goldeneunoia

Deep Talk

“Hai, ma.” sapa Dejun saat mamanya membukakan pintu untuknya.

“Hai, sayang.” balas mama Dejun. Dejun segera memeluk mamanya dalam waktu yang cukup lama, “Maaf, ma.” ucapnya lirih.

Mama Dejun mengelus-elus punggung putranya lembut, “It’s okay, Jun.” lalu mama Dejun melepaskan pelukan putranya itu, “Kamu pasti capek kan? Laper nggak? Mama bikinin nasi goreng ya?”

Dejun tersenyum. Ia tahu mamanya berusaha untuk mengalihkan pikirannya sesaat dari papanya. Ia mengangguk, “Iya, aku kangen nasi goreng buatan mama.”

“Oke, yuk masuk. Mama masakkin sebentar. Kamu beberes dulu gih.” ucap mama Dejun sambil mengajak Dejun masuk ke dalam rumah mereka.

——

“Elena gimana, Jun?” tanya mama Dejun saat mereka berdua duduk di meja makan. Dejun sibuk menyantap nasi goreng buatan mamanya sementara mama Dejun sendiri hanya duduk di sebrang Dejun, memperhatikan putranya yang ia rindukan.

“Baik, ma. Ohiya, kita udah balikan. Hehe...” balas Dejun salah tingkah sendiri. Mama Dejun tersenyum lebar melihat Dejun yang terlihat bahagia saat membicarakan Elena.

“Besok telfon dia ya? Mama kepengen ngomong sama Elena.”

Dejun mengangguk, “Oke, ma.”

“Ohiya ma, by the way mama gimana bisa tahu masalah papa? Kenapa nggak cerita sama Dejun?” sambung Dejun.

“Sayang, yang namanya seorang istri itu pasti akan tahu apa yang diperbuat suaminya. Mama nggak pernah cari tahu papa kamu ngapain aja, tapi ya begitu, ada aja yang kasih tau mama.”

“Makanya kamu juga sebagai laki-laki, kamu nggak pernah boleh bohong sama pasangan kamu. Seburuk apapun, sepahit apapun kenyataannya, kamu harus jujur.”

Nasihat mama Dejun panjang lebar menyadarkan Dejun akan kejadiannya dahulu dengan Elena, saat ia tidak jujur akan perjodohannya dengan Almira.

“Iya, ma. Sekarang mama ke papa, gimana? Mama bakal tetep dukung papa?”

Mama Dejun mengangguk, “Mama nggak akan pernah ninggalin papa kamu.”

“Mama terlalu baik buat papa.”

“Hush, nggak boleh ngomong gitu. Kamu boleh marah sama papa, tapi jangan pernah benci dia. Papa memang karakternya keras, ambisinya besar, tapi mama tahu dia begitu karena dia mau lindungin kita berdua, nak.

Dejun termenung. Sekilas, ia teringat akan kenangan masa kecil dirinya dengan papanya. Papanya yang selalu mensupport dirinya. Hanya saja waktu berlalu, dirinya semakin dewasa dan keinginannya semakin bertolak belakang dengan kemauan papanya, membuat hubungan keduanya merenggang.

“Dejun kangen papa yang dulu, ma.”

“Papa nggak pernah berubah, Jun. Karena kamu semakin dewasa, kamu semakin bisa melihat papa kamu seperti apa.”

“Aku mau bantu papa, tapi papa kayaknya udah benci aku.”

“Nak, papa nggak pernah benci kamu. Mama yakin, sebenarnya dia seneng banget pas lihat kamu tadi, cuma ya gitu, papa orangnya keras.”

“Ohiya satu lagi. Kalian itu punya satu kesamaan.”

“Apa, ma?”

“Kalau punya masalah sama-sama seneng dipendem sendiri. Pusing mama.”

Dejun tersenyum lebar, “Maaf ya ma, kalau Dejun juga egois dan nggak mikirin perasaan mama.”

“Nggak perlu minta maaf, nak. Kamu malem ini tidur disini ya?”

Dejun mengangguk antusias menjawab permintaan mamanya.

Make Up

Selesai makan malam di apartemen Dejun, Elena kembali ke unitnya.

