Pilihan
Alyssa buru-buru keluar dari rumahnya saat mendengar deru mesin mobil Simon.
“Simon...” panggil Alyssa pelan. Turun dari mobil, Simon merangkul perempuan itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
“Lys, kamu harus gugurin kandungan itu secepatnya,” kata Simon begitu ia Alyssa menutup pintu rumahnya.
Mata Alyssa melebar, ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, “Mon?! Kamu udah gila ya?” pekik Alyssa berbisik.
“Lebih gila lagi kalo sampe orang tua aku tau kalo kamu hamil, Lys!”
Alyssa mendengus, “Kamu sama sekali nggak mikirin perasaan aku, ya?”
Simon mendekati Alyssa yang masih berdiri di dekat pintu lalu ia mengelus pelan pipi Alyssa, “Sayang, justru aku pikirin kamu. Aku nggak mau kamu jadi bahan omongan anak-anak di kampus.”
“Kamu harus tanggung jawab, Simon,” balas Alyssa sambil menatap Simon tajam.
“Aku bakal biayain semuanya untuk gugurin kandungan itu.”
Alyssa refleks menampar Simon, “Kamu pikir semua bisa dibeli pake uang? Kamu keterlaluan, Mon,” ujar Alyssa lalu ia pergi dari hadapan Simon dan duduk di sofa yang tidak jauh dari pintu rumahnya.
Simon menoleh ke arah Alyssa yang sedang menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya, “Terus mau kamu apa, Lys? Kamu mau aku tanggung jawab dengan nikahin kamu dan urus anak itu? Aku belum siap—”
“Kamu pikir aku siap?!” potong Alyssa marah. Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya tidak dapat terbendung lagi. Perlahan, air mata itu mengalir membasahi pipi perempuan itu, “Nggak ada yang siap, Mon. Nggak ada...”
Tapi Simon tidak bergeming dari keputusannya, “Pokoknya aku mau kamu gugurin kandungan itu,” ucap Simon lalu ia pergi meninggalkan Alyssa sendiri tanpa mempedulikan tangis dan rasa hancur perempuan itu.
*
Plak
Tiba di rumah, Simon disambut dengan tamparan keras dari Ibunya.
“Kenapa sih, Ma?!” protes Simon kesal. Mood nya yang sedang tidak baik semakin buruk karena perilaku Ibunya.
“Lihat ini,” balas Mama Simon dingin sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Simon.


“Kamu tuh bodoh atau tolol? Kamu lupa Alyssa lagi magang di perusahaan Papa kamu dan dia bisa akses semua berkas Papa?!”
Simon menghela nafas lalu menggigit bibir bawahnya, ia sama sekali tidak menyangka Alyssa akan secerdas ini untuk membuat dirinya bertanggung jawab atas kesalahan yang ia lakukan.
“Trus Mama mau aku nikahin dia?”
“Kamu lebih memilih nikahin dia atau kita sekeluarga jatuh miskin karena Papa di penjara?”