Approval

Jocelyn menyambut kedatangan Ten dengan senyuman kikuk. Akibat chattingan-nya dengan Ten sedari tadi, ia merasa salah tingkah sendiri saat harus bertemu langsung dengan lelaki itu.

“Hi, Ten.”

Ten tersenyum sambil mengangkat kantong plastik bawaannya, “Aku nggak tau mau bawain apa buat kakak kamu, jadi aku beli buah aja. Is it okay?

Jocelyn mengangguk-angguk, “Oke, kok. Yuk masuk, udah dimasakkin makan siang sama kakak aku.” balas Jocelyn lalu ia mempersilahkan Ten masuk.

Anyway, you look so pretty with that dress.” bisik Ten saat mereka berdua sedang berjalan menuju ruang makan. Jocelyn yang siang itu memakai dress bercorak bunga berwarna kuning, langsung memegang kedua pipinya yang terasa memerah karena pujian dari Ten.

“Halo kak.” sapa Ten begitu ia melihat Kun yang masih menyusun piring di atas meja.

“Eh, hai Ten. Macet nggak kesini?” tanya Kun.

“Nggak terlalu, Kak.” jawab Ten kaku, mengundang tawa kecil Jocelyn. Ten melirik ke arah Jocelyn dengan wajah memelas tapi perempuan itu tetap menertawainya.

“Yaudah ayo duduk kalian berdua, makan dulu.” Kun menyuruh Jocelyn dan Ten untuk duduk dan mereka mulai menyantap makan siang buatan Kun.

Selama makan tidak ada satupun yang bersuara, hingga di penghujung acara makan siang dadakan itu, Kun akhirnya membuka topik obrolan, “Kata Jocelyn lo kesini mau minta restu?”

Ten terbatuk dan Jocelyn buru-buru memberikan lelaki itu segelas air putih. Saat Ten sibuk minum, Jocelyn menatap kakaknya dengan tatapan nggak-usah-ngomong-gitu-juga-kali dan Kun membalas Jocelyn dengan tatapan tapi-emang-bener-kan.

“Maaf, Kak.” balas Ten setelah ia merasa tenggorokannya sudah bebas dari makanan, “Tapi iya bener, Kak. Saya kemarin resmi jadian sama Jocelyn, jadi hari ini saya mau kakak tahu langsung hubungan saya sama Jocelyn dari saya sendiri, sekaligus minta restunya, Kak.” sambung Ten kemudian.

Kun mengangguk-angguk dan Ten melanjutkan lagi kalimatnya, “Saya akan jaga Jocelyn, Kak.”

Jocelyn berdeham karena Kun tidak langsung membalas kalimat Ten, “Kak, bales dong.” protes Jocelyn.

“Bales apa? Kakak nggak perlu janji dalam kata-kata, kakak cuma perlu bukti nyatanya aja.”

Tadinya Jocelyn pikir kakaknya tidak akan menganggap acara pertemuan dadakan ini sebagai sesuatu yang serius karena ia tahu Kun sudah cukup mengenal Ten, tapi nyatanya tidak. Jocelyn lalu melihat ke arah Ten dan ia meraih tangan kiri Ten sambil mengucapkan “It's okay” tanpa suara dan Ten mengangguk lalu ia melanjutkan kembali makan siangnya.

“Kalian abis ini mau pergi?” Kun mengganti topik pembicaraan menjadi lebih santai.

“Ngg... Nggak sih. Iya kan? Kita nggak mau kemana-mana?” jawab Jocelyn sambil bertanya kepada Ten.

“Nggak, nggak mau kemana-mana, Kak.” jawab Ten juga.

“Oke. Gue udah selesai makan, gue duluan ya. Gue ada kerjaan yang harus diurus.” ucap Kun lagi seraya beranjak dari tempat duduknya dengan membawa piring kotornya ke tempat cuci piring.

“Kak, nanti aku aja yang cuci piringnya.”

“Oke.” Kun membalas kalimat Jocelyn lalu ia segera masuk ke dalam kamarnya. Setelah Kun menghilang dari balik pintu, baik Ten maupun Jocelyn menghela nafas panjang.

Are you serious, Jo? Kamu bilang ke kakak kamu kalo aku dateng mau minta restu?”

Jocelyn menjawab Ten dengan sebuah cengiran, “Aku nggak nyangka kakak bakal ngomong kayak tadi, karena waktu dulu Devan ke rumah, dia nggak keliatan peduli sama sekali.”

Ten membulatkan bibirnya, “Ooh....”

By the way, did you realized, Jo?”

Jocelyn mengerutkan dahinya, “Nyadarin apa?”

“Daritadi we use aku-kamu lho.” jahilnya Ten muncul lagi. Jocelyn segera bangkit dari kursinya sambil mengangkat piring bekas makan siangnya, “Kalo udah selesai makannya, bawa piringnya kesana biar sekalian dicuci.”

Ten tersenyum jahil melihat Jocelyn yang salah tingkah lagi, “Dicuci siapa?”

“Aku. Aku. Jocelyn. Puas, Ten?”

Ten tidak sanggup untuk menahan tawanya, “Hahahaha, okay sweetheart.”

“Kecilin suaranya! Ntar kakak bisa denger, malu tau.”

“Ih kenapa? Kan emang you're my sweetheart.”

“Ten, udahan dong ngeledekin akunya.”

“Hahaha oke oke. Aku pesen kopi ya? Rasanya nggak enak kalo abis makan nggak minum kopi.”

“Nggak usah, aku bikinin aja. Tunggu, aku nyuci piring dulu.”

Dari dalam kamar, Kun dapat mendengar jelas semua percakapan adiknya dan juga Ten. “Jo, please always be happy like this.”