Saat ini ia duduk di single sofa di kamarnya, menikmati pemandangan malam Singapura dari jendela apartemennya seraya menyeruput kopi hangat yang ia seduh sebelumnya. Malam itu hujan cukup deras mengguyur Singapura, membuat suasana terasa lebih dingin dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Tubuhnya letih, tetapi tidak dengan pikirannya. Otak Elena masih berusaha mencerna percakapan ia dan Dejun sebelumnya. Hatinya masih terus berusaha untuk menyangkal, walaupun rasanya semakin sulit dan tidak mungkin.

Setelah hati dan pikirannya mencapai kesepakatan yang sama Elena meraih ponselnya. Ia mencoba menghubungi Dejun tapi hasilnya nihil. Karena sudah beberapa kali ditelfon dan masih tidak ada jawaban juga, Elena memutuskan untuk kembali ke unit yang dihuni Dejun.

Dejun masih asyik berkutat dengan peralatan mini studionya ketika ia mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia melirik jam dindingnya, bertanya dengan dirinya sendiri siapa yang datang semalam ini ke apartemennya.

“Elena?” ucap Dejun begitu ia melihat ternyata Elena yang datang malam itu.

Perempuan itu segera memeluk Dejun, “Jun, I'm sorry...”

“Hah? Len? Kamu kenapa?” tanya Dejun sambil mengelus-elus puncak kepala Elena.

“Jun, aku masih sayang sama kamu...” jawab Elena sambil terisak. Dejun kemudian melepaskan pelukan Elena agar ia bisa melihat wajah perempuan itu.

“Terus kenapa nangis?” tanya Dejun lembut sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Elena. Elena hanya menggeleng.

“Nggak tau. Aku merasa bersalah sama kamu tapi aku juga kangen banget sama kamu. Aku akuin, aku masih sayang banget sama kamu.”

Dejun tersenyum mendengar jawaban Elena lalu ia menarik perempuan itu masuk kedalam pelukannya, “Kamu nggak perlu merasa bersalah. It's okay kalau kemarin kamu marah sama aku, karena aku juga nggak bisa perjuangin kamu.”

“Tapi aku sekarang disini, mau buktiin sama kamu kalau aku emang sedang perjuangan kamu. Aku bener-bener serius sama kamu.” balas Dejun.

Air mata Elena kembali mengalir, tapi Elena tau itu adalah air mata haru, “Makasih, Dejun. I'm so lucky for having you in my life.”

“So do I, sayang.” balas Dejun dengan suara lembut khasnya.

“Tidur gih, besok ngantor kan?” tanya Dejun setelah ia melepas pelukannya. Elena mengangguk, “Aku balik ke apart ku ya.”

Gantian Dejun mengangguk, “Good night, sweetheart.” ucap Dejun lalu ia mengecup lembut kening Elena dan membiarkan perempuan itu kembali ke unitnya.

Sincerity

“Ryu, ini banyak banget lho...” komen Elena saat melihat isi dari dua kantong makanan yang dibawa Yangyang malam itu.

“Aku nggak tau kakak mau makan apa, jadi aku beli aja semuanya.” balas Yangyang setelah ia meneguk air putih botolan yang ia beli sebelumnya.

-

Setelah memutuskan untuk menyantap bakmi Hokkien udang dari antara semua makanan yang dibeli Yangyang, Elena dan Yangyang memilih untuk menyantap makan malam mereka di ruang TV sembari menonton tayangan Netflix.

“Enak nggak? Ini aku baru pertama kali coba beli bakmi deket kantor. Biasanya beli deket kostan.”

Elena mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Yangyang, “Enak kok, Ryu. Nih, cobain aja.”

“Nggak usah, kakak aja. Kalo enak besok bisa beli lagi.” balas Yangyang sambil terkekeh pelan. Sesaat kemudian keduanya terdiam, Elena masih menyantap makan malamnya sementara Yangyang asyik menonton tayangan Netflix sambil makan snack yang ia beli; fish skin salted egg.

“Masih sakit nggak perutnya?” Yangyang kembali membuka topik pembicaraan.

“Masih, tapi nggak separah tadi pagi. Tadi pagi rasanya kayak udah mau mati aja.”

