Restart
Begitu menerima pesan teks dari Ten, Jocelyn segera keluar dari kamarnya. Ia memastikan bahwa Kun sudah tidur dan tidak akan mendengar dirinya pergi.
“Lo kenapa?” tanya Ten khawatir begitu Jocelyn masuk ke dalam mobilnya. Terlihat mata Jocelyn sembab, bukti bahwa perempuan itu habis menangis dalam waktu cukup lama.
Jocelyn tidak menjawab, ia hanya menunduk sambil memainkan kuku-kuku tangannya.
“Jo, jawab. Kalo lo diem gini gue nggak tau apa-apa.” Ten terdengar semakin cemas.
“Alesan gue putus sama Devan... Gue nolak buat tidur sama dia.”
Ten mengeraskan kepalan tangannya dan meninju jok mobilnya kesal, “Terus?”
“Tadi... Dia nyium gue di mobil terus gitu...” kalimat Jocelyn terputus karena perempuan itu sekarang menangis lagi. Ia tidak sanggup jika harus mengingat kembali bagaimana perlakuan Devan beberapa jam lalu pada dirinya.
Ten tidak berkata apa-apa, ia mendekatkan dirinya dengan Jocelyn dan memberikan pelukan hangat untuk perempuan itu.
“Ten, emang salah ya kalo gue nggak mau?” tanya Jocelyn beberapa saat setelah tangisnya mereda dan dirinya mulai merasa lebih tenang.
Ten melepaskan pelukannya, “Nggak, lo nggak salah.” jawab Ten pelan.
“Ten, gue sayang sama Devan tapi kalo gini...”
“Putusin.” potong Ten, “He doesn't deserve you.”
“Tapi gue sayang...” timpal Jocelyn pelan.
“Jo, lo bisa cari yang lebih baik dari Devan. Sampe kapan lo mau terus begini?” nada bicara Ten menaik.
“Ten! Lo nggak tau perasaan gue-”
“Lo takut ngga ada cowok lain yang mau sama lo?” Ten kembali memotong kalimat Jocelyn.
Jocelyn bengong. Ten seperti bisa membaca isi hatinya yang paling dalam, “Hah? Kok-”
“Kalo gitu jadiin gue pacar lo lagi.”
“HAH?”