goldeneunoia

“Nih, lipstiknya,” ucap Lucas begitu aku membukakan pintu untuknya. Dia mengenakan kaos oblong putih dipadu dengan jaket jeans, celana jeans dan sneakers putih favoritnya. Rambut hitamnya ia tutup dengan beanie hat yang jadi gaya andalannya.

Aku menerima kantong kecil berisikan lipstik yang ia belikan untukku. Sekilas aku mengintip ke dalam kantongan itu dan tanpa kusadari aku tersenyum saat melihat shadesnya sesuai dengan yang ku pesan.

“Nih, bobanya,” sambung Lucas lagi sambil memberikan segelas Biscoff Lotus yang tidak kupesan, tapi Lucas tau kalau aku menyukai minuman ini.

“Udah ya, gue pamit,” kata Lucas lagi setelah selesai memberikan pesananku.

“Eh, balik?” tanyaku kaget karena jujur saja, aku sebenarnya mengharapkan dia untuk tinggal lebih lama disini.

Lucas mengangkat sebelah alisnya, “Ada perlu apa lagi?” tanyanya bingung. Matanya yang besar terlihat sangat menggemaskan saat itu.

“Bantuin gue foto buat endorse-an,” jawabku asal. 'Bodoh banget alasan lo, Liv,' umpatku dalam hati.

Lucas tersenyum, sepertinya dia paham kalau sebenarnya aku takut sendirian di rumah tapi aku pura-pura tidak tahu saja. “Gue masuk ya?” tanyanya sopan dan kujawab dengan anggukan pelan.

Lucas duduk di ruang tengah sambil menghabiskan minuman boba miliknya sementara aku sibuk mencari produk apa yang bisa ku foto malam ini dengan bantuan Lucas. Sebenarnya aku tidak suka berfoto di malam hari karena kurangnya pencahayaan. Dan juga sebenarnya aku bisa berfoto sendirian dengan modal tripod.

'Ah iya, tripod nya umpetin dulu,' gumamku sendiri sambil mengambil tripod yang berdiri di pojok kamar dan menyembunyikannya di laci bawah ranjang.

Setelah 10 menit mencari-cari produk, akhirnya aku dapat satu produk yang bisa kufoto malam itu.

“Body Lotion?” tanya Lucas bingung sambil memegang dan memperhatikan beberapa botol body lotion yang kubawa dari kamar.

“Iya, fotonya dari sini. Kayak gini,” ucapku sambil menunjukkan hasil foto dari pemotretan sebelumnya.

“Lah ini udah ada fotonya, sekarang ngapain foto lagi?”

“Bisa nggak sih, nggak usah banyak tanya?” protesku kesal. Masalahnya, semakin dia banyak bertanya, pasti akan semakin kelihatan kalau sebenarnya aku meminta dia untuk tinggal bukan karena untuk membantuku berfoto.

Lucas hanya nyengir memamerkan gigi putihnya, persis seperti anak kecil yang sedang berusaha meluluhkan hati orang tuanya, “Yaudah, situ duduk. Gue fotoin. Lo pake baju gitu aja?”

“Ohiya, bentar gue ganti baju dulu,” jawabku cepat lalu aku buru-buru kembali ke kamar sebelum Lucas melihat wajahku yang memerah karena tersipu malu. Entah kenapa aku merasa wajahku panas karena tadi melihat lelaki itu tersenyum seperti anak kecil.

Selesai berganti baju, aku melihat Lucas yang sedang sibuk mengambil foto produk body lotion tadi.

“Ngapain?” tanyaku bingung.

“Ha? Oh ini, nanti gue post di IG gue juga sekalian kasih review tipis-tipis. Lumayan kan, ngebantuin sales produknya. Biar lo juga terus dipercaya buat promoin produknya,” jawab Lucas serius. Sama sekali tidak terdengar nada jahil atau slengean dalam kalimatnya barusan.

Aku mau menyanggahnya lagi, tapi kuingat dia memang terkenal dan apapun yang dia post di sosial medianya bisa memberikan dampak yang cukup besar. Lagian siapa yang nggak kenal Lucas? Si partygoers yang baik kepada semua orang sampai tidak jarang banyak yang salah paham dengan kebaikan Lucas, termasuk aku.

Aku dan Lucas terpaksa menjalani perjodohan yang diatur oleh orang tua kami, dengan alasan karena kedua orang tua kami sudah bersahabat sejak SMA dan tidak ada salahnya untuk meneruskan hubungan baik ini ke anak-anak mereka which is aku dan Lucas. Terlebih lagi aku dan Lucas sama-sama anak tunggal dan sama-sama tinggal jauh dari orang tua kami, membuat alasan untuk menjodohkan kami semakin kuat agar kami bisa saling menjaga satu sama lain.

Awalnya baik aku dan Lucas sama-sama menolak, bahkan rumornya Lucas pernah mogok bicara dengan orang tuanya selama seminggu karena tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi, kelihatannya sekarang ia sudah pasrah dan tinggal aku sendiri yang masih berjuang untuk menghentikan perjodohan ini.

“Ayo foto, kok bengong sih,” Lucas membuyarkan lamunanku. Aku segera menuruti arahan lelaki itu dan ia mulai mengambil fotoku dengan produk body lotion ini.

“Ini temanya pake body lotion sebelum tidur ya?” tanya Lucas di sela memotret.

“Eh, iya. Kok tau?”

“Lo pake piyama gitu, pasti lo mau sampein ke orang-orang supaya pake body lotion sebelum tidur, biar kulitnya nggak pada kering.”

Bingo, nggak cuma ganteng, Lucas ini memang pintar.

“Pinter lo,” pujiku pelan tapi sepertinya kedengaran jelas di telinganya.

“Gue emang pinter kali hehehe, kemana aja lo setahunan ini?” balasnya kembali dengan nada bercanda.

'Shit, bisa nggak berhenti senyum kayak gitu? umpatku dalam hati.

“Udah nih, coba cek dulu. Kalo masih ada yang kurang bilang aja, kita foto lagi nanti. Gue ke toilet dulu ya,” Lucas menyodorkan kamera DSLR yang ia gunakan kepadaku lalu ia pergi ke kamar mandi.

'Lo emang pinter ya, Cas...' gumamku lagi sambil tersenyum puas melihat hasil foto yang jauh diluar ekspetasiku. Lucas bisa memotret dari segala sudut dan mengambil poin-poin penting dari produk yang ingin aku promosikan, yang kadang sulit aku lakukan sendiri jika aku harus berfoto menggunakan tripod.