“Hush! Kakak kalo ngomong suka ngaco deh.” protes Yangyang mendengar jawaban ngasal Elena, “Trus seharian ngapain aja? Tadi siang makan apa?”

Elena terdiam sesaat sebelum ia menjawab, “Hmm... Nggak ngapa-ngapain. Cuma balesin beberapa email dari kantor aja. Tadi makan siang dibeliin Dejun.”

“Dia itu mantan kakak, ya?” tanya Yangyang cepat. Nada bicara yang biasanya terdengar seperti bercanda berubah menjadi serius saat menanyakan status Dejun.

“Hah? Oh, iya.” jawab Elena seadanya.

“Ryu.” panggil Elena lagi setelah ia menyelesaikan makannya. Yang dipanggil cuma menoleh ke arah Elena.

“Perkataan kamu waktu itu... kamu serius?” tanya Elena hati-hati.

Yangyang terlihat bingung, “Yang mana ya?”

“Waktu kamu bilang kita pacaran...”

Yangyang membulatkan mulutnya, “Oooh, itu. Kenapa? Kakak udah ada jawabannya?”

Elena menggigit bibir bawahnya lalu ia mengangguk, “I-iya...”

Yangyang menaruh bungkus snack nya di atas meja lalu ia bergeser mendekati Elena yang duduk bersila tidak jauh darinya. Setelah itu, ia menatap Elena lekat-lekat.

Elena memberanikan diri membalas tatapan Yangyang yang duduk dengan jarak kurang dari 1 meter dari dirinya.

“Apa jawaban kakak?”

Elena terdiam. Karena tidak ada jawaban dari perempuan itu, perlahan Yangyang mendekatkan kepalanya dengan Elena hingga jarak antara kedua bibir mereka tersisa 5cm, membuat Elena refleks memejamkan matanya.

... ... ...

Elena perlahan membuka matanya dengan perasaan bingung, dilihatnya Yangyang yang kembali mundur ke posisinya semula dan kembali menyantap snack fish skin nya.

“Ryu?” tanya Elena bingung.

“Kak, aku suka sama kakak. Dari awal kenal kakak di kampus. Tapi aku tahu kok, kakak nggak pernah suka sama aku. Sampai saat inipun di hati kakak cuma ada satu orang aja.”

Jawaban Yangyang membuat Elena mengerutkan dahinya, sementara Yangyang hanya tersenyum melihat reaksi Elena.

“Kakak masih sayang sama Kak Dejun, kan?”

“Ryu, kamu kok-”

“Stop bohongin perasaan kakak sendiri.” potong Yangyang seraya bangkit dari tempat duduknya. Ia membuang bungkus snacknya yang sudah habis di dapur, lalu kembali ke ruang TV sambil meneguk kembali air putih botolannya.

“Gih, mumpung orangnya masih nungguin kakak disini. Jangan sampe kakak nyesel.” sambung Yangyang yang kini bersiap untuk pulang dari apartemen Elena.

“Kamu sendiri, gimana?” tanya Elena yang ikut berdiri dan menyusuli Yangyang yang sudah berjalan ke arah pintu keluar.

“Aku? Ya aku nggak papa. Aku nggak mau egois, kak. Lagipula aku nggak mau pacaran sama orang yang hatinya nggak buat aku.”

Jawaban to the point Yangyang membuat Elena tertegun.

“Udah ya kak, aku balik dulu. See you besok di kantor.” pamit Yangyang kemudian ia membuka pintu apartemen Elena dan pergi dari situ, meninggalkan Elena yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Late?

Sekitar pukul 2 siang Dejun tiba di Changi Airport. Setelah berurusan dengan bagian imigrasi yang untungnya tidak memakan waktu lama, ia segera bergegas pergi menuju apartemen Elena dengan taksi.

Tiba di apartment Elena, bukannya bertemu dengan perempuan itu tapi Dejun mendapat penolakan dari staff resepsionis.

“I'm sorry, sir. Miss Elena isn't on her place for now and we can't reach her now so we can't give you access to her apartment. If you want, you can wait her on lobby.”

Dejun mengacak-acak rambutnya frustasi mendengar penjelasan dari staff resepsionis. Singapura terlalu luas bagi Dejun yang memiliki waktu sedikit untuk memperjuangkan hubungannya dengan Elena.

