapa games dimainkan, ada juga yang unjuk gigi di atas panggung dengan bernyanyi, bermain alat musik atau sekedar mengucapkan pidato perpisahan.

Tapi berikutnya suasana berubah 180 derajat mencekam setelah seorang siswi menemukan sosok tubuh teman seangkatannya yang sudah tidak bernyawa di taman belakang sekolah.

Ada yang berteriak histeris ketakutan, ada yang menangis, tidak sedikit juga yang terdiam sembari berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Salah satunya adalah Olivia Gianna.

Dari atas gedung sekolahnya, ia melihat bagaimana tubuh teman sekelasnya itu bersimbah darah. Olivia refleks memandangi kedua telapak tangannya lalu melangkah mundur ketakutan. Tubuhnya menggigil, dan ia tidak berhenti mengucapkan satu kalimat.

”Nggak ... bukan gue, bukan gue!”

Saat sedang melangkah mundur, kaki Olivia tidak sengaja menabrak tongkat besi yang tergeletak disana. Pikirannya kembali teringat dengan percakapan terakhirnya beberapa waktu lalu.

*

15 menit lalu

“Lo mau ngomong apa sih sampe kita harus ke rooftop gini?” protes Olivia dengan raut wajah kesalnya.

Lelaki yang berdiri di hadapannya hanya tersenyum sambil mencolek pelan hidung Olivia. “Itu muka galaknya ilangin dulu coba.”

“Siapa yang galak?!”

“Liv, mau nggak jadi pacar gue?”

Olivia diam. Raut wajahnya yang sedari tadi mengerut berubah menjadi penuh kebingungan.

“Lo serius?”

“Gue keliatan bercanda? Liv, gue suka sama lo dari awal kita kenal. Sengaja gue nggak pernah ngomong sama lo, karena gue emang pengen bilang pas kita udah lulus.”

Olivia masih diam, kini terlihat keraguan di raut wajahnya. “Ngg ... but, sorry gue nggak bisa terima lo.”

Kini gantian air muka lelaki itu yang berubah. “Kenapa?”

“Gue ... Udah jadian sama Kak Farrel. Dua hari lalu. Sorry belum sempet cerita ke lo.”

Lelaki itu mundur perlahan dari hadapan Olivia, kemudian ia berjalan mondar mandir di situ sampai akhirnya ia kembali bersuara.

”Lo, berani jadian sama Farrel? Lo nggak tau, gimana gue berjuang mati-matian buat berubah jadi tipe ideal lo?”

Olivia terkesiap mendengar nada bicara sahabatnya yang berubah menjadi dingin.

“Lo harus tau juga gimana gue selalu belain lo mati-matian setiap kali ada yang ngatain lo! Tapi apa yang gue dapet?!”

“Tapi kita kan masih bisa temenan—”

“Gue sayang sama lo, Liv. Udah cukup 3 tahun jadi temen lo doang. Gue mau lebih dari itu! Lo cuma milik gue seorang! Gue yang selalu belain lo, gue yang selalu lindungin lo! Nggak ada lagi selain gue!”

Ia mengambil nafas sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya, “jadi, orang lain nggak berhak untuk milikin lo.”

Olivia memutar otak, berpikir keras bagaimana caranya untuk membujuk sahabatnya itu. “Lo sahabat gue yang paling baik, dengan sahabatan aja kita tetep bisa saling miliki kok ... Emang seharusnya sahabat kayak gitu, kan?”

Lelaki itu mendengus kesal. “Dan gue harus liat lo pacaran sama Farrel? Harus dengerin keluh kesah lo kalo kalian berantem? Nggak. Gue nggak mau. 3 tahun udah cukup gue dengerin semua curhatan lo tentang cowok-cowok yang lo suka!”

Sorry, tapi gue sayang beneran sama Kak Farrel ... Dan gue nggak bisa putusin dia gitu aja...”

“Oh gitu? Fine. Kalo gue nggak bisa milikin lo, mending gue mati. Biar lo akan selalu inget gue. Gue mati karena lo.”

Secepat kilat lelaki itu berlari ke pinggir atap gedung dan segera melompat dari sana sebelum Olivia bereaksi apa-apa.

Kini setelah Olivia sadar, dari atap gedung ia terus memanggil nama sahabatnya seperti yang biasa ia lakukan setiap hari di sekolah. Tapi, sekarang tidak akan lagi ia dengar balasannya. Semuanya sudah terlambat.

Karena tulang rusukku kadang masih terasa nyeri, aku harus berdiam diri di apartemen dalam jangka waktu yang lebih lama.

Sungguh membosankan sekali, yang bisa aku lakukan hanyalah tidur, makan atau bermain game console favoritku. Mau membuka sosial media atau sekedar mengobrol dengan sahabatku rasanya malas sekali dan bisa aku pastikan rasa malas bersosialisasi ini akibat perasaanku yang mendadak tidak karuan.

Saat aku sedang menyantap pop mie yang ku seduh beberapa menit lalu, seseorang membunyikan bel unit apartemenku.

’Semoga bukan Dery,’ batinku dalam hati.

Memang bukan Hendery yang datang, melainkan orang yang sukses membuat perasaanku kacau balau saat ini.

“Ngapain kesini?” tanyaku dengan nada bingung tapi sedikit ketus.

