You'll be okay

Jocelyn menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan sebelum ia melangkahkan kaki memasuki ruangan yang sudah lama tidak ia kunjungi.

Kantornya. Tempat dengan beribu kenangan yang Jocelyn sendiri sulit menjelaskan dengan kata-kata.

Beberapa pasang mata yang mengenali Jocelyn saling berbisik saat melihat perempuan itu berjalan menuju meja kerjanya. Jocelyn sendiri terlihat tidak peduli, ia datang kesana dengan satu tujuan; membereskan barang-barangnya sekaligus menyerahkan surat resign yang resmi kepada atasannya.

- “Kamu serius mau resign, Jocelyn?” tanya Ibu Athaya, kepala editor majalah tempat Jocelyn bekerja.

“Iya, Ibu.” jawab Jocelyn singkat.

“Duh, Jo... Kamu nggak mau pikirin lagi? Saya nggak masalah dengan absen kamu selama beberapa bulan ini, saya bisa bantu urus ke atasan kalau urusan absen. Saya suka sekali dengan kinerja dan hasil kerja kamu, Jo. It's such a big loss for our team.”

Jocelyn tersenyum mendengar pujian dari atasannya via telepon sore itu, “Terima kasih banyak, Bu... Tapi maaf banget, Bu. Keputusan saya sudah bulat.”

“Kamu diminta kerja di perusahaan lain, ya? Mereka tawar gaji berapa, Jo? I'll pay you higher. Please, stay with me...” Ibu Athaya masih memperjuangkan salah satu staff kesayangannya itu.

“Enggak, Bu. Saya nggak kerja dimana-mana. Saya murni mau berhenti dulu untuk beberapa saat, sampai keadaan saya membaik.” balas Jocelyn sopan.

“Jo, saya siap terima kamu kapan aja. Kalau sudah lebih baik, please balik lagi sama saya ya...” -

Selesai membereskan barang-barangnya, Jocelyn menghampiri ruangan Ibu Athaya untuk berpamitan secara langsung sekaligus menyerahkan surat pengunduran dirinya.

“Permisi, Bu...” sapa Jocelyn sopan. Ia menjulurkan kepalanya sedikit agar Ibu Athaya dapat melihat kedatangannya.

“Jo, masuk...” sambut Ibu Athaya ramah. Jocelyn pun masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di sofa.

“Ini Bu, surat pengunduran diri saya. Terima kasih banyak ya, Bu. Saya banyak belajar banget selama bekerja sama Ibu.” Jocelyn menyodorkan surat pengunduran dirinya kepada Ibu Athaya.

“Saya sebenernya masih nggak rela, Jo. Tapi kalau ini keputusan terbaik untuk kamu, saya coba buat terima. Walaupun sebenernya sulit. Kayaknya bakal susah deh cari pengganti yang sama kompetennya kayak kamu.” dengan berat hati Ibu Athaya menerima surat pengunduran diri Jocelyn.

Jocelyn hanya tersenyum mendengar keluh kesah atasannya itu, “Banyak yang lebih muda daripada saya, Bu. Lebih kreatif juga daripada saya.”

“Jo, kamu resign ini bukan karena Devan, kan?”

Pertanyaan Ibu Athaya cukup mencekat tenggorokan Jocelyn.

“Maaf ya saya singgung urusan pribadi kamu. Tapi udah jadi berita umum disini, kalau kamu putus sama Devan. Ditambah lagi Devan sekarang sama Gita.”

Jocelyn terperangah, “Sama Gita, Bu?”

“Iya. Baru kok, sebulan apa ya... Duh tapi saya sendiri sih nggak suka sama Devan. Okay, he has good looking tapi attitude nya... big no. You deserve better, Jo.”

Jocelyn hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Ibu Athaya. “Eh maaf lho saya nggak bermaksud jelek-jelekin mantan kamu.” sambung Ibu Athaya lagi sambil terkekeh pelan.

