goldeneunoia

; a crossroad or a critical decision or turning point in one's life.

Selesai makan siang dan sesuai dugaan Jocelyn, Ten memasak segala makanan cepat saji mulai dari chicken nugget sampai sarden untuk makan siang mereka, keduanya duduk di teras belakang villa.

Ten memejamkan matanya di kursi malas, sementara Jocelyn—yang duduk di kursi malas sebelah kanan Ten, tidak berhenti memandangi lelaki itu. Untuk pertama kalinya ia dapat memperhatikan wajah lelaki itu lebih detail; mata tajam, hidung mancung dan bibir lancip Ten, semua terlihat sempurna.

You always make me nervous, Jo.” kata Ten tiba-tiba. Jocelyn yakin mata lelaki itu masih terpejam, tapi sepertinya Ten sadar kalau daritadi Jocelyn terus memperhatikannya.

“Eh, sorry. Tidur aja kalo capek.” balas Jocelyn canggung.

“Tadi katanya mau nanya sesuatu, mau nanya apa?” tanya Ten masih dengan mata terpejam.

Jocelyn tidak langsung menjawab. Ia terlihat tidak yakin tetapi rasa penasarannya mengalahkan segalanya, “Ten, lo pernah bilang lo sayang sama gue. Itu... bener? Gue nggak salah denger, kan?”

Ten membuka matanya perlahan lalu ia berbalik menghadap Jocelyn, “Lo ternyata belum tidur ya, malam itu.” jawabnya pelan. Jocelyn tidak membalas apa-apa, ia menunggu Ten menjawab pertanyaannya.

I love you, Jo. Tapi-”

“Kenapa tapi?” potong Jocelyn.

“Tapi gue udah mengecewakan lo. Gue nggak bisa nepatin janji gue saat itu. Rasanya terlalu egois kalau gue berharap lo bisa balas perasaan gue.”

I love you too, Ten.”

Ten refleks bangun dari rebahnya, sementara Jocelyn tidak berhenti menatap lelaki itu. Ia pun ikut bangun dari rebahnya dan duduk berhadapan dengan Ten.

Quatervois.” ucap Jocelyn pelan. Ten yang tidak paham mengerutkan dahinya.

You're my turning point, Ten. Banyak yang berubah sejak gue ketemu sama lo, gue merasa menjadi Jocelyn versi lebih baik dari sebelumnya. Dan ternyata, perasaan gue terhadap lo juga berubah.”

Ten terdiam. Ia memandangi Jocelyn hingga perempuan itu bangkit dari duduknya, “Gue mau ke pantai lagi ya.” pamit Jocelyn lalu ia pergi meninggalkan Ten.

“Jo!” Ten mengejar perempuan itu, ia berhasil meraih tangan Jocelyn dan menghentikan langkah kakinya. “Jo, I ever made a mistake.” sambung Ten.

Every human made a mistake, Ten. Lo lupa sama quotes yang lo tweet kemarin? We fall, we get up, we learn...

We grow, we move, we live.” Ten menyambung kalimat Jocelyn. Jocelyn tersenyum seraya menyibak rambut Ten yang tertiup angin pantai dan menutupi mata lelaki itu, “Ayo kita pacaran beneran, Ten.”

Are you really okay, Jo?” balas Ten yang terlihat masih ragu, tapi Jocelyn berusaha menghilangkan rasa ragu itu dengan sebuah anggukan, “Mau nggak?” tanya Jocelyn, menyambung ajakan sebelumnya.

It supposed to be me who asked you, Jo?!” protes Ten karena kecolongan start dari Jocelyn. Perempuan itu hanya terkekeh, “Abisnya kelamaan. Tawaran terakhir, mau nggak?”

Ten mengacak pelan bagian depan rambut Jocelyn sambil mengangguk, “Sure.”

Jocelyn tersenyum hingga matanya menyipit, lalu diluar dugaan Ten perempuan itu mencium pipi Ten dan setelahnya ia langsung buru-buru lari menuju pantai.

Butuh beberapa detik sebelum Ten sadar dengan apa yang terjadi barusan, “Jocelyn!!” teriaknya memanggil perempuan yang sukses berlabuh di hatinya.

Jocelyn menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan sebelum ia melangkahkan kaki memasuki ruangan yang sudah lama tidak ia kunjungi.

Kantornya. Tempat dengan beribu kenangan yang Jocelyn sendiri sulit menjelaskan dengan kata-kata.

Beberapa pasang mata yang mengenali Jocelyn saling berbisik saat melihat perempuan itu berjalan menuju meja kerjanya. Jocelyn sendiri terlihat tidak peduli, ia datang kesana dengan satu tujuan; membereskan barang-barangnya sekaligus menyerahkan surat resign yang resmi kepada atasannya.

- “Kamu serius mau resign, Jocelyn?” tanya Ibu Athaya, kepala editor majalah tempat Jocelyn bekerja.