“Fi, Elena ngga ada di apartnya.” ucap Dejun begitu ia terhubung dengan Alfi.

“Coba kantor, mas. Mungkin aja lagi aja project.”

“Ohiya, bener juga. Thanks, Fi. Saya coba kesana.”

Setelah mendapat pencerahan dari Alfi, tanpa berlama lagi ia kembali pergi dengan taksi menuju Creativans.

***

“Kak Elena, kok nggak bales chat aku sih?” protes Yangyang begitu ia melihat Elena yang terlihat sibuk menggambar di iPad. Karena Elena tidak menjawab, Yangyang berjalan mendekati meja Elena.

Dari kejauhan Elena terlihat seperti baik-baik saja, tapi tidak saat Yangyang mendekat. Elena berhenti menggambar dan walaupun dalam keadaan menunduk, Yangyang dapat melihat air mata Elena jatuh membasahi iPadnya.

“Kak? Are you okay?” tanya Yangyang bingung. Elena menjawab pertanyaan Yangyang dengan tangisnya yang semakin terdengar jelas.

“I can't forget him, Ryu. Aku terlalu sayang sama dia.” ucap Elena sesenggukan, berusaha untuk menghentikan tangisnya namun ia tidak bisa. Yangyang memutar sedikit kursi kantor beroda yang diduduki Elena, lalu ia berlutut satu kaki di depan perempuan itu agar bisa melihat wajah Elena lebih jelas.

“Ryu, aku harus lupain dia, tapi gimana caranya?” sambung Elena. Yangyang tidak menjawab apa-apa. Ia hanya merapihkan rambut Elena yang menutupi wajahnya.

“Kak, hari ini aku izinin kakak nangis sepuasnya. Besok kita pikirin caranya ngelupain mantan kakak. Sini, nangis disini.” balas Yangyang sambil menepuk pundak kanannya.

Tidak menjawab apa-apa lagi, Elena langsung membenamkan dirinya dalam pelukan Yangyang.

Mama

Dejun telah selesai bersiap untuk pernikahannya pagi itu. Beberapa staff yang membantunya sudah pergi meninggalkan ruang tunggu Dejun, menyisakan dirinya sendiri.

Tidak ada yang bisa Dejun lakukan selain menunggu. Menunggu mimpi buruknya jadi kenyataan. Sepanjang pagi itu ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Yang ia bisa lakukan saat ini hanya kembali melihat kenangan yang ia buat bersama Elena, melalui foto-foto yang masih tersimpan rapi di galeri ponselnya.

“Dejun?” terdengar suara Mama Dejun dari arah pintu. Dejun yang masih sibuk dengan ponselnya hanya menoleh sesaat, kemudian ia kembali sibuk sendiri.

Mama Dejun melihat sekilas layar ponsel Dejun, kemudian ia menyodorkan sebuah amplop kepada Dejun, “Sebelum mama menyesal seumur hidup.” ucap Mama Dejun pelan.

Dejun menerima amplop itu dan mengecek isinya, terdapat sebuah tiket pesawat tujuan Singapura dan juga paspor miliknya.

“Ma?” tanya Dejun bingung, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.

“Alfi nunggu kamu di luar. Kamu cuma punya waktu satu setengah jam.”

Mendengar jawaban mamanya, Dejun segera bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk mamanya, “Makasih ya, Ma.” ucap Dejun lirih.

Mama Dejun menepuk-nepuk pelan punggung Dejun, “Maafin mama kemarin ya, nak. Udah gih, waktunya jalan terus.”

“Papa gimana?” tanya Dejun sambil melepas pelukannya.

“Tanggung jawab Mama. Kamu pikirin Elena aja.”

Dejun mengangguk sambil tersenyum lebar. Masih mengenakan jas pengantinnya, ia keluar kamar dan mendapati Alfi yang sudah menunggunya di depan pintu, “Lewat sini, mas.” ucap Alfi lalu ia memimpin jalan sementara Dejun mengikuti di belakangnya.

