Nightmare
Jocelyn
“Jo, lepas jaketnya. Kita udah sampe, masa kamu mau pake jaket kayak gitu ke dalem. Nggak cocok dong sama konsep fine dining kita malem ini.”
Mobil Devan sudah sampai di lobby hotel Shangri-La dan staff valet parking sudah siap untuk memarkirkan mobil Devan, namun semua itu tertunda lantaran Jocelyn yang masih duduk diam di dalam mobil.
“Aku pake aja ya... matching kok warnanya.” pinta Jocelyn dengan wajah memohon menatap Devan yang menungguinya di pintu mobil.
Devan berdecak, “Jo, stop ngerengek kayak anak kecil. Buruan.”
Melihat raut wajah Devan yang sudah kehabisan stock sabarnya, akhirnya dengan enggan Jocelyn melepas jaket yang sedari tadi ia kenakan dan turun dari mobil.
“Nah, gini kan cantik.” puji Devan sambil menggandeng tangan Jocelyn dan mengajaknya masuk ke dalam restoran.
Sepanjang makan malam, Devan lebih banyak membicarakan kegiatannya selama di Jogja. Jocelyn hanya ber-oh-ria saja, tanpa merasa tertarik dengan cerita Devan.
Perlahan ia menyadari bahwa yang dikatakan Ten benar adanya, hubungan dirinya dengan Devan bukanlah hubungan yang didasari rasa cinta satu sama lain. Mereka hanya saling menginginkan tanpa dilandasi perasaan apapun.
“Dev, aku mau ngomong-”
“Jo, itu lisptik kamu berantakan.” Devan memotong kalimat Jocelyn. Jocelyn ingin mengambil cermin dari dalam tas nya tetapi lelaki itu kembali bersuara, “Ke kamar mandi aja, kacanya lebih besar.”
Jocelyn terlihat bingung, namun ia tetap mengikuti perintah Devan dengan pergi menuju kamar mandi.
Begitu Jocelyn menghilang dari pandangannya, Devan menyeringai tipis seraya menuang sebungkus serbuk ke dalam minuman Jocelyn.
Ten
Ten keluar dari unit apartemennya untuk menemui Jocelyn sesuai dengan janjinya, namun tidak ia sangka Nadine kembali menunggui Ten di depan pintu.
“Nad, kamu mau apa la-”
Nadine memotong kalimat Ten dengan sebuah ciuman seraya mendorong pria itu agar masuk lagi ke dalam apartemennya.
Seperti tersihir, Ten tidak bereaksi apa-apa. Ia mengikuti keinginan Nadine yang saat ini menggiring langkahnya menuju sofa ruang tengah. Nadine mendorong Ten ke atas sofa, lalu kembali mencium bibir tipis lelaki itu. Tangannya mulai melepas kancing kemeja Ten sat persatu.
Kancing kemeja terakhir hampir ia lepas kalau saja Ten tidak menghentikan gerakan tangannya. “Nad, enough.” ucap Ten saat Nadine melepas tautan bibirnya.
Nadine tersenyum, “I know you still love me, Ten. Your kiss can't deny it.”
“Tapi ini salah!”
“Apa yang salah?! Nggak ada perasaan yang salah, Ten.” jawab Nadine dengan jari-jarinya yang menelusuri dada bidang milik Ten. Ten memalingkan wajahnya, ia ingin bangun dari posisinya namun Nadine menahan kedua bahunya.
Sorot tajam mata Nadine menatap Ten yang tidak kalah ragu untuk menatap perempuan itu, “Diam nya kamu selalu jadi jawaban buat aku.” sambung Nadine lalu ia kembali mencium bibir Ten.