goldeneunoia

Olivia tidak dapat menyembunyikan ekspresi kaget saat ia melihat Lucas berjalan menghampiri dirinya dan juga Darren dan Devina.

“Sorry ya gue telat,” kata Lucas sopan kepada Devina. Diliriknya sekilas Olivia yang buru-buru membuang wajah ke arah lain.

“It’s okay, Cas. Duduk sini,” balas Devina sambil ia menggeser sedikit tubuhnya ke sebelah kanan, mengizinkan Lucas duduk di sisi kirinya dan berhadapan dengan Olivia.

“Gue gak perlu ngenalin lo ke Olivia lagi kan?” tanya Devina dengan nada bercanda kepada Lucas, “Liv, kenalin Darren ke Lucas dong. Eh, atau mereka udah kenalan?” gantian Devina mengajak Olivia bicara.

Olivia tersenyum canggung, “kenalin, Ren, ini Lucas,” ucap Olivia kepada Darren.

Darren mengulurkan tangannya dan Lucas menyambutnya. “Lucas,” ucap lelaki itu dengan suara rendah khasnya.

“Darren,” balas Darren singkat dan ia segera melepaskan jabatan tangannya dengan Lucas.

Sambil menunggu makanan mereka datang, Devina ketara sekali memimpin obrolan mereka. Ia tidak canggung mengajak Lucas dan Darren mengobrol bergantian, bahkan tidak jarang membuat Lucas tertawa. Mungkin juga karena sifat Lucas yang outgoing, ia mudah berbaur dengan Devina dan Darren, membuat suasana obrolan sore itu tidak canggung.

Berbeda dengan Olivia yang lebih introvert, dasarnya Olivia memang kurang suka bersosialisasi seperti ini. Dia lebih senang mengurung diri di rumah dan menghabiskan waktu sendiri dengan menonton TV atau bermain sosial media.

Seharusnya Olivia juga bisa sama seperti Devina saat ini, mengajak Lucas dan Darren untuk mengobrol karena ia mengenal baik keduanya, tapi ... rasanya janggal. Apalagi untuk mengajak Lucas bicara, padahal sedari tadi lelaki itu berusaha mencuri pandang ke arah Olivia.

Pembicaraan mereka berhenti saat pramusaji datang membawa makanan pesanan mereka; sore itu mereka memutuskan untuk memesan masing-masing satu porsi Pasta dan Pizza untuk sharing.

“Ini nggak ada jamurnya kan?” tanya Lucas sebelum mereka mulai makan.

Darren dan Devina saling lempar pandang bingung. “Eh, kenapa, Cas?” tanya Devina kepada Lucas.

“Ada jamurnya nggak?” Lucas mengulang pertanyaannya.

Truffle kategori jamur nggak sih...” Devina membalas Lucas dengan nada menggantung sambil melirik lelaki itu.

“Kalo gitu lo jangan makan yang ini, Liv,” ucap Lucas sambil menunjuk piring pasta.

Olivia yang sedang mengambil pizza melirik Lucas dengan tatapan tidak suka. “Kenapa?” tanyanya dingin.

“Lo alergi jamur, Liv.”

Olivia memutar bola matanya, “udah sembuh,” jawab Olivia acuh, kemudian ia mengambil sesendok pasta dan ditaruh di atas piringnya.

Darren yang sedari tadi memperhatikan Lucas dan Olivia bergantian tersenyum, lalu ia mengelus pelan puncak kepala Olivia. “Makan yang banyak ya, cantik,” ucapnya pelan sambil menyelipkan rambut Olivia yang menutupi wajah perempuan itu di balik telinga.

Olivia tersenyum tipis, kemudian ia menyuap pasta itu dengan ragu. Ia ragu karena sebenarnya ia memang belum sembuh dan tidak akan pernah sembuh dari alerginya terhadap jamur, dan Lucas tau benar hal itu.

Ia berharap Lucas akan melarangnya untuk kedua kalinya tapi sepertinya harapan itu tidak akan jadi kenyataan; Lucas kini sibuk menyantap pizza-nya sambil mengobrol dengan Devina.

Rasa kecewa dan kesal bercampur di hati Olivia, matanya tidak lepas memandangi Lucas yang sama sekali tidak mempedulikan dirinya lagi. Ditambah lelaki itu malah asyik sendiri dengan Devina, timbul rasa lain di hati Olivia ... rasa cemburu.

“Liv, mau nambah?” tanya Darren melihat piring Olivia yang sudah kosong karena perempuan itu menyantapnya dengan cepat.

Olivia sendiri kaget, ia tidak sadar makanannya sudah habis karena ia sibuk memperhatikan Lucas. “Hah?”

Darren tertawa pelan, “kamu laper? Sampe nggak nyadar makanan kamu udah abis,” sambung lelaki itu sambil mengambil beberapa sendok pasta untuk Olivia.

“Eh, Ren, banyak banget,” balas Olivia panik tapi Devina menimpalinya, “jangan takut gendut, Liv. Lo mah nggak bakal gendut.”

Olivia tersenyum canggung lalu ia kembali menyantap pasta yang sebenarnya tidak mau ia makan lagi, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menghabiskannya karena Darren yang menyuruhnya.

Lucas menyadari itu semua, ia tahu Olivia yang tidak nyaman dengan pertemuan sore itu, ia juga tahu Olivia sama sekali tidak menikmati makan sorenya. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan selain memandangi perempuan itu.

“Dev, abis ini lo mau kemana lagi?” tanya Lucas setelah mereka semua selesai makan.

Devina mengangkat bahunya, “nggak tau deh, kalian mau kemana?” Devina melemparkan pertanyaan serupa kepada Darren dan Olivia.

“Pulang,” jawab Olivia cepat sebelum Darren menjawab.

“Ha? Pulang?”

“Iya, aku ngantuk,” jawab Olivia asal. Jawaban yang membuat Lucas tersenyum kecil tapi ia buru-buru mengubah ekspresi wajahnya agar tidak ketahuan siapapun. Lucas tahu jawaban itu akan keluar dari mulut Olivia saat ia merasa bosan atau tidak nyaman dengan sekitarnya.

“Kalo kamu masih mau lanjut aku pulang sendiri aja,” sambung Olivia lalu ia bangkit dari duduknya, “gue duluan ya, guys. Sorry. Dev, nanti kasih tau gue aja gue harus patungan berapa buat makan-makan ini,” pamit Olivia lalu ia benar-benar pergi dari situ meninggalkan Darren dan Devina yang masih setengah kaget, tapi tidak dengan Lucas.

“Gue juga cabut deh, ada janji lagi sama temen gue.” Lucas ikut berpamitan dengan Devina dan Darren, “sekalian gue yang bayar di depan. Thanks ya guys, kapan-kapan boleh nongkrong gini lagi,” sambung Lucas lalu ia juga pergi dari meja mereka, tidak lupa sebelumnya ia mampir ke kasir untuk membayar acara makan sore itu.

