Who’s the Evil?

Karena tulang rusukku kadang masih terasa nyeri, aku harus berdiam diri di apartemen dalam jangka waktu yang lebih lama.

Sungguh membosankan sekali, yang bisa aku lakukan hanyalah tidur, makan atau bermain game console favoritku. Mau membuka sosial media atau sekedar mengobrol dengan sahabatku rasanya malas sekali dan bisa aku pastikan rasa malas bersosialisasi ini akibat perasaanku yang mendadak tidak karuan.

Saat aku sedang menyantap pop mie yang ku seduh beberapa menit lalu, seseorang membunyikan bel unit apartemenku.

’Semoga bukan Dery,’ batinku dalam hati.

Memang bukan Hendery yang datang, melainkan orang yang sukses membuat perasaanku kacau balau saat ini.

“Ngapain kesini?” tanyaku dengan nada bingung tapi sedikit ketus.

“Gue nggak bisa diem aja ngeliat sikap lo yang tiba-tiba aneh kayak hari ini,” balas Olivia lalu ia menyeruak masuk ke dalam apartemenku dan duduk di sofa ruang TV.

“Lo kesini sama siapa? Darren? Sekarang dia dimana? Nungguin lo di lobby? Atau lo kesini naik taksi? Ayo gue anter balik.” Aku memberondong perempuan itu dengan segudang pertanyaan agar dia tidak mengajakku membahas topik yang sedang enggan aku bicarakan.

“Kenapa lo tiba-tiba bilang kalo diri lo jahat?”

Kan, benar. Dia pasti akan membahas hal yang tadi pagi sempat kuucapkan saat bangun tidur di rumahnya.

“Semalem baik-baik aja, Cas. Everything was fine bahkan sampe gue bisa lupain Darren. Tapi kenapa pagi harinya lo ngomong gitu? Apa maksud lo?” Olivia menyambung pertanyaannya.

“Karena itu kenyataannya, Liv. Bangun tidur gue baru sadar, nggak seharusnya gue ngaku ke lo semalem.”

Aku berusaha mengatur nafasku agar nada bicaraku tidak terdengar seperti sedang marah karena aku tidak mau menyakiti perasaan Olivia.

‘Huh, sempat-sempatnya aku memikirkan perasaan Olivia.’

“Liv, gue udah bilang kan, cukup gue aja yang jahat. Lo sama Darren nggak papa, karena gue begini aja udah cukup. Tau perasaan lo yang sebenernya ke gue, ditambah semalem gue nyium lo, udah cukup.”

Sekarang aku sudah terdengar seperti lelaki menyedihkan di film-film Korea yang sering ditonton Olivia.

“Lo salah. Kalau mau bicara siapa yang jahat, yaitu gue, dan lo harusnya benci gue. Kalo gue semalem nggak bales ciuman lo dan gue larang lo untuk berharap sama gue, lo nggak perlu ngerasain hal kayak saat ini.”

Kupikir Olivia akan menyerah dan setuju dengan apa yang kukatakan, nyatanya dia melemparkan argumennya.

“Gue mau benci lo, Liv, tapi gue nggak bisa. Mana bisa gue ngebenci lo? Lo suruh-suruh gue, marah-marahin gue, pernah ada gue marah sama lo?”

Nada bicaraku mulai meninggi. Aku harus kembali mengatur nafasku.

“Nggak, Liv, nggak pernah gue marah. Kalaupun gue kesel, itu cuma sesaat. Tau nggak kenapa?”

Olivia menatapku dalam menunggu lanjutan kalimat dariku.

“Rasa sayang gue ternyata bisa maafin segala perbuatan buruk lo ke gue. Rasa sayang gue bahkan bisa nahan rasa sakit akibat pukulan bokap gue. Sekarang, gue jadi benci diri gue sendiri, Liv.”

Berikutnya, aku tidak membayangkan Olivia akan melakukan hal ini; ia menamparku.

“Bego. Benci gue sekarang juga, Cas. Anggep apa yang semalem kita bicarain dan lakuin nggak pernah terjadi.”

Aku diam membeku; otakku masih mencerna apa yang barusan Olivia lakukan dan katakan kepadaku. Tapi begitu aku sadar, Olivia ternyata sudah pergi meninggalkan apartemenku.

’Liv, lo mau pukulin gue sama kayak bokap gue mukulin gue, nggak akan ngaruh. Nggak akan ngurangin rasa sayang gue ke lo.’