Anywhere Anything

Olivia tidak dapat menyembunyikan ekspresi kaget saat ia melihat Lucas berjalan menghampiri dirinya dan juga Darren dan Devina.

“Sorry ya gue telat,” kata Lucas sopan kepada Devina. Diliriknya sekilas Olivia yang buru-buru membuang wajah ke arah lain.

“It’s okay, Cas. Duduk sini,” balas Devina sambil ia menggeser sedikit tubuhnya ke sebelah kanan, mengizinkan Lucas duduk di sisi kirinya dan berhadapan dengan Olivia.

“Gue gak perlu ngenalin lo ke Olivia lagi kan?” tanya Devina dengan nada bercanda kepada Lucas, “Liv, kenalin Darren ke Lucas dong. Eh, atau mereka udah kenalan?” gantian Devina mengajak Olivia bicara.

Olivia tersenyum canggung, “kenalin, Ren, ini Lucas,” ucap Olivia kepada Darren.

Darren mengulurkan tangannya dan Lucas menyambutnya. “Lucas,” ucap lelaki itu dengan suara rendah khasnya.

“Darren,” balas Darren singkat dan ia segera melepaskan jabatan tangannya dengan Lucas.

Sambil menunggu makanan mereka datang, Devina ketara sekali memimpin obrolan mereka. Ia tidak canggung mengajak Lucas dan Darren mengobrol bergantian, bahkan tidak jarang membuat Lucas tertawa. Mungkin juga karena sifat Lucas yang outgoing, ia mudah berbaur dengan Devina dan Darren, membuat suasana obrolan sore itu tidak canggung.

Berbeda dengan Olivia yang lebih introvert, dasarnya Olivia memang kurang suka bersosialisasi seperti ini. Dia lebih senang mengurung diri di rumah dan menghabiskan waktu sendiri dengan menonton TV atau bermain sosial media.

Seharusnya Olivia juga bisa sama seperti Devina saat ini, mengajak Lucas dan Darren untuk mengobrol karena ia mengenal baik keduanya, tapi ... rasanya janggal. Apalagi untuk mengajak Lucas bicara, padahal sedari tadi lelaki itu berusaha mencuri pandang ke arah Olivia.

Pembicaraan mereka berhenti saat pramusaji datang membawa makanan pesanan mereka; sore itu mereka memutuskan untuk memesan masing-masing satu porsi Pasta dan Pizza untuk sharing.

“Ini nggak ada jamurnya kan?” tanya Lucas sebelum mereka mulai makan.

Darren dan Devina saling lempar pandang bingung. “Eh, kenapa, Cas?” tanya Devina kepada Lucas.

“Ada jamurnya nggak?” Lucas mengulang pertanyaannya.

Truffle kategori jamur nggak sih...” Devina membalas Lucas dengan nada menggantung sambil melirik lelaki itu.

“Kalo gitu lo jangan makan yang ini, Liv,” ucap Lucas sambil menunjuk piring pasta.

Olivia yang sedang mengambil pizza melirik Lucas dengan tatapan tidak suka. “Kenapa?” tanyanya dingin.

“Lo alergi jamur, Liv.”

Olivia memutar bola matanya, “udah sembuh,” jawab Olivia acuh, kemudian ia mengambil sesendok pasta dan ditaruh di atas piringnya.

Darren yang sedari tadi memperhatikan Lucas dan Olivia bergantian tersenyum, lalu ia mengelus pelan puncak kepala Olivia. “Makan yang banyak ya, cantik,” ucapnya pelan sambil menyelipkan rambut Olivia yang menutupi wajah perempuan itu di balik telinga.

Olivia tersenyum tipis, kemudian ia menyuap pasta itu dengan ragu. Ia ragu karena sebenarnya ia memang belum sembuh dan tidak akan pernah sembuh dari alerginya terhadap jamur, dan Lucas tau benar hal itu.

Ia berharap Lucas akan melarangnya untuk kedua kalinya tapi sepertinya harapan itu tidak akan jadi kenyataan; Lucas kini sibuk menyantap pizza-nya sambil mengobrol dengan Devina.

Rasa kecewa dan kesal bercampur di hati Olivia, matanya tidak lepas memandangi Lucas yang sama sekali tidak mempedulikan dirinya lagi. Ditambah lelaki itu malah asyik sendiri dengan Devina, timbul rasa lain di hati Olivia ... rasa cemburu.

“Liv, mau nambah?” tanya Darren melihat piring Olivia yang sudah kosong karena perempuan itu menyantapnya dengan cepat.

Olivia sendiri kaget, ia tidak sadar makanannya sudah habis karena ia sibuk memperhatikan Lucas. “Hah?”

Darren tertawa pelan, “kamu laper? Sampe nggak nyadar makanan kamu udah abis,” sambung lelaki itu sambil mengambil beberapa sendok pasta untuk Olivia.