“Gimana? Masih ada yang kurang?” tanyanya begitu ia keluar dari kamar mandi. Lucas segera kembali ke ruang tengah dan duduk di sebelahku persis, begitu dekatnya sampai aku bisa mendengar suara nafasnya dan juga aroma maskulin dari parfum yang ia kenakan.

“Ngg... Nggak ada kok,” jawabku terbata. “Sana ah jauh-jauh, parfum lo baunya aneh,” sambungku berkilah. Sejujurnya, aku sangat menyukai aroma parfum yang ia kenakan; perpaduan citrus, lavender dan woody yang menghasilkan wangi tidak hanya maskulin tapi juga sensual, siapa saja yang duduk disebelahnya aku bisa jamin akan betah, tidak terkecuali aku.

Lucas mengendus-endus tubuhnya sendiri, “Hah? Parfumnya nggak enak? Seriusan?” tanyanya panik, “Padahal kata mbak-mbaknya ini enak banget,” sambungnya kecewa.

'Ya emang enak, kan gue bohong.'

“Liv, lo kalo capek tidur aja di dalem. Gue disini sampe jam 12 malem,” ucap Lucas memecah keheningan diantara kami berdua.

Aku mengernyitkan dahi bingung tapi Lucas sepertinya paham dimana letak kebingunganku, “Gue selalu bawa kunci rumah lo,” katanya sambil memamerkan kunci rumahku yang ia gantung bersama dengan kunci apartemen dan kunci mobil miliknya.

“Yaudah, gue masuk ya. Kalo mau minum atau cemilan cari aja di dapur, tau kan yang mana raknya?”

Lucas hanya mengangguk meyakinkanku bahwa ia akan baik-baik saja selama aku tinggal masuk ke dalam kamar.

Night Liv. Sleep well,” kata Lucas lagi, kali ini ia sambil mulai memainkan game di ponselnya.

Aku tersenyum dikulum, “Night, Cas. Makasih ya,” balasku lalu aku segera masuk ke dalam kamarku yang terletak tidak jauh dari ruang tengah.

Di kamar, aku tersenyum senang. Setidaknya malam ini aku tidak perlu khawatir dan aku bisa tidur dengan nyenyak. Thank you, Lucas.

Dengan setengah berlari akhirnya Lucas berhasil menemui Olivia yang sedang menikmati Peach Green Tea favoritnya.

“Sorry, Liv. Jalanan macet banget,” kata Lucas begitu ia tiba di hadapan Olivia. Olivia hanya mendelik lalu ia mendorong pelan koper besarnya ke arah Lucas dan bangkit dari duduknya.

“Parkir dimana? Jauh nggak?” tanya Olivia ketus.

“Nggak, deket kok.”

Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi Olivia segera berjalan dengan Lucas membuntuti dibelakangnya seraya menyeret koper besar milik Olivia.

*

Sepanjang perjalanan dari airport menuju rumah Olivia, perempuan itu memilih untuk diam. Ia menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata sementara Lucas fokus menyetir.

“Liv, udah makan?”

Olivia tidak menjawab Lucas tapi bagi Lucas itu adalah sebuah jawaban yang berarti sudah.

“Gimana Surabaya? Lancar kan syutingnya?”

“Panas. Lancar.”

Lucas tersenyum mendengar jawaban Olivia, “Sekali lagi maaf ya, gue jemputnya telat. Jangan ngambek lagi ya?”

Olivia memutar bola matanya lalu membalas Lucas, “Iya.”

Walaupun Lucas dan Olivia hanya setengah hati menjalani hubungan mereka karena perjodohan yang diatur kedua orang tua mereka, tapi setiap Lucas melakukan kesalahan lelaki itu selalu terdengar manis dan tulus saat meminta maaf dan somehow hal itu membuat Olivia jadi nggak enak sendiri dengan lelaki jangkung itu.

“Besok ada acara gak?” Lucas bicara lagi saat mobilnya mulai memasuki daerah rumah Olivia.

“Nggak, lusa kayaknya ada. Nanti gue chat.”

“Oke, besok gue mau pergi sama temen ya,” pamit Lucas.

“Siapa?” tanya Olivia tapi sedetik kemudian ia menyesal bertanya karena Lucas kembali tersenyum, “Emang lo kenal?” ledek Lucas bertanya.

“Nggak. Bodo amat sih mau ketemu siapa juga,” balas Olivia acuh lalu ia turun dari mobil Lucas karena mereka sudah sampai di rumahnya.

Lucas ikut turun dari mobil, membantu Olivia membawa koper besar milik perempuan itu hingga depan pintu lalu ia berpamitan, “Gue balik dulu ya. Kalo ada apa-apa chat aja.”

“Iya,” balas Olivia pendek lalu ia langsung masuk ke dalam rumah sambil mendorong kopernya.

“Ibu Negara, lucu banget sih lo,” gumam Lucas sendiri dari dalam mobilnya saat melihat Olivia yang agak kerepotan mendorong kopernya, lalu Lucas pergi setelah memastikan perempuan itu sudah benar-benar masuk ke dalam rumah.

“Kun, kenapa kamu tiba-tiba ajak saya makan malam keluar?” tanya Alyssa setelah dirinya dan Kun selesai memesan menu makan malam mereka kepada pramusaji yang melayani mereka.

Kun mengangkat bahunya, “Nggak ada alasan khusus, saya cuma lagi kepengen makan di luar aja,” jawab Kun setengah berbohong.

“Tapi kan nggak usah di tempat kayak gini,” Alyssa lalu memelankan suaranya, “Kan lumayan, mahal,” sambungnya lagi.

Kun tersenyum memamerkan gigi putih dan lesung pipinya sekaligus, “Sesekali Lys, apa salahnya?”

“Iya juga ya...”

Keduanya lalu terdiam. Alyssa memandangi sekelilingnya sementara Kun memperhatikan wanita itu. Pikirannya kembali dipenuhi dengan percakapan dirinya dengan Jocelyn dan Saka tadi siang.

'Bisa-bisanya gue nurutin kata-kata dua bocah itu,' keluh Kun dalam hati.

“Kun, makanannya dateng,” Alyssa membuyarkan lamunan Kun. Pramusaji menaruh dua piring Fettucini Carbonara di atas meja mereka.

“Makasih banyak ya, Kun,” ucap Alyssa sebelum ia menyantap makan malamnya. Kun hanya mengangguk lalu ia juga mulai menyantap makan malam miliknya.

“Gimana, enak kan?” tanya Kun setelah mereka menyelesaikan makan malamnya. Alyssa mengangguk, “Iya, makasih banyak ya,” balas Alyssa.

