Lost
Jocelyn
Waktu menunjukkan pukul 6 pagi saat Jocelyn terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat pusing sekali seperti sehabis naik roller coaster 10 kali nonstop dan tubuhnya sedikit menggigil.
Awalnya kesadaran Jocelyn belum pulih seratus persen tetapi saat ia melihat Devan tertidur pulas di sisi kirinya, perempuan itu refleks berteriak, “Devan?!”
Dengan malas Devan yang tidak mengenakan atasan apapun menggeliat, sementara Jocelyn mengintip tubuhnya di balik selimut dan ia langsung terduduk, “Devan?! Kamu apain aku??!!” tanya Jocelyn panik.
Pandangan Jocelyn beredar ke sekeliling kamar, ia melihat dress yang ia kenakan semalam dan juga seluruh pakaian dalamnya berserakan di lantai.
“Apa sih, Jo? Masih pagi jangan teriak-teriak.” protes Devan dengan suara paraunya. Lelaki itu hendak kembali tidur namun Jocelyn meraih wajah Devan dan menampar pria itu keras.
“Jo! Apa-apaan sih?!” ujar Devan keras seraya duduk di sebelah Jocelyn. Sadar dengan nada bicaranya yang meninggi, ia buru-buru mengulang kembali kalimatnya, “Kamu kenapa?” tanya Devan memelankan suaranya sambil merangkul Jocelyn.
“Kamu jahat, Devan!! Kamu brengsek!! Kamu bajingan!!” bentak Jocelyn disela isak tangisnya sambil melepas paksa dirinya dari rangkulan Devan.
Bukannya merasa iba, Devan mendengus tertawa, “Aku jahat dibagian mananya sih, Jo?”
“Kamu tau aku nggak akan tidur sama siapapun sebelum aku resmi nikah, Dev!”
Devan menoleh, “Jo, you didn't know how much you enjoy our last night? Walaupun kamu setengah ngga sadar karena pengaruh obat, but I can see that you were really... really en-“
Plak. Tamparan keras lagi-lagi mendarat di wajah Devan.
“Manusia sampah. Kita putus, Devan.” ujar Jocelyn lalu ia segera melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya, mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan masuk ke dalam kamar mandi.
Selang 5 menit tidak ada suara terdengar dari luar kamar mandi, sampai akhirnya Devan kembali bersuara, “Bagus deh gue putus sama lo. Akhirnya gue bebas dari cewek kolot kayak lo.”
“Pesen dari gue, jadi cewek nggak usah sok suci.”
Begitu suara pintu kamar hotel terdengar menutup, Jocelyn segera menjatuhkan dirinya ke lantai kamar mandi yang dingin. Ia menangis sejadi-jadinya.
Ten
Sinar matahari yang masuk ke dalam kamar tidur Ten membuat lelaki itu tersadar dari tidurnya dan perlahan ia membuka matanya. Hal pertama yang ia sadari adalah Nadine yang terbaring pulas di sisi kanannya.
“Nad, wake up.” ucap Ten pelan.
Nadine bangun dari tidurnya. Ia menggeliat merenggangkan ototnya dengan malas, “Hey, good morning, love.” ucapnya sambil tersenyum.
Ten menaruh semua pakaian milik Nadine diatas selimut, “Pulang.” ucapnya singkat tanpa ekspresi apapun.
“Apa? Kamu ngusir aku, Ten?” tanya Nadine yang sekarang sudah duduk di atas kasur dengan bingung.
“Everything happened in last night nggak akan pernah terjadi lagi. So please, sekarang kamu pulang.”
“Ten?!” Nadine kehabisan kalimat untuk membalas ucapan Ten yang terdengar dingin pagi itu.
“Aku nggak bisa nikah sama kamu, Nadine.”
“Alasan kamu nggak make a sense, Ten!”
“Kamu mau nikah sama orang yang jatuh cinta sama orang lain?” tanya Ten lagi dengan tatapan dinginnya.
“Kamu nggak cinta dia, Ten! Kamu cintanya cuma sama aku! Terbukti dari apa yang kita lakuin semalem!”
“Nad, kamu mau denger jawaban jujur dari aku?” tanya Ten lagi. Lelaki itu berdiri membelakangi jendela kamarnya, menatap Nadine yang masih duduk di atas kasur. Dengan ragu perempuan itu mengangguk.
“I did you a favor. You were just my rebound. Sorry Nad, I don't have any feelings with what we did last night.”
Air mata mengalir di wajah Nadine, “Kamu tega bilang gitu ke aku, Ten?”
Ten mengangkat bahunya, “I've warned you. Aku bisa jadi seseorang yang paling jahat untuk kamu.”
Nadine tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengambil pakaian serta barang-barang miliknya dan bergegas pergi meninggalkan Ten pagi itu.
Setelah mendengar suara pintu apartemennya tertutup, Ten menghela nafas panjang. Bukan sebuah akhir hubungan yang baik bagi dirinya maupun Nadine, tapi dia tidak punya pilihan lain.
Kemudian Ten menyambar ponselnya dan menyadari bahwa ia telah mengingkari sebuah janji penting.