goldeneunoia

Ponsel Hendery bergetar, sebuah pesan masuk datang dari seseorang yang tidak terduga. Lelaki itu tadinya sedang bermalas-malasan di kursi gamingnya, namun begitu membaca nama pengirim pesan sore itu ia langsung duduk tegak.

'Der, sibuk?'

Cuma dua kata, tapi sukses membuat hati menjerit. Setelah menulis-menghapus pesan beberapa kali, akhirnya Hendery berhasil membalas pesan tadi,

'Enggak, kenapa?'

Ia langsung menelungkupkan ponselnya di atas meja. Takut, batinnya dalam hati. Tapi ketakutannya berubah saat ponselnya kembali bergetar.

'Dinner, yuk? McD Kemang aja, gue kangen Happy Meal, hehe.'

Hendery tak kuasa menahan senyumnya. Bisa-bisanya tulisan 'hehe' itu terdengar jelas di telinganya dan membuat perasaannya bahagia.

Menuruti permintaan sang pengirim pesan, Hendery tiba di lokasi kurang lebih dalam waktu 30 menit. Perempuan itu sudah tiba lebih dulu, ia melambaikan tangannya ke arah Hendery.

“Hi, Der,” sapanya canggung. Hendery ikut-ikutan canggung, padahal rasanya ingin sekali ia memeluk perempuan itu dan mengatakan kalau ia sedang rindu.

“Hi, udah pesen?”

Perempuan itu menggeleng, “Nungguin lo. Bareng aja yuk,” jawabnya sambil bangkit berdiri dan mengajak Hendery untuk mengantri.

Dua paket Happy Meal Beef Burger sukses dipesan. Keduanya kini menyantap pesanan mereka dengan lahap.

“Gimana cewek, belum ada lagi?” tanya perempuan itu. Hendery tersenyum simpul sambil mengunyah kentang gorengnya, “Ya gitu deh.”

“Ya gitu deh gimana?”

“Ya gitu, nggak gimana-gimana. Entah, deh.”

“Ah, bilang aja nggak mau cerita sama gue. Gitu ya, sok rahasiaan sama gue.”

Hendery tertawa pelan, “Bukan gitu... By the way lo udah nggak pernah nge-game lagi ya? Udah lama nih kita nggak se-team.”

Perempuan itu hanya tersenyum tipis, “Hehe, iya nih. Udah nggak bisa sering-sering lagi,” balasnya lalu ia menyeruput Cola pesanannya.

“Kenapa?”

Pertanyaan Hendery tidak terjawab, sebuah panggilan telepon masuk untuk perempuan itu dan ia meminta waktu kepada Hendery untuk menjawabnya. Hendery mengangguk mengizinkan.

“Ngg... Der, gue harus cabut,” ucap perempuan itu setelah selesai bertelepon. Hendery refleks melihat jam tangannya, “Cepet banget. Itu kentang goreng belum abis.”

“Sengaja gue sisain buat lo, gue tau lo suka kentang goreng.”

“Ada janji lain?” tanya Hendery penasaran.

Perempuan itu mengangguk, “Cowok gue mau ke rumah. Udah ya, bye. Nanti gue text lo lagi,” pamitnya lalu ia langsung pergi, meninggalkan Hendery dengan sisa kentang goreng miliknya.

“Harusnya lo tau, Der. Ujungnya selalu begini.”

01.10 dini hari

Selesai bertukar pesan dengan Winwin, Ten meregangkan otot-otot tubuhnya, kemudian ia mematikan laptop dan keluar dari kamar. Terlihat TV ruang tengah menyala dan Jocelyn yang masih terjaga menonton tayangan dini hari.

“Jo? Kok nggak tidur?” tanya Ten seraya berjalan menghampiri Jocelyn.

“Nggak bisa tidur,” jawabnya pelan.

“Di kamar gih, aku yakin kamu pasti bisa tidur kalo kena kasur.”

Jocelyn hanya menggeleng lalu ia merebahkan tubuhnya di sofa, “Gini juga bisa tidur kok.”

“Kamu udah selesai kan kerjanya? Tidur ya, good night,” ucap Jocelyn lalu ia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.

Ten tidak membalas kalimat terakhir Jocelyn, ia pergi kembali masuk ke dalam kamarnya. Namun selang beberapa menit, lelaki itu kembali datang dengan selimut, bantal dan juga guling.