*

Olivia menunggu di lobby dengan perasaan kesal; sebelumnya ia sudah kesal dengan acara makan-makan itu dan sekarang ditambah ia harus menunggu antrian taksi yang jumlahnya tidak sedikit.

Tin!

Klakson yang cukup nyaring menggema di lobby utama Senayan City sore itu membuat beberapa pengunjung termasuk Olivia mengalihkan perhatian mereka mencari sumber suara klakson itu.

“Liv, ayo!” teriak Lucas dari dalam mobil BMW M2 nya. Benar, barusan adalah suara klakson mobil Lucas yang memanggil Olivia.

Olivia pura-pura tidak peduli, ia mengalihkan pandangannya dari Lucas. Tapi bukan Lucas namanya kalau tidak hobi membuat kegaduhan. Laki-laki itu kembali memainkan klakson mobilnya dengan membunyikannya beberapa kali.

“Mbak, kalo lagi berantem sama pacarnya jangan disini. Berisik klaksonnya.”

Celetukan salah satu calon penumpang taksi yang sedang mengantri membuat Olivia tidak punya pilihan lain selain menumpangi mobil Lucas.

“Welcome, ndoro putri,” sambut Lucas sambil tersenyum lebar. Dibalik kacamata hitamnya Olivia dapat melihat mata Lucas ikut tersenyum saat melihat dirinya masuk ke dalam mobil.

“Berisik, bikin malu aja,” gerutu Olivia sambil memakai seat belt. Lucas hanya terkekeh kemudian ia segera menginjak pedal gasnya, meninggalkan kawasan Senayan yang bercuaca cerah sore itu.

“Balik nih?” tanya Lucas ditengah perjalanan mereka. Diliriknya Olivia yang hanya diam, memandangi jalanan ibukota dari balik jendela. Sudah lama sekali Lucas tidak melihat Olivia duduk di sisi kirinya selama ia menyetir dan jujur saja, ia rindu.

“Eh? Kulit lo kok merah-merah?” Perhatian Lucas teralihkan ke kulit tangan Olivia yang terlihat memerah. Kemerahan itu nampak jelas karena kulit Olivia yang putih pucat ditambah sore itu ia memakai tank top tanpa cardigan.

“Nggak papa, nyetir aja yang bener,” timpal Olivia sambil berusaha menutupi lengannya tapi tangannya kalah cepat dengan Lucas, lelaki itu menarik tangan kanan Olivia dan memandanginya bergantian dengan jalanan.

“Gue nggak papa, nyetir aja yang bener, Lucas. Nanti lo nabrak.” Olivia mempertegas kalimatnya sambil menarik tangannya dari genggaman Lucas.

Lucas tidak menjawab apa-apa, ia mempercepat laju kendaraannya untuk mencari apotik terdekat.

“Ngapain ke apotik? Gue udah bilang gue nggak papa.”

“Nggak papa gimana? Liat, sekarang leher lo ikut merah-merah.”

Lucas memajukan wajahnya ke dekat Olivia dan mengangkat sedikit rambut panjang perempuan itu untuk melihat alergi Olivia yang sepertinya semakin parah karena merambah ke bagian tubuh yang lain.

Nafas Olivia terhenti, pertama kalinya dia dan Lucas berjarak sedekat ini sampai-sampai ia bisa mendengar deru nafas lelaki itu.

“Bentar, gue beliin salep sama obat minum.”

Lucas menarik dirinya lalu keluar dari mobilnya. Begitu Lucas keluar, Olivia menghela nafas lega. “Gila,” gumamnya sendiri.

*

Walaupun awalnya Olivia ngotot bilang ke Lucas kalau dia tidak kenapa-napa, nyatanya sekarang ia mulai merasakan kemerahan di kulitnya menimbulkan rasa panas dan gatal. Ia hampir menangis karena semakin lama rasa gatal dan panas akibat alergi itu semakin mengganggu.

“Liv, lo nggak papa?” tanya Lucas panik saat ia masuk ke dalam mobil dan melihat Olivia sedang meringis menahan rasa panas dan gatal di kulitnya.

“Panas...” gumam Olivia pelan. Lalu Lucas buru-buru membersihkan tangannya dengan tissue basah dan membantu Olivia dengan mengoleskan salep anti alergi yang ia beli ke seluruh permukaan kulit Olivia yang memerah.

“Perih nggak?” tanya Lucas saat ia membantu Olivia mengoleskan salep anti alerginya di leher Olivia. Lagi-lagi Olivia menahan nafasnya karena jarak mereka yang begitu dekat, ditambah Lucas benar-benar telaten saat membantu Olivia; ia mengoleskan salep itu tipis-tipis sambil sesekali meniup permukaan kulit Olivia agar tidak terasa panas lagi.

“Masih ada lagi nggak yang rasanya gatel?” tanya Lucas.

Olivia mengangguk ragu, “Di punggung,” jawab Olivia pelan.

“Yaudah balik badan, sini gue olesin.”

Olivia tidak bergeming. Sedetik kemudian Lucas sadar kekhawatiran Olivia.

“Kaca mobil gue gelap, tenang aja.”

Olivia masih tidak bergeming dari duduknya.

“Gue nggak bakal apa-apain lo, Liv. Nggak bakal ngetawain apalagi ngejahatin lo. Udah buruan balik badan.”

Olivia akhirnya menurut, ia memunggungi Lucas sambil mengangkat rambutnya yang tergerai agar Lucas bisa mengoles salep anti alergi di punggungnya.

“Perih nggak?” tanya Lucas dan dijawab Olivia dengan gelengan pelan.

“Udah. Nih, simpen obatnya. Gue juga beliin obat buat diminum tapi ntar aja minumnya sebelum tidur.”

Lucas memberikan Olivia kantongan berisikan salep dan juga tablet minum yang tadi ia beli di apotik. “Bentar ya,” kemudian lelaki itu kembali keluar mobil, menimbulkan tanda tanya di kepala Olivia.

Tidak sampai 5 menit, Lucas kembali ke mobil dengan dua bungkus es krim coklat di tangannya.

“Nih, buat lo,” ucap Lucas sambil menyodorkan es krim coklat yang sudah ia buka bungkusnya untuk Olivia.

“Keburu cair deh kalo lo kebanyakan bengong,” sambung Lucas sambil mengambil paksa tangan Olivia agar perempuan itu memegang es krimnya sendiri karena Olivia lagi-lagi hanya mematung saat Lucas menyodorkan es krim tadi.

Kemudian Lucas membuka bungkusan es krim coklat miliknya dan menikmatinya dalam diam. Mereka berdua menikmati es krim itu tanpa bersuara, hanya playlist Spotify milik Lucas yang mengalun mengisi kekosongan di mobil sore itu.