“Mau dessert?” tawar Kun canggung.

“Dessert? Kamu mau?” Alyssa malah bertanya balik, membuat Kun makin merasa canggung.

“Saya pesenin dulu ya, sebentar.” Kun kemudian memanggil pramusaji yang tadi melayani mejanya dan memesan dua ice cream chocolate.

“Lys, boleh saya jujur sama kamu?” tanya Kun setelah ia beberapa saat ia kembali diam dan menciptakan suasana canggung di antara mereka berdua.

“Boleh. Ada apa, Kun?”

Kun mengusap tengkuknya, “Saya nggak tau harus ngomong yang proper kayak gimana,” Kun berhenti sesaat, “Saya suka sama kamu, Lys.”

Alyssa yang sedari tadi menunggu Kun berbicara, menatap lelaki itu dengan tatapan bingung, “Maksud kamu?” tanya wanita itu.

“Y-ya, saya suka sama kamu, Lys. Saya mau jalanin hubungan yang serius sama kamu,” walau sedikit tergagap, Kun bisa menjawab pertanyaan Alyssa barusan.

“Kun,” panggil Alyssa pelan, “Maaf, tapi saya nggak bisa balas perasaan kamu,” sambung Alyssa, “Dengan kondisi saya kayak gini, saya nggak bisa. Saya harap kamu bisa ngerti.” Alyssa menutup kalimatnya.

Kun merasa kecewa tapi ia berusaha menutupinya agar Alyssa tidak merasa bersalah kepada dirinya, “Saya paham kok, Lys. Maaf tiba-tiba saya begini. Anggap aja saya nggak pernah ngomong apa-apa ke kamu,” balas Kun sambil tersenyum kaku.

Alyssa hanya mengangguk pelan walaupun ada rasa yang janggal, entah kenapa ia merasa kecewa dengan keputusannya barusan.

Sabtu, 29 November 2020

“Dejun!”

Aku menoleh mencari asal suara yang memanggilku dan aku tidak bisa menahan senyumku saat mengetahui siapa yang memanggilku.

“Kamu belum tampil kan? Ih aku takut ketinggalan,” keluhnya begitu ia didekatku. Aku refleks merangkul bahunya dan mengajaknya berjalan beriringan, “Enggak kok, aku tampil sekitar 1 jam-an lagi.”

Raut wajahnya langsung berubah tenang begitu mendengar jawabanku, “Syukur deh, kan gak seru banget udah jauh-jauh dari rumah kesini malah nggak bisa nonton pacar aku.”

Aku mencubit hidungnya gemas dan disambut dengan sebuah protes, “Dejun! Ih, idungku jadi merah nih!”

Tiba waktuku untuk tampil di atas panggung, menampilkan apa yang aku dan rekan-rekanku latih selama kurang lebih dua bulan terakhir. Denting piano mengawali penampilanku dan aku mulai bernyanyi.

Satu dua lagu aku melirik ke sudut kanan panggung. Supporter kecilku berdiri disana dengan matanya yang berbinar menatapku kagum, membuatku salah tingkah sendiri.

Tepuk tangannya akan menjadi tepuk tangan yang paling riuh diantara penonton lainnya, bahkan ia tidak segan meneriaki namaku dengan keras saat aku mengakhiri penampilanku.

“Bagus nggak?” tanyaku begitu aku turun dari panggung. Ia tidak langsung menjawab, malah menyodorkan sebotol air putih, “Minum dulu, tadi kamu kurang minumnya.”

Aku menurut, aku menenggak isi botol itu hingga hampir tak bersisa. “Yang, gimana? Bagus nggak?” tanyaku lagi.

“Kamu kapan jeleknya sih? Bagus banget, tau. Tahun depan kamu udah bisalah tampil di akhir acara,” balasnya dengan penuh keyakinan.

Wajahku memerah, dia memujiku terlalu berlebihan, “Kayaknya nggak mungkin sih tahun depan. Dua tiga tahun lagi kali ya?”

“Nggak, tahun depan. Percaya sama aku. Asalkan kamu komitmen.”

Kalimat terakhirnya sukses mengubah hidupku.

*

Minggu, 28 November 2021

Awalnya kupikir karir musik ini hanya sekedar menjadi selingan saja, tidak pernah terpikir olehku untuk serius di bidang ini. Namun, semua itu berubah sejak percakapan kami setahun lalu.

Dan kini aku berdiri di panggung yang jauh lebih besar daripada tahun lalu, dengan susunan acara yang memposisikanku sebagai penampil terakhir.

Semua perkataannya benar, komitmen dan kerja keras mengantarkanku sampai di titik ini, titik yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi tidak hanya itu saja, dia juga menjadi salah satu alasan aku bisa sampai disini.

“Selamat malam semuanya, sebelum saya menyanyikan lagu terakhir saya ingin berterima kasih, untuk seseorang yang membuat saya berada di atas panggung ini malam ini.”

Keadaan yang tadinya riuh berubah menjadi tenang, semua mata yang hadir malam itu tertuju padaku, “Terima kasih, untuk dukungan dan cinta yang kamu berikan. Semoga kamu beristirahat dengan tenang di dalam keabadian.”

Aku mulai memetik gitar sebagai intro disusul dengan iringan piano dan juga bass. Aku mulai bernyanyi sambil sesekali melirik ke sudut kanan panggung. Dia yang biasanya berdiri disitu, sudah tidak pernah hadir lagi sejak enam bulan lalu karena Tuhan lebih mencintai dia daripada aku.

Kepergiannya karena penyakit leukimia yang dideritanya cukup membuatku terpuruk. Tapi aku tau, dia tidak akan senang di atas sana kalau aku terus-terusan bersedih. Sejak ia pergi, aku berusaha setegar mungkin untuk memberikan yang terbaik dalam setiap penampilanku hingga hari ini, hari yang paling ingin aku banggakan di depan dia datang.

Aku berusaha menahan air mataku sampai pada lirik terakhir yang ku nyanyikan. Saat musik berhenti tanda lagu selesai, tepuk tangan penonton menggema memenuhi tempat itu. Diantara confetti yang berhamburan dan saat semua sedang berbahagia, akhirnya aku menangis.

“Aku berhasil. Terima kasih, buat semuanya. I'll always love you, ma cherie.”

END written by goldeneunoia

Alyssa buru-buru keluar dari rumahnya saat mendengar deru mesin mobil Simon.

“Simon...” panggil Alyssa pelan. Turun dari mobil, Simon merangkul perempuan itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

“Lys, kamu harus gugurin kandungan itu secepatnya,” kata Simon begitu ia Alyssa menutup pintu rumahnya.

