Knowing Your Truth
Olivia
“Cut!”
Teriakan sang sutradara mengakhiri pekerjaanku sore hari ini. Setelah full shooting selama kurang lebih 4 jam, akhirnya aku diizinkan pulang.
“Thanks ya, Liv. Syuting hari ini bagus banget,” puji Mbak Karen, kepala tim iklan Sandalku sekaligus orang yang merekrutku untuk menjadi brand ambassador merk sendal itu.
Aku mengangguk sambil tersenyum, “sama-sama, Mbak. Sekarang aku boleh pulang kan, ya?”
“Boleh. Kurang lebih dua minggu lagi iklannya bakal tayang. Nanti aku chat kamu lagi, ya. Dan buat next produk, nanti aku minta orang gudang segera kirim barangnya ke kamu biar bisa kamu promosiin di sosmed.”
Aku kembali mengangguk menanggapi jawaban Mbak Karen. Setelah merapihkan semua barang bawaanku dan pamit kepada seluruh staff yang bekerjasama denganku hari itu, aku segera meninggalkan studio.
Karena aku sedang dalam hubungan yang tidak baik dengan Darren, jadilah hari ini aku pergi dan pulang menggunakan taksi. Kalau sedang dalam kondisi seperti ini rasanya aku kesal sekali kepada kedua orangtuaku karena tidak mengizinkanku untuk belajar menyetir mobil.
Setelah memesan taksi melalui aplikasi di ponselku, aku beralih ke aplikasi messenger. Room chat paling atas adalah Darren, yang sengaja aku sematkan agar tidak tenggelam dengan chat lainnya. Tapi sekarang aku jadi sebal melihat room chat-nya berada di posisi paling atas.
'Menyebalkan', gumamku dalam hati. Bagaimana bisa dia benar-benar mengacuhkanku dan tidak ada keinginan untuk mengajakku bicara terlebih dahulu.
Terlintas di pikiranku untuk mengirimkan pesan duluan, tapi kuurungkan niatku. 'Bodo amat deh', pikirku.
Persis di bawah nama Darren aku melihat nama Lucas di sana sebagai orang yang terakhir kali aku ajak bicara via chat. Tiba-tiba aku teringat dengan tweetnya dan juga obrolannya yang sedikit aneh menurutku.
'Haruskah aku mengunjungi Lucas? Tapi buat apa? Gimana kalau ternyata dia beneran nggak kenapa-napa? Aku bakalan keliatan konyol di depan apartnya.'
Aku menggelengkan kepala cepat agar pikiran untuk mengunjungi Lucas hilang dari benakku. Kebetulan sekali taksi pesananku datang, aku segera menumpangi taksi itu dan duduk manis di sana, membiarkan Pak Supir mengantarkanku sampai rumah tanpa harus mampir kemana-mana, apalagi ke apart Lucas.
*
Nyatanya, sekarang aku sedang berdiri di depan pintu unit apartemen Lucas; setelah selama perjalanan pulang pikiran untuk mengunjungi Lucas terus mengganggu hingga akhirnya aku meminta Pak Supir untuk mengantarkanku ke sini.
'Ngapain sih lo, Liv? Pulang ajalah.' Aku melangkahkan kaki menjauhi pintu unit apartemen itu.
'Apaan sih? Kan lo penasaran sama kabarnya. Teken aja tombol belnya.'
'Shit! Bisa gak sih suara-suara di kepalaku ini menghilang?!'
Setelah mondar-mandir dan benar-benar kelihatan seperti orang konyol, akhirnya aku memberanikan diri untuk menekan tombol bel unitnya.
Hening. Tidak terdengar sahutan dari dalam ataupun tanda-tanda Lucas akan membukakan pintunya untukku.
'Sial, emang harusnya nggak usah gue dateng kesini. Lucasnya juga nggak ada.'
Aku kembali menjauhi pintu unit apartemen Lucas, kali ini aku akan benar-benar pergi. Tapi, kemudian aku mendengar suara Lucas memanggilku dengan lirih.
“Olivia?”
Aku menoleh. Aku mendapati lelaki itu dalam kondisi tidak baik-baik saja. Wajahnya penuh lebam biru dan juga sepertinya dia kesulitan untuk berdiri.
