Begin Again
“Welcome home, Ten...” ucap Jocelyn sambil mendorong kursi roda Ten ke dalam apartemen lelaki itu.
Sebulan setelah sidang Devan digelar, Ten diizinkan untuk pulang ke rumah dengan catatan rutin melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit minimal seminggu sekali.
Louis dan Leon menyambut majikan mereka dengan berputar-putar heboh di dekat kaki Ten, mengundang senyum di wajah lelaki itu.
“Makasih ya, Jo,” ucap Ten setelah Jocelyn membantunya untuk pindah dari kursi rodanya ke ranjang kamarnya.
“Makasih apa, I do nothing,” balas Jocelyn yang kini sedang membuka tirai jendela kamar Ten, membuat kamar itu terlihat lebih terang.
“Makasih, kamu kembali ke aku. Makasih, nggak ninggalin aku.”
Jocelyn kembali menghampiri Ten, ia duduk di tepi ranjang Ten, “Aku nggak mau bikin keputusan yang salah lagi, Ten.”
Ten mengelus pelan pipi Jocelyn, ditatapnya perempuan itu lekat-lekat, “Jo, kamu mau jadi pacar aku lagi? Aku takut kalo kelamaan ngomongnya—“
“Cerewet, kata dokter kamu nggak boleh banyak ngomong dulu,” potong Jocelyn sambil meraih tangan Ten dari wajahnya dan bangkit berdiri.
“Aku bikinin makan siang dulu ya, bentar,” sambung Jocelyn sambil berjalan keluar dari kamar Ten.
Terlihat raut kecewa di wajah Ten karena Jocelyn tidak menjawab pertanyaan krusial tadi, dan hal itu membuat Jocelyn tersenyum geli sendiri.
“Ten,” panggil Jocelyn dari balik pintu kamar. Yang punya nama menoleh, “Aku mau,” sambung Jocelyn lalu ia buru-buru kabur sebelum Ten memergoki wajahnya yang merah.
Tapi percuma, walaupun Ten tidak melihat wajah Jocelyn saat itu, ia dapat memastikan perempuan itu sedang senang—terdengar suara Jocelyn yang sedang bersenandung sembari menyiapkan makan siang mereka, membuat Ten tidak henti-hentinya bersyukur dalam hati dengan senyum bahagia di wajahnya.
I found you. and it was enough. and it was everything.
—Alison Malee