“Gue nggak bisa diem aja ngeliat sikap lo yang tiba-tiba aneh kayak hari ini,” balas Olivia lalu ia menyeruak masuk ke dalam apartemenku dan duduk di sofa ruang TV.

“Lo kesini sama siapa? Darren? Sekarang dia dimana? Nungguin lo di lobby? Atau lo kesini naik taksi? Ayo gue anter balik.” Aku memberondong perempuan itu dengan segudang pertanyaan agar dia tidak mengajakku membahas topik yang sedang enggan aku bicarakan.

“Kenapa lo tiba-tiba bilang kalo diri lo jahat?”

Kan, benar. Dia pasti akan membahas hal yang tadi pagi sempat kuucapkan saat bangun tidur di rumahnya.

“Semalem baik-baik aja, Cas. Everything was fine bahkan sampe gue bisa lupain Darren. Tapi kenapa pagi harinya lo ngomong gitu? Apa maksud lo?” Olivia menyambung pertanyaannya.

“Karena itu kenyataannya, Liv. Bangun tidur gue baru sadar, nggak seharusnya gue ngaku ke lo semalem.”

Aku berusaha mengatur nafasku agar nada bicaraku tidak terdengar seperti sedang marah karena aku tidak mau menyakiti perasaan Olivia.

‘Huh, sempat-sempatnya aku memikirkan perasaan Olivia.’

“Liv, gue udah bilang kan, cukup gue aja yang jahat. Lo sama Darren nggak papa, karena gue begini aja udah cukup. Tau perasaan lo yang sebenernya ke gue, ditambah semalem gue nyium lo, udah cukup.”

Sekarang aku sudah terdengar seperti lelaki menyedihkan di film-film Korea yang sering ditonton Olivia.

“Lo salah. Kalau mau bicara siapa yang jahat, yaitu gue, dan lo harusnya benci gue. Kalo gue semalem nggak bales ciuman lo dan gue larang lo untuk berharap sama gue, lo nggak perlu ngerasain hal kayak saat ini.”

Kupikir Olivia akan menyerah dan setuju dengan apa yang kukatakan, nyatanya dia melemparkan argumennya.

“Gue mau benci lo, Liv, tapi gue nggak bisa. Mana bisa gue ngebenci lo? Lo suruh-suruh gue, marah-marahin gue, pernah ada gue marah sama lo?”

Nada bicaraku mulai meninggi. Aku harus kembali mengatur nafasku.

“Nggak, Liv, nggak pernah gue marah. Kalaupun gue kesel, itu cuma sesaat. Tau nggak kenapa?”

Olivia menatapku dalam menunggu lanjutan kalimat dariku.

“Rasa sayang gue ternyata bisa maafin segala perbuatan buruk lo ke gue. Rasa sayang gue bahkan bisa nahan rasa sakit akibat pukulan bokap gue. Sekarang, gue jadi benci diri gue sendiri, Liv.”

Berikutnya, aku tidak membayangkan Olivia akan melakukan hal ini; ia menamparku.

“Bego. Benci gue sekarang juga, Cas. Anggep apa yang semalem kita bicarain dan lakuin nggak pernah terjadi.”

Aku diam membeku; otakku masih mencerna apa yang barusan Olivia lakukan dan katakan kepadaku. Tapi begitu aku sadar, Olivia ternyata sudah pergi meninggalkan apartemenku.

’Liv, lo mau pukulin gue sama kayak bokap gue mukulin gue, nggak akan ngaruh. Nggak akan ngurangin rasa sayang gue ke lo.’

Olivia

See? Gue udah yakin banget ini pasti kerjaan Sheila,” gerutu Devina setelah ia melihat cuitan Sheila yang sedang makan siang bersama Lucas di timeline-nya.

“Tapi, masa sih dia senekat itu, Dev?”

Devina memegang kedua bahu Olivia yang duduk di sampingnya dan menatap perempuan itu lekat-lekat. “Lo nggak pernah tau isi kepala orang gila, Liv.”

Devina lalu melepaskan pegangannya dari bahu Olivia dan pergi ke dapur apartemen Darren untuk mengambil jus kemasan yang tadi ia bawa dan membaginya kepada Olivia.

“Gue masih percaya nggak percaya, Dev,” ucap Olivia setelah ia menyeruput jus kemasan pemberian Devina.

“Gue apalagi, Liv. Gue lumayan deket sama Sheila, kemarin ultah gue juga undang dia. Tapi setelah itu dia malah kayak menjauh dari gue. Kayaknya dia juga nggak suka sama gue karena kita sahabatan.”

Olivia menyandarkan tubuhnya di sofa ruang TV apartemen Darren dengan pikiran kusut. Tidak pernah terlintas di benaknya persaingan dalam pekerjaan yang ia geluti akan serumit ini.

“Hati-hati deh, Liv. Gue yakin masih ada banyak selebgram lain yang nyoba pansos dan mau jatuhin lo, secara nama lo lagi tinggi juga kan sekarang,” sambung Devina.

Olivia mengangguk setuju. “Iya Dev, untung deh gue temenan sama lo. Dan juga pacaran sama Darren. Kayaknya kalo nggak ada kalian gue nggak tau harus gimana.”

Devina tersenyum tipis. “Sekarang juga lo nggak usah khawatir. Darren lagi laporin kasus semalem ke polisi sekalian dia beresin rumah lo, makanya gue dateng ke sini buat nemenin lo biar lo nggak sendirian.”