Night, Jo,” ujar Ten sambil menaruh bantal dan gulingnya di atas karpet ruang tengah, persis di dekat sofa yang ditiduri Jocelyn. Kemudian Ten membuka selimut yang ia bawa dan menyelimuti Jocelyn tanpa mengucapkan apapun.

Kaget dengan apa yang Ten lakukan, Jocelyn kembali membuka matanya dan mendapati Ten yang sudah merebahkan diri di atas karpet ruang tengah.

“Ten, kok tidur disini sih?”

“Nemenin kamu,” jawabnya dengan mata terpejam.

Jocelyn menghela nafas, kemudian ia bangun dari tidurnya dan duduk di sofa itu seraya memandangi Ten, “Badan kamu sakit semua tidur di atas karpet gitu.”

“Nggak...”

“Aku tidur di kamar, kamu tidur di sofa deh nih,” balas Jocelyn pasrah karena sejujurnya jika ia memaksa Ten untuk kembali ke kamarnya tentu saja lelaki itu tidak akan mau.

“Jo, maaf.”

Suara pelan Ten menghentikan langkah kaki Jocelyn yang sedang berjalan menuju kamar. Ten kemudian bangun dari tidurnya dan memandangi Jocelyn yang berdiri tidak jauh dari ruang tengah.

“Maaf, udah bikin kamu khawatir dan jadi ngerepotin kamu gini.”

Jocelyn tidak membalas apa-apa, ia kembali ke ruang tengah; menghampiri Ten yang duduk di karpet dan memeluk erat lelaki itu.

“Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa lagi, Ten. Aku tau, kamu suka sama kerjaan kamu karena disana kamu bisa sekaligus menyalurkan hobi kamu. Tapi nggak gini caranya. Kamu harus pikirin kesehatan kamu dulu.”

Ten melepaskan dirinya dari pelukan Jocelyn agar bisa menatap perempuan itu, ia mengelus puncak kepala Jocelyn dan juga pipinya, “Aku sayang banget sama kamu, Jocelyn.”

Jocelyn tersenyum, “Maaf juga, tadi aku jutekin kamu.”

Ten menggeleng pelan sambil kembali mengelus-elus pelan pipi Jocelyn, “Nggak papa. Bukan salah kamu. Jangan marah lagi, ya? Aku janji akan coba untuk kontrol diri aku supaya nggak overwork.

“Janji?” tanya Jocelyn sambil menyodorkan kelingking kanannya—salah satu kebiasaan Jocelyn jika sedang membuat sebuah janji dengan seseorang.

Ten tersenyum lalu mengaitkan kelingking kanannya dengan milik Jocelyn, “Janji,” jawabnya singkat kemudian ia mencium kening perempuan itu dan memeluknya lagi.

“Sure this is one of my favorite things to do with you.”

“Mm, really? Then choose, hug or kiss?”

“Hug.”

“Why?”

“Kiss may shows an affection and passion but hug for me.. is more than an affection. One thing for sure, I feel secure everytime you hugged me.”

“Jadi mau bobonya begini?”

“Emang bisa?”

“Kenapa engga?”

Ten kemudian melepaskan pelukannya; ia mengatur bantal yang ia bawa dari kamar dan juga bantal sofanya lalu ia merebahkan dirinya dan merentangkan lengan kanannya, “Sini,” ucap Ten sambil menepuk-nepuk tempat yang kosong di sisi kanannya.

Jocelyn tersenyum tipis, menuruti kata Ten ia merebahkan tubuhnya di tempat yang telah diatur lelaki itu, dengan lengan kanan Ten sebagai bantal kepalanya, “Ini kamu nggak pegel tangannya?” tanya Jocelyn ragu.

“Sama sekali engga,” balas Ten lalu ia memeluk Jocelyn dengan tangan kirinya. Kini perempuan itu sukses masuk ke dalam pelukan ternyamannya.

“Good night, Jocelyn. I do love you.”

“I do love you too, Ten.”

“Jocelyn?” tanya Ten heran saat ia melihat perempuan itu menyambut dirinya di pintu unit apartemennya.

Jocelyn hanya tersenyum memamerkan giginya, “Gimana check up nya? Apa kata dokter?” tanya Jocelyn sambil membantu Ten berjalan masuk ke dalam.

“Bagus, Jo. Besok Senin dia udah bisa mulai fisioterapi nya,” bukan Ten yang menjawab melainkan Winwin yang berada di belakang mereka.

