Knock Back
⚠️ tw // physical abuse
Mobil BMW M2 milik Lucas berhenti di barisan paling depan lampu merah Senin siang itu. Dari posisi mobilnya sekarang, Lucas bisa melihat gedung kantor milik ayahnya yang menjulang tinggi, berdiri kokoh di antara gedung-gedung perkantoran yang lainnya.
“Lucas, lo nggak usah aneh-aneh deh. Gue serius. Gue cuma nggak mau kenapa-napa. Lo bilang aja ke Olivia kalo lo udah ngomong dan hasilnya nihil.”
Pikiran Lucas kembali teringat akan nasihat Dejun Sabtu lusa lalu. Apa yang dikatakan Dejun benar, ia bisa saja berbohong kepada Olivia dengan mengatakan kalau dia sudah bicara dengan ayah ibunya tapi mereka menolak permintaan Lucas.
Tapi entah kenapa hati kecil Lucas melarang dirinya untuk berbohong kepada Olivia. Hati kecil lelaki itu memaksa dia untuk menemui sang ayah dengan segala resiko yang harus siap ia hadapi.
Dan jadilah siang ini, saat lampu lalu lintas berganti warna, Lucas segera melaju menuju gedung kantor milik ayahnya. Begitu mobilnya memasuki lobby gedung itu, terlihat seorang staff ayahnya sudah siap menyambutnya.
“Siang, Mas!” sapa staff itu bersemangat, lalu ia memberi kode kepada staff lainnya untuk memarkirkan mobil Lucas sementara dia sendiri menemani Lucas berjalan menuju ruangan ayahnya.
Sambil berjalan menuju lift, Lucas melepas kacamata hitamnya dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru gedung itu. Sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki disana. Orang-orang yang mengenali dirinya refleks menunduk tanda mereka menghormati Lucas sebagai anak tunggal dari bos mereka.
“Papa ada di ruangannya, kan?” tanya Lucas ramah.
“Ada, Mas. Lewat sini, Mas,” jawab staff itu sambil mempersilahkan Lucas untuk masuk ke dalam lift.
Tiba di lantai kantor ayahnya, Lucas disambut sekretaris ayahnya. Sekretaris itu segera menghubungi ayah Lucas dan tidak lama ia mengizinkan Lucas untuk masuk ke dalam ruangan ayahnya.
Sebelum memasuki ruangan ayahnya, Lucas memejamkan matanya sesaat. Dalam hatinya ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan baik-baik saja.
“Hai, Pa,” sapa Lucas sopan begitu ia masuk ke dalam ruangan ayahnya. Di belakang Lucas, sekretaris laki-laki ayahnya membuntuti Lucas dan ayah Lucas memberi tanda kepada laki-laki itu untuk meninggalkan ruangan.
“Ada apa? Papa sibuk.” Ayah Lucas membalas sapaan putranya dengan nada datar.
“Masalah perjodohan aku sama Olivia, Pa...” Lucas berhenti sesaat untuk melihat reaksi ayahnya. Ayah Lucas sendiri terlihat masih sibuk memeriksa dokumen-dokumen yang menumpuk di atas mejanya.
“Aku mau papa mama batalin perjodohan aku sama Olivia,” sambung Lucas.
Ayah Lucas tidak bergeming. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya. Untuk sesaat Lucas berdiri mematung, menunggu jawaban sang ayah.
Lima menit kemudian, ayah Lucas bangkit dari duduknya. Ia melepas jas yang ia kenakan lalu menggulung lengan kemeja putihnya dan menghampiri Lucas. Ditatapnya Lucas yang lebih tinggi dari sang ayah dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kamu tadi mau apa?” tanya ayah Lucas.
Firasat Lucas memburuk, tapi mau tidak mau dia harus menjawab pertanyaan ayahnya. “Aku mau papa mama batalin perjodohan aku sama Olivia.”
Buk!
Dugaan Lucas tepat; jawaban dari sang ayah adalah satu tinjuan keras tepat di tulang pipinya, tinjuan yang mampu mengolengkan tubuh Lucas. Dan sebelum Lucas kembali berdiri tegak, ayahnya sudah kembali menyerang Lucas dengan tendangan lututnya. Tendangan itu bersarang tepat di perut Lucas, membuat lelaki itu meringis kesakitan dan sulit untuk berdiri lagi.
“Sekali lagi Papa tanya, kamu mau apa?” tanya ayah Lucas dengan intonasi datar. Tidak terdengar sama sekali nada belas kasihan disana.
“Papa batalin perjodohan aku sama Olivia.” Lucas menjawab pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama, dan juga ia menerima tinjuan dan tendangan yang sama.
“Kamu mau apa, Lucas?!” suara ayah Lucas meninggi.
“Papa batalin perjodohan ini!!” suara Lucas tidak kalah tinggi dengan sang ayah.
Lagi-lagi sebuah tinjuan dilayangkan sang ayah ke wajah Lucas. Lucas tidak menghindar sama sekali karena ia tahu, jika ia menghindar, ayahnya justru akan semakin menyerangnya.
“Kenapa?” tanya ayah Lucas sambil berjalan mendekati Lucas dengan tatapan dingin sementara Lucas terus melangkah mundur.
“Olivia nggak suka sama aku, Pa! Lagian juga aku nggak mau nikah sama orang yang nggak suka sama aku!”
Buk!
Tinjuan lainnya kali ini mendarat di dekat bibir Lucas, membuat darah segar mengalir pelan dari bibir Lucas yang sobek.
“Anak bodoh! Papa nggak peduli sama alasan kamu!”
Kali ini tendangan lutut kembali dilayangkan sang ayah tepat ke perut Lucas. Karena rasa sakit yang sudah tidak bisa ditahan lagi, Lucas sukses ambruk di lantai. Tidak puas dengan tendangan lutut itu, kini ayah Lucas tega menghajar anaknya dengan menendang lelaki itu berkali-kali dan yang bisa dilakukan Lucas hanya melindungi dirinya sebisa mungkin dari amarah sang ayah.
“Satria! Satria!” Ayah Lucas memanggil sekretarisnya agar masuk ke dalam ruangannya, “bawa anak nggak berguna ini pergi!” perintahnya saat Satria sudah masuk ke dalam ruangan.
Satria mengangguk, lalu ia membantu Lucas yang sudah babak belur untuk berdiri. Sebelum Lucas dibawa pergi oleh Satria, ayah Lucas kembali mendekati Lucas dan memegang dagu Lucas, memaksa putranya untuk membalas tatapan ayahnya.
“Sekali lagi kamu berani minta kayak tadi, habis kamu sama Papa.”