Disela acara makan es krim sore itu, Lucas melirik Olivia. Perempuan itu sudah terlihat jauh lebih baik, kemerahan di kulitnya mulai memudar dan sepertinya tidak perih lagi karena Olivia tidak lagi merasa kesakitan. Tidak sengaja kedua manik mata mereka bertemu. Lucas tersenyum, senyuman tulus yang membuat Olivia ikut tersenyum. “Thanks ya, Cas.”

I’ll go anywhere, I’ll do anything ’Long as it’s with you, long as I’m with you Know it could be the smallest thing If you give me a ring, I’ll always answer your call Make it a point, I’ll always be prepared Wherever you are, love, I’ll be there ’Cause I’ll go anywhere, I’ll do anything with you — Gabe Bondoc

Hampir semua mata tertuju pada Kun saat pria itu memasuki ruang kelas Sheryl yang tidak terlalu besar dan menghampiri Sheryl yang terlihat sedang menunggu ibunya.

“Mama mana?” tanya Sheryl dengan wajah penasarannya.

Kun duduk di sebelah Sheryl dan mengelus pelan puncak kepala anak itu. “Mama lagi sibuk. Hari ini Om yang gantiin Mama, nggak papa, ya?”

Kun sudah bersiap untuk mendengar jawaban Sheryl dalam segala bentuk tapi dia tidak menyangka Sheryl akan mengangguk dan menjawab pertanyaannya singkat. “Yaudah, nggak papa.”

Selang beberapa menit, acara pertemuan orang tua itu dimulai. Wali Kelas Sheryl berbicara seputar perkembangan anak-anak didiknya secara terbuka kepada seluruh wali murid yang hadir.

Tidak lupa juga ia memberikan penghargaan kecil kepada beberapa anak didiknya yang dianggap melakukan hal baik selama satu bulan ini; salah satunya Sheryl.

Sheryl mendapatkan penghargaan sebagai murid yang rajin menolong sesama temannya. Dengan senyum lebar, Sheryl maju ke depan kelas dan menerima penghargaan dari wali kelasnya. Tidak lupa Kun mengambil beberapa foto saat Sheryl menerima penghargaan untuk ditunjukkan kepada Alyssa.

*

Acara pertemuan orang tua yang berlangsung selama satu jam itu berakhir dan seluruh murid beserta walinya masing-masing diperbolehkan untuk pulang.

Sambil berjalan menuju mobil Kun, Sheryl tidak henti-hentinya menatap kagum piala yang ia genggam di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam tangan Kun.

“Sheryl seneng banget ya, dapet piala?” tanya Kun.

Sheryl mengangguk, kuncir dua rambutnya bergoyang mengikuti gerakan kepalanya. “Seneng!!”

“Kalo Om gantiin Mama hari ini, seneng nggak?” tanya Kun lagi.

“Mm...”

Saat Sheryl sedang terlihat seperti berpikir, seorang temannya lewat dan mengajaknya bicara. “Sheryl, ini Papa kamu ya?”

Kun teringat kejadian beberapa minggu lalu saat Sheryl mendadak mogok sekolah karena teman-temannya mengejek Sheryl perihal ayahnya. Ia hendak membantu Sheryl untuk menjawab pertanyaan itu tapi Sheryl sudah terlebih dahulu buka suara.

“Iya, ini Papa aku.”

Mata Kun melebar, dilihatnya Sheryl yang kini tersenyum memamerkan giginya yang sebagian masih dalam proses pertumbuhan.

“Halo Om, aku Zidan,” sapa teman laki-laki Sheryl yang bernama Zidan itu ramah, “Sheryl, aku duluan ya, dadah!”

Kemudian Zidan berpamitan dan segera berlari menghampiri ibunya yang sudah menunggu di mobil.

“Sheryl...”

“Om, Om bakal jadi Papa Sheryl kan?” Sheryl memotong Kun yang awalnya ingin mengajak anak itu berbicara.

Kun berhenti melangkah, ia berjongkok agar tingginya sejajar dengan Sheryl lalu merapihkan poni Sheryl yang sedikit berantakan, “Sheryl, Om boleh jadi Papa baru Sheryl?”

Sheryl mengangguk pelan, “Boleh, soalnya Om baik sama Mama.”

Kun hanya diam, ia memandangi Sheryl yang kini membalas tatapannya dengan wajah bingung. “Om kenapa liatin Sheryl?”

Kun menggeleng sambil tersenyum, “nggak papa, Sheryl. Mulai sekarang Om akan pastiin kalau Sheryl dan Mama akan lebih bahagia lagi.”

Wajah Sheryl terlihat sumringah mendengar jawaban Kun, “kalo gitu Sheryl sekarang mau es krim.”

Kalimat Sheryl sukses membuat Kun tertawa, “oke, hari ini kita makan es krimnya berdua aja, ya?”

Sheryl mengangguk semangat dan Kun langsung menggendong Sheryl untuk mempercepat langkah mereka.

“Mama!!” panggil Sheryl bersemangat saat ia melihat sosok ibunya sedang menunggu di lobby. Alyssa tersenyum menyambut putrinya yang meminta dirinya untuk dipeluk dan digendong.

“Hai sayang, gimana mainnya sama Om Kun? Seneng nggak?” tanya Alyssa sambil merapihkan poni Sheryl yang sedikit berantakan.

Sheryl mengangguk, “Tadi Sheryl main sama Om ganteng dua. Soalnya Om ganteng satu sibuk.”

Alyssa mengerutkan dahinya bingung sambil menatap Kun sementara Kun hanya menyengir datar memamerkan giginya, “Saya titipin Sheryl ke Saka, hehe.”

Alyssa menghela nafas panjang, “Tuh kan, Kun, kamu juga ternyata sibuk. Kalau gini mending Sheryl di rumah aja. Kasian Saka,” ucap Alyssa.

Mendengar protes Alyssa, Kun justru tersenyum. Alyssa terlihat dua kali lipat lebih cantik saat ini, “Saka nggak papa kok, Lys. Saya sama sekali nggak ancem dia. Kebetulan kerjaannya dia juga nggak banyak,” balas Kun setengah berbohong; bagian ancam-mengancam Saka tentu saja Kun tidak bisa jujur dengan Alyssa.

“Sheryl sekarang makan siang terus pulang ya? Nanti di rumah main lagi sama Bi Santi.” Alyssa kini gantian mengajak Sheryl bicara. Sheryl hanya mengangguk tanda ia setuju.

*

Selesai makan siang di mal seberang kantor Kun dan Alyssa, kini mereka bertiga kembali dalam perjalanan untuk mengantar Sheryl pulang.

Kali ini tidak ada percakapan baik antara Kun dengan Alyssa ataupun Kun dengan Sheryl, membuat atmosfir canggung tercipta di dalam mobil itu.

“Om,” tiba-tiba si kecil Sheryl memanggil dari car seat nya di jok belakang.

