Aku berjalan memasuki sekolah tua itu dengan langkah gontai. Seharusnya hari pertama sebagai siswa SMA terasa menyenangkan, tapi tidak bagiku.
Bagiku 3 tahun ke depan ini akan sama saja menyedihkannya seperti saat aku duduk di bangku SMP, di mana makanan setiap hariku adalah cacian dan bully dari teman-temanku karena paras yang tidak menarik.
Aku sedang membenarkan tali sepatuku yang tidak sengaja terlepas saat seseorang menabrakku hingga kacamataku lepas dan terlempar.
‘Ah, baru hari pertama saja sudah sial,’ gerutuku dalam hati.
“Maaf, nggak sengaja. Lo nggak papa kan?” tanya suara yang menabrakku dengan ramah.
Aku menoleh untuk melihat siapa yang menabrakku, seorang gadis berparas cantik dengan tubuh mungil dan rambut panjang yang ia biarkan tergerai begitu saja. Kulitnya putih pucat dan bibirnya yang berwarna merah delima terlihat mengkilap berkat polesan lip gloss.
“I-iya, aku nggak papa,” jawabku tergagap. Logat daerahku kental sekali, berbanding terbalik dengan gadis ini yang sepertinya seorang pendatang.
“Yah, kacanya pecah ...,” katanya lagi sambil mengambil kacamatku yang terlempar cukup jauh. “Nanti pulang sekolah gue ganti ya. Pulang sekolah kita ketemuan lagi disini, gimana?”
“Eh, iya, boleh.” Aku benar-benar terdengar seperti anak culun walaupun kenyataannya aku memang culun saat menjawab pertanyaannya.
Kemudian gadis itu memberikan kacamataku, “see you nanti siang! Gue duluan, ya!” pamitnya lalu ia segera pergi masuk ke dalam gedung sekolah, meninggalkanku sendiri dengan segudang tekad bahwa aku akan mencari tahu siapa gadis itu lebih lanjut.
*
Namanya Olivia Gianna, ternyata dia adalah siswi pindahan dari Jakarta. Pantas saja gaya bicaranya terdengar modern, tidak kampungan seperti aku.
“Eh, ternyata kita sekelas,” sapa Olivia saat ia menyadari aku yang duduk di pojok belakang kelas. Aku yang tidak suka dengan kerumunan selama ini cenderung memilih tempat duduk yang menyempil, bahkan kalau perlu invisible alias tidak terlihat siapapun.
Aku hanya garuk-garuk kepala yang tidak terasa gatal, sementara Olivia mengeluarkan dompet kecil dari kantong roknya. “Gue nggak tau harga kacamata lo berapa, kalau ini kurang besok bilang aja ya, nanti gue tambahin,” sambungnya lalu ia menaruh 3 lembar uang seratus ribu di atas mejaku dan pergi.
Pertama, aku kaget. Untuk usia anak SMA, uang jajannya banyak sekali. Aku yakin masih ada beberapa lembar ratusan ribu di dalam dompetnya tadi.
Kedua, sebenarnya aku tidak terlalu ambil pusing kalau dia tidak mengganti kacamataku. Toh aku bisa bilang ke Ayahku dan dia akan menggantikannya tanpa peduli apa alasannya.
Sekarang tekadku berubah, aku tidak hanya ingin mencari tahu tentang dirinya, tapi aku juga ingin lebih dekat dengannya.
*
Hampir sebulan aku menyandang status sebagai pelajar SMA dan ternyata tidak seburuk dugaanku. Teman-temanku disini cenderung acuh padaku, sesuai dengan harapanku yaitu tidak terlihat alias invisible kecuali pada satu orang, Olivia.
Kupikir Olivia akan sulit didekati, melihat parasnya yang cantik, pasti akan banyak cowok-cowok keren dari kelas lain atau bahkan kakak kelas yang akan mendekatinya. Belum lagi cewek-cewek yang berusaha untuk menjadi circle-nya.
Namun, ternyata aku salah. Olivia tidak jarang dirundung dengan teman sekelas kami karena alasan mereka Olivia angkuh dan juga selalu bersikap dingin. Padahal menurutku itu pilihan Olivia dan sah-sah saja jika dia ingin bersikap dingin kepada siapapun.
Berangkat dari pengalaman tidak menyenangkanku yang dirundung selama SMP, kini aku juga bertekad untuk melindungi Olivia dari rundungan teman-teman sekelas.