Mata Alyssa melebar, ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, “Mon?! Kamu udah gila ya?” pekik Alyssa berbisik.

“Lebih gila lagi kalo sampe orang tua aku tau kalo kamu hamil, Lys!”

Alyssa mendengus, “Kamu sama sekali nggak mikirin perasaan aku, ya?”

Simon mendekati Alyssa yang masih berdiri di dekat pintu lalu ia mengelus pelan pipi Alyssa, “Sayang, justru aku pikirin kamu. Aku nggak mau kamu jadi bahan omongan anak-anak di kampus.”

“Kamu harus tanggung jawab, Simon,” balas Alyssa sambil menatap Simon tajam.

“Aku bakal biayain semuanya untuk gugurin kandungan itu.”

Alyssa refleks menampar Simon, “Kamu pikir semua bisa dibeli pake uang? Kamu keterlaluan, Mon,” ujar Alyssa lalu ia pergi dari hadapan Simon dan duduk di sofa yang tidak jauh dari pintu rumahnya.

Simon menoleh ke arah Alyssa yang sedang menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya, “Terus mau kamu apa, Lys? Kamu mau aku tanggung jawab dengan nikahin kamu dan urus anak itu? Aku belum siap—”

“Kamu pikir aku siap?!” potong Alyssa marah. Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya tidak dapat terbendung lagi. Perlahan, air mata itu mengalir membasahi pipi perempuan itu, “Nggak ada yang siap, Mon. Nggak ada...”

Tapi Simon tidak bergeming dari keputusannya, “Pokoknya aku mau kamu gugurin kandungan itu,” ucap Simon lalu ia pergi meninggalkan Alyssa sendiri tanpa mempedulikan tangis dan rasa hancur perempuan itu.

*

Plak

Tiba di rumah, Simon disambut dengan tamparan keras dari Ibunya.

“Kenapa sih, Ma?!” protes Simon kesal. Mood nya yang sedang tidak baik semakin buruk karena perilaku Ibunya.

“Lihat ini,” balas Mama Simon dingin sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Simon.

“Kamu tuh bodoh atau tolol? Kamu lupa Alyssa lagi magang di perusahaan Papa kamu dan dia bisa akses semua berkas Papa?!”

Simon menghela nafas lalu menggigit bibir bawahnya, ia sama sekali tidak menyangka Alyssa akan secerdas ini untuk membuat dirinya bertanggung jawab atas kesalahan yang ia lakukan.

“Trus Mama mau aku nikahin dia?”

“Kamu lebih memilih nikahin dia atau kita sekeluarga jatuh miskin karena Papa di penjara?”

“Sheryl mana? Dia udah siap kan?”

Bukannya menjawab pertanyaan Simon, Alyssa bertelut di depan kaki Simon yang masih berdiri di depan pintu rumahnya, “Simon, please... Aku mohon...”

“Bangun, Lys,” balas Simon tanpa ekspresi apapun, “Bi Santi, tolong Sheryl dipanggil sekalian bawain kopernya,” sambung Simon berbicara kepada Bibi Santi yang kebetulan melintas tidak jauh dari pintu rumah Alyssa.

“I-iya, Pak,” balas Bibi Santi terbata, lalu ia segera masuk ke dalam kamar Sheryl.

“Simon, please...” masih bertelut, ia kembali memohon kepada Simon untuk tidak membawa Sheryl pergi dari rumah. Simon terlihat acuh, ia berusaha masuk ke dalam rumah tetapi Alyssa menahan kaki Simon.

“Lys, apa-apaan sih! Kalau Sheryl liat gimana?” protes Simon sambil berusaha mendirikan Alyssa yang masih memegangi kakinya.

Tepat sekali saat Alyssa berdiri dengan paksaan dari Simon, Sheryl keluar dari kamarnya, “Papa!!” panggil si kecil Sheryl dengan penuh semangat. Ia berlari menghampiri sang ayah.

Simon sedikit berjongkok lalu saat Sheryl menghamburkan diri dalam pelukannya, ia segera menggendong gadis kecil itu, “Hai, sayangku,” ucap Simon lalu ia mencium pipi Sheryl.

Perhatian Sheryl teralihkan saat melihat ibunya hanya tertunduk, sedang berusaha menyembunyikan tangis dan kesedihannya dibalik rambut panjang yang dibiarkan tergerai, “Mama, Mama sakit?” tanya Sheryl khawatir.

Alyssa buru-buru menyeka air matanya lalu ia membalas tatapan Sheryl, “Nggak, Mama sedikit pilek aja. Mungkin karena masih pagi, udaranya masih dingin,” balas Alyssa bohong.

“Kalau Mama sakit, Sheryl nggak mau pergi sama Papa, ah. Sheryl mau jaga Mama di rumah.”

Ucapan Sheryl sukses membuat hati Alyssa mencelos. Ia tidak sanggup membayangkan hari-hari berikutnya tanpa kehadiran Sheryl di sisinya.

“Tapi Oma udah nungguin Sheryl lho, Oma mau ajak Sheryl main ke Kidzania,” Simon berusaha mengalihkan perhatian Sheryl tapi anak itu menggeleng, “Nggak mau, Sheryl nggak mau pergi pokoknya.”

Simon melirik ke arah Alyssa, memberi kode agar ia membujuk Sheryl supaya mau ikut dengannya, “Sheryl, Mama nggak papa. Beneran deh. Sheryl pergi sama Oma aja ya?” bujuk Alyssa.

Sheryl terlihat sedikit kecewa, “Tapi Mama beneran nggak papa?”

Alyssa mengangguk meyakinkan putrinya itu sambil mengelus puncak kepala Sheryl, “Iya, sayang,”

“Nanti malem Sheryl bobo sama Mama lagi, ya?”

Untuk sesaat, baik Alyssa maupun Simon saling pandang satu sama lain, “Sama Papa kapan? Papa juga mau temenin Sheryl bobo,” kali ini giliran Simon yang berusaha membujuk Sheryl.

“Hmm... Yaudah deh sama Papa. Tapi Papa nanti beliin Sheryl es krim,” balas Sheryl polos.

“Oke, siap Tuan Putri! Sekarang kita berangkat ya? Oma udah nungguin Sheryl di rumah,” ucap Simon dan dibalas dengan anggukan semangat dari Sheryl. Sheryl polos yang sama sekali tidak tahu permasalahan diantara kedua orang tuanya.

