Your End

⚠️ tw // physical abuse, kidnapping, blood

Hari yang kunanti-nantikan akhirnya tiba, hari pembalasan dendamku kepada perempuan yang sudah merebut semuanya dariku.

Aku menantikan hari ini selama setahun, dengan segala sandiwara memuakkan yang harus kumainkan semuanya. Demi hari ini.

Aku mematut diri di cermin, kemudian aku memoles lipstik merah favoritku di bibir sebelum aku menuntaskan hari yang kunanti ini.

Kini di hadapanku terdapat makhluk tak berdaya yang sedang meraung-raung minta tolong. Namun percuma, karena tidak akan ada satupun yang menolongnya. Tidak akan ada yang bisa menemukannya disini. Mulutnya ku sumpal dengan kain agar suara cemprengnya tidak berisik memenuhi ruang rahasiaku.

Shut up, bitch! Berisik!” protesku sambil menendang kasar kursi tempat dimana dia duduk dan diikat disana.

Aku membuka kain hitam yang sedari tadi menutupi wajahnya. Kudapatkan wajah yang seringkali orang puji ‘cantik’ tapi terlihat menjijikan bagiku. Sorot matanya terlihat terkejut seperti melihat hantu di siang bolong.

“Hai, Olivia cantik,” sapaku penuh penekanan pada kata ‘cantik’. Satu kata yang selalu ditujukan untuknya, sungguh menyebalkan sekali.

Kemudian aku sengaja melepas sumpalan kain dari mulutnya agar ia bisa leluasa berbicara. Huh, aku baik sekali, kan?

“Devina ... Apa maksud lo begini?”

Tawaku menggelegar memenuhi ruangan itu. Sungguh, perempuan ini bodoh sekali.

“Devina! Lepasin gue!”

Aku menggeleng pelan sambil mendekatkan mulutku ke telinganya. “Never, darling.

Detik berikutnya dia menjerit sambil berusaha melepaskan diri dari ikatanku. Tangisnya pecah dan memang itu yang aku harapkan, aku ingin melihatnya tersiksa.

“Apa rasanya duduk disitu, Liv?” tanyaku sambil berjalan memutari kursinya. Dia hanya menatapku dengan tatapan menyalang sambil sesekali berusaha melepaskan diri.

“Rasanya pasti sakit. Sama kayak gue, saat gue nggak pernah dapet kesempatan buat jadi Brand Ambassador dari produk yang gue mau!”

“Huh, keep dreaming, Devina!”

What?! Sudah aku ikat seperti ini masih sempat-sempatnya dia mengejekku?! Aku menendang kursinya hingga jatuh kemudian aku berjongkok dan menarik rambutnya kasar. “Apa maksud lo?!”

“Jadi lo ngurung gue dengan harapan lo bisa ngerebut semua yang gue punya? Jangan harap!”

Aku melepas jambakkan rambutnya dengan kasar. Wajah cantiknya membentur lantai dan ku lihat bibirnya berdarah.

Aku bangkit berdiri, mengambil ponsel milik Olivia dari dalam tasnya dan memainkannya. Senang sekali rasanya dipercaya sebagai seorang sahabat, sampai aku bisa mengetahui kata sandi yang ia pasang di ponselnya.

“Cowok lo nih, berisik,” ujarku sambil bersandar di meja yang terletak bersebrangan tidak jauh dari tempatnya tersungkur.

“Darren?!”

“Siapa Darren?” tanyaku mengejek sambil tertawa puas. Sekilas aku melihat kebingungan di wajahnya, dasar perempuan bodoh.

“Gue harus jawab chat Lucas gimana nih?” tanyaku lagi sambil membalas pesan dari Lucas yang terus menerus masuk ke dalam ponselnya.

“Gue bilang aja ya, ‘Gue lagi di tempat Devina.’ He will believe me for sure.”

“Sialan!” umpatnya tak berdaya.

Sent! Tidak sampai semenit, Lucas sudah membalas pesanku dan sesuai dugaan, dia benar-benar percaya dengan kata-kataku.

“Jauhin Lucas!” ancamnya berteriak.

Aku tersenyum dan kembali mendekatinya, “gue nggak akan rebut Lucas kok. He’s hot and to be honest I like him though ... but, gue lebih mementingkan tujuan utama gue.” Kemudian aku menarik kembali rambut panjangnya agar wajahnya terangkat, matanya menatapku dengan tatapan menyalang. “Gue mau lo putusin semua kontrak Brand Ambassador lo dan setelah itu, lo pergi dari sini.”

Olivia hanya terdiam sambil tidak hentinya menatapku sementara aku bersiap untuk pergi dari situ.

“Gue chat Mbak Karen dulu kali ya?” tanyaku dengan nada riang sambil berjalan meninggalkan dia sendiri di ruangan itu.

Di depan pintu aku kembali memutar tubuh dan mengajaknya bicara untuk terakhir kali. “Besok bakal ada tamu, sebaiknya lo sekarang tidur. Mimpi indah, Olivia.”

Begitu pintu kututup dan kukunci rapat, aku bisa mendengar suaranya memaki dan memanggil namaku berulang kali.

Aku berjalan dengan senyum puas terukir di wajahku. Tidak pernah aku sebahagia ini dalam hidupku.

“Olivia, this is your end.”