Thanks ya, Dev.”

*

Lucas

Selesai dengan acara makan siang dadakan di apartemen Lucas, Sheila membantu Lucas membereskan meja makan lelaki itu lalu ia membawa beberapa kaleng bir ke ruang TV dimana Lucas sedang bersantai di sana.

“Nge-bir nggak papa kan?” tanya Sheila sambil duduk di sisi kiri Lucas lalu ia membuka sekaleng bir untuk dirinya.

Lucas mengangguk mengiyakan pertanyaan Sheila, ia pun ikut mengambil sekaleng bir untuk dirinya sendiri.

Sensasi menggelitik nan segar dari bir itu sukses melegakan tenggorokan Lucas. “Udah lama juga nggak nge-bir di rumah,” gumamnya sendiri.

“Kapan-kapan gue dateng lagi bawa bir, gimana?”

“Boleh.”

Hampir 3 jam dihabiskan Lucas dan Sheila untuk mengobrol. Topik yang dibicarakan sebagian besar adalah cerita mereka semasa SMA.

“Eh bentar, gue harus nyalain lampu balkon,” potong Lucas begitu menyadari jam di dinding menunjukkan pukul 6 sore. Warna langit pun sudah mulai menggelap.

“Cas,” panggil Lucas seraya memegang tangan Lucas agar lelaki itu tidak pergi dari sisinya.

“Hm?”

Will you consider my feelings towards you?

Sheila menatap lekat mata besar milik Lucas dan berniat tidak akan melepaskan tatapan itu; sudah terlalu lama baginya untuk menunggu kesempatan ini datang dan sekarang dia tidak mau menyia-nyiakannya.

Lucas seperti terbawa dengan suasana remang sore itu, ditambah dengan alkohol dari bir yang ditenggaknya sedari tadi sudah mengalir di dalam pembuluh darahnya; perlahan wajahnya mendekati milik Sheila.

Seperti tahu apa yang akan dilakukan Lucas, Sheila memejamkan matanya.

...

Drrt drrt

...

Getaran ponsel Lucas yang ditaruh di atas meja membuyarkan suasana. Lucas menarik diri mundur lalu ia meraih ponselnya dan membaca pesan yang masuk bertubi-tubi dari temannya.

“Shei,” panggil Lucas dengan nada bicara dingin.

“Ya?”

“Keluar dari apart gue sekarang juga.”

⚠️ tw // blood, animal death, threatening

Darren menyambut kedatangan Olivia saat perempuan itu turun dari taksi. “Hai, Liv.”

“Darren? Kamu udah lama nunggu disini?” tanya Olivia.

Darren mengambil semua tas bawaan Olivia dari genggaman perempuan itu. “Nggak kok, belum juga lima menit aku nyampenya,” balas Darren manis sambil tersenyum.

Olivia mengangguk mengerti lalu ia membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Darren untuk masuk.

Setelah masuk, Darren menaruh bawaan Olivia di meja ruang tamu dan merentangkan tangannya. “Peluk, kangen,” ucapnya dengan nada manja.

Olivia tersenyum, ia menutup pintu rumahnya dan menghamburkan diri ke dalam pelukan Darren. “Maaf ya, Ren,” ucap Olivia pelan.

Darren mengusap pelan puncak kepala Olivia. “Iya, aku juga minta maaf, ya?” balas Darren lalu ia melepas Olivia dan mencium pelan kening perempuan itu.

“Kamu udah makan, Ren?” tanya Olivia sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih untuk dirinya dan Darren.

“Belum, kamu?”

“Belum juga.”

“Mau makan apa, Liv? Biar aku pesenin,” tawar Darren yang kini sudah duduk di ruang TV sambil menunggu Olivia yang masih di dapur.

“McD aja, gimana?” tanya Olivia lalu ia memberikan segelas air putih untuk Darren. Darren mengangguk menyetujui tawaran Olivia dan tangannya kini mulai menelesuri aplikasi pemesanan online.

“Aku ganti baju dulu, ya,” pamit Olivia lalu ia berjalan menuju kamarnya.

...

AARGH!!!

Darren yang masih asyik dengan ponselnya di ruang TV tersentak kaget mendengar Olivia berteriak. Buru-buru ia menghampiri kekasihnya yang berdiri gemetar ketakutan di ambang pintu kamarnya.

“Liv?!” tanya Darren bingung tapi sedetik kemudian ia sendiri kaget dengan apa yang dilihatnya.

Kamar Olivia sangat berantakan; lemari bajunya terbuka dengan baju-baju yang berserakan di atas kasur dan lantai. Meja kerja Olivia juga berantakan dengan barang-barang seperti pajangan, foto di pigura berserakan tidak teratur. Meja riasnya pun sama, segala skin care dan make up milik Olivia berceceran di lantai.

Tidak sampai disitu, yang lebih mengerikan adalah bangkai tikus hitam tergeletak di atas meja rias dan di kaca meja rias itu tertulis pesan yang ditulis dengan darah tikus itu: Olivia, you should die!

Darren melangkah pelan memasuki kamar Olivia untuk memeriksa lebih jelas lagi dan ternyata tidak hanya satu tetapi ada cukup banyak bangkai tikus berserakan di kamar Olivia dengan darahnya yang bercipratan memenuhi kamar itu.

