Cinta Begini
Ponsel Hendery bergetar, sebuah pesan masuk datang dari seseorang yang tidak terduga. Lelaki itu tadinya sedang bermalas-malasan di kursi gamingnya, namun begitu membaca nama pengirim pesan sore itu ia langsung duduk tegak.
'Der, sibuk?'
Cuma dua kata, tapi sukses membuat hati menjerit. Setelah menulis-menghapus pesan beberapa kali, akhirnya Hendery berhasil membalas pesan tadi,
'Enggak, kenapa?'
Ia langsung menelungkupkan ponselnya di atas meja. Takut, batinnya dalam hati. Tapi ketakutannya berubah saat ponselnya kembali bergetar.
'Dinner, yuk? McD Kemang aja, gue kangen Happy Meal, hehe.'
Hendery tak kuasa menahan senyumnya. Bisa-bisanya tulisan 'hehe' itu terdengar jelas di telinganya dan membuat perasaannya bahagia.
—
Menuruti permintaan sang pengirim pesan, Hendery tiba di lokasi kurang lebih dalam waktu 30 menit. Perempuan itu sudah tiba lebih dulu, ia melambaikan tangannya ke arah Hendery.
“Hi, Der,” sapanya canggung. Hendery ikut-ikutan canggung, padahal rasanya ingin sekali ia memeluk perempuan itu dan mengatakan kalau ia sedang rindu.
“Hi, udah pesen?”
Perempuan itu menggeleng, “Nungguin lo. Bareng aja yuk,” jawabnya sambil bangkit berdiri dan mengajak Hendery untuk mengantri.
Dua paket Happy Meal Beef Burger sukses dipesan. Keduanya kini menyantap pesanan mereka dengan lahap.
“Gimana cewek, belum ada lagi?” tanya perempuan itu. Hendery tersenyum simpul sambil mengunyah kentang gorengnya, “Ya gitu deh.”
“Ya gitu deh gimana?”
“Ya gitu, nggak gimana-gimana. Entah, deh.”
“Ah, bilang aja nggak mau cerita sama gue. Gitu ya, sok rahasiaan sama gue.”
Hendery tertawa pelan, “Bukan gitu... By the way lo udah nggak pernah nge-game lagi ya? Udah lama nih kita nggak se-team.”
Perempuan itu hanya tersenyum tipis, “Hehe, iya nih. Udah nggak bisa sering-sering lagi,” balasnya lalu ia menyeruput Cola pesanannya.
“Kenapa?”
Pertanyaan Hendery tidak terjawab, sebuah panggilan telepon masuk untuk perempuan itu dan ia meminta waktu kepada Hendery untuk menjawabnya. Hendery mengangguk mengizinkan.
“Ngg... Der, gue harus cabut,” ucap perempuan itu setelah selesai bertelepon. Hendery refleks melihat jam tangannya, “Cepet banget. Itu kentang goreng belum abis.”
“Sengaja gue sisain buat lo, gue tau lo suka kentang goreng.”
“Ada janji lain?” tanya Hendery penasaran.
Perempuan itu mengangguk, “Cowok gue mau ke rumah. Udah ya, bye. Nanti gue text lo lagi,” pamitnya lalu ia langsung pergi, meninggalkan Hendery dengan sisa kentang goreng miliknya.
“Harusnya lo tau, Der. Ujungnya selalu begini.”