“Iya, Ibu.” jawab Jocelyn singkat.

“Duh, Jo... Kamu nggak mau pikirin lagi? Saya nggak masalah dengan absen kamu selama beberapa bulan ini, saya bisa bantu urus ke atasan kalau urusan absen. Saya suka sekali dengan kinerja dan hasil kerja kamu, Jo. It's such a big loss for our team.”

Jocelyn tersenyum mendengar pujian dari atasannya via telepon sore itu, “Terima kasih banyak, Bu... Tapi maaf banget, Bu. Keputusan saya sudah bulat.”

“Kamu diminta kerja di perusahaan lain, ya? Mereka tawar gaji berapa, Jo? I'll pay you higher. Please, stay with me...” Ibu Athaya masih memperjuangkan salah satu staff kesayangannya itu.

“Enggak, Bu. Saya nggak kerja dimana-mana. Saya murni mau berhenti dulu untuk beberapa saat, sampai keadaan saya membaik.” balas Jocelyn sopan.

“Jo, saya siap terima kamu kapan aja. Kalau sudah lebih baik, please balik lagi sama saya ya...” -

Selesai membereskan barang-barangnya, Jocelyn menghampiri ruangan Ibu Athaya untuk berpamitan secara langsung sekaligus menyerahkan surat pengunduran dirinya.

“Permisi, Bu...” sapa Jocelyn sopan. Ia menjulurkan kepalanya sedikit agar Ibu Athaya dapat melihat kedatangannya.

“Jo, masuk...” sambut Ibu Athaya ramah. Jocelyn pun masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di sofa.

“Ini Bu, surat pengunduran diri saya. Terima kasih banyak ya, Bu. Saya banyak belajar banget selama bekerja sama Ibu.” Jocelyn menyodorkan surat pengunduran dirinya kepada Ibu Athaya.

“Saya sebenernya masih nggak rela, Jo. Tapi kalau ini keputusan terbaik untuk kamu, saya coba buat terima. Walaupun sebenernya sulit. Kayaknya bakal susah deh cari pengganti yang sama kompetennya kayak kamu.” dengan berat hati Ibu Athaya menerima surat pengunduran diri Jocelyn.

Jocelyn hanya tersenyum mendengar keluh kesah atasannya itu, “Banyak yang lebih muda daripada saya, Bu. Lebih kreatif juga daripada saya.”

“Jo, kamu resign ini bukan karena Devan, kan?”

Pertanyaan Ibu Athaya cukup mencekat tenggorokan Jocelyn.

“Maaf ya saya singgung urusan pribadi kamu. Tapi udah jadi berita umum disini, kalau kamu putus sama Devan. Ditambah lagi Devan sekarang sama Gita.”

Jocelyn terperangah, “Sama Gita, Bu?”

“Iya. Baru kok, sebulan apa ya... Duh tapi saya sendiri sih nggak suka sama Devan. Okay, he has good looking tapi attitude nya... big no. You deserve better, Jo.”

Jocelyn hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Ibu Athaya. “Eh maaf lho saya nggak bermaksud jelek-jelekin mantan kamu.” sambung Ibu Athaya lagi sambil terkekeh pelan.

Jocelyn tersenyum, “Nggak papa, Bu. Emang gitu realitanya.”

“Bu, kalau gitu saya pamit dulu, ya? Nanti kapan-kapan saya mampir kesini.” Jocelyn bangkit dari duduknya, berpamitan dengan mantan atasannya.

Sure. Kamu harus kesini lagi. Once again, thank you ya, Jo...”

Jocelyn keluar dari ruangan Ibu Athaya dengan perasaan lega. Sambil membawa barang yang tadi ia bereskan, ia berjalan menuju lobby kantornya itu.

“Jocelyn?” tegur suara yang tidak asing di telinga Jocelyn saat ia sedang menunggu elevator sendirian. Dengan ekor matanya, Jocelyn dapat melihat sosok yang memanggilnya sedang berjalan mendekatinya.

Resign?” tanya sosok yang tak lain tak bukan adalah Devan. Jaraknya yang terlalu dekat dengan Jocelyn membuat perempuan itu refleks mundur selangkah.

Devan mendengus melihat Jocelyn menjauhi dirinya, “Jo... Jo... Lo tuh cantik, sexy, everything on you is perfect...”

Seolah memancing trauma Jocelyn, Devan terus berjalan mendekati Jocelyn sementara Jocelyn terus melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak tembok; ia tidak bisa kemana-mana lagi.

Saat Jocelyn dalam posisi tidak dapat berbuat apa-apa, Devan meraih dagu Jocelyn sementara Jocelyn memohon dengan suara lemahnya, “Dev, stop... Please, stop...“.

Jocelyn memejamkan matanya ketika Devan mendekatkan bibirnya hingga seseorang menghentikan Devan dengan meninju pria itu hingga ambruk ke lantai.

Buk!

