Honesty
Selepas dari birthday dinner nya yang gagal total, Ten mengemudikan mobilnya tanpa tujuan, menembus jalanan malam kota Jakarta yang cukup lengang saat itu. Bosan karena tidak ingin pulang tapi tidak ada tujuan lain, membuat Ten akhirnya kembali ke tempat favoritnya.
Sky Lounge. Ten sangat menyukai ambience tempat itu. Pencahayaan yang tidak terlalu terang, orang-orang yang tidak terlalu berisik saat mengobrol serta alunan musik Jazz yang selalu terpasang; sempurna bagi lelaki itu untuk melepaskan penat, menghilangkan sejenak beban pikiran yang ia pikul sendiri.
“Jocelyn?”
Ten berjalan mendekati seorang perempuan yang sedang menikmati minumannya sendiri di lounge bar. Benar, dia adalah Jocelyn. Jocelyn yang Ten kenal.
“Jo? Lo ngapain disini?” tanya Ten sambil memegang bahu Jocelyn.
Jocelyn hanya menoleh menatap Ten dengan tatapan kosong, bisa Ten pastikan perempuan itu sudah banyak mengkonsumsi alkohol, “Ten, hehehe.... Lo lagi.” ucap Jocelyn setengah sadar.
“Dia sendirian?” tanya Ten kepada bartender yang bekerja di bar malam itu.
“Iya, udah daritadi. 30 menitan.”
Ten mengangguk sebagai tanda terima kasih atas info yang ia dapat, “Jo, balik yuk? Gue anterin.”
“Ten, kata cowok gue, gue nggak boleh ngomong sama lo. Apalagi balik sama lo, gue bisa diputusin.” suara Jocelyn terdengar semakin melantur dan tidak sampai semenit, ia sudah ambruk pingsan.
***
Untuk kedua kalinya, Ten harus bersusah payah membawa Jocelyn ke apartemennya. Alasannya tidak memulangkan Jocelyn ke rumahnya karena Kun; Ten yakin betul kalau Jocelyn akan dimarahi apabila mengkonsumsi alkohol sampai tidak sadarkan diri seperti saat ini.
Sampai di apartemennya, Ten langsung merebahkan Jocelyn di kasur kamarnya dan menyelimuti perempuan itu.
“Good Night, Jo.” bisik Ten pelan lalu ia segera meninggalkan perempuan itu di kamarnya.
03.00 am
Jocelyn terbangun. Alkohol yang ia minum semalam sukses membuat kepalanya berat tidak karuan. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat, berusaha mengembalikan kesadarannya yang belum 100% pulih.
“Hah? Ini dimana?” tanyanya pada diri sendiri, saat ia mulai sadar kalau semalaman ia tidur entah di kasur siapa. Kamar itu tidak terlalu luas, hanya terdapat lemari pakaian, meja kerja, pintu menuju kamar mandi dalam dan... kandang kucing.
“Ten?” tanya Jocelyn lagi lalu ia buru-buru keluar dari kamar untuk memastikan apakah tebakannya benar atau salah.
Benar, dilihatnya laki-laki dengan perawakan kurus yang menjadi ciri khas Ten; sedang termenung dengan segelas wine di tangannya. Lelaki itu duduk di sofa ruang tengah dengan lampu yang sengaja tidak ia nyalakan, “Ten?”
Suara bangun tidur Jocelyn membuyarkan lamunan Ten, “Jo? Kebangun? Tidur lagi aja. Ini masih jam 3 subuh.”
Jocelyn menghampiri Ten, “Kok gue bisa ada disini?” tanyanya bingung.
“Lo passed out di Sky Lounge, nggak inget?”
Jocelyn hanya menggeleng menjawab pertanyaan Ten.
“Lo kenapa minum lagi? Ada masalah lagi?” tanya Ten penasaran. Ia menaruh gelas wine yang sedari tadi ia mainkan di atas meja.
Jocelyn tidak langsung menjawab, ia hanya berjalan mendekati Ten. Sampai di hadapan lelaki itu, Jocelyn merendahkan posisi tubuhnya agar kepalanya sejajar dengan Ten yang sedang duduk di sofa, lalu ia mencium bibir lelaki itu singkat.
“Jo, tidur lagi gih, nanti pagi gue anter balik ke rumah.”
“Ten, lo masih suka sama gue?” Jocelyn tidak menggubris kalimat Ten.
“Tidur, Jo. Lo masih belum sadar sepenuhnya.”
“Jawab dulu pertanyaan gue.” tuntut Jocelyn.
“Kalo iya, lo mau apa?” tanpa ragu Ten langsung menjawab Jocelyn dengan cepat.
“I want you.” jawab Jocelyn lalu ia kembali mencium bibir Ten. Seperti mendengar jawaban yang selama ini ia ingin dengar, Ten membalas ciuman Jocelyn dengan lembut.
Dini hari itu, kedua insan itu akhirnya jujur dengan perasaan mereka masing-masing.