Vacillate

Jocelyn

“Thank you ya, Dev.” ucap Jocelyn saat mobil milik Devan berhenti tepat di depan rumahnya.

Devan mengangguk lalu ia mengelus-elus pelan puncak kepala Jocelyn sementara Jocelyn masih sibuk mencari kunci pintu pagar rumahnya.

“Aku turun yah.” ucap Jocelyn lagi setelah ia berhasil menemukan kunci rumahnya.

“Jo.” panggil Devan dengan suara rendahnya, tangannya menahan lengan kanan Jocelyn, membuat perempuan itu mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil Devan.

Jocelyn menoleh, “Ada apa lagi, Dev?” tanyanya polos.

Devan menarik pelan lengan Jocelyn, lalu ia mendekatkan kepalanya dengan kepala Jocelyn, “I love you, Jo.” bisik Devan lirih, kemudian ia mencium pelan bibir Jocelyn.

Jocelyn terkejut, matanya melebar dan tubuhnya seperti terkunci, ia tidak medapat bergerak. Sementara Devan terus melumat bibirnya dan tangannya kini mulai bergerak menelusuri tubuh Jocelyn.

“Dev, stop.” potong Jocelyn seraya melepaskan dirinya dari Devan.

“Jo, masih belum juga?”

“Hati-hati pulangnya.” ucap Jocelyn cepat lalu segera turun dari mobil Devan dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah.

“Pulang sama siapa? Devan, kan?” tanya Kun saat mendengar Jocelyn masuk. Jocelyn tidak menjawab pertanyaan Kun, ia berlari masuk ke dalam kamar agar Kun tidak melihat dirinya menangis.

Ten

“Udah ya, aku pulang dulu.” ujar Ten setelah ia mengantar Nadine sampai depan pintu apartemennya.

Nadine menahan Ten pergi dengan langsung mendekap erat lelaki itu, “Stay disini aja, ngga bisa?” tanya Nadine.

Ten melepaskan pelukan Nadine, “Aku pulang ya.” Ten mengulang kalimatnya.

Karena usaha sebelumnya belum berhasil, Nadine menahan kepergian Ten dengan meraih kedua pipi Ten dan mencium bibir lelaki itu lembut.

“Nad, enough.” Ten menghentikan Nadine dengan mendorong kedua bahu perempuan itu agar menjauh dari dirinya.

“Ten, sesulit itu kah? Kita udah 1 bulan lebih coba balik lagi, jalan bareng lagi, aku berusaha untuk selalu ada buat kamu, tapi kamu seolah-olah kayak nutup diri kamu dari aku.”

“Sorry, Nad. Kita bicarain ini lagi besok. Night.” Ten buru-buru berpamitan dengan Nadine dan pergi dari sana sebelum perempuan itu menahan lagi langkah kakinya.