Namun bagaimana bisa? Aku yang tidak ingin terlihat siapapun mau membela Olivia? Dan juga penampilanku yang culun seperti ini ... yang ada orang-orang malah akan semakin merundung kami berdua.
Sejak saat itu, aku memutuskan untuk berubah. Dengan bantuan kakakku yang sangat berbeda denganku, aku mengubah penampilanku agar menjadi terlihat lebih layak saat bersama Olivia.
“Lo lagi suka cewek ya?” goda kakakku saat aku sedang mematut diri di depan cermin. Aku hanya tersenyum simpul. “Siapa sih? Temen sekelas lo? Kapan-kapan kenalin dong.”
“Iya, bawel,” balasku lalu aku segera meninggalkan kakakku sendiri di kamar sebelum ia kembali memberondongku dengan pertanyaan lainnya.
“Hai, Olivia,” sapaku saat kami tidak sengaja berpapasan di gerbang sekolah. Aku bisa melihat raut wajah Olivia yang sedikit terkejut dengan penampilanku.
“Rendra?” tanyanya meyakinkan dan aku mengangguk mantap.
“Keren banget ih!” pujinya kemudian, membuatku tidak bisa berhenti tersenyum dan hatiku ikut berbunga-bunga.
Selama aku dan Olivia berjalan menyusuri koridor menuju kelas kami, tidak sedikit pasang mata yang mencuri pandang ke arah kami. Ternyata seperti ini rasanya menjadi pusat perhatian karena parasmu rupawan, sangat menyenangkan.
“Liv, lo masih suka digangguin sama anak-anak?” tanyaku dengan gaya bicara yang perlahan aku ubah agar kekinian.
“Kadang, tapi nggak papa kok udah biasa. Gue kan emang nyebelin, hehehe ....”
“Kalo masih ada yang suka bully lo, kasih tau gue aja.”
Kalimatku dijawab dengan anggukan Olivia.
*
Hari-hari selanjutnya sungguh di luar dugaanku. Saat aku menjadi siswa kelas 2, aku mulai menerima banyak surat kaleng berisikan pernyataan cinta, entah dari teman seangkatan atau adik kelas. Hal yang sama terjadi pada Olivia. Bedanya, aku tidak pernah menggubris satupun surat-surat itu, sementara Olivia terkadang masih suka menanggapi mereka.
“Lo suka ya, sama si Kiel?” tanyaku saat kami sedang menyantap es krim di taman belakang sekolah.
“Dikit,” jawab Olivia irit.
“Tapi dia kan adik kelas.”
“Ganteng, gimana dong?”
Nada bicara Olivia terdengar bercanda, tapi hatiku terasa panas karena cemburu. Tidak, tidak boleh ada yang Olivia anggap berparas tampan selain aku. Mulai detik itu juga, aku kembali mengubah penampilanku agar semakin layak dan disukai Olivia.
Aku mulai mengikuti penampilan ataupun gaya dari cowok-cowok yang ditaksir Olivia dan hasilnya tidak sia-sia, Olivia tidak henti-hentinya memujiku. Dan hal sederhana ini membuat hari-hariku terasa lebih berwarna.
*
Sampai kami di kelas 3, aku dan Olivia dikenal sebagai sepasang sahabat visual. Bagaimana tidak, kami sama-sama berparas menarik, nilai kami pun tidak jelek-jelek amat. Aku beberapa kali mewakili sekolah untuk Olimpiade Matematika antar sekolah atau wilayah, sementara Olivia mewakili sekolah dalam lomba pidato Bahasa Inggris.
Yang awalnya diterima Olivia rundungan, kini perlahan berubah menjadi dukungan. Tentu saja, dengan bantuanku yang selalu melindungi Olivia apabila ada yang berani mengganggu dia.
Tiga tahun kuhabiskan bersama Olivia dengan status sahabat dan sekarang aku mau lebih. Aku mau menghilangkan kata “sahabat” dalam julukan kami berdua. Jadi, di malam pesta perpisahan ini aku akan menyatakan perasaanku pada Olivia.
Aku mengajaknya ke rooftop agar aku dapat berbicara lebih leluasa. Malam itu Olivia terlihat lebih cantik; rambut panjangnya dicepol, riasan wajah minimalis tapi mampu membuat dia terlihat berbeda dari biasanya, disempurnakan dengan gaun hitam panjang selutut.