Jocelyn yang sedari tadi memejamkan matanya perlahan membuka mata untuk melihat apa yang terjadi dan siapa yang menolongnya.

Jerk!” ucap Ten geram sambil meninju kembali Devan yang masih berusaha bangkit berdiri.

Shit! Stop ikut campur. Lo nggak ada hubungannya sama gue dan Jocelyn. Get out!” balas Devan geram sambil mencoba untuk meraih tangan Jocelyn dengan kasar, namun Ten berhasil menghalau Devan dengan melayangkan lagi sebuah pukulan ke wajah lelaki itu.

Once a jerk, forever a jerk. Lo yang stop gangguin Jo, you didn't deserve her!” balas Ten dengan nada dingin, kemudian ia melihat Jocelyn yang masih berdiri ketakutan di dekatnya, “Ayo, Jo.” ajak Ten sambil merangkul Jocelyn, membawa pergi perempuan itu dari situ.

***

Jocelyn dan Ten tiba di depan mobil Ten yang terparkir di basement dan Ten dapat merasakan tubuh Jocelyn yang gemetaran cukup hebat dalam rangkulannya.

“Jo, you're okay now.” ucap Ten namun sepertinya percuma, Jocelyn masih gemetaran dan air mata tidak berhenti mengalir di pipinya.

Ten melepas rangkulannya lalu berdiri menatap Jocelyn dengan kedua tangannya memegang bahu Jocelyn, “Jo, liat gue.”

Jocelyn masih belum juga bergeming, membuat Ten mengulang kembali kalimatnya dengan suara lebih keras, “Jocelyn! Liat gue!”

Jocelyn seperti tersadar, ia membalas tatapan Ten dan sedetik kemudian tangis perempuan itu pecah, “Ten... Gue takut...” isak Jocelyn.

Ten menarik Jocelyn masuk ke dalam pelukannya lalu mengusap pelan punggung perempuan itu, “Jo... It's okay. Sekarang ada gue, lo nggak perlu takut lagi. Gue nggak akan ninggalin lo sendiri.”

Jocelyn tidak menjawab apa-apa, ia terus menangis di dalam pelukan Ten. Ten sendiri tidak berkata apa-apa lagi, ia membiarkan Jocelyn menangis sepuasnya.

Jocelyn

Waktu menunjukkan pukul 6 pagi saat Jocelyn terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat pusing sekali seperti sehabis naik roller coaster 10 kali nonstop dan tubuhnya sedikit menggigil.

Awalnya kesadaran Jocelyn belum pulih seratus persen tetapi saat ia melihat Devan tertidur pulas di sisi kirinya, perempuan itu refleks berteriak, “Devan?!”

Dengan malas Devan yang tidak mengenakan atasan apapun menggeliat, sementara Jocelyn mengintip tubuhnya di balik selimut dan ia langsung terduduk, “Devan?! Kamu apain aku??!!” tanya Jocelyn panik.

Pandangan Jocelyn beredar ke sekeliling kamar, ia melihat dress yang ia kenakan semalam dan juga seluruh pakaian dalamnya berserakan di lantai.

“Apa sih, Jo? Masih pagi jangan teriak-teriak.” protes Devan dengan suara paraunya. Lelaki itu hendak kembali tidur namun Jocelyn meraih wajah Devan dan menampar pria itu keras.

“Jo! Apa-apaan sih?!” ujar Devan keras seraya duduk di sebelah Jocelyn. Sadar dengan nada bicaranya yang meninggi, ia buru-buru mengulang kembali kalimatnya, “Kamu kenapa?” tanya Devan memelankan suaranya sambil merangkul Jocelyn.

“Kamu jahat, Devan!! Kamu brengsek!! Kamu bajingan!!” bentak Jocelyn disela isak tangisnya sambil melepas paksa dirinya dari rangkulan Devan.

Bukannya merasa iba, Devan mendengus tertawa, “Aku jahat dibagian mananya sih, Jo?”

“Kamu tau aku nggak akan tidur sama siapapun sebelum aku resmi nikah, Dev!”

Devan menoleh, “Jo, you didn't know how much you enjoy our last night? Walaupun kamu setengah ngga sadar karena pengaruh obat, but I can see that you were really... really en-

Plak. Tamparan keras lagi-lagi mendarat di wajah Devan.

“Manusia sampah. Kita putus, Devan.” ujar Jocelyn lalu ia segera melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya, mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan masuk ke dalam kamar mandi.

Selang 5 menit tidak ada suara terdengar dari luar kamar mandi, sampai akhirnya Devan kembali bersuara, “Bagus deh gue putus sama lo. Akhirnya gue bebas dari cewek kolot kayak lo.”

“Pesen dari gue, jadi cewek nggak usah sok suci.”

Begitu suara pintu kamar hotel terdengar menutup, Jocelyn segera menjatuhkan dirinya ke lantai kamar mandi yang dingin. Ia menangis sejadi-jadinya.