Jocelyn tersenyum, “Nggak papa, Bu. Emang gitu realitanya.”

“Bu, kalau gitu saya pamit dulu, ya? Nanti kapan-kapan saya mampir kesini.” Jocelyn bangkit dari duduknya, berpamitan dengan mantan atasannya.

Sure. Kamu harus kesini lagi. Once again, thank you ya, Jo...”

Jocelyn keluar dari ruangan Ibu Athaya dengan perasaan lega. Sambil membawa barang yang tadi ia bereskan, ia berjalan menuju lobby kantornya itu.

“Jocelyn?” tegur suara yang tidak asing di telinga Jocelyn saat ia sedang menunggu elevator sendirian. Dengan ekor matanya, Jocelyn dapat melihat sosok yang memanggilnya sedang berjalan mendekatinya.

Resign?” tanya sosok yang tak lain tak bukan adalah Devan. Jaraknya yang terlalu dekat dengan Jocelyn membuat perempuan itu refleks mundur selangkah.

Devan mendengus melihat Jocelyn menjauhi dirinya, “Jo... Jo... Lo tuh cantik, sexy, everything on you is perfect...”

Seolah memancing trauma Jocelyn, Devan terus berjalan mendekati Jocelyn sementara Jocelyn terus melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak tembok; ia tidak bisa kemana-mana lagi.

Saat Jocelyn dalam posisi tidak dapat berbuat apa-apa, Devan meraih dagu Jocelyn sementara Jocelyn memohon dengan suara lemahnya, “Dev, stop... Please, stop...“.

Jocelyn memejamkan matanya ketika Devan mendekatkan bibirnya hingga seseorang menghentikan Devan dengan meninju pria itu hingga ambruk ke lantai.

Buk!

Jocelyn yang sedari tadi memejamkan matanya perlahan membuka mata untuk melihat apa yang terjadi dan siapa yang menolongnya.

Jerk!” ucap Ten geram sambil meninju kembali Devan yang masih berusaha bangkit berdiri.

Shit! Stop ikut campur. Lo nggak ada hubungannya sama gue dan Jocelyn. Get out!” balas Devan geram sambil mencoba untuk meraih tangan Jocelyn dengan kasar, namun Ten berhasil menghalau Devan dengan melayangkan lagi sebuah pukulan ke wajah lelaki itu.

Once a jerk, forever a jerk. Lo yang stop gangguin Jo, you didn't deserve her!” balas Ten dengan nada dingin, kemudian ia melihat Jocelyn yang masih berdiri ketakutan di dekatnya, “Ayo, Jo.” ajak Ten sambil merangkul Jocelyn, membawa pergi perempuan itu dari situ.

***

Jocelyn dan Ten tiba di depan mobil Ten yang terparkir di basement dan Ten dapat merasakan tubuh Jocelyn yang gemetaran cukup hebat dalam rangkulannya.

“Jo, you're okay now.” ucap Ten namun sepertinya percuma, Jocelyn masih gemetaran dan air mata tidak berhenti mengalir di pipinya.

Ten melepas rangkulannya lalu berdiri menatap Jocelyn dengan kedua tangannya memegang bahu Jocelyn, “Jo, liat gue.”

Jocelyn masih belum juga bergeming, membuat Ten mengulang kembali kalimatnya dengan suara lebih keras, “Jocelyn! Liat gue!”

Jocelyn seperti tersadar, ia membalas tatapan Ten dan sedetik kemudian tangis perempuan itu pecah, “Ten... Gue takut...” isak Jocelyn.

Ten menarik Jocelyn masuk ke dalam pelukannya lalu mengusap pelan punggung perempuan itu, “Jo... It's okay. Sekarang ada gue, lo nggak perlu takut lagi. Gue nggak akan ninggalin lo sendiri.”

Jocelyn tidak menjawab apa-apa, ia terus menangis di dalam pelukan Ten. Ten sendiri tidak berkata apa-apa lagi, ia membiarkan Jocelyn menangis sepuasnya.