Again

“Eh, tungguin dong, please!” ucap Jocelyn sambil berlari kecil saat melihat pintu lift yang ingin ia tumpangi perlahan menutup.

Thanks ya...” kata Jocelyn kepada seorang perempuan yang membantunya membuka kembali pintu lift itu. Ia pun masuk ke dalam lift dan lift itu mulai bergerak naik.

Satu persatu penumpang di lift itu keluar di lantai tujuan masing-masing, tersisa Jocelyn dan satu orang lagi disana yang tidak Jocelyn ketahui siapa.

Long time no see, Jo.” tegur orang yang berdiri di belakang Jocelyn. Suaranya sangat familiar, membuat Jocelyn menoleh cepat, “Devan?”

Devan yang bersandar di dinding lift mengangkat tangannya sambil tersenyum tipis, “Hi, Jo.”

Jocelyn melirik layar lift yang menunjukkan angka 13, “Shit, masih jauh,” lalu ia segera menekan tombol 14.

Melihat reaksi Jocelyn, Devan tertawa. Lalu ia berjalan mendekati Jocelyn dan mengusap pelan puncak kepala Jocelyn, “Jo, gue kangen lo.”

Jocelyn menepis tangan Devan dan memandang lelaki itu dengan rasa jijik. Ia kembali melirik ke layar lift yang menunjukkan angka 15. Sial, entah kenapa lift itu tidak berhenti di lantai 14.

Devan lagi-lagi berusaha untuk mengelus kepala Jocelyn dan Jocelyn kembali menepis tangan Devan namun lelaki itu dengan cepat menahan tangan Jocelyn dan mendorong Jocelyn kuat hingga perempuan itu menabrak dinding lift.

“Gue tau lo sekarang sama laki-laki itu. Tapi lo harus tau, lo itu milik gue, Jo. Lo cuma punya gue, nggak boleh ada laki-laki lain yang milikin lo.”

Seperti kerasukan, Devan berusaha untuk menciumi Jocelyn sementara mati-matian Jocelyn menghindar sambil berusaha menekan tombol lift manapun agar pintu lift itu segera terbuka.

“Dev, stop! Devan, stop it, please!” teriak Jocelyn.

“Gue sayang banget sama lo, Jo. Pokoknya lo milik gue.” Devan kembali berusaha menciumi Jocelyn.

Dengan tenaga yang Jocelyn miliki, Jocelyn mendorong kencang Devan hingga lelaki itu terdorong menjauh darinya. Tepat sekali pintu lift terbuka, Jocelyn segera keluar dari lift itu dan berlari menjauh dari lift.

Jocelyn membuka pintu tangga darurat lalu ia menaiki tangga darurat dengan cepat, namun lambat laun langkahnya memelan dan ia mulai menangis.

Jocelyn meraih ponsel dari sakunya dan menekan tombol speed dial,

Halo? Kenapa, Jo?

Jocelyn tidak langsung menjawab, ia masih terus saja menangis, “Devan... Devan...

Devan kenapa? Halo? Jo? Jocelyn?! Kamu dimana sekarang? Jo, jawab aku!

Kantor...

Klik

Hubungan telepon itu terputus dan Jocelyn terduduk lemas di tangga darurat gedung kantornya dengan tangis yang tidak bisa berhenti saat itu.