“Aku yang anterin, ya? Please aku udah nggak sakit lagi kok,” pinta Jocelyn dengan wajah memelas khasnya. Refleks Ten mengacak pelan rambut Jocelyn sambil tersenyum, “Iya,” balasnya singkat.

“Pas banget nih lunch nya udah jadi, ayo makan dulu semua,” dari dapur Kalina memanggil semua yang ada di unit itu untuk berkumpul di meja makan.

Sabtu siang itu sesuai janji Winwin kepada Ten sebelumnya, ia dan Kalina datang untuk menjenguk Ten. Berbagi tugas dengan Winwin, Kalina memutuskan untuk memasak makan siang sementara Winwin pergi mengantar Ten untuk check up. Jocelyn yang sudah mengetahui rencana ini sebelumnya datang setelah Ten dan Winwin pergi ke rumah sakit.

“Wow, thank you Kal,” ujar Ten begitu ia melihat sejumlah makanan rumahan tersaji di atas meja.

“Jocelyn juga bantuin lho,” balas Kalina sambil tersenyum ke arah Jocelyn yang tersipu malu sendiri, “Dikit hehe...” sambung Jocelyn canggung karena sejujurnya ia hampir tidak membantu Kalina memasak, tapi membantu perempuan itu untuk menjaga si Dede—anak Kalina dan Winwin yang sekarang sedang tertidur pulas.

“Dede bobo, yang?” tanya Winwin sambil celingukan mencari keberadaan anaknya.

“Iya, itu di sofa,” jawab Kalina.

“Pindahin ke kamar aja, Kal. Nggak papa kok,” sambung Ten.

“Nanti aja nggak papa Ten, sekarang makan dulu yuk.”

Sedetik kemudian ruangan itu menjadi hening; semuanya menikmati makan siangnya masing-masing. Percakapan baru kembali terjadi setelah mereka semua hampir menghabiskan makan siang mereka di waktu yang bersamaan.

Anyway, gue belum bilang ya ke kalian, kalo Devan dipindahin ke pusat rehab.”

Ketiganya kompak menengok ke arah Winwin, “Rehab?” tanya Jocelyn heran.

Winwin mengangguk, “Minggu lalu kayaknya gue dapet infonya. Dia ketauan ngobat, Jo. Dan katanya udah lama.”

Jocelyn membulatkan bibirnya, “Oh... Pantesan...” dan ia langsung teringat akan kejadian di elevator kantornya saat Devan tiba-tiba menyerangnya.

“Kenapa, Jo? tanya Ten sambil menatap Jocelyn dengan tatapan khawatir.

Jocelyn buru-buru menggeleng, “Nggak, nggak papa...” balasnya pelan namun belum cukup untuk membuat Ten, Winwin dan Kalina berhenti menatapnya dengan tatapan khawatir, membuat ia kembali angkat bicara, “Beneran guys, nggak papa.”

Ten yang duduk di sebelah Jocelyn langsung mengelus-elus puncak kepala Jocelyn, “It's over, Jo. Dia nggak bakal gangguin kamu lagi. I reassure you for that.

Jocelyn mengangguk-angguk, “Iya, sayangku,” jawabnya lalu ia ikutan mengelus puncak kepala Ten dengan pelan.

“Liat ada yang pacaran di depan kita, yang.”

Kalina tersenyum mendengar kalimat Winwin lalu ia ikut mengelus puncak kepala suaminya itu, “Udah punya anak satu masih aja suka ngiri.”

Ten dan Jocelyn kompak tertawa mendengar celetukan Kalina sementara Winwin memanyunkan bibirnya, “Kal, aku susah-susah bangun image bagus di depan Jocelyn, kamu malah ngomong gitu.”

“Nggak usah jaim, tadi Kalina udah banyak cerita ke gue,” celetuk Jocelyn seraya melihat Kalina dan mengangkat alisnya, “Ten, masa anaknya Kalina lucu banget,” sambung Jocelyn lagi.

“Anak Kalina dan Winwin, yang lengkap,” protes Winwin namun langsung ditimpali Ten, “Berisik”.

“Lucu gimana, yang?” tanya Ten lagi kepada Jocelyn.

“Iya, lucu aja gitu. Ngegemesin. Trus pinter juga,” balas Jocelyn antusias.