Ten

Sinar matahari yang masuk ke dalam kamar tidur Ten membuat lelaki itu tersadar dari tidurnya dan perlahan ia membuka matanya. Hal pertama yang ia sadari adalah Nadine yang terbaring pulas di sisi kanannya.

“Nad, wake up.” ucap Ten pelan.

Nadine bangun dari tidurnya. Ia menggeliat merenggangkan ototnya dengan malas, “Hey, good morning, love.” ucapnya sambil tersenyum.

Ten menaruh semua pakaian milik Nadine diatas selimut, “Pulang.” ucapnya singkat tanpa ekspresi apapun.

“Apa? Kamu ngusir aku, Ten?” tanya Nadine yang sekarang sudah duduk di atas kasur dengan bingung.

Everything happened in last night nggak akan pernah terjadi lagi. So please, sekarang kamu pulang.”

“Ten?!” Nadine kehabisan kalimat untuk membalas ucapan Ten yang terdengar dingin pagi itu.

“Aku nggak bisa nikah sama kamu, Nadine.”

“Alasan kamu nggak make a sense, Ten!”

“Kamu mau nikah sama orang yang jatuh cinta sama orang lain?” tanya Ten lagi dengan tatapan dinginnya.

“Kamu nggak cinta dia, Ten! Kamu cintanya cuma sama aku! Terbukti dari apa yang kita lakuin semalem!”

“Nad, kamu mau denger jawaban jujur dari aku?” tanya Ten lagi. Lelaki itu berdiri membelakangi jendela kamarnya, menatap Nadine yang masih duduk di atas kasur. Dengan ragu perempuan itu mengangguk.

I did you a favor. You were just my rebound. Sorry Nad, I don't have any feelings with what we did last night.”

Air mata mengalir di wajah Nadine, “Kamu tega bilang gitu ke aku, Ten?”

Ten mengangkat bahunya, “I've warned you. Aku bisa jadi seseorang yang paling jahat untuk kamu.”

Nadine tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengambil pakaian serta barang-barang miliknya dan bergegas pergi meninggalkan Ten pagi itu.

Setelah mendengar suara pintu apartemennya tertutup, Ten menghela nafas panjang. Bukan sebuah akhir hubungan yang baik bagi dirinya maupun Nadine, tapi dia tidak punya pilihan lain.

Kemudian Ten menyambar ponselnya dan menyadari bahwa ia telah mengingkari sebuah janji penting.

Jocelyn

“Jo, lepas jaketnya. Kita udah sampe, masa kamu mau pake jaket kayak gitu ke dalem. Nggak cocok dong sama konsep fine dining kita malem ini.”

Mobil Devan sudah sampai di lobby hotel Shangri-La dan staff valet parking sudah siap untuk memarkirkan mobil Devan, namun semua itu tertunda lantaran Jocelyn yang masih duduk diam di dalam mobil.

“Aku pake aja ya... matching kok warnanya.” pinta Jocelyn dengan wajah memohon menatap Devan yang menungguinya di pintu mobil.

Devan berdecak, “Jo, stop ngerengek kayak anak kecil. Buruan.”

Melihat raut wajah Devan yang sudah kehabisan stock sabarnya, akhirnya dengan enggan Jocelyn melepas jaket yang sedari tadi ia kenakan dan turun dari mobil.

“Nah, gini kan cantik.” puji Devan sambil menggandeng tangan Jocelyn dan mengajaknya masuk ke dalam restoran.

Sepanjang makan malam, Devan lebih banyak membicarakan kegiatannya selama di Jogja. Jocelyn hanya ber-oh-ria saja, tanpa merasa tertarik dengan cerita Devan.

Perlahan ia menyadari bahwa yang dikatakan Ten benar adanya, hubungan dirinya dengan Devan bukanlah hubungan yang didasari rasa cinta satu sama lain. Mereka hanya saling menginginkan tanpa dilandasi perasaan apapun.

“Dev, aku mau ngomong-”

“Jo, itu lisptik kamu berantakan.” Devan memotong kalimat Jocelyn. Jocelyn ingin mengambil cermin dari dalam tas nya tetapi lelaki itu kembali bersuara, “Ke kamar mandi aja, kacanya lebih besar.”

Jocelyn terlihat bingung, namun ia tetap mengikuti perintah Devan dengan pergi menuju kamar mandi.

Begitu Jocelyn menghilang dari pandangannya, Devan menyeringai tipis seraya menuang sebungkus serbuk ke dalam minuman Jocelyn.

Ten

Ten keluar dari unit apartemennya untuk menemui Jocelyn sesuai dengan janjinya, namun tidak ia sangka Nadine kembali menunggui Ten di depan pintu.

“Nad, kamu mau apa la-”

Nadine memotong kalimat Ten dengan sebuah ciuman seraya mendorong pria itu agar masuk lagi ke dalam apartemennya.