“Apa Sheryl?” tanya Kun sambil melihat Sheryl dari kaca spion tengah.

“Om suka sama Mama ya?”

Baik Kun maupun Alyssa sama sekali tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar begitu saja dari mulut Sheryl.

“Eh, kenapa Sheryl bisa nanya gitu?” tanya Kun sedikit tergagap.

“Soalnya Om baik banget sama Mama.”

“Orang lain juga baik sama Mama kok, Nak,” Alyssa ikut menimpali percakapan mereka.

Sheryl menggeleng, “Nggak. Papa jahat, Oma jahat. Tante di Jogja jahat. Yang baik cuma Om Kun, Bi Santi sama Om Saka. Tapi yang paling baik Om Kun,” balas Sheryl polos.

Alyssa cepat-cepat menghapus air mata dari pelupuknya sebelum air mata itu mengalir bebas di wajahnya. Semua orang tahu kalau kalimat yang keluar dari seorang anak kecil adalah kalimat paling jujur dari lubuk hati mereka.

“Hmm... kalau bener Om suka sama Mama gimana, Sheryl?” Kun memberanikan diri bertanya pada Sheryl karena bagi Kun ia tahu saat ia jatuh hati pada Alyssa, ia harus memenangkan dua hati sekaligus; Alyssa dan juga Sheryl.

“Bagus!” jawab Sheryl sambil mengacungkan jempolnya ke arah Kun. Kun tertawa pelan sementara wajah Alyssa terlihat sedikit memerah.

“Jadi boleh ya, Om suka sama Mama?” Kun sekali lagi berusaha meyakinkan Sheryl.

Sheryl mengangguk semangat hingga kunciran di rambutnya bergoyang mengikuti gerakan kepala, “Boleh dong, Om!”

Kun tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, ia tersenyum sembari melirik ke arah Alyssa yang tersipu malu. Kemudian dengan sisa keberanian yang ada dia meraih tangan kanan Alyssa; digenggamnya erat tangan itu sambil sesekali dielus perlahan.

’Alyssa, start from now I want you to walk on flowery path only.’

Setelah acara makan malam keluarga

“Liv, mau Starbucks nggak?” tawar Lucas dalam perjalanan pulang kami dari Bandung kembali ke Jakarta. Aku tidak menjawab dan hanya membuang muka saat ia melirik ke arahku.

“Udahan dong ngambeknya, kan udah di-take down beritanya,” sambung Lucas dengan nada memelas.

Memang sih berita menyebalkan itu sudah tidak beredar lagi di sosial media, akupun penasaran apa yang dilakukan Lucas hingga bisa dalam waktu kurang dari 24 jam akun sebesar Nyonya Gossip menurunkan cuitannya. Padahal yang aku tau, sekali Nyonya Gossip mem-posting sesuatu, sangat kecil kemungkinan postingan itu untuk di-take down sekalipun beritanya terbukti tidak benar, mereka tetap akan membiarkan cuitannya bertengger di timeline mereka.

“Lucas, lo masih mau kerja bareng BeauSkin?” tanyaku pelan saat mobil BMW M2 Biru Metalik milik Lucas sedang mengantri di drive thru Starbucks Rest Area KM 97 Tol Cipularang.

“Masih, kan bareng sama lo, hehehe.” Lucas menjawab pertanyaanku dengan tawa kecil khasnya. Ia hanya tersenyum melihatku sekilas sebelum kembali memainkan ponselnya.

Kini pikiranku bergumul, haruskah aku menuruti kemauan Darren untuk keluar dari project Beau Skin? Karena jujur saja sebenarnya project ini bisa jadi batu loncatan untuk karirku, tapi di sisi lain aku kembali memikirkan Darren.

Sekilas alasan Darren konyol, dia memintaku keluar dari project itu hanya karena Lucas. Ia takut Lucas menyukaiku. Tapi setelah kupikir, Darren benar juga. Sikap Lucas selama ini terlalu baik untuk ukuran perjodohan. Aktingnya terlalu sempurna. Aku takut kalau dia memang benar jatuh hati padaku...

‘Atau jangan-jangan aku yang jatuh hati padanya?’

“Liv, Olivia,” panggilan Lucas membuyarkan lamunanku. Ia memberikan gelas karton putih kepadaku, “Nih gue beliin Hot Chocolate, biar nanti malem tidurnya nyenyak. Nggak usah pikirin berita yang tadi ya, gue bisa make sure Nyonya Gossip nggak bakal macem-macem sama lo lagi.”

Aku menerima hot chocolate pemberian Lucas dan terdiam memandangi lelaki itu. Sementara Lucas sendiri sibuk menyeruput sedikit demi sedikit Ice Latte nya sambil kembali menyetir dan bersenandung mengikuti alunan musik yang ia pasang di mobilnya.

“Gapapa kan gue pasang musik gini? Biar nggak ngantuk,” ucap Lucas lagi dan lagi-lagi aku menjawab mengangguk seperti orang linglung.

Karena sepenuhnya pikiranku masih dipenuhi lelaki di sampingku ini. Lelaki yang kini melihatku sekilas dan kembali bersuara, “Maaf ya Liv, nggak harusnya gosip tadi ada kalo nyokap bokap gue nggak ngajak keluarga lo makan malem di Bandung. Emang ada-ada aja emak bapak gue.”

Nada bicaranya terdengar bercanda tapi aku yakin ucapan maafnya tulus dari lubuk hati yang paling dalam.

“Darren nggak papa kan? Dia marah sama lo nggak? Atau perlu gue ngomong langsung ke Darren biar dia nggak salah paham?”

Pertanyaan Lucas makin membuatku merasa bersalah karena sedari tadi aku merutuk dan merajuk pada dirinya.

“Dia nggak papa,” jawabku singkat.

“Oh syukur deh,” terdengar helaan lega dari Lucas, “Kalo gitu sekarang lo minum itu hot chocolate nya sebelum dingin. Terus kalo mau tidur, tidur aja. Nanti gue bangunin kalo udah sampe rumah.”

Lucas kemudian kembali fokus menyetir sementara aku sepenuhnya membisu. Pikiranku semakin kusut setelah mendengar apa yang Lucas ucapkan padaku malam ini.

‘Lucas, lo ini beneran bodoh atau pura-pura bodoh sih? Kenapa semakin gue ngedorong lo buat ngejauh, lo malah kayak gini?’

Sepanjang Bandung-Jakarta, walaupun mataku terpejam tapi otakku terus berputar hingga aku sampai di satu tekad yang kubulatkan malam ini juga; aku harus keluar dari project Beau Skin. Alasannya bukan karena Darren tapi aku sendiri.

Aku takut jatuh hati padanya.

cw // slight 🔞

Olivia mengenakan cardigan nya dengan malas saat ia mendengar deru mesin mobil milik Darren di depan rumahnya. Sebenarnya ia enggan bertemu Darren malam itu, selain waktunya yang memang sudah terlalu malam untuk seseorang bertamu, ada perasaan aneh lainnya yang sulit diungkapkan Olivia.

