Regrets

05.10 am

Perlahan Jocelyn membuka matanya seraya menggeliat, meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia melihat jam di ponselnya dengan malas namun tubuhnya refleks terduduk saat membaca notifikasi direct message dari Winwin.

”Win, DM lo—“

”Ten lagi operasi. Udah 3 jam tapi belum selesai juga karena pendarahannya cukup serius.”

Jocelyn langsung memutus hubungan teleponnya dengan Winwin dan bergegas pergi ke RS Jakarta.

***

“Win... Ten mana...? Win, lo bohong kan???” tanya Jocelyn dari kejauhan saat melihat Winwin yang terduduk di lantai di depan pintu ruang operasi. Langkah kakinya ragu untuk mendekati pintu ruang operasi, berharap apa yang terjadi saat ini semuanya hanyalah mimpi.

Melihat Jocelyn datang, Nadine bangkit dari duduknya dan menghampiri Jocelyn.

Plak!

Baik Jocelyn maupun Winwin sama-sama kaget dengan Nadine yang tiba-tiba menampar Jocelyn, “You. Don’t. Deserve. Ten,” ucap Nadine geram. Ia mengeraskan kepalan tangannya, berusaha untuk menahan emosinya.

Tangis Jocelyn tumpah, perempuan itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sementara Nadine kembali angkat bicara, “Ini semua gara-gara lo, Jocelyn!! Ten kecelakaan gara-gara lo!!!” sambung Nadine dengan nada membentak, ternyata Nadine tidak kuasa untuk menahan kekesalannya terhadap Jocelyn.

“Nggak usah nangis! Ten nggak butuh ditangisin sama cewek kayak lo!”

Melihat Nadine yang semakin emosi, Winwin menghampiri kedua perempuan itu dan menarik Nadine menjauh dari Jocelyn.

“Nad, calm down,” kata Winwin sambil merangkul Nadine dan berjalan meninggalkan Jocelyn sendirian di lorong rumah sakit, di depan pintu operasi.

Jocelyn terjatuh, rasanya kedua kakinya sudah tidak mampu lagi untuk menopang tubuhnya pagi itu, “Ten... maafin aku...” ucapnya lirih di sela tangisnya.

Lorong rumah sakit itu terasa semakin sendu saat tangis penyesalan Jocelyn yang terdengar memilukan itu menggema, mengisi kekosongan disana.

He’s the best thing you ever lost and you’ll realize this when it’s too late. — r.h. Sin