Seperti tersihir, Ten tidak bereaksi apa-apa. Ia mengikuti keinginan Nadine yang saat ini menggiring langkahnya menuju sofa ruang tengah. Nadine mendorong Ten ke atas sofa, lalu kembali mencium bibir tipis lelaki itu. Tangannya mulai melepas kancing kemeja Ten sat persatu.

Kancing kemeja terakhir hampir ia lepas kalau saja Ten tidak menghentikan gerakan tangannya. “Nad, enough.” ucap Ten saat Nadine melepas tautan bibirnya.

Nadine tersenyum, “I know you still love me, Ten. Your kiss can't deny it.”

“Tapi ini salah!”

“Apa yang salah?! Nggak ada perasaan yang salah, Ten.” jawab Nadine dengan jari-jarinya yang menelusuri dada bidang milik Ten. Ten memalingkan wajahnya, ia ingin bangun dari posisinya namun Nadine menahan kedua bahunya.

Sorot tajam mata Nadine menatap Ten yang tidak kalah ragu untuk menatap perempuan itu, “Diam nya kamu selalu jadi jawaban buat aku.” sambung Nadine lalu ia kembali mencium bibir Ten.

Perlahan Jocelyn melepas tautan bibirnya dari Ten, “Sorry, nggak seharusnya gue gini.” perempuan itu melangkah mundur, lalu dia terduduk lemas di karpet ruangan itu. Ten pun ikut duduk di karpet berhadapan dengan Jocelyn.

“Dan lo, kenapa lo bales ciuman gue tadi? Lo tau ini salah, kan? Lo tau gue punya Devan dan lo sendiri punya pacar?”

“Gue udah nggak sama Nadine.” balas Ten lugas, “Dan lo, stop bohongin diri lo sendiri.” sambung Ten lagi.

Jocelyn yang daritadi menunduk, menoleh ke arah Ten, “Gue nggak bohongin diri gue sendiri. Lo udahan sama Nadine, tapi lo masih sayang sama dia, kan?”

Ten terdiam sesaat, “Gue akuin gue masih sayang sama Nadine. Gimanapun juga dia pernah jadi seseorang yang paling berarti dalam hidup gue. Tapi, gue udah nggak bisa percaya dia lagi. Makanya-”

“Makanya lo lari ke gue, gitu? Gue cuma jadi pelarian lo aja, iya kan?” potong Jocelyn lalu ia mendengus, menertawai dirinya sendiri.

“Emang nggak akan ada yang bener-bener serius sama gue.” sambung Jocelyn lagi. Ia kembali menunduk, menatap nanar karpet yang ia duduki saat itu.

“Jo, kalimat gue tadi belum selesai-”

“Lo juga cuma pelarian gue, Ten. Gue tadi begitu karena gue marah sama Devan. Jangan berharap lebih.” potong Jocelyn lagi.

Ten menghela nafas, “Oke, nggak masalah. Silahkan lo dateng kesini tiap lo marah. Gue nggak masalah kalau harus jadi tempat pelarian lo.”

Kalimat Ten kembali membuat Jocelyn menoleh ke arah lelaki itu, “Jangan bercanda, Ten.”

Ten bangkit dari duduknya, “Gue nggak bercanda. Gue akan tepatin perjanjian diawal kita kenal; gue akan ngajarin lo cara pacaran yang bener. Dengan cara gue.”

Jocelyn masih terperangah mendengar ucapan Ten barusan, sementara laki-laki itu sudah merebahkan dirinya di atas sofa, “Balik tidur di kamar, Jo. Nanti pagi gue bangunin. Ngantor nggak?”

Jocelyn refleks menggeleng. “Yaudah, kalo gitu gue bangunin agak siangan. Jam 7.” sambung Ten lalu ia menarik selimut dan memunggungi Jocelyn yang masih duduk terpaku di karpet.

Ten, lo beneran suka sama gue?

Selepas dari birthday dinner nya yang gagal total, Ten mengemudikan mobilnya tanpa tujuan, menembus jalanan malam kota Jakarta yang cukup lengang saat itu. Bosan karena tidak ingin pulang tapi tidak ada tujuan lain, membuat Ten akhirnya kembali ke tempat favoritnya.

Sky Lounge. Ten sangat menyukai ambience tempat itu. Pencahayaan yang tidak terlalu terang, orang-orang yang tidak terlalu berisik saat mengobrol serta alunan musik Jazz yang selalu terpasang; sempurna bagi lelaki itu untuk melepaskan penat, menghilangkan sejenak beban pikiran yang ia pikul sendiri.

“Jocelyn?”

Ten berjalan mendekati seorang perempuan yang sedang menikmati minumannya sendiri di lounge bar. Benar, dia adalah Jocelyn. Jocelyn yang Ten kenal.

“Jo? Lo ngapain disini?” tanya Ten sambil memegang bahu Jocelyn.