Melihat itu semua dengkul Olivia terasa lemas seperti dan ia refleks jatuh terduduk di lantai dengan air mata takut mengalir perlahan di wajahnya, “Ren...” panggil Olivia lirih.

Darren kembali menghampiri Olivia dan membantunya untuk berdiri, lalu ia memeluknya erat, “kamu nggak usah takut, ya? Malem ini aku akan lapor ke polisi dan malem ini juga kamu sama aku, oke?”

Olivia hanya mengangguk pelan menuruti perkataan Darren kemudian lelaki itu segera membawa Olivia pergi dari rumahnya.

Di sisi lain di malam itu, ada seseorang yang tersenyum puas dengan apa yang dilihatnya barusan.

“Selamat malam cantik, semoga mimpi buruk terus menghantuimu.”

Olivia

“Cut!”

Teriakan sang sutradara mengakhiri pekerjaanku sore hari ini. Setelah full shooting selama kurang lebih 4 jam, akhirnya aku diizinkan pulang.

“Thanks ya, Liv. Syuting hari ini bagus banget,” puji Mbak Karen, kepala tim iklan Sandalku sekaligus orang yang merekrutku untuk menjadi brand ambassador merk sendal itu.

Aku mengangguk sambil tersenyum, “sama-sama, Mbak. Sekarang aku boleh pulang kan, ya?”

“Boleh. Kurang lebih dua minggu lagi iklannya bakal tayang. Nanti aku chat kamu lagi, ya. Dan buat next produk, nanti aku minta orang gudang segera kirim barangnya ke kamu biar bisa kamu promosiin di sosmed.”

Aku kembali mengangguk menanggapi jawaban Mbak Karen. Setelah merapihkan semua barang bawaanku dan pamit kepada seluruh staff yang bekerjasama denganku hari itu, aku segera meninggalkan studio.

Karena aku sedang dalam hubungan yang tidak baik dengan Darren, jadilah hari ini aku pergi dan pulang menggunakan taksi. Kalau sedang dalam kondisi seperti ini rasanya aku kesal sekali kepada kedua orangtuaku karena tidak mengizinkanku untuk belajar menyetir mobil.

Setelah memesan taksi melalui aplikasi di ponselku, aku beralih ke aplikasi messenger. Room chat paling atas adalah Darren, yang sengaja aku sematkan agar tidak tenggelam dengan chat lainnya. Tapi sekarang aku jadi sebal melihat room chat-nya berada di posisi paling atas.

'Menyebalkan', gumamku dalam hati. Bagaimana bisa dia benar-benar mengacuhkanku dan tidak ada keinginan untuk mengajakku bicara terlebih dahulu.

Terlintas di pikiranku untuk mengirimkan pesan duluan, tapi kuurungkan niatku. 'Bodo amat deh', pikirku.

Persis di bawah nama Darren aku melihat nama Lucas di sana sebagai orang yang terakhir kali aku ajak bicara via chat. Tiba-tiba aku teringat dengan tweetnya dan juga obrolannya yang sedikit aneh menurutku.

'Haruskah aku mengunjungi Lucas? Tapi buat apa? Gimana kalau ternyata dia beneran nggak kenapa-napa? Aku bakalan keliatan konyol di depan apartnya.'

Aku menggelengkan kepala cepat agar pikiran untuk mengunjungi Lucas hilang dari benakku. Kebetulan sekali taksi pesananku datang, aku segera menumpangi taksi itu dan duduk manis di sana, membiarkan Pak Supir mengantarkanku sampai rumah tanpa harus mampir kemana-mana, apalagi ke apart Lucas.

*

Nyatanya, sekarang aku sedang berdiri di depan pintu unit apartemen Lucas; setelah selama perjalanan pulang pikiran untuk mengunjungi Lucas terus mengganggu hingga akhirnya aku meminta Pak Supir untuk mengantarkanku ke sini.

'Ngapain sih lo, Liv? Pulang ajalah.' Aku melangkahkan kaki menjauhi pintu unit apartemen itu.

'Apaan sih? Kan lo penasaran sama kabarnya. Teken aja tombol belnya.'

'Shit! Bisa gak sih suara-suara di kepalaku ini menghilang?!'

Setelah mondar-mandir dan benar-benar kelihatan seperti orang konyol, akhirnya aku memberanikan diri untuk menekan tombol bel unitnya.

Hening. Tidak terdengar sahutan dari dalam ataupun tanda-tanda Lucas akan membukakan pintunya untukku.

'Sial, emang harusnya nggak usah gue dateng kesini. Lucasnya juga nggak ada.'

Aku kembali menjauhi pintu unit apartemen Lucas, kali ini aku akan benar-benar pergi. Tapi, kemudian aku mendengar suara Lucas memanggilku dengan lirih.

“Olivia?”

Aku menoleh. Aku mendapati lelaki itu dalam kondisi tidak baik-baik saja. Wajahnya penuh lebam biru dan juga sepertinya dia kesulitan untuk berdiri.

“Sini masuk,” sambung Lucas singkat lalu ia kembali masuk ke dalam dengan membiarkan pintu unitnya terbuka, mengizinkanku untuk masuk.

Aku akhirnya membuntuti Lucas dan masuk ke dalam unit apartemennya. Apartemen studio yang tidak terlalu besar karena memang hanya untuk ditinggali Lucas seorang.