Idola

Jumat pagi hari kali ini terasa berbeda bagi Elena. Setelah perjalanannya ke Singapura semalam masih terasa seperti mimpi baginya, kini ia harus menjalani kehidupan barunya di negeri itu.

Dengan malas Elena mengecek jam di ponselnya yang dibiarkan dalam mode airplane lalu setelah itu ia bergegas untuk mandi dan mencari sarapan.

Satu hal yang Elena senangi dari Singapura adalah kota yang ramah untuk pedestrian seperti dirinya. Setelah berjalan cukup lama dari stasiun MRT, akhirnya Elena tiba di kedai kaya toast favoritnya.

Selesai memesan secangkir kopi hangat dan satu porsi kaya toast, Elena memandangi orang-orang yang tidak terlalu ramai berlalu lalang di situ. Kedai yang terpencil di kawasan China Street menjadi pilihan Elena untuk sejenak melepaskan diri dari penat yang ia alami selama di Jakarta.

“Kak El?” tegur seseorang dari sisi kiri Elena. Elena menoleh dan ia terlihat bingung, “Siapa ya?” tanyanya ragu.

“It's me! Ryu Yangyang!” jawab lelaki bertubuh mungil itu semangat. Elena masih berusaha untuk mengingat lelaki itu, “Kak, aku adek kelas kakak di kampus!”

“Hah? Kita sejurusan?” tanya Elena yang masih kebingungan. Lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Yangyang itu mengangguk-angguk penuh antusias.

“Serius kak, lupa sama aku? Padahal aku inget banget sama kakak, soalnya kakak cantik.”

Mendengar celetukan Yangyang, Elena tertawa kecil. Akhirnya perempuan itu kembali tertawa walaupun segudang rasa sakit hati masih ia simpan.

“Kak, aku boleh duduk disini? Kebetulan mau sarapan juga.”

Elena mengangguk, mengizinkan Yangyang untuk bergabung di mejanya. Setelah itu, seperti reunian tidak terduga baik Elena dan Yangyang terlarut dalam percakapan yang tiada hentinya.

“Aku baru inget, dulu suka manggil kamu Ryu. Abisnya kalo manggil Yang aneh.”

Yangyang tertawa, “Nah, tuh inget! Kakak liburan disini? Atau kerja?”

“Kerja besok senin. Mumpung ada waktu kosong hari ini mau keliling dulu, udah lama nggak ke Singapur.”

“Aku temenin, gimana?” tawar Yangyang.

“Emangnya nggak kerja?”

“Ah, gampang. Bisa dikerjain besok.”

“Eh seriusan deh Ryu, kamu kerja dimana? Aku kayaknya tadi belum nanya.”

“Di Creativans, kak. Kakak?”

Elena melebarkan matanya, “Aku juga disana!!” jawab Elena semangat.

Yangyang menutup mulutnya yang terbuka karena tidak percaya mendengar jawaban Elena, “Kak, serius? Ih hari senin ngantor bareng dong!”

“Iya, serius. Omg, kirain aku bakalan jadi lonely and sad girl lagi disini, untung ada kamu, Ryu.”

Yangyang mengerutkan dahinya, “Hah? Lonely and sad girl kenapa kak?” tanya Yangyang penasaran.

Elena menyeruput kopi panasnya sebelum menjawab, “Aku sebenernya kerja disini karena putus dari pacarku, Ryu. Papanya yang kirim aku kesini buat kerja. Ya, itu versi halusnya. Kasarnya sih, aku diusir supaya pernikahan anaknya alias mantan aku itu berjalan lancar tanpa aku.”

“Ih jahat banget!!” protes Yangyang, “Tapi, kok kakak mau sih kesini? I mean, kok mau aja gitu nurutin papanya mantan kakak itu?”

Elena mengangkat bahunya, “No choice, Ryu. Creativans is a good deal for my career, dan kalau aku pergi dari Jakarta at least aku bisa move on.”

“Padahal awalnya aku ke Jakarta buat cari pacar, sekarang malah kabur lagi ke negara lain karena patah hati. Sedih banget, ya?” sambung Elena seraya tersenyum pahit.

“It's okay, kak. Berarti hari ini tugas aku buat bikin kakak nggak sedih lagi.”

