Am I Worthy?

Hari ini aku berencana memberikan surprise untuk Kun karena kebanyakan selalu dia yang mengejutkanku dengan berbagai cara. Kemarin aku bilang pada Kun kalau Sabtu ini aku tidak bisa ikut acara reuniannya karena Sheryl mengambek, padahal Sheryl kutitipkan kepada Jocelyn yang kebetulan mau mengajak Sheryl bermain bersama tunangannya hari itu.

“Jo, beneran nggak papa aku titip Sheryl sama kalian?” tanyaku sebelum aku berpisah dengan Jocelyn dan juga tunangannya, Ten.

Jocelyn menggeleng pelan, “nggak papa, Kak. Aku sama Ten emang udah niat mau ajak Sheryl nonton hari ini. Iya kan, Ten?”

Kulihat Ten mengangguk menjawab pertanyaan Jocelyn, “iya Kak, pokoknya hari ini harinya Kakak sama Kak Kun.”

Kemudian aku berjongkok untuk mengajak putri kecilku bicara. “Nak, baik-baik sama Tante Jo dan Om Ten, ya? Janji sama Mama, Sheryl nggak boleh nakal atau ngerepotin Tante dan Om.”

“Iya, Mama,” balas putri kecilku dengan nada menurut. Aku tersenyum senang mendengar balasannya, kemudian aku mencium kening Sheryl dan berpamitan pada Jocelyn dan juga Ten sebelum menyusuli Kun.

Siang ini Kun sedang reunian dengan teman SMA nya di salah satu resto ternama di mal ini. Aku melirik jam tanganku, 'masih jam 1, harusnya acaranya belum selesai', gumamku dalam hati.

Aku mempercepat langkahku untuk bertemu dengan Kun dan juga teman-temannya. Sudah terlintas di benakku, aku akan bertanya bagaimana Kun semasa sekolahnya dulu kepada teman-temannya. Dan juga aku akan bertanya siapa perempuan yang pernah ia sukai dulu. Aku bisa membayangkan raut wajah Kun yang panik bercampur malu ... pasti akan terlihat menggemaskan.

Setelah bertanya kepada staff yang menyambutku, aku diarahkan ke salah satu ruangan privat dimana reuni SMA Kun diadakan. Aku hendak membuka pintu geser ruangan itu dan menyapa mereka yang ada di dalam sana, tapi aku berhenti saat aku mendengar salah satu dari mereka menyebut namaku.

“Kun, lo serius pacaran sama Alyssa Dihardja?”

Aku melihat Kun mengangguk setelah ia menyeruput Ice Lemon Tea miliknya.

“Itu mantan istrinya Simon yang punya PT Indoperkasa Steel, kan?”

“Iya, emang kenapa?” Aku mendengar Kun menjawab segala pertanyaan yang ditujukan kepadanya dengan santai.

“Kun, lo yakin mau sama janda?” Kali ini pertanyaan itu datang dari orang yang berbeda, seorang perempuan yang duduk dengan jarak dua bangku dari Kun.

“Nah, iya itu maksud kita-kita daritadi,” teman-temannya yang lain ikut menimpali perkataan perempuan itu. “Lo kan ganteng, keren, pinter, ya masa sih sama janda? Kasian lo nya.”

“Kasarannya nih ya, lo masih bujang, masih fresh banget, lah cewek lo udah ... ya gitu lah. Gue yakin lo paham sama kata-kata gue.”

Aku terdiam, senyum antusias di wajahku hilang seketika. Rasanya aku ingin segera lari dari situ, tapi aku masih penasaran dengan Kun ... aku ingin mendengar tanggapannya atas komentar teman-temannya tentang diriku.

“Gue rasa kalian nggak ada hak buat ngatur gue pacaran atau suka sama siapa.” Aku mendengar Kun membalas kalimat-kalimat teman-temannya dengan nada dingin.

“Dan kalian sama sekali nggak pantes ngomong kayak tadi.” Kun menyambung kalimatnya. Ia membelaku.

Sesaat aku dapat merasakan atmosfir canggung tercipta di dalam ruangan itu. Semua terdiam mendengar Kun; walaupun ia tidak bicara dengan nada tinggi tapi mereka semua tahu kalau lelaki itu sedang marah.

“Sorry guys, gue cabut duluan aja ya, suasananya udah nggak enak.” Kun kemudian bangkit dari duduknya; ia mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu dan menaruhnya di atas meja, lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.

Saat Kun menggeser pintu ruang privat itu, matanya bertemu dengan mataku yang menatapnya dengan kuyu. “Alyssa?!”

Suara panggilan Kun membuat seisi ruangan itu menengok ke arahku dan mereka sama-sama terkejut melihatku berada disitu. Terutama yang sedari tadi membicarakanku, bisa kupastikan ada rasa khawatir di dalam diri mereka, khawatir kalau-kalau aku mendengar kata-katanya tadi.

Aku yang tidak tahu harus berbuat apa memilih untuk meninggalkan Kun tanpa sepatah katapun. Bisa kurasakan di belakangku Kun berusaha mengejarku.

“Lys! Alyssa!” panggil Kun terus menerus tapi tidak kuhiraukan. Aku semakin mempercepat langkahku tapi sayangnya langkah kaki Kun yang besar mampu mengejarku. Ia menarik lenganku agar aku berhenti menghindarinya.

“Lys, sejak kapan kamu ada disana?” tanyanya khawatir.

Aku melepaskan tanganku dari genggamannya dengan kasar, “Saya pulang dulu,” balasku cepat dan aku kembali berjalan pergi menjauhinya.

Aku pergi karena aku merasa tidak layak berada di sana. Setelah kupikir-pikir, teman-teman Kun ada benarnya. Kun dengan segala kesempurnaannya kenapa harus bersamaku, yang jelas-jelas banyak sekali kekurangannya? Aku yang selalu membebaninya setiap saat dengan Sheryl dan juga masa laluku, aku yang tidak secantik dan semenarik perempuan lain di luar sana. Kenapa Kun harus memilihku?

Pandanganku semakin lama semakin buram dan sedetik kemudian bisa kurasakan air mata membasahi pipiku. Sebelum semakin banyak orang yang menyadari kalau aku menangis kala itu, aku buru-buru keluar dari mal itu dan mencegat taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang di lobby.

Sampai aku masuk ke dalam taksi dan pergi, aku masih bisa melihat Kun berusaha mengejarku.

“Kun, kenapa kamu masih terus berusaha mengejarku? Apakah aku sepantas itukah untuk dicintai?”