“Sini masuk,” sambung Lucas singkat lalu ia kembali masuk ke dalam dengan membiarkan pintu unitnya terbuka, mengizinkanku untuk masuk.
Aku akhirnya membuntuti Lucas dan masuk ke dalam unit apartemennya. Apartemen studio yang tidak terlalu besar karena memang hanya untuk ditinggali Lucas seorang.
Lucas sekarang sudah merebahkan dirinya di sofa depan TV. “Kenapa dateng? Ada perlu?” tanyanya dengan mata terpejam.
“Muka lo kenapa? Lo abis berantem?” Aku mengacuhkan pertanyaannya karena tidak dapat menahan rasa penasaranku.
Kulihat dia tersenyum tipis, “khawatir, ya?” tanyanya dengan nada setengah meledek.
'Ergh, bisa nggak sih nggak usah nanya balik?'
“Terserah deh nganggepnya apa. Jawab pertanyaan gue,” balasku jutek.
“Nggak papa kok. Biasalah, anak muda.”
Bukan jawaban yang aku inginkan. Karena aku penasaran, aku mendekati Lucas dan memperhatikan kembali wajahnya. Lebamnya terlalu ungu hingga kebiruan, tanda kalau ia dipukuli tidak hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali.
“Lo berantem sama siapa?”
“Nggak ada.”
“Muka lo biru-biru semua, Lucas. Itu apa namanya kalo bukan abis dipukulin?”
Lucas terkekeh kecil, “gue suka banget dengerin lo barusan, Liv.”
Aku mengerutkan dahi bingung, “apa maksudnya? Please deh, stop ngalihin topik. Gue cuma mau tau lo berantem sama siapa dan kenapa.”
Lucas membuka matanya, membuat tatapanku bertemu dengan tatapannya. Biasanya aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke arah lain, tapi hari ini aku seperti tenggelam dalam tatapannya. Mata Lucas yang besar menatapku dengan binar yang tidak bisa kumengerti.
“Liv, makasih ya. Makasiiiih banget. Gue seneng banget hari ini.”
Aku semakin tidak paham dengan makhluk ini. 'Apa sih? Daritadi kata-katanya hanya 'nggak papa' dan 'makasih'.'
“Gue nggak bakal balik sebelum lo jawab pertanyaan gue,” ancamku.
“Asyik, gue ada temennya malem ini. Belum pernah kan lo nginep di apart gue?” Lucas kemudian tersenyum lebar, memamerkan gigi putihnya kepadaku.
“Nggak jadi, gue balik.”
Aku hendak pergi dari situ tapi seperti yang sudah-sudah, tangan Lucas dengan cepat meraih pergelangan tanganku, memaksaku untuk tidak pergi.
“Jangan. Malem ini aja, please, lo disini. It gonna be the first and the last, I promise.”
Sedetik kemudian aku merinding. Cara Lucas mengucapkan the first and the last, cara dia memohonku untuk tinggal di sini malam ini terdengar berbeda dari biasanya. Tidak ada nada slenge'an khasnya. Tidak ada nada canda seperti biasanya. Lebih tepatnya ... yang kudengar benar-benar seperti nada memohon untuk terakhir kalinya.
“Yaudah. Lo istirahat dulu deh,” balasku pelan. Lucas mengangguk lalu ia melepaskan genggamannya dari pergelangan tanganku dan ia kembali memejamkan matanya.
Lucas sukses tertidur pulas, menyisakan aku sendiri yang tidak tahu harus berbuat apa. Karena perutku sedikit lapar, aku memberanikan diri untuk mencari mie instant di dapur Lucas dan memasaknya.
Sejujurnya, aku masih belum puas dengan jawaban Lucas tadi. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi dan dia tidak mau aku tahu. Sambil memasak mie instant, kuputuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Lucas dari sahabat-sahabatnya yang sering kulihat di cuitan Lucas.
*
Lucas
12.15 am
Aku terbangun dari tidurku dan hal pertama yang kurasakan adalah nyeri di sekujur tubuhku dan juga kepalaku rasanya seperti ditinju berkali-kali. Ya, faktanya memang aku habis ditinju berkali-kali oleh ayahku.
Dengan susah payah akhirnya aku berhasil bangkit berdiri dan perlahan aku berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih. Saat kulihat mangkok berisikan mie instant yang tidak dihabiskan ada di atas kitchen set, aku ingat kalau tadi aku meminta Olivia untuk tinggal denganku malam ini.