Lagi-lagi Elena hanya tersenyum mendengar celotehan Yangyang, “Ryu, kamu dari dulu selalu jadi happy virus. Nggak berubah.”

Mendengar pujian dari Elena, Yangyang hanya tersenyum lalu ia kembali menyantap kaya toast pesanannya.

... 'Kak, lo juga nggak berubah. Masih jadi idola gue sedari dulu.'

Truth Hurts

Begitu tiba di airport, Dejun segera menuju terminal 3 sesuai info yang ia terima dari Alfi. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya ia menemukan Elena yang sedang berjalan menuju antrian imigrasi.

“Elena!!” panggil Dejun sambil menarik lengan Elena agar perempuan itu keluar dari barisan antrian.

“Apa-apaan sih?! Lepasin, Jun.” protes Elena seraya berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Dejun.

“Aku yang harusnya tanya. Kamu ngapain disini?” tanya Dejun dengan suara agak keras, membuat calon penumpang yang ada di sekitar mereka refleks menoleh.

Elena tidak menjawab, ia hanya menunduk agar matanya tidak bertemu dengan mata Dejun yang terus menatapnya.

“Pulang yuk, Len...” bujuk Dejun dengan suara pelan. Bukannya menjawab, Elena justru meneteskan air matanya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.

“Len?” Dejun hendak memeluk Elena tapi perempuan itu mendorong Dejun menjauh, “Jun, kita udahan aja. Jangan pernah cari aku lagi. Semoga kamu bisa bahagia sama perempuan itu.” ucap Elena pelan sambil menghapus air mata dari wajahnya dengan cepat.

“Elena, ayo kita nikah.”

Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Dejun, “Kamu sama aja sama papa kamu, Jun.”

“Please, udah. Aku capek sama kamu dan keluarga kamu. Let's break up. Kita ternyata emang nggak akan pernah bisa sama-sama, Jun. Terima kasih udah pernah jadi bagian dari hidup aku.” Elena menutup kalimatnya lalu ia bergegas pergi menuju bagian imigrasi yang sudah lengang.

Dejun masih berusaha mengejar Elena tetapi pihak keamanan bandara menahan Dejun.

“Elena!!”

Adjure

Sesuai dengan percakapan semalam, tepat jam 11 siang mobil perusahaan ayah Dejun tiba di rumah Elena.

“Siang mbak Elena, perkenalkan saya Alfi.” ucap Alfi ramah saat Elena keluar dari rumahnya.

“Siang mas...” balas Elena sambil tersenyum kemudian Alfi mempersilahkan Elena untuk duduk di bangku belakang sementara Alfi menyetir sendiri.

Sepanjang perjalanan hampir tidak ada percakapan yang terjadi. Alfi fokus menyetir sementara Elena asyik memandangi jalanan Jakarta.

“Sudah sampai, mbak.” ucap Alfi saat mobil mereka terparkir di lobby. Seorang petugas di lobby dengan sigap membuka pintu mobil Elena sementara Alfi turun dari mobil dan memberikan kunci mobilnya kepada petugas lobby lainnya.

“Mari mbak, ikut saya. Bapak dan Ibu sudah menunggu diatas.”

Elena mengiyakan kalimat Alfi. Ia berjalan tepat di belakang Alfi menuju ruangan milik ayah Dejun.

Begitu sampai, Alfi membukakan pintu dan mempersilahkan Elena untuk masuk. Di dalam ruangan itu sudah ada papa dan mama Dejun yang sedang menunggu kedatangan Elena.

“Selamat siang, om tante...” sapa Elena ramah, memecah keheningan di ruangan itu.

Mama Dejun yang sedang sibuk dengan ponselnya dan Papa Dejun yang masih berkutat dengan setumpuk kertas di mejanya dengan kompak menoleh ke arah Elena.

“Oh, Elena ya? Silahkan duduk.” sambut Papa Dejun seraya ia bangkit dari kursi kantornya dan berjalan menuju sofa untuk bergabung dengan Mama Dejun dan Elena.

“Elena sudah tau kan ya, om dan tante siapa?” tanya Papa Dejun begitu ia duduk di sofa. Elena mengangguk pelan.

“Sudah berapa lama Elena kenal dan pacaran sama Dejun?” Papa Dejun kembali bertanya.

