Hansaplast
Genta Alajeno terkenal dengan karakter berandalnya. Tidak terhitung dalam sebulan Jeno—sapaan akrabnya, dipanggil ke ruang BK. Sama halnya dengan hari ini.
Setelah sukses membabak belurkan murid kelas 11-2 IPA, Jeno diajak paksa ke ruang BK oleh guru BK nya, Pak Mahardi.
“Jeno! Saya sudah capek sekali dengan kelakuan kamu, ya. Bahkan orang tua kamu pun kelihatannya tidak peduli lagi dengan kamu.”
Jeno mengeraskan kepalan tangannya, mendengar orang tuanya disebut-sebut dalam percakapan siang itu.
“Saya akan panggil orang tua kamu untuk terakhir kalinya, kalau kamu masih berulah, dengan terpaksa sekolah akan mengeluarkan kamu.”
Selesai mendapat somasi dari sang guru, Jeno keluar dari ruang BK dengan penuh amarah. Ia memutuskan untuk tidak mengikuti pelajaran Sosiologi saat itu dan memilih untuk menyendiri di taman belakang sekolah.
“Jen, pipi kamu ada luka,” ucap seorang perempuan sambil menyodorkan selembar hansaplast bermotif Doraemon kepada Jeno.
Jeno menepis tangan perempuan itu hingga hansaplastnya jatuh. Namun perempuan itu tidak menyerah. Ia memungut hansaplast itu dan langsung memakaikannnya di pipi Jeno.
“Lo apa-apaan sih?! Jangan sok caper sama gue, gue nggak suka,” ujar Jeno sambil menepis lagi tangan perempuan itu dari wajahnya.
“Sebentar aja, abis aku pakein hansaplastnya, aku pergi.”
Perempuan itu gigih, ia kembali melanjutkan memasang hansaplast untuk menutupi luka Jeno.
“Gila lo ya?” tanya Jeno ketus lalu lelaki itu segera meninggalkan perempuan itu sendiri di taman belakang sekolah.
*
Jeno melaju dengan kecepatan tinggi pada motornya malam itu. Tidak peduli dengan dinginnya udara yang menusuk hingga tulang, ia terus melaju hingga segerombolan orang di tepi jalan menarik perhatiannya.
Gerombolan itu terlihat sedang mengerubungi seseorang, seseorang yang tidak asing bagi Jeno.
“Heh, ngapain lo?” panggil Jeno membuyarkan kerumunan gerombolan itu. Benar saja, mereka sedang berusaha menganggu si cewek hansaplast, perempuan yang selalu mengobati luka Jeno dengan hansaplast miliknya.
“Lo siapa? Berani ganggu urusan kita?” teriak salah satu dari gerombolan itu dan segera terjadi baku hantam 1 vs 5.
Bukan Jeno namanya kalau tidak bisa melumpuhkan 5 orang itu sekaligus. Setelah semua terkapar, Jeno segera menarik tangan perempuan itu dan mengajaknya pergi dari situ.
Dalam perjalanan, cewek hansaplast—begitu panggilan Jeno saat ini tidak mengatakan apa-apa selain menggenggam erat jaket kulit yang dikenakan Jeno. Jeno juga tidak bersuara, ia memilih fokus mengemudi.
“Rumah lo dimana?” tanya Jeno setelah ia berhenti di persimpangan antara rumah dan sekolahnya.
“Kesana,” jawabnya sambil menunjuk jalan yang sama dengan jalan yang harus ditempuh Jeno untuk pulang ke rumahnya.
Tanpa bertanya lagi, Jeno kembali mengemudikan motornya hingga tiba di rumahnya.
“Terima kasih, Jen,” ucap perempuan itu sambil turun dari motor Jeno dan berjalan menuju rumahnya yang terletak persis di sebelah rumah Jeno.
”Sejak kapan si cewek hansaplast itu jadi tetangga gue?”
*
Sejak malam itu diam-diam Jeno berusaha untuk mencari tau siapa cewek hansaplast yang ternyata adalah tetangganya sendiri.