“Yuk dilamar yuk pacarnya, biar si Dede ada temen playdate,” celetuk Winwin jahil. Kalina hanya tersenyum, Jocelyn tersipu malu sendiri sementara Ten memutar bola matanya, “Win, please...” protesnya sambil melirik ke arah Winwin dan Kalina yang kali ini kompak tertawa pelan.

Some people arrive and make such a beautiful impact on your life, you can barely remember what life was like without them.Anna Taylor

Welcome home, Ten...” ucap Jocelyn sambil mendorong kursi roda Ten ke dalam apartemen lelaki itu.

Sebulan setelah sidang Devan digelar, Ten diizinkan untuk pulang ke rumah dengan catatan rutin melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit minimal seminggu sekali.

Louis dan Leon menyambut majikan mereka dengan berputar-putar heboh di dekat kaki Ten, mengundang senyum di wajah lelaki itu.

“Makasih ya, Jo,” ucap Ten setelah Jocelyn membantunya untuk pindah dari kursi rodanya ke ranjang kamarnya.

“Makasih apa, I do nothing,” balas Jocelyn yang kini sedang membuka tirai jendela kamar Ten, membuat kamar itu terlihat lebih terang.

“Makasih, kamu kembali ke aku. Makasih, nggak ninggalin aku.”

Jocelyn kembali menghampiri Ten, ia duduk di tepi ranjang Ten, “Aku nggak mau bikin keputusan yang salah lagi, Ten.”

Ten mengelus pelan pipi Jocelyn, ditatapnya perempuan itu lekat-lekat, “Jo, kamu mau jadi pacar aku lagi? Aku takut kalo kelamaan ngomongnya—“

“Cerewet, kata dokter kamu nggak boleh banyak ngomong dulu,” potong Jocelyn sambil meraih tangan Ten dari wajahnya dan bangkit berdiri.

“Aku bikinin makan siang dulu ya, bentar,” sambung Jocelyn sambil berjalan keluar dari kamar Ten.

Terlihat raut kecewa di wajah Ten karena Jocelyn tidak menjawab pertanyaan krusial tadi, dan hal itu membuat Jocelyn tersenyum geli sendiri.

“Ten,” panggil Jocelyn dari balik pintu kamar. Yang punya nama menoleh, “Aku mau,” sambung Jocelyn lalu ia buru-buru kabur sebelum Ten memergoki wajahnya yang merah.

Tapi percuma, walaupun Ten tidak melihat wajah Jocelyn saat itu, ia dapat memastikan perempuan itu sedang senang—terdengar suara Jocelyn yang sedang bersenandung sembari menyiapkan makan siang mereka, membuat Ten tidak henti-hentinya bersyukur dalam hati dengan senyum bahagia di wajahnya.

I found you. and it was enough. and it was everything.

—Alison Malee

Jocelyn kembali ke ruang rawat inap Ten, ternyata Winwin sudah tidak ada disana karena ia harus kembali ke kantor. Ia terdiam cukup lama di depan pintu sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam.

Jocelyn perlahan berjalan mendekati ranjang Ten, lelaki itu sedang tertidur pulas; sepertinya efek obat tidur yang diberikan Dokter agar ia cepat pulih.

Jocelyn duduk di kursi yang disediakan di sisi kanan ranjang, matanya memperhatikan wajah Ten dengan luka-luka baretan kecil akibat kecelakaan yang dialaminya. Begitupun dengan tangannya; Jocelyn kemudian meraih tangan itu dan mengelusnya perlahan.

“Maafin aku, Ten... Maafin...” bisik Jocelyn dengan air mata yang kembali membasahi pipinya. Ia tidak berkata apa-apalagi selain menangis dan lambat laun tangis itu menjadi semakin keras, Jocelyn tidak mampu lagi untuk menahan kesedihan dan penyesalannya.

“Jo?”

Jocelyn yang sedari tadi menunduk karena menangis kini mendanga, menoleh ke arah suara kecil yang memanggilnya. Dilihatnya Ten yang sedang berusaha tersenyum dan memanggil namanya, “Jo...”

Jocelyn masih sesenggukan; rasanya sulit sekali untuk menghentikan tangisnya apalagi kini ia melihat Ten yang sedang berusaha menggerakan tangannya dengan meraih pipi Jocelyn untuk menghapus air mata perempuan itu.

“Jo...” Ten memanggilnya kembali. Ia ingin mengucapkan banyak sekali hal kepada Jocelyn, tapi tubuhnya belum mampu untuk melakukan itu semua. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya memanggil Jocelyn.

