Make Up
01.10 dini hari
Selesai bertukar pesan dengan Winwin, Ten meregangkan otot-otot tubuhnya, kemudian ia mematikan laptop dan keluar dari kamar. Terlihat TV ruang tengah menyala dan Jocelyn yang masih terjaga menonton tayangan dini hari.
“Jo? Kok nggak tidur?” tanya Ten seraya berjalan menghampiri Jocelyn.
“Nggak bisa tidur,” jawabnya pelan.
“Di kamar gih, aku yakin kamu pasti bisa tidur kalo kena kasur.”
Jocelyn hanya menggeleng lalu ia merebahkan tubuhnya di sofa, “Gini juga bisa tidur kok.”
“Kamu udah selesai kan kerjanya? Tidur ya, good night,” ucap Jocelyn lalu ia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur.
Ten tidak membalas kalimat terakhir Jocelyn, ia pergi kembali masuk ke dalam kamarnya. Namun selang beberapa menit, lelaki itu kembali datang dengan selimut, bantal dan juga guling.
“Night, Jo,” ujar Ten sambil menaruh bantal dan gulingnya di atas karpet ruang tengah, persis di dekat sofa yang ditiduri Jocelyn. Kemudian Ten membuka selimut yang ia bawa dan menyelimuti Jocelyn tanpa mengucapkan apapun.
Kaget dengan apa yang Ten lakukan, Jocelyn kembali membuka matanya dan mendapati Ten yang sudah merebahkan diri di atas karpet ruang tengah.
“Ten, kok tidur disini sih?”
“Nemenin kamu,” jawabnya dengan mata terpejam.
Jocelyn menghela nafas, kemudian ia bangun dari tidurnya dan duduk di sofa itu seraya memandangi Ten, “Badan kamu sakit semua tidur di atas karpet gitu.”
“Nggak...”
“Aku tidur di kamar, kamu tidur di sofa deh nih,” balas Jocelyn pasrah karena sejujurnya jika ia memaksa Ten untuk kembali ke kamarnya tentu saja lelaki itu tidak akan mau.
“Jo, maaf.”
Suara pelan Ten menghentikan langkah kaki Jocelyn yang sedang berjalan menuju kamar. Ten kemudian bangun dari tidurnya dan memandangi Jocelyn yang berdiri tidak jauh dari ruang tengah.
“Maaf, udah bikin kamu khawatir dan jadi ngerepotin kamu gini.”
Jocelyn tidak membalas apa-apa, ia kembali ke ruang tengah; menghampiri Ten yang duduk di karpet dan memeluk erat lelaki itu.
“Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa lagi, Ten. Aku tau, kamu suka sama kerjaan kamu karena disana kamu bisa sekaligus menyalurkan hobi kamu. Tapi nggak gini caranya. Kamu harus pikirin kesehatan kamu dulu.”
Ten melepaskan dirinya dari pelukan Jocelyn agar bisa menatap perempuan itu, ia mengelus puncak kepala Jocelyn dan juga pipinya, “Aku sayang banget sama kamu, Jocelyn.”
Jocelyn tersenyum, “Maaf juga, tadi aku jutekin kamu.”
Ten menggeleng pelan sambil kembali mengelus-elus pelan pipi Jocelyn, “Nggak papa. Bukan salah kamu. Jangan marah lagi, ya? Aku janji akan coba untuk kontrol diri aku supaya nggak overwork.”
“Janji?” tanya Jocelyn sambil menyodorkan kelingking kanannya—salah satu kebiasaan Jocelyn jika sedang membuat sebuah janji dengan seseorang.
Ten tersenyum lalu mengaitkan kelingking kanannya dengan milik Jocelyn, “Janji,” jawabnya singkat kemudian ia mencium kening perempuan itu dan memeluknya lagi.
“Sure this is one of my favorite things to do with you.”
“Mm, really? Then choose, hug or kiss?”
“Hug.”
“Why?”
“Kiss may shows an affection and passion but hug for me.. is more than an affection. One thing for sure, I feel secure everytime you hugged me.”
“Jadi mau bobonya begini?”
“Emang bisa?”
“Kenapa engga?”
Ten kemudian melepaskan pelukannya; ia mengatur bantal yang ia bawa dari kamar dan juga bantal sofanya lalu ia merebahkan dirinya dan merentangkan lengan kanannya, “Sini,” ucap Ten sambil menepuk-nepuk tempat yang kosong di sisi kanannya.
Jocelyn tersenyum tipis, menuruti kata Ten ia merebahkan tubuhnya di tempat yang telah diatur lelaki itu, dengan lengan kanan Ten sebagai bantal kepalanya, “Ini kamu nggak pegel tangannya?” tanya Jocelyn ragu.
“Sama sekali engga,” balas Ten lalu ia memeluk Jocelyn dengan tangan kirinya. Kini perempuan itu sukses masuk ke dalam pelukan ternyamannya.
“Good night, Jocelyn. I do love you.”
“I do love you too, Ten.”