“Eh, Ren, banyak banget,” balas Olivia panik tapi Devina menimpalinya, “jangan takut gendut, Liv. Lo mah nggak bakal gendut.”

Olivia tersenyum canggung lalu ia kembali menyantap pasta yang sebenarnya tidak mau ia makan lagi, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menghabiskannya karena Darren yang menyuruhnya.

Lucas menyadari itu semua, ia tahu Olivia yang tidak nyaman dengan pertemuan sore itu, ia juga tahu Olivia sama sekali tidak menikmati makan sorenya. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan selain memandangi perempuan itu.

“Dev, abis ini lo mau kemana lagi?” tanya Lucas setelah mereka semua selesai makan.

Devina mengangkat bahunya, “nggak tau deh, kalian mau kemana?” Devina melemparkan pertanyaan serupa kepada Darren dan Olivia.

“Pulang,” jawab Olivia cepat sebelum Darren menjawab.

“Ha? Pulang?”

“Iya, aku ngantuk,” jawab Olivia asal. Jawaban yang membuat Lucas tersenyum kecil tapi ia buru-buru mengubah ekspresi wajahnya agar tidak ketahuan siapapun. Lucas tahu jawaban itu akan keluar dari mulut Olivia saat ia merasa bosan atau tidak nyaman dengan sekitarnya.

“Kalo kamu masih mau lanjut aku pulang sendiri aja,” sambung Olivia lalu ia bangkit dari duduknya, “gue duluan ya, guys. Sorry. Dev, nanti kasih tau gue aja gue harus patungan berapa buat makan-makan ini,” pamit Olivia lalu ia benar-benar pergi dari situ meninggalkan Darren dan Devina yang masih setengah kaget, tapi tidak dengan Lucas.

“Gue juga cabut deh, ada janji lagi sama temen gue.” Lucas ikut berpamitan dengan Devina dan Darren, “sekalian gue yang bayar di depan. Thanks ya guys, kapan-kapan boleh nongkrong gini lagi,” sambung Lucas lalu ia juga pergi dari meja mereka, tidak lupa sebelumnya ia mampir ke kasir untuk membayar acara makan sore itu.

*

Olivia menunggu di lobby dengan perasaan kesal; sebelumnya ia sudah kesal dengan acara makan-makan itu dan sekarang ditambah ia harus menunggu antrian taksi yang jumlahnya tidak sedikit.

Tin!

Klakson yang cukup nyaring menggema di lobby utama Senayan City sore itu membuat beberapa pengunjung termasuk Olivia mengalihkan perhatian mereka mencari sumber suara klakson itu.

“Liv, ayo!” teriak Lucas dari dalam mobil BMW M2 nya. Benar, barusan adalah suara klakson mobil Lucas yang memanggil Olivia.

Olivia pura-pura tidak peduli, ia mengalihkan pandangannya dari Lucas. Tapi bukan Lucas namanya kalau tidak hobi membuat kegaduhan. Laki-laki itu kembali memainkan klakson mobilnya dengan membunyikannya beberapa kali.

“Mbak, kalo lagi berantem sama pacarnya jangan disini. Berisik klaksonnya.”

Celetukan salah satu calon penumpang taksi yang sedang mengantri membuat Olivia tidak punya pilihan lain selain menumpangi mobil Lucas.

“Welcome, ndoro putri,” sambut Lucas sambil tersenyum lebar. Dibalik kacamata hitamnya Olivia dapat melihat mata Lucas ikut tersenyum saat melihat dirinya masuk ke dalam mobil.

“Berisik, bikin malu aja,” gerutu Olivia sambil memakai seat belt. Lucas hanya terkekeh kemudian ia segera menginjak pedal gasnya, meninggalkan kawasan Senayan yang bercuaca cerah sore itu.

“Balik nih?” tanya Lucas ditengah perjalanan mereka. Diliriknya Olivia yang hanya diam, memandangi jalanan ibukota dari balik jendela. Sudah lama sekali Lucas tidak melihat Olivia duduk di sisi kirinya selama ia menyetir dan jujur saja, ia rindu.

“Eh? Kulit lo kok merah-merah?” Perhatian Lucas teralihkan ke kulit tangan Olivia yang terlihat memerah. Kemerahan itu nampak jelas karena kulit Olivia yang putih pucat ditambah sore itu ia memakai tank top tanpa cardigan.

“Nggak papa, nyetir aja yang bener,” timpal Olivia sambil berusaha menutupi lengannya tapi tangannya kalah cepat dengan Lucas, lelaki itu menarik tangan kanan Olivia dan memandanginya bergantian dengan jalanan.

“Gue nggak papa, nyetir aja yang bener, Lucas. Nanti lo nabrak.” Olivia mempertegas kalimatnya sambil menarik tangannya dari genggaman Lucas.