“Ten, maafin aku,” ucap Jocelyn disela isak tangisnya. Ten mengangguk pelan sambil menghapus kembali air mata di pipi Jocelyn. Ingin sekali rasanya ia memeluk Jocelyn dan mengatakan bahwa Jocelyn tidak perlu menangis karena ia sudah memaafkan Jocelyn.

Jocelyn meraih tangan Ten yang sedari tadi memegangi wajahnya lalu digenggamnya dengan erat dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menghapus air matanya dengan serabutan, “Aku nggak nangis lagi,” kata Jocelyn sambil berusaha tersenyum.

Ten ikut tersenyum, jari-jarinya mengelus pelan punggung tangan Jocelyn yang menggenggam tangannya erat.

“Mulai detik ini aku akan selalu ada disini. Aku nggak akan kemana-mana sampe kamu sembuh. I do love you, Ten.”

Ten merasa seperti mendapatkan suntikan energi untuk pulih lebih cepat setelah mendengar kalimat yang diucapkan Jocelyn barusan. Dengan tenaga yang ia miliki saat ini, ia berusaha membalas Jocelyn,

I do love you too, Jocelyn.”

Home I find my place In between your arms In between your tender kisses And soft whispers of “It will be alright” In between the warmth of your embrace and the scent of your neck, and the fierceness of your touch, I find my lost place inside your soul.

—from Hearts and Empires by Cynthia Go

05.10 am

Perlahan Jocelyn membuka matanya seraya menggeliat, meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia melihat jam di ponselnya dengan malas namun tubuhnya refleks terduduk saat membaca notifikasi direct message dari Winwin.

”Win, DM lo—“

”Ten lagi operasi. Udah 3 jam tapi belum selesai juga karena pendarahannya cukup serius.”

Jocelyn langsung memutus hubungan teleponnya dengan Winwin dan bergegas pergi ke RS Jakarta.

***

“Win... Ten mana...? Win, lo bohong kan???” tanya Jocelyn dari kejauhan saat melihat Winwin yang terduduk di lantai di depan pintu ruang operasi. Langkah kakinya ragu untuk mendekati pintu ruang operasi, berharap apa yang terjadi saat ini semuanya hanyalah mimpi.

Melihat Jocelyn datang, Nadine bangkit dari duduknya dan menghampiri Jocelyn.

Plak!

Baik Jocelyn maupun Winwin sama-sama kaget dengan Nadine yang tiba-tiba menampar Jocelyn, “You. Don’t. Deserve. Ten,” ucap Nadine geram. Ia mengeraskan kepalan tangannya, berusaha untuk menahan emosinya.

Tangis Jocelyn tumpah, perempuan itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sementara Nadine kembali angkat bicara, “Ini semua gara-gara lo, Jocelyn!! Ten kecelakaan gara-gara lo!!!” sambung Nadine dengan nada membentak, ternyata Nadine tidak kuasa untuk menahan kekesalannya terhadap Jocelyn.

“Nggak usah nangis! Ten nggak butuh ditangisin sama cewek kayak lo!”

Melihat Nadine yang semakin emosi, Winwin menghampiri kedua perempuan itu dan menarik Nadine menjauh dari Jocelyn.

“Nad, calm down,” kata Winwin sambil merangkul Nadine dan berjalan meninggalkan Jocelyn sendirian di lorong rumah sakit, di depan pintu operasi.

Jocelyn terjatuh, rasanya kedua kakinya sudah tidak mampu lagi untuk menopang tubuhnya pagi itu, “Ten... maafin aku...” ucapnya lirih di sela tangisnya.

Lorong rumah sakit itu terasa semakin sendu saat tangis penyesalan Jocelyn yang terdengar memilukan itu menggema, mengisi kekosongan disana.

He’s the best thing you ever lost and you’ll realize this when it’s too late. — r.h. Sin

“Eh, tungguin dong, please!” ucap Jocelyn sambil berlari kecil saat melihat pintu lift yang ingin ia tumpangi perlahan menutup.

Thanks ya...” kata Jocelyn kepada seorang perempuan yang membantunya membuka kembali pintu lift itu. Ia pun masuk ke dalam lift dan lift itu mulai bergerak naik.

Satu persatu penumpang di lift itu keluar di lantai tujuan masing-masing, tersisa Jocelyn dan satu orang lagi disana yang tidak Jocelyn ketahui siapa.

