Quatervois

; a crossroad or a critical decision or turning point in one's life.

Selesai makan siang dan sesuai dugaan Jocelyn, Ten memasak segala makanan cepat saji mulai dari chicken nugget sampai sarden untuk makan siang mereka, keduanya duduk di teras belakang villa.

Ten memejamkan matanya di kursi malas, sementara Jocelyn—yang duduk di kursi malas sebelah kanan Ten, tidak berhenti memandangi lelaki itu. Untuk pertama kalinya ia dapat memperhatikan wajah lelaki itu lebih detail; mata tajam, hidung mancung dan bibir lancip Ten, semua terlihat sempurna.

You always make me nervous, Jo.” kata Ten tiba-tiba. Jocelyn yakin mata lelaki itu masih terpejam, tapi sepertinya Ten sadar kalau daritadi Jocelyn terus memperhatikannya.

“Eh, sorry. Tidur aja kalo capek.” balas Jocelyn canggung.

“Tadi katanya mau nanya sesuatu, mau nanya apa?” tanya Ten masih dengan mata terpejam.

Jocelyn tidak langsung menjawab. Ia terlihat tidak yakin tetapi rasa penasarannya mengalahkan segalanya, “Ten, lo pernah bilang lo sayang sama gue. Itu... bener? Gue nggak salah denger, kan?”

Ten membuka matanya perlahan lalu ia berbalik menghadap Jocelyn, “Lo ternyata belum tidur ya, malam itu.” jawabnya pelan. Jocelyn tidak membalas apa-apa, ia menunggu Ten menjawab pertanyaannya.

I love you, Jo. Tapi-”

“Kenapa tapi?” potong Jocelyn.

“Tapi gue udah mengecewakan lo. Gue nggak bisa nepatin janji gue saat itu. Rasanya terlalu egois kalau gue berharap lo bisa balas perasaan gue.”

I love you too, Ten.”

Ten refleks bangun dari rebahnya, sementara Jocelyn tidak berhenti menatap lelaki itu. Ia pun ikut bangun dari rebahnya dan duduk berhadapan dengan Ten.

Quatervois.” ucap Jocelyn pelan. Ten yang tidak paham mengerutkan dahinya.

You're my turning point, Ten. Banyak yang berubah sejak gue ketemu sama lo, gue merasa menjadi Jocelyn versi lebih baik dari sebelumnya. Dan ternyata, perasaan gue terhadap lo juga berubah.”

Ten terdiam. Ia memandangi Jocelyn hingga perempuan itu bangkit dari duduknya, “Gue mau ke pantai lagi ya.” pamit Jocelyn lalu ia pergi meninggalkan Ten.

“Jo!” Ten mengejar perempuan itu, ia berhasil meraih tangan Jocelyn dan menghentikan langkah kakinya. “Jo, I ever made a mistake.” sambung Ten.

Every human made a mistake, Ten. Lo lupa sama quotes yang lo tweet kemarin? We fall, we get up, we learn...

We grow, we move, we live.” Ten menyambung kalimat Jocelyn. Jocelyn tersenyum seraya menyibak rambut Ten yang tertiup angin pantai dan menutupi mata lelaki itu, “Ayo kita pacaran beneran, Ten.”

Are you really okay, Jo?” balas Ten yang terlihat masih ragu, tapi Jocelyn berusaha menghilangkan rasa ragu itu dengan sebuah anggukan, “Mau nggak?” tanya Jocelyn, menyambung ajakan sebelumnya.

It supposed to be me who asked you, Jo?!” protes Ten karena kecolongan start dari Jocelyn. Perempuan itu hanya terkekeh, “Abisnya kelamaan. Tawaran terakhir, mau nggak?”

Ten mengacak pelan bagian depan rambut Jocelyn sambil mengangguk, “Sure.”

Jocelyn tersenyum hingga matanya menyipit, lalu diluar dugaan Ten perempuan itu mencium pipi Ten dan setelahnya ia langsung buru-buru lari menuju pantai.

Butuh beberapa detik sebelum Ten sadar dengan apa yang terjadi barusan, “Jocelyn!!” teriaknya memanggil perempuan yang sukses berlabuh di hatinya.