“Aku pergi dulu,” ucap Simon pelan kepada Alyssa. Alyssa hanya mengangguk dan saat Simon berbalik ia mendapati Sheryl yang melambaikan tangan mungilnya, “Bye Mama, Sheryl pergi dulu. I love you, Mama!”

Bye sayang. Have fun ya, mainnya. Mama loves Sheryl...” balas Alyssa setegar mungkin.

“Ibu, saya ikut pergi sama non Sheryl ya. Bapak yang minta ke saya,” ucap Bibi Santi berpamitan.

“Ohiya, Bi. Titip Sheryl ya, Bi. Tolong selalu kasih kabar Sheryl ke saya.”

“Iya, Bu. Pasti,” balas Bi Santi lalu ia segera keluar dari rumah itu dan meninggalkan Alyssa seorang diri di rumah. Begitu mobil Simon terdengar pergi meninggalkan rumah, tangis Alyssa pecah.

Ten memandangi pantulan dirinya di cermin ruang tunggu pengantin pria pagi itu. Tersisa dirinya sendiri disana, disaat staff yang membantunya bersiap sudah pergi dan Winwin sebagai groomsmen sudah pergi ke hall terlebih dahulu.

Perasaan gugup yang pernah dirasakan 3 tahun sebelumnya kembali ia rasakan. Tangannya berkeringat dingin, perasaan was-was campur takut itu ada, namun ia yakin kejadian buruk waktu itu tidak akan terulang.

Lamunannya buyar saat staff wedding organizer mengetuk pintu kamar Ten dan mengatakan bahwa ia harus segera bersiap untuk masuk ke dalam hall.

“Udah siap, Jo?” tanya sang ayah begitu staff wedding organizer memberikan kode untuk Jocelyn masuk ke dalam hall.

Jocelyn menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu ia mengangguk yakin. Tangannya merangkul lengan sang ayah, sembari menggenggam buket bunga dengan sangat kuat, karena ia sangat gugup.

Jocelyn berjalan menuju altar bersama sang ayah, dengan iringan lagu yang dinyanyikan merdu oleh paduan suara dari teman-teman ibunya. Di ujung aisle, Ten dan Pastor sudah menunggu Jocelyn.

Sampai di hadapan Ten, ayah Jocelyn melepas rangkulan tangan putrinya dan menyerahkan tangan Jocelyn kepada Ten sebagai tanda bahwa mulai detik ini sang ayah mempercayakan Jocelyn kepada Ten.

Dibalik veil yang dikenakannya, Jocelyn tidak berhenti tersenyum bahagia, membuat siapapun termasuk Ten yang berada di hadapannya ikut tersenyum.

Setelah mendengarkan khotbah dari Pastor, kini saatnya Ten dan Jocelyn untuk saling mengucapkan janji suci.

”... Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita...”

Tidak ada kesalahan seperti yang mereka takutkan malam sebelumnya. Semua berjalan lancar hingga Ten memasangkan cincin pernikahan di jari manis Jocelyn dan Jocelyn juga memasangkan cincin milik Ten di jari lelaki itu.

Ten membuka veil Jocelyn, ia menatap lekat perempuan yang kini sah ia sebut sebagai istrinya.

Ten kemudian mencium kening perempuan itu, “Jocelyn, you’re my day one. I love you.

I love you too, Ten Lee.”

Genta Alajeno terkenal dengan karakter berandalnya. Tidak terhitung dalam sebulan Jeno—sapaan akrabnya, dipanggil ke ruang BK. Sama halnya dengan hari ini.

Setelah sukses membabak belurkan murid kelas 11-2 IPA, Jeno diajak paksa ke ruang BK oleh guru BK nya, Pak Mahardi.

“Jeno! Saya sudah capek sekali dengan kelakuan kamu, ya. Bahkan orang tua kamu pun kelihatannya tidak peduli lagi dengan kamu.”

Jeno mengeraskan kepalan tangannya, mendengar orang tuanya disebut-sebut dalam percakapan siang itu.

“Saya akan panggil orang tua kamu untuk terakhir kalinya, kalau kamu masih berulah, dengan terpaksa sekolah akan mengeluarkan kamu.”

Selesai mendapat somasi dari sang guru, Jeno keluar dari ruang BK dengan penuh amarah. Ia memutuskan untuk tidak mengikuti pelajaran Sosiologi saat itu dan memilih untuk menyendiri di taman belakang sekolah.

“Jen, pipi kamu ada luka,” ucap seorang perempuan sambil menyodorkan selembar hansaplast bermotif Doraemon kepada Jeno.

Jeno menepis tangan perempuan itu hingga hansaplastnya jatuh. Namun perempuan itu tidak menyerah. Ia memungut hansaplast itu dan langsung memakaikannnya di pipi Jeno.

“Lo apa-apaan sih?! Jangan sok caper sama gue, gue nggak suka,” ujar Jeno sambil menepis lagi tangan perempuan itu dari wajahnya.

“Sebentar aja, abis aku pakein hansaplastnya, aku pergi.”

Perempuan itu gigih, ia kembali melanjutkan memasang hansaplast untuk menutupi luka Jeno.

“Gila lo ya?” tanya Jeno ketus lalu lelaki itu segera meninggalkan perempuan itu sendiri di taman belakang sekolah.

*

Jeno melaju dengan kecepatan tinggi pada motornya malam itu. Tidak peduli dengan dinginnya udara yang menusuk hingga tulang, ia terus melaju hingga segerombolan orang di tepi jalan menarik perhatiannya.

Gerombolan itu terlihat sedang mengerubungi seseorang, seseorang yang tidak asing bagi Jeno.

“Heh, ngapain lo?” panggil Jeno membuyarkan kerumunan gerombolan itu. Benar saja, mereka sedang berusaha menganggu si cewek hansaplast, perempuan yang selalu mengobati luka Jeno dengan hansaplast miliknya.

“Lo siapa? Berani ganggu urusan kita?” teriak salah satu dari gerombolan itu dan segera terjadi baku hantam 1 vs 5.

Bukan Jeno namanya kalau tidak bisa melumpuhkan 5 orang itu sekaligus. Setelah semua terkapar, Jeno segera menarik tangan perempuan itu dan mengajaknya pergi dari situ.

Dalam perjalanan, cewek hansaplast—begitu panggilan Jeno saat ini tidak mengatakan apa-apa selain menggenggam erat jaket kulit yang dikenakan Jeno. Jeno juga tidak bersuara, ia memilih fokus mengemudi.

“Rumah lo dimana?” tanya Jeno setelah ia berhenti di persimpangan antara rumah dan sekolahnya.