Long time no see, Jo.” tegur orang yang berdiri di belakang Jocelyn. Suaranya sangat familiar, membuat Jocelyn menoleh cepat, “Devan?”

Devan yang bersandar di dinding lift mengangkat tangannya sambil tersenyum tipis, “Hi, Jo.”

Jocelyn melirik layar lift yang menunjukkan angka 13, “Shit, masih jauh,” lalu ia segera menekan tombol 14.

Melihat reaksi Jocelyn, Devan tertawa. Lalu ia berjalan mendekati Jocelyn dan mengusap pelan puncak kepala Jocelyn, “Jo, gue kangen lo.”

Jocelyn menepis tangan Devan dan memandang lelaki itu dengan rasa jijik. Ia kembali melirik ke layar lift yang menunjukkan angka 15. Sial, entah kenapa lift itu tidak berhenti di lantai 14.

Devan lagi-lagi berusaha untuk mengelus kepala Jocelyn dan Jocelyn kembali menepis tangan Devan namun lelaki itu dengan cepat menahan tangan Jocelyn dan mendorong Jocelyn kuat hingga perempuan itu menabrak dinding lift.

“Gue tau lo sekarang sama laki-laki itu. Tapi lo harus tau, lo itu milik gue, Jo. Lo cuma punya gue, nggak boleh ada laki-laki lain yang milikin lo.”

Seperti kerasukan, Devan berusaha untuk menciumi Jocelyn sementara mati-matian Jocelyn menghindar sambil berusaha menekan tombol lift manapun agar pintu lift itu segera terbuka.

“Dev, stop! Devan, stop it, please!” teriak Jocelyn.

“Gue sayang banget sama lo, Jo. Pokoknya lo milik gue.” Devan kembali berusaha menciumi Jocelyn.

Dengan tenaga yang Jocelyn miliki, Jocelyn mendorong kencang Devan hingga lelaki itu terdorong menjauh darinya. Tepat sekali pintu lift terbuka, Jocelyn segera keluar dari lift itu dan berlari menjauh dari lift.

Jocelyn membuka pintu tangga darurat lalu ia menaiki tangga darurat dengan cepat, namun lambat laun langkahnya memelan dan ia mulai menangis.

Jocelyn meraih ponsel dari sakunya dan menekan tombol speed dial,

Halo? Kenapa, Jo?

Jocelyn tidak langsung menjawab, ia masih terus saja menangis, “Devan... Devan...

Devan kenapa? Halo? Jo? Jocelyn?! Kamu dimana sekarang? Jo, jawab aku!

Kantor...

Klik

Hubungan telepon itu terputus dan Jocelyn terduduk lemas di tangga darurat gedung kantornya dengan tangis yang tidak bisa berhenti saat itu.

“Eh, tungguin dong, please!” ucap Jocelyn sambil berlari kecil saat melihat pintu lift yang ingin ia tumpangi perlahan menutup.

Thanks ya...” kata Jocelyn kepada seorang perempuan yang membantunya membuka kembali pintu lift itu.

Satu persatu penumpang di lift itu keluar di lantai tujuan masing-masing, tersisa Jocelyn dan satu orang lagi disana yang tidak Jocelyn ketahui siapa.

Long time no see, Jo.” tegur orang yang berdiri di belakang Jocelyn. Suaranya sangat familiar, membuat Jocelyn menoleh cepat, “Devan?”

Devan yang bersandar di dinding lift mengangkat tangannya sambil tersenyum tipis, “Hi, Jo.”

Jocelyn melirik layar lift yang menunjukkan angka 13, “Shit, masih jauh,” lalu ia segera menekan tombol 14.

Melihat reaksi Jocelyn, Devan tertawa. Lalu ia berjalan mendekati Jocelyn dan mengusap pelan puncak kepala Jocelyn, “Jo, gue kangen lo.”

Jocelyn menepis tangan Devan dan memandang lelaki itu dengan rasa jijik. Ia kembali melirik ke layar lift yang menunjukkan angka 15. Sial, entah kenapa lift itu tidak berhenti di lantai 14.

Devan lagi-lagi berusaha untuk mengelus kepala Jocelyn dan Jocelyn kembali menepis tangan Devan namun lelaki itu dengan cepat menahan tangan Jocelyn dan mendorong Jocelyn kuat hingga perempuan itu menabrak dinding lift.