“Liv?” panggilku pelan. Tidak ada jawaban dan juga aku tidak melihat dia di sekitar dapur atau ruang TV. Setelah minum dengan langkah pelan aku pergi ke kamar.
“Liv?” panggilku lagi. Tidak ada jawaban tapi kudengar isak tangis pelan dari dalam kamarku. Aku segera membuka pintu kamarku untuk memastikan kondisi Olivia.
“Liv? Lo nggak papa, kan?” tanyaku khawatir.
Dengan mata sembab Olivia menghampiriku dan memukul pelan dadaku, “bego,” ucapnya di sela isak tangisnya. “Lo bego banget, Lucas.”
Aku masih tidak mengerti maksud ucapannya tapi selanjutnya yang kulihat tangis Olivia semakin menjadi dan ia kembali memukul pelan dadaku. “Kenapa lo nggak ngomong kalo lo abis dihajar sama bokap lo karena lo minta bokap lo buat batalin perjodohan kita?”
'Ah, pasti ini kerjaan Dejun atau Hendery.'
“Kenapa lo tetep ngomong ke bokap lo padahal lo tau lo bakal dipukulin? Kenapa lo bego banget sih? Kenapa?!” Tangis Olivia semakin keras dan jujur saja aku tidak tega mendengarnya.
Olivia adalah salah satu orang yang jarang sekali mengekspresikan emosinya. Ia jarang tertawa lepas apalagi menangis. Selama setahun aku mengenalnya, bisa dihitung berapa kali ia menangis; terutama menangis histeris seperti ini.
“Liv, udah dong jangan nangis. Gue nggak sampe mati kok.”
Maksud ucapanku bercanda, tapi yang kudengar tangisnya semakin keras.
“Liv, gue bercanda doang ... Liv, udahan nangisnya, please. Gue nggak mau liat lo nangis,” pintaku lirih.
“Kenapa lo senekat ini, sih? Lo harusnya nggak usah tanya kalau lo tau lo bakal dihajar sampe kayak gini! Lagian juga gue udah larang lo buat nanya, kenapa lo tetep nanya bokap lo?!”
Pertama kalinya juga aku mendengar Olivia marah, bukan marah jutek seperti biasanya. Dia benar-benar marah dan juga khawatir.
“Namanya juga usaha, hehe...”
“Bisa nggak sih nggak usah ketawa?! Stop dulu bercandanya! Gue tuh takut lo kenapa-napa, Lucas!”
Oke, sepertinya aku harus berhenti menanggapi Olivia dengan candaan. Maksudku tadi sebenarnya agar ia berhenti menangis, tapi sekarang dia malah semakin marah padaku.
“Maaf, udah bikin lo khawatir. Gue cuma mau nunjukkin usaha gue ke lo doang, Liv. Gue cuma mau ngabulin permintaan lo doang...”
Tapi jawabanku barusan juga tidak sukses meredakan tangis Olivia tapi sebaliknya, tangisnya semakin menjadi lagi. Sebagai langkah terakhir untuk menenangkannya, aku menariknya ke dalam pelukanku karena aku benar-benar tidak bisa melihat dan mendengarnya menangis.
“Liv, udahan nangisnya, please? Gue udah biasa juga kok kayak gini. Stop merasa bersalah, ya? That was not totally your fault, emang bokap gue aja yang hobinya main pukul.”
Olivia melepaskan diri dari pelukanku dan menatapku lekat dari ujung rambut sampai ujung kaki, “bagian mana aja yang sakit?” tanyanya sambil ia berusaha menghentikan tangisnya.
Aku tidak kuasa menahan senyumku. Bagaimana tidak, sulit sekali untuk mendapatkan perhatian dari seorang Olivia Gianna dan sekarang ini jelas-jelas seluruh perhatiannya tercurah hanya untukku. Cara dia menatapku dan caranya bertanya, rasanya kalau begini aku nggak masalah kalau harus babak belur tiap hari. Nggak peduli deh sama Hendery yang pasti akan mengejek level kebulolanku sudah berada di peringkat meresahkan.
“Ayo kita ambil minum dulu. Nanti kalo lo udah nggak sesenggukan, gue bakal ceritain semua sama lo.”