“Kesana,” jawabnya sambil menunjuk jalan yang sama dengan jalan yang harus ditempuh Jeno untuk pulang ke rumahnya.

Tanpa bertanya lagi, Jeno kembali mengemudikan motornya hingga tiba di rumahnya.

“Terima kasih, Jen,” ucap perempuan itu sambil turun dari motor Jeno dan berjalan menuju rumahnya yang terletak persis di sebelah rumah Jeno.

”Sejak kapan si cewek hansaplast itu jadi tetangga gue?”

*

Sejak malam itu diam-diam Jeno berusaha untuk mencari tau siapa cewek hansaplast yang ternyata adalah tetangganya sendiri.

Beberapa kali Jeno mencari di sekolah, namun hasilnya nihil. Ia tidak pernah melihat perempuan itu, seakan dia memang tidak ada di sekolah.

Di rumah hasilnya pun sama, rumah tetangganya itu sangat sunyi seperti tidak ada kehidupan disana. Bertanya dengan orang tuanya akan percuma karena kedua orang tua Jeno jarang sekali berada di rumah.

Sudah seminggu berlalu, Jeno masih juga belum mengetahui identitas perempuan hansaplast itu hingga siang itu ia kembali bertemu dengan perempuan itu.

Siang itu sekolah Jeno mengadakan kunjungan ke kampus atau biasa disebut campus visit, sebagai salah satu kegiatan resmi untuk siswa kelas 3 SMA. Dengan langkah gontai Jeno masuk ke dalam bus dan memilih duduk di kursi belakang, di sisi jendela.

“Hai Jen, aku duduk sini ya?” tanya perempuan hansaplast itu. Jeno terperangah sesaat lalu ia mengangguk. Perempuan itu duduk, lalu ia memasang headset di telinganya dan mulai menikmati musik dari iPod mini jadul miliknya.

Sepanjang perjalanan Jeno sesekali melirik ke arah perempuan itu, ia terlihat sangat tenang dengan mata terpejam padahal suasana di bis siang itu sangat ramai. Sampai tiba di tujuan, tidak ada sepatah percakapan yang terjadi diantara mereka berdua.

Tiba di universitas yang mereka kunjungi, Pak Mahardi selaku kepala panitia kegiatan ini membagi kelompok untuk mengikuti rangkaian kegiatan hari itu dengan satu kelompok berjumlah dua orang dan sesuai dengan teman sebangku di bis, otomatis membuat Jeno berpasangan dengan perempuan hansaplast itu.

“Kamu mau liat UKM apa?” tanya perempuan itu sambil keduanya berjalan menyusuri lorong universitas yang cukup ramai.

“Nggak ada, terserah lo aja. Gue ngikut,” jawab Jeno dengan suara rendah khasnya.

Perempuan itu hanya mengangguk. Sepanjang hari itu Jeno benar-benar mengikuti kemana perempuan itu pergi, karena sebenarnya ia sama sekali tidak interest dengan kegiatan visit campus ini.

'Untung juga ada cewek ini, gue nggak garing-garing banget,’ batin Jeno dalam hati.

Perempuan itu menyodorkan teh instan dalam kemasan botol kepada Jeno, “Buat kamu.”

Thanks,” ucap Jeno singkat lalu ia meminum air pemberian perempuan itu, “Nama lo siapa?” tanya Jeno setelah selesai minum.

“Aurel,” jawab perempuan itu.

“Lo anak kelas berapa? Kok gue nggak pernah liat lo di sekolah?” pertanyaan Jeno semakin bertambah.

Aurel hendak menjawab, akan tetapi panggilan dari Pak Mahardi dengan toa yang menginstruksikan murid-muridnya untuk kembali masuk ke dalam bis memotong percakapan mereka.

Jeno dan Aurel masuk ke bis sebagai murid terakhir, karena nya mereka terpaksa duduk terpisah. Aurel duduk di depan sementara Jeno di bangku yang sama seperti saat keberangkatan mereka.

Sepanjang perjalanan Jeno tertidur pulas, walaupun ia hampir tidak melakukan apa-apa tetapi perjalanan hari itu cukup menguras tenaganya. Sampai di sekolah ia mencari Aurel, maksud hati mengajak perempuan itu untuk pulang bersama, tetapi lagi-lagi ia tidak dapat menemukan perempuan itu.

*

Sampai di rumah, Jeno menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Aurel yang bersebelahan dengan rumahnya, namun sayang rumah itu kelihatan gelap dari luar sehingga Jeno menyimpulkan kalau penghuni rumah itu belum ada yang tiba, termasuk Aurel.

Jeno melempar tas nya ke atas kasur lalu berbaring persis di sisi tas ranselnya. Ia memejamkan mata sesaat, lalu kembali bangkit dari tidurnya untuk mandi tapi sesuatu mengalihkan perhatiannya.

Dompet milik Jeno yang tidak sengaja terlempar keluar dari tas dan sekotak hansaplast menarik perhatian Jeno. Jeno mengambil kotak hansaplast itu, disana tertulis sebuah pesan yang ditulis diatas kertas yang ditempel di kotak,

'Jangan berantem terus.'

Ia pun kemudian mengambil dompetnya dan sebuah foto berukuran 4x6 meluncur dari situ. Foto dirinya dengan Aurel. Dahi Jeno berkerut, ia mencoba mengingat kapan ia mengambil foto dengan perempuan itu. Di foto itu Aurel tersenyum lebar dengan Jeno disebelahnya sedang melihat ke arah Aurel.

Kepala Jeno mendadak terasa pusing sekali hingga ia kembali berbaring dan tidak henti-hentinya memukul kepalanya yang terasa sakit seperti habis berbenturan dengan benda keras berkali-kali.

*

Keesokannya...

Sebelum berangkat ke sekolah, Jeno pergi ke rumah Aurel dan disana terdapat tulisan bahwa rumah itu sudah dijual. Dengan panik ia segera mengemudikan motornya untuk pergi ke sekolah.

Di sekolah, Jeno mendapati teman-teman seangkatannya berkumpul di depan loker penyimpanan yang disediakan sekolah mereka, membuat Jeno menghampiri kerumunan itu dan berusaha menerobos barisan yang sesak agar ia dapat melihat apa yang sedang terjadi.

Di loker yang terbuka itu terdapat pigura berisikan foto Aurel dengan tulisan di pigura tersebut 'Aurel Larasatia' serta sebuket bunga mawar putih dan juga lilin yang menyala.

“Aurel?” tanya Jeno linglung, “Ini maksudnya apa?” sambungnya lagi.