“Kenalnya sejak kuliah, Om. Tapi pacarannya baru mau jalan sebulan.” Elena menjawab pertanyaan Papa Dejun dengan sopan. Baik Mama ataupun Papa Dejun hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Elena.

“Sekarang kamu kerja apa dan dimana, nak?” gantian kali ini Mama Dejun yang bertanya.

“Saya sekarang ini jadi freelance designer, Tante.”

“Papa Mama kamu kerja apa?” tanya Papa Dejun lagi.

“Ngg... Papa saya kerja di kedubes Om, saat ini sedang bertugas di Singapura. Mama saya ikut Papa saya.”

Papa Dejun mengangguk-angguk lagi. Untuk sesaat ketiganya sama-sama terdiam.

“Oke, Om nggak akan lama-lama lagi karena masih banyak pekerjaan disini. Elena tau kan, kalau Dejun akan menikah? Pernikahannya akan digelar 2 minggu lagi.”

Tenggorokan Elena seperti tercekat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Papa Dejun.

“Karena Dejun keras kepala, jadi Om minta sama kamu langsung untuk bisa lebih mengerti dan memahami kondisi Dejun. Sampai disini paham kan ya, maksud Om?”

Elena hanya mengangguk pelan. Berat untuk ia lakukan, tapi tidak ada pilihan lain selain mengiyakan perkataan Papa Dejun siang itu.

“Maaf ya, nak. Tante tau ini sulit, tapi kalau memang Elena sayang sama Dejun, Elena bisa memahami hal ini. Jadi, tolong Tante dan Om ya, nak?”

“Iya, Tante.” lagi-lagi Elena hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mama Dejun. Mama Dejun tersenyum tipis sambil mengelus-elus punggung Elena.

“Alfi, tolong antar Elena kembali ke rumah.” ucap Papa Dejun via telepon kantornya.

Elena buru-buru bangkit berdiri dari duduknya, “Nggak usah, Om. Saya pulang sendiri aja. Terima kasih banyak, Om dan Tante. Elena pamit dulu.” Elena berpamitan kepada kedua orangtua Dejun dan ia segera pergi dari situ.

Di pintu Elena berpapasan dengan Alfi. Sekilas Alfi dapat melihat genangan air mata di pelupuk Elena, yang perempuan itu coba sembunyikan dengan rambut panjangnya.

Papa

Dejun tiba di gedung kantor perusahaan ayahnya yang terletak di kawasan Sudirman. Saat ia berjalan untuk menemui ayahnya di ruang kantornya, hampir seluruh orang yang berpapasan dengannya menatap Dejun. Tidak ada satupun di gedung kantor itu yang tidak mengenal Dejun.

“Selamat siang... mas Dejun?!” Alfi, sekretaris pribadi ayah Dejun terlihat tidak percaya melihat Dejun berdiri di depan mejanya.

“Papa saya ada? Saya mau ketemu.”

Alfi mengangguk cepat. Ia menekan tombol telepon dan langsung tersambung dengan papa Dejun, “Pak, ada mas Dejun mau ketemu bapak.”

“Mas, masuk aja.” ucap Alfi begitu ia mendapat persetujuan dari bosnya. Dejun mengangguk lalu ia membuka pintu ruang kerja ayahnya.

Bukan sebuah sapaan yang diterima Dejun melainkan tamparan keras dari sang ayah, “Anak kurang ajar!” ujar ayah Dejun emosi.

Dejun menghela nafas, berusaha untuk tidak terbawa oleh emosi ayahnya.

“Kamu memang benar-benar mau menghancurkan papa ya, Dejun. Kamu pikir perjodohan kamu itu cuma antara kamu dan Almira aja? Bukan! Perjodohan kamu itu punya impact besar untuk perusahaan keluarga kita!”

“Kalau kamu menikah dengan Almira, papa bisa jamin sampai kamu punya anak cucu, hidup kamu akan sejahtera. Kamu nggak akan kekurangan uang karena dua perusahaan besar bersatu!” papa Dejun mengeluarkan segala uneg-unegnya kepada Dejun

“Tapi Dejun nggak sayang sama Almira, Pa!” balas Dejun tidak mau kalah.