Lucas sekarang sudah merebahkan dirinya di sofa depan TV. “Kenapa dateng? Ada perlu?” tanyanya dengan mata terpejam.

“Muka lo kenapa? Lo abis berantem?” Aku mengacuhkan pertanyaannya karena tidak dapat menahan rasa penasaranku.

Kulihat dia tersenyum tipis, “khawatir, ya?” tanyanya dengan nada setengah meledek.

'Ergh, bisa nggak sih nggak usah nanya balik?'

“Terserah deh nganggepnya apa. Jawab pertanyaan gue,” balasku jutek.

“Nggak papa kok. Biasalah, anak muda.”

Bukan jawaban yang aku inginkan. Karena aku penasaran, aku mendekati Lucas dan memperhatikan kembali wajahnya. Lebamnya terlalu ungu hingga kebiruan, tanda kalau ia dipukuli tidak hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali.

“Lo berantem sama siapa?”

“Nggak ada.”

“Muka lo biru-biru semua, Lucas. Itu apa namanya kalo bukan abis dipukulin?”

Lucas terkekeh kecil, “gue suka banget dengerin lo barusan, Liv.”

Aku mengerutkan dahi bingung, “apa maksudnya? Please deh, stop ngalihin topik. Gue cuma mau tau lo berantem sama siapa dan kenapa.”

Lucas membuka matanya, membuat tatapanku bertemu dengan tatapannya. Biasanya aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke arah lain, tapi hari ini aku seperti tenggelam dalam tatapannya. Mata Lucas yang besar menatapku dengan binar yang tidak bisa kumengerti.

“Liv, makasih ya. Makasiiiih banget. Gue seneng banget hari ini.”

Aku semakin tidak paham dengan makhluk ini. 'Apa sih? Daritadi kata-katanya hanya 'nggak papa' dan 'makasih'.'

“Gue nggak bakal balik sebelum lo jawab pertanyaan gue,” ancamku.

“Asyik, gue ada temennya malem ini. Belum pernah kan lo nginep di apart gue?” Lucas kemudian tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya kepadaku.

“Nggak jadi, gue balik.”

Aku hendak pergi dari situ tapi seperti yang sudah-sudah, tangan Lucas dengan cepat meraih pergelangan tanganku, memaksaku untuk tidak pergi.

“Jangan. Malem ini aja, please, lo disini. It gonna be the first and the last, I promise.”

Sedetik kemudian aku merinding. Cara Lucas mengucapkan the first and the last, cara dia memohonku untuk tinggal di sini malam ini terdengar berbeda dari biasanya. Tidak ada nada slenge'an khasnya. Tidak ada nada canda seperti biasanya. Lebih tepatnya ... yang kudengar benar-benar seperti nada memohon untuk terakhir kalinya.

“Yaudah. Lo istirahat dulu deh,” balasku pelan. Lucas mengangguk lalu ia melepaskan genggamannya dari pergelangan tanganku dan ia kembali memejamkan matanya.

Lucas sukses tertidur pulas, menyisakan aku sendiri yang tidak tahu harus berbuat apa. Karena perutku sedikit lapar, aku memberanikan diri untuk mencari mie instant di dapur Lucas dan memasaknya.

Sejujurnya, aku masih belum puas dengan jawaban Lucas tadi. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi dan dia tidak mau aku tahu. Sambil memasak mie instant, kuputuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Lucas dari sahabat-sahabatnya yang sering kulihat di cuitan Lucas.

*

Lucas

12.15 am

Aku terbangun dari tidurku dan hal pertama yang kurasakan adalah nyeri di sekujur tubuhku dan juga kepalaku rasanya seperti ditinju berkali-kali. Ya, faktanya memang aku habis ditinju berkali-kali oleh ayahku.

Dengan susah payah akhirnya aku berhasil bangkit berdiri dan perlahan aku berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Saat kulihat mangkok berisikan mie instant yang tidak dihabiskan ada di atas kitchen set, aku ingat kalau tadi aku meminta Olivia untuk tinggal denganku malam ini.

“Liv?” panggilku pelan. Tidak ada jawaban dan juga aku tidak melihat dia di sekitar dapur atau ruang TV. Setelah minum dengan langkah pelan aku pergi ke kamar.

“Liv?” panggilku lagi. Tidak ada jawaban tapi kudengar isak tangis pelan dari dalam kamarku. Aku segera membuka pintu kamarku untuk memastikan kondisi Olivia.

“Liv? Lo nggak papa, kan?” tanyaku khawatir.

Dengan mata sembab Olivia menghampiriku dan memukul pelan dadaku, “bego,” ucapnya di sela isak tangisnya. “Lo bego banget, Lucas.”

Aku masih tidak mengerti maksud ucapannya tapi selanjutnya yang kulihat tangis Olivia semakin menjadi dan ia kembali memukul pelan dadaku. “Kenapa lo nggak ngomong kalo lo abis dihajar sama bokap lo karena lo minta bokap lo buat batalin perjodohan kita?”

'Ah, pasti ini kerjaan Dejun atau Hendery.'

“Kenapa lo tetep ngomong ke bokap lo padahal lo tau lo bakal dipukulin? Kenapa lo bego banget sih? Kenapa?!” Tangis Olivia semakin keras dan jujur saja aku tidak tega mendengarnya.