“Lo lupa Jen? Hari ini tepat dua tahun kepergian Aurel,” jawab Haikal, teman sekelas Jeno.

Jeno menggeleng keras, “Nggak mungkin, Aurel kemarin ikut pergi campus visit. Beberapa hari lalu dia juga kasih hansaplast buat gue.”

Haikal menepuk pundak Jeno, “Jen, itu semua cuma halusinasi lo. Aurel udah nggak ada.”

“Kalian nggak liat dia kemarin sama gue seharian, pas campus visit?”

“Nggak, Jen. Kemarin lo sendirian, lo nggak sama siapa-siapa. Lo duduk di bis pas pergi sendiri, lo juga nggak punya kelompok. Waktu makan siang juga lo sendirian.”

“Trus ini apa?!” tanya Jeno kesal sambil mengeluarkan foto dirinya dan Aurel dari dompetnya.

“Itu waktu kalian pacaran. Foto itu diambil pas acara sekolah kita, tepat sehari sebelum kecelakaan motor kalian yang merenggut nyawa Aurel,” jawab Haikal menjelaskan.

Kepala Jeno kembali terasa sakit hingga ia ambruk, terjatuh ke lantai, “Nggak, nggak, nggak mungkin. Nggak mungkin!!” teriaknya histeris. Tanpa disadari air mata Jeno mengalir di pipinya.

“Jeno!” Haikal berjongkok dan merangkul bahu Jeno, “Ikhlasin kepergian Aurel ya, Jen? Gue yakin dia bakal ngejagain lo dari atas sana.”

Jeno menatap foto Aurel dengan tatapan menerawang, seketika semua ingatan akan dirinya dan Aurel kembali terputar di otaknya. Tidak ada suara selain tangis Jeno yang pecah, memenuhi koridor sekolah itu.

Dari jauh, Aurel melihat itu semua. Ia ikut menangis, merasakan kepedihan yang Jeno alami; kenyataan yang harus Jeno terima bahwa ia harus pergi terlebih dahulu meninggalkan lelaki rapuh itu sendiri. Dan kini, Aurel harus kembali ke alamnya.

I'll see you when the road decides it's time for our paths to cross again. -b.m

END written by goldeneunoia

Mendengar pintu bel rumahnya berbunyi, Jocelyn segera membukakan pintu untuk sang tamu yang sudah ia ketahui siapa.

“Happy Anniversary, sayang,” ucap Ten sambil memberikan sebuket bunga mawar merah kepada Jocelyn.

Jocelyn tersenyum bahagia. Ia menerima buket bunga itu dengan tatapan berbinar, “Thank you, sayang,” balasnya lalu ia memeluk erat lelaki itu.

Ten membalas pelukan Jocelyn, “Ini mau dipeluk terus aja? Nggak jadi dinnernya?” tanya Ten jahil setelah sekitar 5 menit mereka hanya berpelukan saja di depan pintu.

“Hmmh,” jawab Jocelyn tanpa berniat melepaskan pelukannya.

“Tapi aku laper,” sambung Ten membuat Jocelyn akhirnya terpaksa berhenti memeluk Ten, “Kita mau dinner dimana? Aku bingung mau pake baju apa,” ucap Jocelyn sambil merangkul Ten dan berjalan masuk ke dalam rumah.

Casual aja, kayak aku gini,” jawab Ten lalu Jocelyn refleks memandangi penampilan pacarnya malam itu, kaos oblong putih dipadu dengan jaket jeans berwarna hijau army serta celana jeans hitam menjadi pilihan lelaki itu.

“Eh, emang kita mau dinner dimana?” tanya Jocelyn bingung.

Ten memicingkan matanya, “Kamu nggak expect aku ajak kamu fine dining romantis ala-ala drakor kan?” tanyanya curiga dan dijawab dengan senyuman kikuk khas Jocelyn.

“Aku mau nepatin janji aku buat ngajak kamu makan buryam di Barito,” sambung Ten lagi.

“Oke kalo gitu, aku siap-siap dulu,” ujar Jocelyn dan ia segera berlari masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.

Tidak sampai 10 menit, Jocelyn sudah kembali menemui Ten yang menungguinya di ruang tamu, “Aku nggak make up-an nggak papa, ya? Lagi males,” ucapnya.

Ten bangun dari duduknya dan mengacak pelan bagian depan rambut Jocelyn, “Make up or not, you always look stunning, Jo.”

Pipi Jocelyn memerah mendengar pujian yang dilontarkan Ten, “Yuk, berangkat. Sebelum kamu makin gombal,” ajaknya seraya merangkul lengan Ten.

“Eh, kakak kamu kemana? Nggak di rumah?”

Jocelyn menggeleng, “Lagi pacaran, udah yuk.”

***

Butuh waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke tujuan mereka yaitu Jalan Barito, setelah sebelumnya mereka sempat nyasar karena Ten yang sudah agak lupa daerah sana ditambah Jocelyn yang salah membaca Gmaps.

“Ih ini gmaps nya yang error, bukan aku. Masa tau-tau disuruh belok padahal daritadi perintahnya lurus-lurus aja,” gerutu Jocelyn saat mereka masih berputar-putar mencari Jalan Barito.

“Iya sayang, aku nggak nyalahin kamu kok. Easy...” hibur Ten pelan sambil tetap fokus menyetir.

“Aku baru tau lho beneran, ada yang jualan bubur ayam malem-malem gini,” ujar Jocelyn saat Ten sudah kembali ke mobil setelah memesan dua mangkuk bubur ayam dan membeli dua botol air mineral. Karena tidak ada tempat duduk kosong, Ten dan Jocelyn memutuskan untuk menyantap bubur mereka di dalam mobil.

“Kamu mainnya kurang jauh,” ledek Ten pelan sambil membukakan tutup botol air mineral milik Jocelyn lalu memberikannya pada perempuan itu.

Bibir Jocelyn mengerucut, “Tau sendiri kan, mantan aku kayak apaan. Tuh, pernahnya ke tempat tadi yang kita lewatin.”

“Hah? Apa? Kita lewatin banyak tempat, Jo,” balas Ten bingung.

“Itu, Ten... BG,” balas Jocelyn lagi disambung dengan Ten yang hanya manggut-manggut tanda ia mengerti.

Obrolan mereka terputus karena abang bubur ayam mengetuk kaca jendela mobil Ten, mengantarkan dua mangkuk bubur ayam sesuai pesanan lelaki itu.

“Diaduk atau enggak?” tanya Jocelyn sambil melirik tajam ke arah Ten.

