Chance

“Papa!!” panggil Elena antusias begitu ia melihat papanya di lobby hotel. Tanpa malu ia langsung memeluk papanya.

“Hai sayang...” ucap papa Elena sambil mengelus-elus punggung putri semata wayangnya.

“Kamu mau makan apa?” Papa Elena melepas pelukan Elena lalu merangkul bahu perempuan itu sambil berjalan keluar.

“Apa aja kalau sama papa.” jawab Elena sambil tersenyum lebar.

——

Elena dan papanya memutuskan untuk menikmati pasta dan waffle di salah satu resto di kawasan SCBD. Setelah pesanan datang, keduanya mulai menyantap makan siang mereka.

“Cerita ke papa dong, gimana kamu bisa kerja di Singapur. Papa terakhir tau kamu balik ke Indo setelah resign dari perusahaan di Aussie.”

Elena tersenyum tipis, “Rekomendasi temen, Pa.” jawab Elena berbohong. Ia tidak mungkin menceritakan kisah yang sebenarnya.

“Is it good? Is it make you happy?”

Elena mengangguk.

“Terus ke Jakarta sekarang dalam rangka apa?”

“Ngg... tadinya mau surprise ke pacar Elena, Pa. Tapi gagal total.”

Papa Elena menaikkan alisnya, “Pacar? Kok nggak cerita?”

“Hehe... Elena nggak tau juga sih, hubungan ini bakal bertahan lama atau enggak.”

Raut wajah Papa Elena yang terlihat semakin penasaran memaksa Elena untuk bercerita tentang Dejun dan permasalahan yang mereka berdua sedang hadapi.

“Jadi, intinya Elena nggak suka kalau Dejun nggak cerita apa-apa ke kamu?”

“Iya, Pa. Apa gunanya aku sebagai pacar dia, kalau masalah dia pendem semua sendirian?”

“Mungkin dia sebenernya mau cerita, tapi waktunya belum ketemu? Kamu kan tahu, ada tipe orang yang ngga bisa langsung dengan gampang cerita masalahnya ke orang lain.”

“Di sisi lain dia mau menjaga perasaan kamu, sambil cari waktu yang tepat untuk bicara.”

“Papa setuju kalau kamu marah karena dia nggak cerita tentang perjodohannya, tapi masalah yang sekarang papa rasa kamu harus kasih kesempatan untuk Dejun. Dia juga jadi korban lho disini.”

Elena hanya terdiam mendengar nasihat dari papanya. Papa Elena mengesap ice coffee yang ia pesan.

“Papa tau Elena kaget, Elena kecewa. Tapi coba Elena pikirin lagi dengan mengesampingkan ego kamu. Inget sayang, salah satu kunci hubungan yang sehat itu adalah dengan sama-sama tidak egois. Belajar menerima kekurangan, belajar memaafkan, itu penting.”

Elena tidak berkata apa-apa. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk papanya yang duduk diseberang meja, “Makasih ya, Pa.” ucapnya pelan.