Jocelyn hanya menoleh menatap Ten dengan tatapan kosong, bisa Ten pastikan perempuan itu sudah banyak mengkonsumsi alkohol, “Ten, hehehe.... Lo lagi.” ucap Jocelyn setengah sadar.

“Dia sendirian?” tanya Ten kepada bartender yang bekerja di bar malam itu.

“Iya, udah daritadi. 30 menitan.”

Ten mengangguk sebagai tanda terima kasih atas info yang ia dapat, “Jo, balik yuk? Gue anterin.”

“Ten, kata cowok gue, gue nggak boleh ngomong sama lo. Apalagi balik sama lo, gue bisa diputusin.” suara Jocelyn terdengar semakin melantur dan tidak sampai semenit, ia sudah ambruk pingsan.

***

Untuk kedua kalinya, Ten harus bersusah payah membawa Jocelyn ke apartemennya. Alasannya tidak memulangkan Jocelyn ke rumahnya karena Kun; Ten yakin betul kalau Jocelyn akan dimarahi apabila mengkonsumsi alkohol sampai tidak sadarkan diri seperti saat ini.

Sampai di apartemennya, Ten langsung merebahkan Jocelyn di kasur kamarnya dan menyelimuti perempuan itu.

“Good Night, Jo.” bisik Ten pelan lalu ia segera meninggalkan perempuan itu di kamarnya.

03.00 am

Jocelyn terbangun. Alkohol yang ia minum semalam sukses membuat kepalanya berat tidak karuan. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat, berusaha mengembalikan kesadarannya yang belum 100% pulih.

“Hah? Ini dimana?” tanyanya pada diri sendiri, saat ia mulai sadar kalau semalaman ia tidur entah di kasur siapa. Kamar itu tidak terlalu luas, hanya terdapat lemari pakaian, meja kerja, pintu menuju kamar mandi dalam dan... kandang kucing.

“Ten?” tanya Jocelyn lagi lalu ia buru-buru keluar dari kamar untuk memastikan apakah tebakannya benar atau salah.

Benar, dilihatnya laki-laki dengan perawakan kurus yang menjadi ciri khas Ten; sedang termenung dengan segelas wine di tangannya. Lelaki itu duduk di sofa ruang tengah dengan lampu yang sengaja tidak ia nyalakan, “Ten?”

Suara bangun tidur Jocelyn membuyarkan lamunan Ten, “Jo? Kebangun? Tidur lagi aja. Ini masih jam 3 subuh.”

Jocelyn menghampiri Ten, “Kok gue bisa ada disini?” tanyanya bingung.

“Lo passed out di Sky Lounge, nggak inget?”

Jocelyn hanya menggeleng menjawab pertanyaan Ten.

“Lo kenapa minum lagi? Ada masalah lagi?” tanya Ten penasaran. Ia menaruh gelas wine yang sedari tadi ia mainkan di atas meja.

Jocelyn tidak langsung menjawab, ia hanya berjalan mendekati Ten. Sampai di hadapan lelaki itu, Jocelyn merendahkan posisi tubuhnya agar kepalanya sejajar dengan Ten yang sedang duduk di sofa, lalu ia mencium bibir lelaki itu singkat.

“Jo, tidur lagi gih, nanti pagi gue anter balik ke rumah.”

“Ten, lo masih suka sama gue?” Jocelyn tidak menggubris kalimat Ten.

“Tidur, Jo. Lo masih belum sadar sepenuhnya.”

“Jawab dulu pertanyaan gue.” tuntut Jocelyn.

“Kalo iya, lo mau apa?” tanpa ragu Ten langsung menjawab Jocelyn dengan cepat.

I want you.” jawab Jocelyn lalu ia kembali mencium bibir Ten. Seperti mendengar jawaban yang selama ini ia ingin dengar, Ten membalas ciuman Jocelyn dengan lembut.

Dini hari itu, kedua insan itu akhirnya jujur dengan perasaan mereka masing-masing.

Begitu menerima pesan teks dari Ten, Jocelyn segera keluar dari kamarnya. Ia memastikan bahwa Kun sudah tidur dan tidak akan mendengar dirinya pergi.

“Lo kenapa?” tanya Ten khawatir begitu Jocelyn masuk ke dalam mobilnya. Terlihat mata Jocelyn sembab, bukti bahwa perempuan itu habis menangis dalam waktu cukup lama.

Jocelyn tidak menjawab, ia hanya menunduk sambil memainkan kuku-kuku tangannya.

“Jo, jawab. Kalo lo diem gini gue nggak tau apa-apa.” Ten terdengar semakin cemas.

“Alesan gue putus sama Devan... Gue nolak buat tidur sama dia.”

Ten mengeraskan kepalan tangannya dan meninju jok mobilnya kesal, “Terus?”

“Tadi... Dia nyium gue di mobil terus gitu...” kalimat Jocelyn terputus karena perempuan itu sekarang menangis lagi. Ia tidak sanggup jika harus mengingat kembali bagaimana perlakuan Devan beberapa jam lalu pada dirinya.

