3am Talks
Perlahan Jocelyn melepas tautan bibirnya dari Ten, “Sorry, nggak seharusnya gue gini.” perempuan itu melangkah mundur, lalu dia terduduk lemas di karpet ruangan itu. Ten pun ikut duduk di karpet berhadapan dengan Jocelyn.
“Dan lo, kenapa lo bales ciuman gue tadi? Lo tau ini salah, kan? Lo tau gue punya Devan dan lo sendiri punya pacar?”
“Gue udah nggak sama Nadine.” balas Ten lugas, “Dan lo, stop bohongin diri lo sendiri.” sambung Ten lagi.
Jocelyn yang daritadi menunduk, menoleh ke arah Ten, “Gue nggak bohongin diri gue sendiri. Lo udahan sama Nadine, tapi lo masih sayang sama dia, kan?”
Ten terdiam sesaat, “Gue akuin gue masih sayang sama Nadine. Gimanapun juga dia pernah jadi seseorang yang paling berarti dalam hidup gue. Tapi, gue udah nggak bisa percaya dia lagi. Makanya-”
“Makanya lo lari ke gue, gitu? Gue cuma jadi pelarian lo aja, iya kan?” potong Jocelyn lalu ia mendengus, menertawai dirinya sendiri.
“Emang nggak akan ada yang bener-bener serius sama gue.” sambung Jocelyn lagi. Ia kembali menunduk, menatap nanar karpet yang ia duduki saat itu.
“Jo, kalimat gue tadi belum selesai-”
“Lo juga cuma pelarian gue, Ten. Gue tadi begitu karena gue marah sama Devan. Jangan berharap lebih.” potong Jocelyn lagi.
Ten menghela nafas, “Oke, nggak masalah. Silahkan lo dateng kesini tiap lo marah. Gue nggak masalah kalau harus jadi tempat pelarian lo.”
Kalimat Ten kembali membuat Jocelyn menoleh ke arah lelaki itu, “Jangan bercanda, Ten.”
Ten bangkit dari duduknya, “Gue nggak bercanda. Gue akan tepatin perjanjian diawal kita kenal; gue akan ngajarin lo cara pacaran yang bener. Dengan cara gue.”
Jocelyn masih terperangah mendengar ucapan Ten barusan, sementara laki-laki itu sudah merebahkan dirinya di atas sofa, “Balik tidur di kamar, Jo. Nanti pagi gue bangunin. Ngantor nggak?”
Jocelyn refleks menggeleng. “Yaudah, kalo gitu gue bangunin agak siangan. Jam 7.” sambung Ten lalu ia menarik selimut dan memunggungi Jocelyn yang masih duduk terpaku di karpet.
Ten, lo beneran suka sama gue?