“Hi, Liv,” sapa Darren saat ia keluar dari mobilnya dan mendapati Olivia berdiri di ambang pintu rumahnya.

“Ada apa, Ren?” tanya Olivia tanpa basa-basi. Ia merapatkan cardigannya saat udara dingin berhembus dan membuat tubuhnya sedikit menggigil.

“Ngobrol di dalem aja yuk, biar lo nggak kedinginan,” jawab Darren. Ia membalikkan tubuh Olivia lalu mendorong bahu perempuan itu agar ia masuk ke dalam. Olivia seperti tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan Darren.

“Ada apa, Ren?” Olivia mengulang pertanyaannya setelah mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu.

“Mm sebenernya gue nggak mau ngelakuin ini disini, Liv. Gue udah ada rencana sendiri. Tapi kayaknya gue nggak bisa nunggu sampe waktu yang seharusnya.”

Dahi Olivia berkerut. Sungguh ia tidak paham dengan maksud Darren. Sudah terlalu malam, otaknya sudah malas untuk berpikir.

“Gue suka sama lo, Liv.” Darren memperjelas kalimatnya.

Olivia terdiam. Dilihatnya Darren yang kini mengambil kedua tangannya dan menggenggamnya dengan cukup erat, “Lo mau kan, jadi pacar gue?”

Olivia tidak langsung menjawab pertanyaan Darren. Sebenarnya pertanyaan itu mudah karena ia juga menyukai lelaki itu. Tapi entah kenapa mulutnya sulit diajak bekerjasama seolah sebagian dari dirinya melarang dia untuk memacari lelaki itu.

“Liv? Gue tau lo juga suka sama gue. Dari pertama kali kita ketemu, terus kita sempet bareng di beberapa event, gue tau lo suka gue. Dan gue juga suka sama lo. So, kita pacaran ya?”

Walaupun mulut Olivia tidak menjawab ya, tetapi kepalanya mengangguk, mengiyakan ajakan Darren.

Darren tersenyum lebar, kemudian tangannya mulai mengusap pelan puncak kepala Olivia, menyelipkan rambut panjang Olivia ke balik telinga perempuan itu, dan berakhir dengan memegang pipi kanan perempuan itu.

Seperti tersihir oleh tatapan Darren, Olivia menutup pelan matanya saat Darren mendekatkan wajahnya. Sedetik kemudian, Olivia dapat merasakan bibir lembab Darren menyentuh bibirnya.

Ini kali pertama untuk Olivia dan ia sama sekali tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya mengikuti Darren yang kini mulai melumat bibirnya.

“Liv, tau French Kiss nggak?”

Olivia menggeleng polos. Darren hanya tersenyum kecil dan ia kembali membungkam Olivia dengan ciumannya dan mendorong Olivia perlahan hingga perempuan itu sepenuhnya rebah di atas sofa dan kini tangan kirinya yang masih bebas bergerak mulai membuka cardigan milik Olivia.

Tapi semua itu hanya sesaat. Seperti disadarkan dari sihir Darren, Olivia mencengkram tangan kiri Darren dengan kuat sehingga lelaki itu berhenti, lalu ia segera duduk lagi.

“Liv? Kenapa?”

“Ren, kita baru jadian lho? Aku pikir nggak seharusnya kita begini?”

Darren mendengus pelan, “Itu cuma pikiran kamu aja, Liv. Kayak gini hal biasa kok. Kita saling suka, apa salahnya?”

“Tetep aja, aku nggak bisa,” balas Olivia lagi.

Darren terlihat kecewa tapi sedetik kemudian raut kecewanya berubah menjadi senyuman, “Oke sayang,” ucapnya dengan tawa yang agak dipaksakan.

“Kamu pulang ya? Udah kemaleman, aku nggak enak sama tetangga.”

Darren bangkit dari duduknya, “Oke, kalo gitu aku pulang dulu. Met malam, cantikku,” ucap Darren lalu ia mengecup pelan kening Olivia dan segera pergi dari situ.

Lima menit setelah kepergian Darren, air mata Olivia mengalir. Ia merapatkan kembali cardigannya lalu ia meringkuk di atas sofa ruang tamunya, pikirannya seperti menyesali keputusan yang ia buat beberapa menit lalu.

Sebuah keputusan yang tepat bagi Alyssa untuk menyekolahkan Sheryl tidak jauh dari kantornya agar jika ada urusan mendadak ia bisa segera datang, seperti halnya siang ini.

Saat Alyssa sedang bersiap untuk makan siang dengan Kun, wali kelas Sheryl menelepon dan menginfokan kalau Sheryl menangis dan merajuk tidak mau mengikuti kegiatan sekolahnya hari itu.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah Sheryl, terlihat raut cemas di wajah Alyssa. Kun melirik sekilas dan ia berusaha untuk menghibur Alyssa, “Sheryl nggak kenapa-napa, Lys. Namanya juga anak-anak, pasti ada masanya dia ngambek kayak gini. Yang penting dia baik-baik aja, masih di sekolah dan dalam pengawasan gurunya.”

Alyssa hanya mengangguk, Kun ada benarnya juga. Ia akhirnya berusaha untuk lebih tenang hingga mobil Kun tiba di halaman parkir sekolah Sheryl.

Begitu melihat sosok ibunya, Sheryl berlari sambil menangis, “Mama...” panggil Sheryl merengek.

Alyssa memeluk Sheryl lalu menggendongnya sambil berusaha menghapus air mata Sheryl, “Sheryl kenapa? Kok nangis?”

“Sheryl nggak mau sekolah!” jawab Sheryl dan tangisnya semakin keras. Alyssa berjalan menuju ujung koridor agar tangis Sheryl tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar siang itu. Sementara Kun mengajak wali kelas Sheryl untuk bicara yang sedari tadi berdiri disana bersama mereka.

“Maaf Bu, apa yang terjadi sama Sheryl ya? Karena yang saya tahu Sheryl anaknya semangat sekali setiap mau sekolah.”

Wali kelas Sheryl menunjukkan raut wajah tidak mengenakkan tapi mau tidak mau ia harus menjelaskan titik permasalahannya, “Teman-teman Sheryl mengejek kalau Sheryl nggak punya papa lagi karena papanya menikah lagi dengan orang lain.”

Kun menghela nafas pendek, ia yakin lambat laun Sheryl pasti akan mengetahui kabar pernikahan kedua papanya dan buruknya ia mengetahui kabar itu dari orang lain, bukan dari mama ataupun papanya.

Selesai berbicara dengan wali kelas Sheryl, Kun berpamitan dan menghampiri Alyssa yang kini berada di taman sekolah, sedang berusaha menenangkan Sheryl sekaligus mengajak putri kecilnya untuk bicara.