“Kamu ngerti apa masalah cinta-cintaan? Buat apa menikah dengan cinta kalau hidup kamu sengsara?!”

Dejun mendengus, “Papa memang nggak pernah anggap aku sebagai anak. Papa cuma anggap aku sebagai mesin pencari uang untuk papa sendiri.”

“Maaf Pa, tapi Dejun nggak mau hidup kayak Papa. Dejun hidup bukan untuk uang. Kalau Papa masih ngotot sama pernikahan ini, mulai detik ini juga silahkan anggap Dejun sebagai orang asing, bukan anak Papa lagi. Karena Dejun nggak akan pernah menikah sama Almira sampai Dejun mati.”

Dejun menutup kalimatnya dan ia pergi keluar meninggalkan sang ayah sendiri di ruang kerjanya.

Decision

Waktu menunjukkan pukul 6 pagi saat Dejun menyelesaikan pekerjaannya di studio. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya lalu ia bangun dari kursinya untuk mengambil air putih.

Selesai minum, Dejun menghampiri Elena yang tertidur pulas di sofa, dengan selimut flanel milik Dejun yang biasa lelaki itu pakai jika harus tidur di studio. Dejun mendekati sofa lalu berjongkok tepat di depan wajah Elena. Ia memandangi wajah mungil perempuan itu untuk waktu yang cukup lama lalu berakhir dengan mengelus pipi Elena.

Elena perlahan membuka matanya, “Dejun...” panggilnya dengan suara nyarist tidak terdengar karena tenggorokan yang tersekat pasca bangun tidur.

“Hai, Len.” balas Dejun pelan lalu ia mengusap-usap kembali pipi Elena dan mencium kening perempuan itu, “Tidur lagi aja, nggak papa.” sambung Dejun.

Elena menggeleng. Ia bangun dari tidurnya lalu meminta Dejun untuk duduk di samping kanannya,” Sini.”

“Kenapa? Maaf nggak bermaksud bangunin kamu.”

Elena menarik pelan lengan Dejun, memaksa lelaki itu untuk merebahkan kepala di atas pangkuannya.

“Sekarang gantian kamu yang tidur. Aku nggak mau kamu sakit.” ucap Elena sambil mengelus-elus puncak kepala Dejun.

Dejun tersenyum, ia mengangguk lalu mencari posisi rebah yang lebih enak dan memejamkan matanya.

“Len, what makes you to make up your mind?” tanya Dejun saat ia mencoba untuk tidur di pangkuan Elena.

“Actually, Pat.” jawab Elena singkat, tangannya sesekali mengelus dan memainkan rambut Dejun.

“Pat?”

“Iya. Dia ceramahin aku.”

“Ah... Jadi bukan karena kamu sendiri?” terdengar nada kecewa dari pertanyaan yang dilontarkan Dejun.

“Are you upset?”

Dejun mengangguk, membuat Elena refleks tersenyum, “Pat itu cuma kasih pencerahan ke aku. But all decision is on me. I decided to fight for you cause I do really love you, Dejun.”

“Semakin aku deny kalau aku bisa baik-baik aja tanpa kamu, semakin aku sadar kalau aku udah bener-bener sayang sama kamu. Sebelum aku terlambat dan menyesal.”

Dejun tersenyum jahil mendengar pengakuan Elena. Elena yang menyadari akan hal itu mendorong pelan Dejun dari pangkuannya, membuat lelaki itu hampir terguling jatuh kalau saja ia tidak buru-buru pegangan.

“Ih, aku serius malah senyam-senyum begitu. Kesel ah.” ambek Elena lalu ia melipat kedua tangannya di dada.

Dejun bangkit berdiri sambil tertawa pelan, “Makasih ya, sayang. I do really love you too.”

“Terserah.” balas Elena lalu ia membuang pandangannya ke arah lain.

“Len.” panggil Dejun pelan. Elena menoleh,mendapati wajah Dejun yang tepat berada di depannya dengan jarak sangat dekat. Untuk sesaat keduanya saling terdiam sebelum akhirnya Dejun meraih dagu Elena dan mencium bibir perempuan itu lembut.

“Jangan bete lagi. Cari sarapan yuk?”