“Gue tau lo sekarang sama laki-laki itu. Tapi lo harus tau, lo itu milik gue, Jo. Lo cuma punya gue, nggak boleh ada laki-laki lain yang milikin lo.”

Seperti kerasukan, Devan berusaha untuk menciumi Jocelyn sementara mati-matian Jocelyn menghindar sambil berusaha menekan tombol lift manapun agar pintu lift itu segera terbuka.

“Dev, stop! Devan, stop it, please!” teriak Jocelyn.

“Gue sayang banget sama lo, Jo. Pokoknya lo milik gue.” Devan kembali berusaha menciumi Jocelyn.

Dengan tenaga yang Jocelyn miliki, Jocelyn mendorong kencang Devan hingga lelaki itu terdorong menjauh darinya. Tepat sekali pintu lift terbuka, Jocelyn segera keluar dari lift itu dan berlari menjauh dari lift.

Jocelyn membuka pintu tangga darurat lalu ia menaiki tangga darurat dengan cepat, namun lambat laun langkahnya memelan dan ia mulai menangis.

Jocelyn meraih ponsel dari sakunya dan menekan tombol speed dial,

Halo? Kenapa, Jo?

Jocelyn tidak langsung menjawab, ia masih terus saja menangis, “Devan... Devan...

Devan kenapa? Halo? Jo? Jocelyn?! Kamu dimana sekarang? Jo, jawab aku!

Kantor...

Klik Hubungan telepon itu terputus dan Jocelyn terduduk lemas di tangga darurat gedung kantornya dengan tangis yang tidak bisa berhenti saat itu.

Jocelyn menyambut kedatangan Ten dengan senyuman kikuk. Akibat chattingan-nya dengan Ten sedari tadi, ia merasa salah tingkah sendiri saat harus bertemu langsung dengan lelaki itu.

“Hi, Ten.”

Ten tersenyum sambil mengangkat kantong plastik bawaannya, “Aku nggak tau mau bawain apa buat kakak kamu, jadi aku beli buah aja. Is it okay?

Jocelyn mengangguk-angguk, “Oke, kok. Yuk masuk, udah dimasakkin makan siang sama kakak aku.” balas Jocelyn lalu ia mempersilahkan Ten masuk.

Anyway, you look so pretty with that dress.” bisik Ten saat mereka berdua sedang berjalan menuju ruang makan. Jocelyn yang siang itu memakai dress bercorak bunga berwarna kuning, langsung memegang kedua pipinya yang terasa memerah karena pujian dari Ten.

“Halo kak.” sapa Ten begitu ia melihat Kun yang masih menyusun piring di atas meja.

“Eh, hai Ten. Macet nggak kesini?” tanya Kun.

“Nggak terlalu, Kak.” jawab Ten kaku, mengundang tawa kecil Jocelyn. Ten melirik ke arah Jocelyn dengan wajah memelas tapi perempuan itu tetap menertawainya.

“Yaudah ayo duduk kalian berdua, makan dulu.” Kun menyuruh Jocelyn dan Ten untuk duduk dan mereka mulai menyantap makan siang buatan Kun.

Selama makan tidak ada satupun yang bersuara, hingga di penghujung acara makan siang dadakan itu, Kun akhirnya membuka topik obrolan, “Kata Jocelyn lo kesini mau minta restu?”

Ten terbatuk dan Jocelyn buru-buru memberikan lelaki itu segelas air putih. Saat Ten sibuk minum, Jocelyn menatap kakaknya dengan tatapan nggak-usah-ngomong-gitu-juga-kali dan Kun membalas Jocelyn dengan tatapan tapi-emang-bener-kan.

“Maaf, Kak.” balas Ten setelah ia merasa tenggorokannya sudah bebas dari makanan, “Tapi iya bener, Kak. Saya kemarin resmi jadian sama Jocelyn, jadi hari ini saya mau kakak tahu langsung hubungan saya sama Jocelyn dari saya sendiri, sekaligus minta restunya, Kak.” sambung Ten kemudian.

Kun mengangguk-angguk dan Ten melanjutkan lagi kalimatnya, “Saya akan jaga Jocelyn, Kak.”

Jocelyn berdeham karena Kun tidak langsung membalas kalimat Ten, “Kak, bales dong.” protes Jocelyn.

“Bales apa? Kakak nggak perlu janji dalam kata-kata, kakak cuma perlu bukti nyatanya aja.”