“Sheryl,” panggil Kun lembut. Sheryl yang sedari tadi menggayut manja pada ibunya menoleh, “Om Kun?”

Kun mengangguk pelan sambil tersenyum, “Nggak sadar ya, ada Om disini?”

Sheryl menggeleng, “Sheryl nggak mau sekolah,” ucapnya lagi. Entah sudah berapa kali setiap ditanyai pertanyaan Sheryl akan selalu menjawab dengan jawaban yang sama.

Sheryl kemudian kembali memalingkan wajahnya dan menyandarkan dagunya di atas bahu Alyssa. Ia sudah tidak menangis, tapi masih mogok untuk bicara.

“Lys, dia tau,” ucap Kun pelan. Pelan dan sebisa mungkin bahasanya tidak dimengerti Sheryl. Dahi Alyssa sedikit berkerut karena ia juga ikut tidak mengerti.

“Dia tau pernikahan papanya,” ucap Kun lagi.

Begitu Alyssa paham, ia langsung menghela nafas panjang lalu melirik Sheryl yang sepertinya tertidur di pelukannya.

“Saya harus gimana, Kun?” tanya Alyssa bingung.

“Nanti kita coba ajak bicara Sheryl lagi. Sekarang saya anter kamu sama Sheryl pulang dulu yuk,” balas Kun sambil memberikan kunci mobilnya ke Alyssa, “Kamu duluan aja ke mobil, saya ambil tasnya Sheryl dulu di kelas.”

Belum sempat Alyssa membalas kalimat Kun, pria itu sudah pergi meninggalkannya. Alyssa menatap punggung Kun yang perlahan menjauh darinya.

Pria yang selalu ada setiap Alyssa kesulitan, bahkan disaat Alyssa merasa bahwa ia tinggal sendiri, pria itu hadir. Tidak peduli apapun masalah yang menerpa dirinya, ia selalu memberikan pertolongan pada Alyssa.

Satu hal yang Alyssa tidak bisa berhenti kagumi, ia selalu menyematkan kata “kita” pada setiap kalimatnya, meyakinkan Alyssa kalau segala persoalan selalu lebih baik jika dihadapi bersama.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam saat Kun selesai menganalisa kliennya yang terakhir. Tidak mudah baginya untuk menangani beberapa klien sekaligus tapi ia sendiri yang memaksa Hans untuk menugasinya dengan setumpuk pekerjaan agar kepalanya tidak dipenuhi hal lain.

Iya, hal lain itu tak lain tak bukan adalah Alyssa.

Selesai merapihkan meja kerjanya, Kun segera mematikan lampu meja miliknya dan keluar dari kantornya yang sudah gelap. Setelah berpamitan dengan security yang bertugas malam itu, ia menaiki lift untuk turun ke lantai dasar.

Lantai dasar gedung perkantoran itu sudah kosong, bahkan beberapa lampu dimatikan sehingga pencahayaannya tidak terlalu terang, tetapi tidak mengurangi radar penglihatan Kun yang menangkap sosok yang ia kenal betul siapa itu begitu ia keluar dari lift.

Sosok itu duduk sendirian, diantara meja-meja dengan bangku yang sudah terangkat. Ia hanya ditemani segelas kopi yang Kun yakini pasti sudah tidak bersisa lagi. Ia terlihat tenang, seperti tidak peduli sudah berapa lama ia duduk menunggu disitu.

Kun menghela nafas pendek, ia tidak punya pilihan lain selain menghampiri sosok itu. “Lys,” panggilnya pendek.

Yang dipanggil menoleh lalu memberikan senyuman terbaiknya, “Udah selesai semua kerjaannya?” tanyanya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.

“Kamu ngapain disini? Saya kan udah bilang saya banyak kerjaan.”

“Dan saya juga bilang saya perlu bicara sama kamu,” balas sosok bernama Alyssa itu lugas.

Kun memijat pelipisnya, “Apa yang mau dibicarain, Alyssa?”

“Tolong kamu berhenti bersikap dingin sama Saka,” jawab Alyssa dan dibalas Kun dengan seringai kecil.

“Saya nggak bersikap dingin sama dia, saya memang kayak gini. Kantor lagi hectic hour, nggak ada waktu buat bercandaan.”

“Saya tau kamu marah sama dia karena dia ajak kita makan malam Jumat kemarin dan berujung dengan sikap saya ke kamu pas kita pulang.”

Alyssa menghela nafas, berusaha untuk tidak terbawa emosinya, “Harusnya yang marah itu saya, Kun. Kenapa jadi kamu?”

Kun tidak langsung menjawab pertanyaan Alyssa, ia hanya melihat sekilas wanita itu yang masih menatapnya lekat.

Sama sekali tidak terlihat amarah dalam tatapannya, malah tatapan teduh penuh dengan rasa penasaran yang ia berikan kepada Kun.

“Harusnya saya yang marah, saya yang belum siap, saya yang masih bergelut sama perasaan saya sendiri, bukan kamu.” Alyssa melanjutkan lagi kalimatnya.

“Saya juga marah, Lys,” kali ini Kun angkat bicara, “Saya marah sama diri saya sendiri. Saya nggak bisa tahan ego saya dengan bersikap seperti kemarin. Saya yang terlalu berekspetasi tinggi sama kamu, saya—“

Kalimat Kun terputus karena kini Alyssa memeluk pria itu erat. Sangat erat hingga Kun dapat merasakan hangatnya pelukan itu mampu meluruhkan segala emosi yang berkecamuk di hatinya sejak beberapa hari lalu.

“Berhenti salahin diri kamu sendiri, Kun. Tolong berhenti...” ucap Alyssa lirih dan tanpa ia sadari, air matanya mengalir pelan di pipinya.

“Maaf, karena sikap saya kemarin, saya bikin kamu jadi begini. Maaf,” sambung Alyssa lagi.

Kun segera melepaskan diri dari pelukan Alyssa, ibu jarinya dengan lembut menghapus air mata dari wajah wanita itu, “Lys, berhenti nangisnya,” pinta Kun pelan.

Alyssa mengangguk, “Tapi kamu juga tolong berhenti salahin diri kamu sendiri ya? Dan juga berhenti bersikap dingin sama Saka.”

Gantian Kun yang mengangguk pelan, ia kembali mengusap wajah Alyssa memastikan tidak ada air mata yang tertinggal.

Masih dengan jarak berdiri yang berdekatan, Alyssa memanggil pria itu, “Kun,” lalu tangannya menangkap tangan kanan Kun dan digenggamnya erat, “Maaf kalau saya jawab pertanyaan kamu terlambat,” sambung Alyssa.

Kun menaruh perhatiannya penuh pada Alyssa, menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut wanita itu, “Tentang perasaan saya... saya mau coba balas perasaan kamu ke saya.”