Ten tidak berkata apa-apa, ia mendekatkan dirinya dengan Jocelyn dan memberikan pelukan hangat untuk perempuan itu.

“Ten, emang salah ya kalo gue nggak mau?” tanya Jocelyn beberapa saat setelah tangisnya mereda dan dirinya mulai merasa lebih tenang.

Ten melepaskan pelukannya, “Nggak, lo nggak salah.” jawab Ten pelan.

“Ten, gue sayang sama Devan tapi kalo gini...”

“Putusin.” potong Ten, “He doesn't deserve you.”

“Tapi gue sayang...” timpal Jocelyn pelan.

“Jo, lo bisa cari yang lebih baik dari Devan. Sampe kapan lo mau terus begini?” nada bicara Ten menaik.

“Ten! Lo nggak tau perasaan gue-”

“Lo takut ngga ada cowok lain yang mau sama lo?” Ten kembali memotong kalimat Jocelyn.

Jocelyn bengong. Ten seperti bisa membaca isi hatinya yang paling dalam, “Hah? Kok-”

“Kalo gitu jadiin gue pacar lo lagi.”

“HAH?”

Jocelyn

“Thank you ya, Dev.” ucap Jocelyn saat mobil milik Devan berhenti tepat di depan rumahnya.

Devan mengangguk lalu ia mengelus-elus pelan puncak kepala Jocelyn sementara Jocelyn masih sibuk mencari kunci pintu pagar rumahnya.

“Aku turun yah.” ucap Jocelyn lagi setelah ia berhasil menemukan kunci rumahnya.

“Jo.” panggil Devan dengan suara rendahnya, tangannya menahan lengan kanan Jocelyn, membuat perempuan itu mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil Devan.

Jocelyn menoleh, “Ada apa lagi, Dev?” tanyanya polos.

Devan menarik pelan lengan Jocelyn, lalu ia mendekatkan kepalanya dengan kepala Jocelyn, “I love you, Jo.” bisik Devan lirih, kemudian ia mencium pelan bibir Jocelyn.

Jocelyn terkejut, matanya melebar dan tubuhnya seperti terkunci, ia tidak medapat bergerak. Sementara Devan terus melumat bibirnya dan tangannya kini mulai bergerak menelusuri tubuh Jocelyn.

“Dev, stop.” potong Jocelyn seraya melepaskan dirinya dari Devan.

“Jo, masih belum juga?”

“Hati-hati pulangnya.” ucap Jocelyn cepat lalu segera turun dari mobil Devan dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah.

“Pulang sama siapa? Devan, kan?” tanya Kun saat mendengar Jocelyn masuk. Jocelyn tidak menjawab pertanyaan Kun, ia berlari masuk ke dalam kamar agar Kun tidak melihat dirinya menangis.

Ten

“Udah ya, aku pulang dulu.” ujar Ten setelah ia mengantar Nadine sampai depan pintu apartemennya.

Nadine menahan Ten pergi dengan langsung mendekap erat lelaki itu, “Stay disini aja, ngga bisa?” tanya Nadine.

Ten melepaskan pelukan Nadine, “Aku pulang ya.” Ten mengulang kalimatnya.

Karena usaha sebelumnya belum berhasil, Nadine menahan kepergian Ten dengan meraih kedua pipi Ten dan mencium bibir lelaki itu lembut.

“Nad, enough.” Ten menghentikan Nadine dengan mendorong kedua bahu perempuan itu agar menjauh dari dirinya.

“Ten, sesulit itu kah? Kita udah 1 bulan lebih coba balik lagi, jalan bareng lagi, aku berusaha untuk selalu ada buat kamu, tapi kamu seolah-olah kayak nutup diri kamu dari aku.”

“Sorry, Nad. Kita bicarain ini lagi besok. Night.” Ten buru-buru berpamitan dengan Nadine dan pergi dari sana sebelum perempuan itu menahan lagi langkah kakinya.

Karena Winwin tidak bisa pergi, malam itu Ten duduk sendiri di bar Sky Lounge.

Ten memainkan gelas wine nya dengan pikirannya yang kosong. Pekerjaan hari itu cukup melelahkan tetapi ia tidak bisa langsung tidur begitu saja sehingga ia perlu segelas anggur merah untuk membantunya terlelap.

Tidak jauh dari tempat ia duduk, Ten melihat seorang perempuan yang menenggak vodka seperti meminum air putih.

“Saya takut deh cewek itu kenapa-napa.” bartender yang bekerja malam itu di bar mengajak Ten berbicara saat mata Ten memperhatikan perempuan itu.

“Emang udah berapa gelas?” tanya Ten penasaran. Perempuan tadi menenggak gelas terakhirnya lalu berjalan pergi meninggalkan kursinya.

“Lima, sama gelas terakhir tadi.”

Ten hanya membulatkan bibirnya tanda ia paham, lalu setelah itu ia kembali menikmati wine miliknya.