Olivia adalah salah satu orang yang jarang sekali mengekspresikan emosinya. Ia jarang tertawa lepas apalagi menangis. Selama setahun aku mengenalnya, bisa dihitung berapa kali ia menangis; terutama menangis histeris seperti ini.

“Liv, udah dong jangan nangis. Gue nggak sampe mati kok.”

Maksud ucapanku bercanda, tapi yang kudengar tangisnya semakin keras.

“Liv, gue bercanda doang ... Liv, udahan nangisnya, please. Gue nggak mau liat lo nangis,” pintaku lirih.

“Kenapa lo senekat ini, sih? Lo harusnya nggak usah tanya kalau lo tau lo bakal dihajar sampe kayak gini! Lagian juga gue udah larang lo buat nanya, kenapa lo tetep nanya bokap lo?!”

Pertama kalinya juga aku mendengar Olivia marah, bukan marah jutek seperti biasanya. Dia benar-benar marah dan juga khawatir.

“Namanya juga usaha, hehe...”

“Bisa nggak sih nggak usah ketawa?! Stop dulu bercandanya! Gue tuh takut lo kenapa-napa, Lucas!”

Oke, sepertinya aku harus berhenti menanggapi Olivia dengan candaan. Maksudku tadi sebenarnya agar ia berhenti menangis, tapi sekarang dia malah semakin marah padaku.

“Maaf, udah bikin lo khawatir. Gue cuma mau nunjukkin usaha gue ke lo doang, Liv. Gue cuma mau ngabulin permintaan lo doang...”

Tapi jawabanku barusan juga tidak sukses meredakan tangis Olivia tapi sebaliknya, tangisnya semakin menjadi lagi. Sebagai langkah terakhir untuk menenangkannya, aku menariknya ke dalam pelukanku karena aku benar-benar tidak bisa melihat dan mendengarnya menangis.

“Liv, udahan nangisnya, please? Gue udah biasa juga kok kayak gini. Stop merasa bersalah, ya? That was not totally your fault, emang bokap gue aja yang hobinya main pukul.”

Olivia melepaskan diri dari pelukanku dan menatapku lekat dari ujung rambut sampai ujung kaki, “bagian mana aja yang sakit?” tanyanya sambil ia berusaha menghentikan tangisnya.

Aku tidak kuasa menahan senyumku. Bagaimana tidak, sulit sekali untuk mendapatkan perhatian dari seorang Olivia Gianna dan sekarang ini jelas-jelas seluruh perhatiannya tercurah hanya untukku. Cara dia menatapku dan caranya bertanya, rasanya kalau begini aku nggak masalah kalau harus babak belur tiap hari. Nggak peduli deh sama Hendery yang pasti akan mengejek level kebulolanku sudah berada di peringkat meresahkan.

“Ayo kita ambil minum dulu. Nanti kalo lo udah nggak sesenggukan, gue bakal ceritain semua sama lo.”

⚠️ tw // physical abuse

Mobil BMW M2 milik Lucas berhenti di barisan paling depan lampu merah Senin siang itu. Dari posisi mobilnya sekarang, Lucas bisa melihat gedung kantor milik ayahnya yang menjulang tinggi, berdiri kokoh di antara gedung-gedung perkantoran yang lainnya.

“Lucas, lo nggak usah aneh-aneh deh. Gue serius. Gue cuma nggak mau kenapa-napa. Lo bilang aja ke Olivia kalo lo udah ngomong dan hasilnya nihil.”

Pikiran Lucas kembali teringat akan nasihat Dejun Sabtu lusa lalu. Apa yang dikatakan Dejun benar, ia bisa saja berbohong kepada Olivia dengan mengatakan kalau dia sudah bicara dengan ayah ibunya tapi mereka menolak permintaan Lucas.

Tapi entah kenapa hati kecil Lucas melarang dirinya untuk berbohong kepada Olivia. Hati kecil lelaki itu memaksa dia untuk menemui sang ayah dengan segala resiko yang harus siap ia hadapi.

Dan jadilah siang ini, saat lampu lalu lintas berganti warna, Lucas segera melaju menuju gedung kantor milik ayahnya. Begitu mobilnya memasuki lobby gedung itu, terlihat seorang staff ayahnya sudah siap menyambutnya.

“Siang, Mas!” sapa staff itu bersemangat, lalu ia memberi kode kepada staff lainnya untuk memarkirkan mobil Lucas sementara dia sendiri menemani Lucas berjalan menuju ruangan ayahnya.

Sambil berjalan menuju lift, Lucas melepas kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru gedung itu. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki disana. Orang-orang yang mengenali dirinya refleks menunduk tanda mereka menghormati Lucas sebagai anak tunggal dari bos mereka.

“Papa ada di ruangannya, kan?” tanya Lucas ramah.

“Ada, Mas. Lewat sini, Mas,” jawab staff itu sambil mempersilahkan Lucas untuk masuk ke dalam lift.

Tiba di lantai kantor ayahnya, Lucas disambut sekretaris ayahnya. Sekretaris itu segera menghubungi ayah Lucas dan tidak lama ia mengizinkan Lucas untuk masuk ke dalam ruangan ayahnya.

Sebelum memasuki ruangan ayahnya, Lucas memejamkan matanya sesaat. Dalam hatinya ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan baik-baik saja.