Kun menunjukkan ekspresi yang sulit dideskripsikan, kaget tidak percaya bercampur senang tapi belum sepenuhnya ia bisa senang, semua jadi satu.

“Alyssa, kamu yakin?” tanya Kun meyakinkan wanita itu.

Alyssa mengangguk pelan, “Saya udah pikirin ini baik-baik, Kun. Saya harap saya nggak buat keputusan yang salah lagi.”

Kun tersenyum manis, manis sekali hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas di wajahnya. Senyuman yang selama ini ia sembunyikan dibalik self-blaming nya.

“Saya pastikan kamu nggak buat keputusan yang salah, Alyssa.”

Jakarta, Maret 2020

Malam itu sekitar pukul 8, Lucas selesai membantu Olivia membereskan barang-barang pindahannya. Olivia yang baru datang dari Semarang tidak terlalu banyak bicara karena ini adalah pertemuan pertama dirinya dengan Lucas, yang merupakan anak dari sahabat orang tua Olivia sekaligus lelaki yang dijodohkan orangtuanya.

”Udah kan ya? Gue balik ya, ngantuk,” kata Lucas berpamitan dengan Olivia setelah dilihatnya hampir 80% barang perempuan itu telah tersusun rapi, “besok kalo masih perlu bantuan gue, telfon aja, gue bakal bantuin lo supaya orang tua kita nggak rewel,” sambung Lucas.

”Cas,” panggil Olivia pelan saat Lucas sedang berjalan menuju pintu ruang tamu rumahnya, “Lo juga menentang perjodohan ini kan?” tanya Olivia.

Lucas mengangguk, “Gue bakal terus usaha supaya bokap nyokap kita ngebatalin perjodohan konyol ini,” balas Lucas.

”Oke, kalo gitu hati-hati,” ucap Olivia. Lucas hanya mengangguk kemudian pria itu segera pergi dengan mobil BMW M2 miliknya.

Belum lama Lucas keluar dari kawasan rumah Olivia, ponselnya berdering. Ia menekan tombol ‘call’ di stir mobilnya dan terdengar suara panik Olivia mengisi speaker mobilnya, “Cas, t-tolongin gue.”

”Lo kenapa, Liv?” tanya Lucas setengah panik. Ia segera mencari tempat untuk berputar balik ke rumah Olivia.

”Kayaknya ada yang masuk ke rumah...”

”Oke. Dengerin gue baik-baik. Jangan tutup telfonnya dan pasang loudspeaker sekarang juga. Gue otw balik rumah lo. Tunggu.”

Olivia dengan taat mengikuti instruksi Lucas sampai lelaki itu tiba, “Siapa yang lo maksud masuk ke rumah?” tanya Lucas saat Olivia membukakan pintu untuknya.

Olivia tidak berkata apa-apa, ia hanya menunjuk pintu kamarnya yang sudah terbuka dan Lucas pun segera menuju kamarnya. Olivia berdiri di ambang pintu sementara Lucas perlahan masuk ke dalam kamar Olivia.

Di atas ranjang Olivia terdapat sebuah kotak berwarna pink muda berbalut pita berwarna pink lebih tua. Kotak tersebut sudah terbuka dan Lucas dapat melihat isinya; sebuah kertas yang ditulis entah dengan tinta berwarna merah atau mungkin darah yang berbunyi, Olivia, you can’t hide from me. I’ll follow you until you die.

“Tadi begitu gue pulang, lo ngapain?” tanya Lucas sambil mengambil kertas dari dalam kotak itu dan membaca kembali pesan yang tertulis di atasnya.

“Ke kamar mandi, terus gue beresin dapur bentar, terus pas gue ke kamar ada kotak itu,” jawab Olivia pelan.

“Pintu semua lo kunci? Jendela?” tanya Lucas lagi kali ini ia sambil membereskan kotak pink itu dan membawanya keluar.

Olivia mengangguk cepat, “Gue kunci semua kok.”

Lucas sekilas melirik ke arah jendela kamar Olivia yang dirasa janggal tapi dia memilih untuk diam agar perempuan itu semakin tidak merasa takut, “Sekarang lo mau gimana? Berani nggak tidur sendirian?”

Olivia menggeleng pelan, “Lo mau nggak temenin gue?”

“Yaudah, bentar gue buang dulu ini,” jawab Lucas sambil mengangkat kotak misterius tadi dan pergi keluar rumah Olivia untuk membuangnya di tong sampah depan.

cw // animal death, blood, threatening

Sabtu sore itu seperti sabtu sore-sore sebelumnya, Kokas selalu ramai dengan pengunjungnya. Ada yang sekedar jalan-jalan santai, ada yang berkumpul dengan teman dan keluarga dan tidak sedikit juga yang datang untuk menyaksikan acara yang disuguhkan di atrium mal tersebut.

Tepat pukul 3 sore, MC acara launching produk terbaru dari BeauSkin naik ke atas panggung. Ia berbicara sepatah dua patah kata sebagai kata pembuka sebelum memanggil Olivia sebagai brand ambassador dan Lucas yang ikut hadir sebagai tamu dadakan sore itu.

Olivia dan Lucas berdiri di tengah panggung berdampingan dengan sedikit canggung, pasalnya sedari tadi saat mereka menunggu di backstage, mereka tidak mengobrol sepatah katapun. Lucas sibuk berbincang dengan Sheila yang dari awal Lucas datang sudah menempeli lelaki itu sementara Darren yang pamit membeli minuman tidak kunjung datang hingga waktunya Olivia naik ke atas panggung, membuat Olivia kesal sendirian selama di backstage.

“Bagi teman-teman yang mungkin bingung, kok tiba-tiba ada cowok ganteng sih disini, nih aku kasih tau ya,” kata MC cowok yang kali ini berdiri diantara Lucas dan Olivia, “Jadi, pre-order produk BeauSkin tuh mendadak naik dua kali lipat karena Lucas kemarin nge-post di Instagramnya! Bener gitu kan ya, Lucas?” kali ini sang MC menyodorkan microphone nya ke arah Lucas.

“Katanya sih iya, hehe...” jawab Lucas gugup. Dari atas lantai 1 Hendery, Dejun, Winwin serta Kalina melihat bagaimana gugupnya Lucas di panggung hanya bisa terkekeh.

“Nah, karena itu kita mau ngobrol-ngobrol lebih jauh lagi nih sama Lucas dan juga Olivia seputar skin care routine yang mereka lakuin sehari-hari di rumah. Yuk kita duduk disini,” kemudian sang MC meminta Lucas dan Olivia untuk duduk di bangku yang telah disiapkan untuk sesi wawancara.

Sesi wawancara itu berlangsung cepat, kurang lebih 20 menit, lalu disambung dengan games untuk penonton yang hadir sebelum akhirnya masuk ke puncak acara yaitu sesi fansign, dimana mereka yang memesan produk terbaru BeauSkin pada masa pre-order pertama namanya diundi dan 10 nama yang terpilihlah yang bisa memenangkan acara fansign sore itu.