Beberapa kali Jeno mencari di sekolah, namun hasilnya nihil. Ia tidak pernah melihat perempuan itu, seakan dia memang tidak ada di sekolah.
Di rumah hasilnya pun sama, rumah tetangganya itu sangat sunyi seperti tidak ada kehidupan disana. Bertanya dengan orang tuanya akan percuma karena kedua orang tua Jeno jarang sekali berada di rumah.
Sudah seminggu berlalu, Jeno masih juga belum mengetahui identitas perempuan hansaplast itu hingga siang itu ia kembali bertemu dengan perempuan itu.
Siang itu sekolah Jeno mengadakan kunjungan ke kampus atau biasa disebut campus visit, sebagai salah satu kegiatan resmi untuk siswa kelas 3 SMA. Dengan langkah gontai Jeno masuk ke dalam bus dan memilih duduk di kursi belakang, di sisi jendela.
“Hai Jen, aku duduk sini ya?” tanya perempuan hansaplast itu. Jeno terperangah sesaat lalu ia mengangguk. Perempuan itu duduk, lalu ia memasang headset di telinganya dan mulai menikmati musik dari iPod mini jadul miliknya.
Sepanjang perjalanan Jeno sesekali melirik ke arah perempuan itu, ia terlihat sangat tenang dengan mata terpejam padahal suasana di bis siang itu sangat ramai. Sampai tiba di tujuan, tidak ada sepatah percakapan yang terjadi diantara mereka berdua.
Tiba di universitas yang mereka kunjungi, Pak Mahardi selaku kepala panitia kegiatan ini membagi kelompok untuk mengikuti rangkaian kegiatan hari itu dengan satu kelompok berjumlah dua orang dan sesuai dengan teman sebangku di bis, otomatis membuat Jeno berpasangan dengan perempuan hansaplast itu.
“Kamu mau liat UKM apa?” tanya perempuan itu sambil keduanya berjalan menyusuri lorong universitas yang cukup ramai.
“Nggak ada, terserah lo aja. Gue ngikut,” jawab Jeno dengan suara rendah khasnya.
Perempuan itu hanya mengangguk. Sepanjang hari itu Jeno benar-benar mengikuti kemana perempuan itu pergi, karena sebenarnya ia sama sekali tidak interest dengan kegiatan visit campus ini.
'Untung juga ada cewek ini, gue nggak garing-garing banget,’ batin Jeno dalam hati.
Perempuan itu menyodorkan teh instan dalam kemasan botol kepada Jeno, “Buat kamu.”
“Thanks,” ucap Jeno singkat lalu ia meminum air pemberian perempuan itu, “Nama lo siapa?” tanya Jeno setelah selesai minum.
“Aurel,” jawab perempuan itu.
“Lo anak kelas berapa? Kok gue nggak pernah liat lo di sekolah?” pertanyaan Jeno semakin bertambah.
Aurel hendak menjawab, akan tetapi panggilan dari Pak Mahardi dengan toa yang menginstruksikan murid-muridnya untuk kembali masuk ke dalam bis memotong percakapan mereka.
Jeno dan Aurel masuk ke bis sebagai murid terakhir, karena nya mereka terpaksa duduk terpisah. Aurel duduk di depan sementara Jeno di bangku yang sama seperti saat keberangkatan mereka.
Sepanjang perjalanan Jeno tertidur pulas, walaupun ia hampir tidak melakukan apa-apa tetapi perjalanan hari itu cukup menguras tenaganya. Sampai di sekolah ia mencari Aurel, maksud hati mengajak perempuan itu untuk pulang bersama, tetapi lagi-lagi ia tidak dapat menemukan perempuan itu.
*
Sampai di rumah, Jeno menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Aurel yang bersebelahan dengan rumahnya, namun sayang rumah itu kelihatan gelap dari luar sehingga Jeno menyimpulkan kalau penghuni rumah itu belum ada yang tiba, termasuk Aurel.
Jeno melempar tas nya ke atas kasur lalu berbaring persis di sisi tas ranselnya. Ia memejamkan mata sesaat, lalu kembali bangkit dari tidurnya untuk mandi tapi sesuatu mengalihkan perhatiannya.