Lucas tidak menjawab apa-apa, ia mempercepat laju kendaraannya untuk mencari apotik terdekat.

“Ngapain ke apotik? Gue udah bilang gue nggak papa.”

“Nggak papa gimana? Liat, sekarang leher lo ikut merah-merah.”

Lucas memajukan wajahnya ke dekat Olivia dan mengangkat sedikit rambut panjang perempuan itu untuk melihat alergi Olivia yang sepertinya semakin parah karena merambah ke bagian tubuh yang lain.

Nafas Olivia terhenti, pertama kalinya dia dan Lucas berjarak sedekat ini sampai-sampai ia bisa mendengar deru nafas lelaki itu.

“Bentar, gue beliin salep sama obat minum.”

Lucas menarik dirinya lalu keluar dari mobilnya. Begitu Lucas keluar, Olivia menghela nafas lega. “Gila,” gumamnya sendiri.

*

Walaupun awalnya Olivia ngotot bilang ke Lucas kalau dia tidak kenapa-napa, nyatanya sekarang ia mulai merasakan kemerahan di kulitnya menimbulkan rasa panas dan gatal. Ia hampir menangis karena semakin lama rasa gatal dan panas akibat alergi itu semakin mengganggu.

“Liv, lo nggak papa?” tanya Lucas panik saat ia masuk ke dalam mobil dan melihat Olivia sedang meringis menahan rasa panas dan gatal di kulitnya.

“Panas...” gumam Olivia pelan. Lalu Lucas buru-buru membersihkan tangannya dengan tissue basah dan membantu Olivia dengan mengoleskan salep anti alergi yang ia beli ke seluruh permukaan kulit Olivia yang memerah.

“Perih nggak?” tanya Lucas saat ia membantu Olivia mengoleskan salep anti alerginya di leher Olivia. Lagi-lagi Olivia menahan nafasnya karena jarak mereka yang begitu dekat, ditambah Lucas benar-benar telaten saat membantu Olivia; ia mengoleskan salep itu tipis-tipis sambil sesekali meniup permukaan kulit Olivia agar tidak terasa panas lagi.

“Masih ada lagi nggak yang rasanya gatel?” tanya Lucas.

Olivia mengangguk ragu, “Di punggung,” jawab Olivia pelan.

“Yaudah balik badan, sini gue olesin.”

Olivia tidak bergeming. Sedetik kemudian Lucas sadar kekhawatiran Olivia.

“Kaca mobil gue gelap, tenang aja.”

Olivia masih tidak bergeming dari duduknya.

“Gue nggak bakal apa-apain lo, Liv. Nggak bakal ngetawain apalagi ngejahatin lo. Udah buruan balik badan.”

Olivia akhirnya menurut, ia memunggungi Lucas sambil mengangkat rambutnya yang tergerai agar Lucas bisa mengoles salep anti alergi di punggungnya.

“Perih nggak?” tanya Lucas dan dijawab Olivia dengan gelengan pelan.

“Udah. Nih, simpen obatnya. Gue juga beliin obat buat diminum tapi ntar aja minumnya sebelum tidur.”

Lucas memberikan Olivia kantongan berisikan salep dan juga tablet minum yang tadi ia beli di apotik. “Bentar ya,” kemudian lelaki itu kembali keluar mobil, menimbulkan tanda tanya di kepala Olivia.

Tidak sampai 5 menit, Lucas kembali ke mobil dengan dua bungkus es krim coklat di tangannya.

“Nih, buat lo,” ucap Lucas sambil menyodorkan es krim coklat yang sudah ia buka bungkusnya untuk Olivia.

“Keburu cair deh kalo lo kebanyakan bengong,” sambung Lucas sambil mengambil paksa tangan Olivia agar perempuan itu memegang es krimnya sendiri karena Olivia lagi-lagi hanya mematung saat Lucas menyodorkan es krim tadi.

Kemudian Lucas membuka bungkusan es krim coklat miliknya dan menikmatinya dalam diam. Mereka berdua menikmati es krim itu tanpa bersuara, hanya playlist Spotify milik Lucas yang mengalun mengisi kekosongan di mobil sore itu.

Disela acara makan es krim sore itu, Lucas melirik Olivia. Perempuan itu sudah terlihat jauh lebih baik, kemerahan di kulitnya mulai memudar dan sepertinya tidak perih lagi karena Olivia tidak lagi merasa kesakitan. Tidak sengaja kedua manik mata mereka bertemu. Lucas tersenyum, senyuman tulus yang membuat Olivia ikut tersenyum. “Thanks ya, Cas.”

I’ll go anywhere, I’ll do anything ’Long as it’s with you, long as I’m with you Know it could be the smallest thing If you give me a ring, I’ll always answer your call Make it a point, I’ll always be prepared Wherever you are, love, I’ll be there ’Cause I’ll go anywhere, I’ll do anything with you — Gabe Bondoc