Weekend
“Jocelyn?” tanya Ten heran saat ia melihat perempuan itu menyambut dirinya di pintu unit apartemennya.
Jocelyn hanya tersenyum memamerkan giginya, “Gimana check up nya? Apa kata dokter?” tanya Jocelyn sambil membantu Ten berjalan masuk ke dalam.
“Bagus, Jo. Besok Senin dia udah bisa mulai fisioterapi nya,” bukan Ten yang menjawab melainkan Winwin yang berada di belakang mereka.
“Aku yang anterin, ya? Please aku udah nggak sakit lagi kok,” pinta Jocelyn dengan wajah memelas khasnya. Refleks Ten mengacak pelan rambut Jocelyn sambil tersenyum, “Iya,” balasnya singkat.
“Pas banget nih lunch nya udah jadi, ayo makan dulu semua,” dari dapur Kalina memanggil semua yang ada di unit itu untuk berkumpul di meja makan.
Sabtu siang itu sesuai janji Winwin kepada Ten sebelumnya, ia dan Kalina datang untuk menjenguk Ten. Berbagi tugas dengan Winwin, Kalina memutuskan untuk memasak makan siang sementara Winwin pergi mengantar Ten untuk check up. Jocelyn yang sudah mengetahui rencana ini sebelumnya datang setelah Ten dan Winwin pergi ke rumah sakit.
“Wow, thank you Kal,” ujar Ten begitu ia melihat sejumlah makanan rumahan tersaji di atas meja.
“Jocelyn juga bantuin lho,” balas Kalina sambil tersenyum ke arah Jocelyn yang tersipu malu sendiri, “Dikit hehe...” sambung Jocelyn canggung karena sejujurnya ia hampir tidak membantu Kalina memasak, tapi membantu perempuan itu untuk menjaga si Dede—anak Kalina dan Winwin yang sekarang sedang tertidur pulas.
“Dede bobo, yang?” tanya Winwin sambil celingukan mencari keberadaan anaknya.
“Iya, itu di sofa,” jawab Kalina.
“Pindahin ke kamar aja, Kal. Nggak papa kok,” sambung Ten.
“Nanti aja nggak papa Ten, sekarang makan dulu yuk.”
Sedetik kemudian ruangan itu menjadi hening; semuanya menikmati makan siangnya masing-masing. Percakapan baru kembali terjadi setelah mereka semua hampir menghabiskan makan siang mereka di waktu yang bersamaan.
“Anyway, gue belum bilang ya ke kalian, kalo Devan dipindahin ke pusat rehab.”
Ketiganya kompak menengok ke arah Winwin, “Rehab?” tanya Jocelyn heran.
Winwin mengangguk, “Minggu lalu kayaknya gue dapet infonya. Dia ketauan ngobat, Jo. Dan katanya udah lama.”
Jocelyn membulatkan bibirnya, “Oh... Pantesan...” dan ia langsung teringat akan kejadian di elevator kantornya saat Devan tiba-tiba menyerangnya.
“Kenapa, Jo? tanya Ten sambil menatap Jocelyn dengan tatapan khawatir.
Jocelyn buru-buru menggeleng, “Nggak, nggak papa...” balasnya pelan namun belum cukup untuk membuat Ten, Winwin dan Kalina berhenti menatapnya dengan tatapan khawatir, membuat ia kembali angkat bicara, “Beneran guys, nggak papa.”
Ten yang duduk di sebelah Jocelyn langsung mengelus-elus puncak kepala Jocelyn, “It's over, Jo. Dia nggak bakal gangguin kamu lagi. I reassure you for that.“
Jocelyn mengangguk-angguk, “Iya, sayangku,” jawabnya lalu ia ikutan mengelus puncak kepala Ten dengan pelan.
“Liat ada yang pacaran di depan kita, yang.”
Kalina tersenyum mendengar kalimat Winwin lalu ia ikut mengelus puncak kepala suaminya itu, “Udah punya anak satu masih aja suka ngiri.”
Ten dan Jocelyn kompak tertawa mendengar celetukan Kalina sementara Winwin memanyunkan bibirnya, “Kal, aku susah-susah bangun image bagus di depan Jocelyn, kamu malah ngomong gitu.”
“Nggak usah jaim, tadi Kalina udah banyak cerita ke gue,” celetuk Jocelyn seraya melihat Kalina dan mengangkat alisnya, “Ten, masa anaknya Kalina lucu banget,” sambung Jocelyn lagi.
“Anak Kalina dan Winwin, yang lengkap,” protes Winwin namun langsung ditimpali Ten, “Berisik”.
“Lucu gimana, yang?” tanya Ten lagi kepada Jocelyn.
“Iya, lucu aja gitu. Ngegemesin. Trus pinter juga,” balas Jocelyn antusias.
“Yuk dilamar yuk pacarnya, biar si Dede ada temen playdate,” celetuk Winwin jahil. Kalina hanya tersenyum, Jocelyn tersipu malu sendiri sementara Ten memutar bola matanya, “Win, please...” protesnya sambil melirik ke arah Winwin dan Kalina yang kali ini kompak tertawa pelan.
Some people arrive and make such a beautiful impact on your life, you can barely remember what life was like without them. — Anna Taylor