Ten tidak menjawab dengan kata-kata, tapi ia langsung mulai menyantap buburnya dan itu cukup memberi jawaban jelas untuk Jocelyn.

Jocelyn tersenyum puas, jawaban Ten sesuai ekspetasi dirinya, “Bagus deh, jangan sampe kita debat dulu sebelum makan,” lalu perempuan itu ikut melahap makan malamnya.

“Jo, setahun jadi pacar aku apa rasanya?” tanya Ten disela acara makan malam mereka.

“Beruntung,” jawab Jocelyn tanpa keraguan sekecil pun, “Aku bener-bener merasa seberuntung itu, Ten,” sambungnya lagi.

“Kalau dua, tiga, empat tahun jadi pacar aku, kira-kira apa rasanya?” Ten kembali bertanya.

“Bahagia, beruntung, hmm what else? Aku bingung ih mau jawab apa... Kamu kenapa nanya begini?” Jocelyn gantian bertanya dan kali ini ia menoleh ke arah Ten yang ternyata sudah terlebih dahulu memandangi dirinya.

“Jocelyn, mau jadi teman hidup aku selamanya, nggak?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana tetapi sukses membuat perasaan Jocelyn jungkir balik tidak karuan, dan perempuan itu sangat-sangat tidak bisa menyembunyikan ekspresi kaget bercampur bahagianya.

Dengan segala reaksi Jocelyn, Ten hanya tersenyum lalu ia kembali bertanya, “Jocelyn, will you marry me?”

Tidak ada kata lain selain 'ya' dan anggukan berkali-kali dari Jocelyn untuk menjawab pertanyaan Ten. Lelaki itu segera mengeluarkan benda berkilau dari saku jaketnya dan mengenakannya di jari manis milik Jocelyn.

I love you, Margareth Jocelyn.”

I love you too, Ten Lee.”

I’ll love you more. I’ll take care of you If you cry, if you’re having a hard time, if you’re hurt, I’ll hurt with you I’ll love you forever, I’ll protect you forever I’m thankful that I’ve met someone like you I want to love only you everyday Will you marry me? —Lee Seung Gi – Will You Marry Me?

March 1st, 2020

“Udah dimana, Jae?” suara seorang perempuan terdengar di ujung telepon milik Jaehyun.

“Sebentar ya, aku lagi cari parkir,” jawab Jaehyun singkat, “Eh ini aku udah nemu parkirannya, aku harus kemana?” tanya Jaehyun setelah beberapa saat.

“Aku depan Starbucks, tanya satpam aja.”

“Oh, oke. Jangan matiin telfonnya dulu.”

Jaehyun mengikuti saran perempuan itu, bertanya satpam dimana Starbucks berada. Tidak lama, ia dan perempuan itu langsung bertemu.

“Hai, sorry lama,” ujar Jaehyun dengan perasaan bersalah. Perempuan itu menggeleng pelan, “Enggak kok, aku juga baru nyampe.”

“Mau kopi?” tawar perempuan itu. Jaehyun menggeleng, “Nggak deh, nanti aja sebelum balik. Udah pesen taksinya?”

“Udah. Itu deh kayaknya,” jawabnya sambil menunjuk city car berwarna merah yang baru saja menepi tidak jauh dari lokasi mereka berdiri.

“Oh iya, yaudah ayo.”

Jaehyun dan perempuan itu segera masuk ke dalam mobil dan mobil itu segera melaju menuju titik antar yang sesuai dengan aplikasi.

“Udah siapin apa aja buat ujian?” perempuan itu membuka percakapan di dalam mobil. Dengan antusias Jaehyun menunjukkan beberapa lagu dari file di ponselnya.

“Aku rencana main ini, atau main ini. Menurutmu bagusan yang mana?” tanya Jaehyun balik.

“Kayaknya salah orang deh, jelas-jelas jagoan kamu. Kok nanyanya ke aku.”

Jaehyun tertawa pelan, “Pengen tau aja pilihan kamu.”

Perempuan itu bolak-balik menggeser layar ponsel Jaehyun, “Kayaknya Brahms aja, Schubert too high risk nggak sih?”

“Sama aja sih sebenernya. Mau dengerin lagunya?” Jaehyun menyodorkan airpods kiri miliknya. Perempuan itu mengangguk, memakai airpods itu dan keduanya terlarut dalam sebuah permainan piano milik Brahms: Intermezzo in A, Op.118, No.2.

“Cantik banget,” puji perempuan itu begitu permainan piano di Spotify milik Jaehyun berakhir. Jaehyun hanya manggut-manggut tanda ia setuju sambil menyimpan kembali airpods dan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.

Tidak terasa mereka tiba di tujuan mereka, Java Jazz 2020. Begitu masuk, keduanya sama-sama sibuk sendiri melihat keadaan sekitar. Perempuan itu sibuk mencari jadwal tampil artis yang mereka ingin tonton, sementara Jaehyun hanya memandangi perempuan itu.

“Ke stage sini mau nggak?” tanya perempuan itu sambil menunjukkan ponselnya kepada Jaehyun. Jaehyun hanya mengangguk, “Yuk,” jawabnya singkat.

Begitu banyak orang sehingga kadang Jaehyun dan perempuan itu terpisah, membuat Jaehyun akhirnya memegangi ujung baju bagian lengan perempuan itu. “Biar nggak kepisah,” ucap Jaehyun pelan.

Perempuan itu hanya diam. Jaehyun sangat sulit ditebak, dari pertemanan mereka di Instagram sampai bertemu tatap muka, ia tidak pernah tahu bagaimana perasaan lelaki itu terhadap dirinya. Mengobrol setiap hari baik melalui DM di Instagram maupun di Whatsapp, tidak cukup bagi ia untuk memahami Jaehyun.

“Bagus ya,” komen Jaehyun membuyarkan lamunan perempuan itu. Permainan gitar yang apik dari Tohpati sore itu mengawali acara nonton bareng mereka sore itu.

“Eh, kamu tuh pernah nonton Java Jazz nggak sih?” tanya Jaehyun saat dia dan Kayra sedang duduk menikmati promosi buy get one di Starbucks minggu sore itu.

Kayra mengangguk, “Pernah. Sekali. Sama mantan.”

Jaehyun hanya membulatkan bibirnya, “Berminat nonton lagi nggak?”

Kayra menoleh, “Kamu mau nonton?” dan pertanyaan itu dijawab dengan anggukan antusias dari Jaehyun, “Sama kamu, yuk? Beli tiketnya sekarang,” balasnya sambil membuka website resmi Java Jazz.

*“Eh, serius beli sekarang?” Kayra agak tidak percaya