Home
Jocelyn kembali ke ruang rawat inap Ten, ternyata Winwin sudah tidak ada disana karena ia harus kembali ke kantor. Ia terdiam cukup lama di depan pintu sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
Jocelyn perlahan berjalan mendekati ranjang Ten, lelaki itu sedang tertidur pulas; sepertinya efek obat tidur yang diberikan Dokter agar ia cepat pulih.
Jocelyn duduk di kursi yang disediakan di sisi kanan ranjang, matanya memperhatikan wajah Ten dengan luka-luka baretan kecil akibat kecelakaan yang dialaminya. Begitupun dengan tangannya; Jocelyn kemudian meraih tangan itu dan mengelusnya perlahan.
“Maafin aku, Ten... Maafin...” bisik Jocelyn dengan air mata yang kembali membasahi pipinya. Ia tidak berkata apa-apalagi selain menangis dan lambat laun tangis itu menjadi semakin keras, Jocelyn tidak mampu lagi untuk menahan kesedihan dan penyesalannya.
“Jo?”
Jocelyn yang sedari tadi menunduk karena menangis kini mendanga, menoleh ke arah suara kecil yang memanggilnya. Dilihatnya Ten yang sedang berusaha tersenyum dan memanggil namanya, “Jo...”
Jocelyn masih sesenggukan; rasanya sulit sekali untuk menghentikan tangisnya apalagi kini ia melihat Ten yang sedang berusaha menggerakan tangannya dengan meraih pipi Jocelyn untuk menghapus air mata perempuan itu.
“Jo...” Ten memanggilnya kembali. Ia ingin mengucapkan banyak sekali hal kepada Jocelyn, tapi tubuhnya belum mampu untuk melakukan itu semua. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya memanggil Jocelyn.
“Ten, maafin aku,” ucap Jocelyn disela isak tangisnya. Ten mengangguk pelan sambil menghapus kembali air mata di pipi Jocelyn. Ingin sekali rasanya ia memeluk Jocelyn dan mengatakan bahwa Jocelyn tidak perlu menangis karena ia sudah memaafkan Jocelyn.
Jocelyn meraih tangan Ten yang sedari tadi memegangi wajahnya lalu digenggamnya dengan erat dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menghapus air matanya dengan serabutan, “Aku nggak nangis lagi,” kata Jocelyn sambil berusaha tersenyum.
Ten ikut tersenyum, jari-jarinya mengelus pelan punggung tangan Jocelyn yang menggenggam tangannya erat.
“Mulai detik ini aku akan selalu ada disini. Aku nggak akan kemana-mana sampe kamu sembuh. I do love you, Ten.”
Ten merasa seperti mendapatkan suntikan energi untuk pulih lebih cepat setelah mendengar kalimat yang diucapkan Jocelyn barusan. Dengan tenaga yang ia miliki saat ini, ia berusaha membalas Jocelyn,
“I do love you too, Jocelyn.”
Home I find my place In between your arms In between your tender kisses And soft whispers of “It will be alright” In between the warmth of your embrace and the scent of your neck, and the fierceness of your touch, I find my lost place inside your soul.
—from Hearts and Empires by Cynthia Go