“Hai, Pa,” sapa Lucas sopan begitu ia masuk ke dalam ruangan ayahnya. Di belakang Lucas, sekretaris laki-laki ayahnya membuntuti Lucas dan ayah Lucas memberi tanda kepada laki-laki itu untuk meninggalkan ruangan.

“Ada apa? Papa sibuk.” Ayah Lucas membalas sapaan putranya dengan nada datar.

“Masalah perjodohan aku sama Olivia, Pa...” Lucas berhenti sesaat untuk melihat reaksi ayahnya. Ayah Lucas sendiri terlihat masih sibuk memeriksa dokumen-dokumen yang menumpuk di atas mejanya.

“Aku mau papa mama batalin perjodohan aku sama Olivia,” sambung Lucas.

Ayah Lucas tidak bergeming. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya. Untuk sesaat Lucas berdiri mematung, menunggu jawaban sang ayah.

Lima menit kemudian, ayah Lucas bangkit dari duduknya. Ia melepas jas yang ia kenakan lalu menggulung lengan kemeja putihnya dan menghampiri Lucas. Ditatapnya Lucas yang lebih tinggi dari sang ayah dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kamu tadi mau apa?” tanya ayah Lucas.

Firasat Lucas memburuk, tapi mau tidak mau dia harus menjawab pertanyaan ayahnya. “Aku mau papa mama batalin perjodohan aku sama Olivia.”

Buk!

Dugaan Lucas tepat; jawaban dari sang ayah adalah satu tinjuan keras tepat di tulang pipinya, tinjuan yang mampu mengolengkan tubuh Lucas. Dan sebelum Lucas kembali berdiri tegak, ayahnya sudah kembali menyerang Lucas dengan tendangan lututnya. Tendangan itu bersarang tepat di perut Lucas, membuat lelaki itu meringis kesakitan dan sulit untuk berdiri lagi.

“Sekali lagi Papa tanya, kamu mau apa?” tanya ayah Lucas dengan intonasi datar. Tidak terdengar sama sekali nada belas kasihan disana.

“Papa batalin perjodohan aku sama Olivia.” Lucas menjawab pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama, dan juga ia menerima tinjuan dan tendangan yang sama.

“Kamu mau apa, Lucas?!” suara ayah Lucas meninggi.

“Papa batalin perjodohan ini!!” suara Lucas tidak kalah tinggi dengan sang ayah.

Lagi-lagi sebuah tinjuan dilayangkan sang ayah ke wajah Lucas. Lucas tidak menghindar sama sekali karena ia tahu, jika ia menghindar, ayahnya justru akan semakin menyerangnya.

“Kenapa?” tanya ayah Lucas sambil berjalan mendekati Lucas dengan tatapan dingin sementara Lucas terus melangkah mundur.

“Olivia nggak suka sama aku, Pa! Lagian juga aku nggak mau nikah sama orang yang nggak suka sama aku!”

Buk!

Tinjuan lainnya kali ini mendarat di dekat bibir Lucas, membuat darah segar mengalir pelan dari bibir Lucas yang sobek.

“Anak bodoh! Papa nggak peduli sama alasan kamu!”

Kali ini tendangan lutut kembali dilayangkan sang ayah tepat ke perut Lucas. Karena rasa sakit yang sudah tidak bisa ditahan lagi, Lucas sukses ambruk di lantai. Tidak puas dengan tendangan lutut itu, kini ayah Lucas tega menghajar anaknya dengan menendang lelaki itu berkali-kali dan yang bisa dilakukan Lucas hanya melindungi dirinya sebisa mungkin dari amarah sang ayah.

“Satria! Satria!” Ayah Lucas memanggil sekretarisnya agar masuk ke dalam ruangannya, “bawa anak nggak berguna ini pergi!” perintahnya saat Satria sudah masuk ke dalam ruangan.

Satria mengangguk, lalu ia membantu Lucas yang sudah babak belur untuk berdiri. Sebelum Lucas dibawa pergi oleh Satria, ayah Lucas kembali mendekati Lucas dan memegang dagu Lucas, memaksa putranya untuk membalas tatapan ayahnya.

“Sekali lagi kamu berani minta kayak tadi, habis kamu sama Papa.”

Hari ini aku berencana memberikan surprise untuk Kun karena kebanyakan selalu dia yang mengejutkanku dengan berbagai cara. Kemarin aku bilang pada Kun kalau Sabtu ini aku tidak bisa ikut acara reuniannya karena Sheryl mengambek, padahal Sheryl kutitipkan kepada Jocelyn yang kebetulan mau mengajak Sheryl bermain bersama tunangannya hari itu.

“Jo, beneran nggak papa aku titip Sheryl sama kalian?” tanyaku sebelum aku berpisah dengan Jocelyn dan juga tunangannya, Ten.

Jocelyn menggeleng pelan, “nggak papa, Kak. Aku sama Ten emang udah niat mau ajak Sheryl nonton hari ini. Iya kan, Ten?”

Kulihat Ten mengangguk menjawab pertanyaan Jocelyn, “iya Kak, pokoknya hari ini harinya Kakak sama Kak Kun.”

Kemudian aku berjongkok untuk mengajak putri kecilku bicara. “Nak, baik-baik sama Tante Jo dan Om Ten, ya? Janji sama Mama, Sheryl nggak boleh nakal atau ngerepotin Tante dan Om.”