——

“Devan bego! Mana ada orang yang gak bisa pacaran? Lo pikir pacaran pake sekolah dulu? Pake les dulu?”

Jocelyn menendang-menendang bemper mobil HRV Hitam yang terparkir di parkiran basement Sky Lounge.

“Devan!!!” teriak Jocelyn meracau. Kali ini tidak hanya bemper mobil yang ia tendang, tapi tangannya mulai meninju kap mobil yang sama.

“Eh eh!! Mobil gue!!” teriak Ten dari jauh saat melihat mobil miliknya sedang ‘dipukuli’ oleh orang asing.

Jocelyn hendak meninju kembali kap mobil hitam itu tapi tangan Ten dengan cepat menghalaunya.

“Lo gila ya?!” bentak Ten. Kap mobilnya masih baik-baik saja tapi tidak dengan bemper mobilnya. Beberapa bagian terlihat sedikit penyok dan lecet akibat heels yang dikenakan Jocelyn.

“Heh! Devan! Gue tanya sama lo, emang lo jago pacaran, hah? Belajar dimana? Les dimana?? Cepet kasih tau gue!!!”

Ten memalingkan wajahnya saat Jocelyn meracau dihadapannya. Perempuan itu meraih kerah baju Ten dan Ten pun berusaha menghindar, akan tetapi sedetik kemudian Jocelyn ambruk. Buru-buru Ten menangkap perempuan itu sebelum ia jatuh ke aspal.

“Eh? Bangun, mbak? Mobil gue ini lo ancurin?!”

Tidak ada tanda-tanda Jocelyn akan bangun karena tubuhnya terkulai lemas dan terasa semakin berat.

“Mbak?! Seriously abis ngerusak mobil orang terus sekarang lo seenaknya terkapar begini?!”

Tidak ada jawaban dari Jocelyn memaksa Ten untuk mengambil keputusan final; membawa perempuan ini pulang ke apartemennya.

Chance

“Papa!!” panggil Elena antusias begitu ia melihat papanya di lobby hotel. Tanpa malu ia langsung memeluk papanya.

“Hai sayang...” ucap papa Elena sambil mengelus-elus punggung putri semata wayangnya.

“Kamu mau makan apa?” Papa Elena melepas pelukan Elena lalu merangkul bahu perempuan itu sambil berjalan keluar.

“Apa aja kalau sama papa.” jawab Elena sambil tersenyum lebar.

——

Elena dan papanya memutuskan untuk menikmati pasta dan waffle di salah satu resto di kawasan SCBD. Setelah pesanan datang, keduanya mulai menyantap makan siang mereka.

“Cerita ke papa dong, gimana kamu bisa kerja di Singapur. Papa terakhir tau kamu balik ke Indo setelah resign dari perusahaan di Aussie.”

Elena tersenyum tipis, “Rekomendasi temen, Pa.” jawab Elena berbohong. Ia tidak mungkin menceritakan kisah yang sebenarnya.

“Is it good? Is it make you happy?”

Elena mengangguk.

“Terus ke Jakarta sekarang dalam rangka apa?”

“Ngg... tadinya mau surprise ke pacar Elena, Pa. Tapi gagal total.”

Papa Elena menaikkan alisnya, “Pacar? Kok nggak cerita?”

“Hehe... Elena nggak tau juga sih, hubungan ini bakal bertahan lama atau enggak.”

Raut wajah Papa Elena yang terlihat semakin penasaran memaksa Elena untuk bercerita tentang Dejun dan permasalahan yang mereka berdua sedang hadapi.

“Jadi, intinya Elena nggak suka kalau Dejun nggak cerita apa-apa ke kamu?”

“Iya, Pa. Apa gunanya aku sebagai pacar dia, kalau masalah dia pendem semua sendirian?”

“Mungkin dia sebenernya mau cerita, tapi waktunya belum ketemu? Kamu kan tahu, ada tipe orang yang ngga bisa langsung dengan gampang cerita masalahnya ke orang lain.”

“Di sisi lain dia mau menjaga perasaan kamu, sambil cari waktu yang tepat untuk bicara.”

“Papa setuju kalau kamu marah karena dia nggak cerita tentang perjodohannya, tapi masalah yang sekarang papa rasa kamu harus kasih kesempatan untuk Dejun. Dia juga jadi korban lho disini.”

Elena hanya terdiam mendengar nasihat dari papanya. Papa Elena mengesap ice coffee yang ia pesan.

“Papa tau Elena kaget, Elena kecewa. Tapi coba Elena pikirin lagi dengan mengesampingkan ego kamu. Inget sayang, salah satu kunci hubungan yang sehat itu adalah dengan sama-sama tidak egois. Belajar menerima kekurangan, belajar memaafkan, itu penting.”

Elena tidak berkata apa-apa. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk papanya yang duduk diseberang meja, “Makasih ya, Pa.” ucapnya pelan.