Dompet milik Jeno yang tidak sengaja terlempar keluar dari tas dan sekotak hansaplast menarik perhatian Jeno. Jeno mengambil kotak hansaplast itu, disana tertulis sebuah pesan yang ditulis diatas kertas yang ditempel di kotak,
'Jangan berantem terus.'
Ia pun kemudian mengambil dompetnya dan sebuah foto berukuran 4x6 meluncur dari situ. Foto dirinya dengan Aurel. Dahi Jeno berkerut, ia mencoba mengingat kapan ia mengambil foto dengan perempuan itu. Di foto itu Aurel tersenyum lebar dengan Jeno disebelahnya sedang melihat ke arah Aurel.
Kepala Jeno mendadak terasa pusing sekali hingga ia kembali berbaring dan tidak henti-hentinya memukul kepalanya yang terasa sakit seperti habis berbenturan dengan benda keras berkali-kali.
*
Keesokannya...
Sebelum berangkat ke sekolah, Jeno pergi ke rumah Aurel dan disana terdapat tulisan bahwa rumah itu sudah dijual. Dengan panik ia segera mengemudikan motornya untuk pergi ke sekolah.
Di sekolah, Jeno mendapati teman-teman seangkatannya berkumpul di depan loker penyimpanan yang disediakan sekolah mereka, membuat Jeno menghampiri kerumunan itu dan berusaha menerobos barisan yang sesak agar ia dapat melihat apa yang sedang terjadi.
Di loker yang terbuka itu terdapat pigura berisikan foto Aurel dengan tulisan di pigura tersebut 'Aurel Larasatia' serta sebuket bunga mawar putih dan juga lilin yang menyala.
“Aurel?” tanya Jeno linglung, “Ini maksudnya apa?” sambungnya lagi.
“Lo lupa Jen? Hari ini tepat dua tahun kepergian Aurel,” jawab Haikal, teman sekelas Jeno.
Jeno menggeleng keras, “Nggak mungkin, Aurel kemarin ikut pergi campus visit. Beberapa hari lalu dia juga kasih hansaplast buat gue.”
Haikal menepuk pundak Jeno, “Jen, itu semua cuma halusinasi lo. Aurel udah nggak ada.”
“Kalian nggak liat dia kemarin sama gue seharian, pas campus visit?”
“Nggak, Jen. Kemarin lo sendirian, lo nggak sama siapa-siapa. Lo duduk di bis pas pergi sendiri, lo juga nggak punya kelompok. Waktu makan siang juga lo sendirian.”
“Trus ini apa?!” tanya Jeno kesal sambil mengeluarkan foto dirinya dan Aurel dari dompetnya.
“Itu waktu kalian pacaran. Foto itu diambil pas acara sekolah kita, tepat sehari sebelum kecelakaan motor kalian yang merenggut nyawa Aurel,” jawab Haikal menjelaskan.
Kepala Jeno kembali terasa sakit hingga ia ambruk, terjatuh ke lantai, “Nggak, nggak, nggak mungkin. Nggak mungkin!!” teriaknya histeris. Tanpa disadari air mata Jeno mengalir di pipinya.
“Jeno!” Haikal berjongkok dan merangkul bahu Jeno, “Ikhlasin kepergian Aurel ya, Jen? Gue yakin dia bakal ngejagain lo dari atas sana.”
Jeno menatap foto Aurel dengan tatapan menerawang, seketika semua ingatan akan dirinya dan Aurel kembali terputar di otaknya. Tidak ada suara selain tangis Jeno yang pecah, memenuhi koridor sekolah itu.
Dari jauh, Aurel melihat itu semua. Ia ikut menangis, merasakan kepedihan yang Jeno alami; kenyataan yang harus Jeno terima bahwa ia harus pergi terlebih dahulu meninggalkan lelaki rapuh itu sendiri. Dan kini, Aurel harus kembali ke alamnya.
I'll see you when the road decides it's time for our paths to cross again. -b.m
END written by goldeneunoia