Tadinya Jocelyn pikir kakaknya tidak akan menganggap acara pertemuan dadakan ini sebagai sesuatu yang serius karena ia tahu Kun sudah cukup mengenal Ten, tapi nyatanya tidak. Jocelyn lalu melihat ke arah Ten dan ia meraih tangan kiri Ten sambil mengucapkan “It's okay” tanpa suara dan Ten mengangguk lalu ia melanjutkan kembali makan siangnya.

“Kalian abis ini mau pergi?” Kun mengganti topik pembicaraan menjadi lebih santai.

“Ngg... Nggak sih. Iya kan? Kita nggak mau kemana-mana?” jawab Jocelyn sambil bertanya kepada Ten.

“Nggak, nggak mau kemana-mana, Kak.” jawab Ten juga.

“Oke. Gue udah selesai makan, gue duluan ya. Gue ada kerjaan yang harus diurus.” ucap Kun lagi seraya beranjak dari tempat duduknya dengan membawa piring kotornya ke tempat cuci piring.

“Kak, nanti aku aja yang cuci piringnya.”

“Oke.” Kun membalas kalimat Jocelyn lalu ia segera masuk ke dalam kamarnya. Setelah Kun menghilang dari balik pintu, baik Ten maupun Jocelyn menghela nafas panjang.

Are you serious, Jo? Kamu bilang ke kakak kamu kalo aku dateng mau minta restu?”

Jocelyn menjawab Ten dengan sebuah cengiran, “Aku nggak nyangka kakak bakal ngomong kayak tadi, karena waktu dulu Devan ke rumah, dia nggak keliatan peduli sama sekali.”

Ten membulatkan bibirnya, “Ooh....”

By the way, did you realized, Jo?”

Jocelyn mengerutkan dahinya, “Nyadarin apa?”

“Daritadi we use aku-kamu lho.” jahilnya Ten muncul lagi. Jocelyn segera bangkit dari kursinya sambil mengangkat piring bekas makan siangnya, “Kalo udah selesai makannya, bawa piringnya kesana biar sekalian dicuci.”

Ten tersenyum jahil melihat Jocelyn yang salah tingkah lagi, “Dicuci siapa?”

“Aku. Aku. Jocelyn. Puas, Ten?”

Ten tidak sanggup untuk menahan tawanya, “Hahahaha, okay sweetheart.”

“Kecilin suaranya! Ntar kakak bisa denger, malu tau.”

“Ih kenapa? Kan emang you're my sweetheart.”

“Ten, udahan dong ngeledekin akunya.”

“Hahaha oke oke. Aku pesen kopi ya? Rasanya nggak enak kalo abis makan nggak minum kopi.”

“Nggak usah, aku bikinin aja. Tunggu, aku nyuci piring dulu.”

Dari dalam kamar, Kun dapat mendengar jelas semua percakapan adiknya dan juga Ten. “Jo, please always be happy like this.”

I keep rolling on my bed cause I can't sleep. I already try every way to sleep; turn on aromatherapy candle, listen to soft-jazz music, did some before-sleep-yoga but still, I'm fully awake.

I give up. I start to walk to my kitchen, looking for midnight snack when someone ring my unit's bell. “Who comes?” I asked to myself.

“Hi, Eve.” a deep-soft voice greets me. I choose to close back the door but his hand success to hold the door, “I miss you.”

“Go back home, it's too late now.”

“I'm home, now. You're my home.” he replied me. His eyes starred on me with a sad gaze.

“Not me anymore. Go home now, please.”

He didn't obey my words instead he stepped closer to me, “You're forever my home, Eve.” he said softly before he kissed my lips. I swear I'm trying to stop myself but I can't.

Shit, I need to stop.” after some minutes, alarm on my head wakes me up as I stop him.

“Eve, stop denying yourself.”

“I'm not, Xiao Dejun.”

“Then, why?”

“You know the reason, I'm going to marry someone else!”

“But you never love him!”

I lost my words, everything that Dejun said is correct. In fact that I'll marry someone else just for a sake of my dad's business but I still love Dejun totally drives me crazy.

“Eve, what should I do to reassure your heart?” he said as he stroked my hair and my cheeks, “I do really love you, Eve.”

I don't know what's got into my mind or maybe I'm totally crazy, I pulled his arms and kiss again his lips. It was tender until he asked me, “Should I make another move?” and I replied with a yes.

Where's your sense of belonging? We could be getting frisky, girl Till three o'clock in the morning 3am – HONNE