Kini Lucas dan Olivia sudah duduk berdampingan di kursi dengan meja dihadapan mereka, siap untuk membagikan tanda tangan mereka secara cuma-cuma sebagai bentuk apresiasi untuk customer BeauSkin yang terpilih.

Sesi fansign berlangsung dengan tertib. Yang terpilih untuk fansign dengan kompak membawa bingkisan kecil untuk Lucas dan juga Olivia. Mereka juga diperbolehkan untuk mengambil selfie bersama Lucas dan Olivia.

“Nah, sebelum kita tutup acara hari ini, aku mau nih Olivia sama Lucas pilih salah satu kado yang tadi dikasih sama pemenang fansign trus kita sama-sama unboxing disini,” kata sang MC sambil mempersilahkan Olivia dan Lucas untuk memilih secara random kotak-kotak kado yang tadi mereka terima dalam sesi fansign.

“Oke, kita mulai dari Lucas dulu ya,” ucap sang MC lalu Lucas membuka kotak kado yang ia pilih dan terdapat beberapa pasang kaos kaki.

“Terima kasih ya,” ujar Lucas saat MC mengarahkan mic nya ke mulut Lucas, sambil ia mengangkat kaos kaki yang ia terima dengan wajah sumringah.

“Gantian yuk sekarang Olivia,” ucap sang MC dan tanpa ragu Olivia langsung membuka kotak kadonya.

“Arrrgh!”

Semua yang berdiri di atas panggung refleks mundur selangkah saat Olivia membuka kotaknya dan menjatuhkannya.

Kotak Olivia berisikan seekor bangkai tikus besar yang disertai dengan sebuah kertas besar berisikan ”Olivia, you should die” yang ditulis dengan darah dari tikus mati itu.

Seketika acara launching produk skin care itu langsung berubah mencekam. Para penonton di barisan depan langsung bubar tidak beraturan sementara yang dibarisan belakang berusaha mencari tau apa yang terjadi di panggung. Hendery, Dejun, Winwin dan Kalina yang menonton dari lantai satu pun segera turun menyusuli Lucas dan Olivia.

Dengan cepat MC segera memanggil petugas keamanan untuk mengambil kotak milik Olivia dan menyingkirkannya darisitu, sementara Lucas langsung menghampiri Olivia dan merangkul tubuh mungil perempuan itu, mengajaknya turun panggung.

Sampai di backstage, Lucas memberikan sebotol air putih kepada Olivia tapi perempuan masih gemetaran cukup hebat sehingga Lucas tidak melepas rangkulannya sedetikpun.

“C-cas... Gue takut...” ucap Olivia pelan. Tersirat jelas ketakutan dari raut wajah dan nada bicara Olivia, “Nggak usah takut, ada gue. Gue akan mastiin lo ngga kenapa-napa dan gue akan cari tau siapa yang kirim kotak tadi,” balas Lucas berusaha menenangkan Olivia.

Olivia hanya mengangguk, sementara Lucas kini melepas jas yang ia kenakan dan menyampirkannya ke tubuh Olivia, “Bentar, gue tanya panitia dulu ya kita udah boleh balik apa belum.”

Secepat kilat Lucas mencari siapapun panitia yang bisa ia tanyai dan saat ia mendapatkan izin untuk pulang, ia langsung mengambil barang-barang milik Olivia dan mengajak perempuan itu pergi dari situ.

“Om Kun!!!” panggil Sheryl semangat saat melihat sosok Kun di depan pintu rumahnya. Ia tidak segan untuk menghamburkan dirinya dalam pelukan Kun, membuat pria itu tidak punya pilihan lain selain menangkapnya dan membalas pelukannya.

“Hai cantik, apa kabar?” tanya Kun setelah Sheryl melepas pelukannya.

“Baik dong, Sheryl udah mulai sekolah dong, Om. Ohiya terus Sheryl juga ikut les ballet. Nanti kapan-kapan Om harus liat Sheryl ballet ya?”

Kun mengangguk tersenyum sambil mengacak pelan poni Sheryl.

“Hai Kun,” sapa Alyssa ramah. Wanita itu terlihat berbeda dengan penampilan sebelumnya saat ia masih kalut dengan permasalahan Sheryl. Wajahnya terlihat lebih berseri sementara gaya pakaiannya terlihat lebih modis.

“Hai, Lys,” balas Kun sambil menatap kagum Alyssa. Pagi itu Alyssa hanya mengenakan kaos putih polos dengan celana jeans skinny semata kaki dan dipadu dengan sepatu heels setinggi 3cm, rambut panjangnya dicepol asal. Sederhana, tapi mampu memikat hati siapapun tidak terkecuali Kun.

“Kita langsung berangkat aja ya?” tanya Kun dan dijawab dengan anggukan Alyssa.

*

Sabtu itu Kun memutuskan mengajak Sheryl dan Alyssa menghabiskan waktu di Sentul, kebetulan Kun menemukan restoran untuk makan siang yang juga memiliki playground untuk anak-anak bermain.

“Kun, makasih banyak ya, sebenernya nggak perlu repot-repot lho sampe ajak saya dan Sheryl ke Sentul kayak gini,” ucap Alyssa di tengah acara makan siang mereka.

Kun tersenyum simpul, “Duh Lys, berapa kali saya harus bilang, kamu dan Sheryl nggak pernah ngerepotin saya sama sekali.”

Alyssa hanya mengusap tengkuknya, lalu dilihatnya Sheryl yang sedang berlari kecil menghampiri meja mereka, “Sheryl seneng gak hari ini?” tanya Alyssa saat si kecil Sheryl sedang mengesap jus Alpukat.

Sheryl mengangguk-angguk, “Seneng, Ma. Bisa nggak tiap minggu kita pergi kayak gini?” tanyanya polos.

Alyssa langsung melihat ke arah Kun yang sudah siap untuk menjawab pertanyaan Sheryl, “Mm mungkin nggak setiap minggu, tapi kalau sebulan sekali, Sheryl mau?” tawar Kun.

“Mau!!” jawab Sheryl senang lalu putri kecil itu kembali bermain di playground yang terletak tidak jauh dari mejanya.

“Kun...”

“Lys, saya tahu alasan kamu tolak saya karena Sheryl. Tapi saya mau buktiin ke kamu kalau saya sama sekali nggak keberatan dengan keberadaan Sheryl. Saya mau buktiin kalau saya nggak cuma sayang sama kamu, tapi saya juga sayang Sheryl.”

Alyssa terdiam mendengar kalimat Kun. Kalimat yang terdengar klise dan siapapun bisa dengan mudahnya mengucapkan kalimat itu. Tapi Kun terdengar tulus, tidak ada niat terselubung di balik kata-katanya.

’Kun, haruskah saya buka hati buat kamu?’