“Iya, Mama,” balas putri kecilku dengan nada menurut. Aku tersenyum senang mendengar balasannya, kemudian aku mencium kening Sheryl dan berpamitan pada Jocelyn dan juga Ten sebelum menyusuli Kun.

Siang ini Kun sedang reunian dengan teman SMA nya di salah satu resto ternama di mal ini. Aku melirik jam tanganku, 'masih jam 1, harusnya acaranya belum selesai', gumamku dalam hati.

Aku mempercepat langkahku untuk bertemu dengan Kun dan juga teman-temannya. Sudah terlintas di benakku, aku akan bertanya bagaimana Kun semasa sekolahnya dulu kepada teman-temannya. Dan juga aku akan bertanya siapa perempuan yang pernah ia sukai dulu. Aku bisa membayangkan raut wajah Kun yang panik bercampur malu ... pasti akan terlihat menggemaskan.

Setelah bertanya kepada staff yang menyambutku, aku diarahkan ke salah satu ruangan privat dimana reuni SMA Kun diadakan. Aku hendak membuka pintu geser ruangan itu dan menyapa mereka yang ada di dalam sana, tapi aku berhenti saat aku mendengar salah satu dari mereka menyebut namaku.

“Kun, lo serius pacaran sama Alyssa Dihardja?”

Aku melihat Kun mengangguk setelah ia menyeruput Ice Lemon Tea miliknya.

“Itu mantan istrinya Simon yang punya PT Indoperkasa Steel, kan?”

“Iya, emang kenapa?” Aku mendengar Kun menjawab segala pertanyaan yang ditujukan kepadanya dengan santai.

“Kun, lo yakin mau sama janda?” Kali ini pertanyaan itu datang dari orang yang berbeda, seorang perempuan yang duduk dengan jarak dua bangku dari Kun.

“Nah, iya itu maksud kita-kita daritadi,” teman-temannya yang lain ikut menimpali perkataan perempuan itu. “Lo kan ganteng, keren, pinter, ya masa sih sama janda? Kasian lo nya.”

“Kasarannya nih ya, lo masih bujang, masih fresh banget, lah cewek lo udah ... ya gitu lah. Gue yakin lo paham sama kata-kata gue.”

Aku terdiam, senyum antusias di wajahku hilang seketika. Rasanya aku ingin segera lari dari situ, tapi aku masih penasaran dengan Kun ... aku ingin mendengar tanggapannya atas komentar teman-temannya tentang diriku.

“Gue rasa kalian nggak ada hak buat ngatur gue pacaran atau suka sama siapa.” Aku mendengar Kun membalas kalimat-kalimat teman-temannya dengan nada dingin.

“Dan kalian sama sekali nggak pantes ngomong kayak tadi.” Kun menyambung kalimatnya. Ia membelaku.

Sesaat aku dapat merasakan atmosfir canggung tercipta di dalam ruangan itu. Semua terdiam mendengar Kun; walaupun ia tidak bicara dengan nada tinggi tapi mereka semua tahu kalau lelaki itu sedang marah.

“Sorry guys, gue cabut duluan aja ya, suasananya udah nggak enak.” Kun kemudian bangkit dari duduknya; ia mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu dan menaruhnya di atas meja, lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.

Saat Kun menggeser pintu ruang privat itu, matanya bertemu dengan mataku yang menatapnya dengan kuyu. “Alyssa?!”

Suara panggilan Kun membuat seisi ruangan itu menengok ke arahku dan mereka sama-sama terkejut melihatku berada disitu. Terutama yang sedari tadi membicarakanku, bisa kupastikan ada rasa khawatir di dalam diri mereka, khawatir kalau-kalau aku mendengar kata-katanya tadi.

Aku yang tidak tahu harus berbuat apa memilih untuk meninggalkan Kun tanpa sepatah katapun. Bisa kurasakan di belakangku Kun berusaha mengejarku.

“Lys! Alyssa!” panggil Kun terus menerus tapi tidak kuhiraukan. Aku semakin mempercepat langkahku tapi sayangnya langkah kaki Kun yang besar mampu mengejarku. Ia menarik lenganku agar aku berhenti menghindarinya.

“Lys, sejak kapan kamu ada disana?” tanyanya khawatir.

Aku melepaskan tanganku dari genggamannya dengan kasar, “Saya pulang dulu,” balasku cepat dan aku kembali berjalan pergi menjauhinya.

Aku pergi karena aku merasa tidak layak berada di sana. Setelah kupikir-pikir, teman-teman Kun ada benarnya. Kun dengan segala kesempurnaannya kenapa harus bersamaku, yang jelas-jelas banyak sekali kekurangannya? Aku yang selalu membebaninya setiap saat dengan Sheryl dan juga masa laluku, aku yang tidak secantik dan semenarik perempuan lain di luar sana. Kenapa Kun harus memilihku?

Pandanganku semakin lama semakin buram dan sedetik kemudian bisa kurasakan air mata membasahi pipiku. Sebelum semakin banyak orang yang menyadari kalau aku menangis kala itu, aku buru-buru keluar dari mal itu dan mencegat taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang di lobby.

Sampai aku masuk ke dalam taksi dan pergi, aku masih bisa melihat Kun berusaha mengejarku.

“Kun, kenapa kamu masih terus berusaha mengejarku? Apakah aku sepantas itukah untuk dicintai?”