“Lo mau ngomong apa sih sampe kita harus ke rooftop gini?”
Aku hanya tersenyum mendengar protes Olivia. Karena wajah mengkerutnya terlihat menggemaskan, aku mencolek pelan hidungnya. “Itu muka galaknya ilangin dulu coba.”
“Siapa yang galak?!”
“Liv, mau nggak jadi pacar gue?”
Akhirnya, aku berani mengucapkan kalimat yang selama ini hanya berani aku ucapkan di depan kaca kamar tidurku. Jantungku berdegup cepat tidak karuan, rasanya aku ingin segera memeluk gadis ini saat ia menjawab dengan satu kata; “Ya.”
“Lo serius?” Tapi yang aku dapat justru pertanyaan yang membuat perasaanku sedikit kecewa.
“Gue keliatan bercanda? Liv, gue suka sama lo dari awal kita kenal. Sengaja gue nggak pernah ngomong sama lo, karena gue emang pengen bilang pas kita udah lulus.”
Ya, sepertinya aku harus bicara lebih jelas seperti ini agar ia memahami perasaanku. Tapi nyatanya aku salah. Sedetik kemudian aku malah mendengar pengakuan konyol yang sangat aku benci.
“Gue ... Udah jadian sama Kak Farrel. Dua hari lalu. Sorry belum sempet cerita ke lo.”
Shit! Farrel? Kakak kelas yang waktu itu tidak sengaja melempar bola basketnya ke arah Olivia sampai-sampai kepala Olivia benjol cukup besar dan dia harus dilarikan ke Rumah Sakit, dia yang dipilih Olivia untuk jadi pacarnya? Kenapa bukan aku?!
”Lo, berani jadian sama Farrel? Lo nggak tau, gimana gue berjuang mati-matian buat berubah jadi tipe ideal lo?”
Aku tidak tahan untuk terus-terusan memendam perasaan ini. Aku harus mendapatkan Olivia malam ini juga.
“Lo harus tau juga gimana gue selalu belain lo mati-matian setiap kali ada yang ngatain lo! Tapi apa yang gue dapet?!”
“Tapi kita kan masih bisa temenan—”
‘Olivia, are you serious? Lo mau kita cuma temenan selamanya?’
“Gue sayang sama lo, Liv. Udah cukup 3 tahun jadi temen lo doang. Gue mau lebih dari itu! Lo cuma milik gue seorang! Gue yang selalu belain lo, gue yang selalu lindungin lo! Nggak ada lagi selain gue!”
Aku berhenti sesaat untuk mengatur nafasku yang tersengal tatkala aku mengeluarkan seluruh isi hatiku kepada Olivia. Kemudian aku kembali mendekati Olivia, memegang kedua bahunya dan menatap gadis itu lekat-lekat.
“Jadi, orang lain nggak berhak untuk milikin lo.” Aku menutup kalimatku yang kuyakini bisa mengubah pikiran dan perasaan Olivia detik itu juga.
“Sorry, tapi gue sayang beneran sama Kak Farrel ... Dan gue nggak bisa putusin dia gitu aja ....”
Argh! Rasanya saat itu juga aku ingin membunuh Farrel. Olivia tidak boleh dimiliki siapapun kecuali aku! Aku yang pertama kali berkenalan dengannya. Aku juga yang selalu membelanya saat teman-teman yang lain mengganggunya. Tapi, kenapa Olivia pilih yang lain?!
Aku marah, aku kecewa dan aku tidak bisa membiarkan perasaan ini terus mengganggu.
“Kalau gue nggak bisa miliki lo, mending gue mati. Biar lo akan selalu inget gue. Gue mati karena lo.”
Ya, kupikir ini adalah satu-satunya cara terakhir agar Olivia selalu mengingatku. Jika tidak bisa memilikinya, setidaknya aku bisa terus diingat olehnya sama seperti aku yang akan terus mengingatnya dari sana.
Lagipula, daripada aku harus melihatnya bersama dengan lelaki lain, lebih baik seperti ini, kan?
Tanpa keraguan aku berlari menembus gelapnya malam, melawan angin kencang yang berhembus di atas gedung sekolahku. Tubuhku sesaat melayang bebas sebelum terantuk tanah.
Sayup-sayup aku masih bisa mendengar suara Olivia memanggilku, tapi lambat laun pandanganku semakin kabur dan ... gelap.