Idola

Jumat pagi hari kali ini terasa berbeda bagi Elena. Setelah perjalanannya ke Singapura semalam masih terasa seperti mimpi baginya, kini ia harus menjalani kehidupan barunya di negeri itu.

Dengan malas Elena mengecek jam di ponselnya yang dibiarkan dalam mode airplane lalu setelah itu ia bergegas untuk mandi dan mencari sarapan.

Satu hal yang Elena senangi dari Singapura adalah kota yang ramah untuk pedestrian seperti dirinya. Setelah berjalan cukup lama dari stasiun MRT, akhirnya Elena tiba di kedai kaya toast favoritnya.

Selesai memesan secangkir kopi hangat dan satu porsi kaya toast, Elena memandangi orang-orang yang tidak terlalu ramai berlalu lalang di situ. Kedai yang terpencil di kawasan China Street menjadi pilihan Elena untuk sejenak melepaskan diri dari penat yang ia alami selama di Jakarta.

“Kak El?” tegur seseorang dari sisi kiri Elena. Elena menoleh dan ia terlihat bingung, “Siapa ya?” tanyanya ragu.

“It's me! Ryu Yangyang!” jawab lelaki bertubuh mungil itu semangat. Elena masih berusaha untuk mengingat lelaki itu, “Kak, aku adek kelas kakak di kampus!”

“Hah? Kita sejurusan?” tanya Elena yang masih kebingungan. Lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Yangyang itu mengangguk-angguk penuh antusias.

“Serius kak, lupa sama aku? Padahal aku inget banget sama kakak, soalnya kakak cantik.”

Mendengar celetukan Yangyang, Elena tertawa kecil. Akhirnya perempuan itu kembali tertawa walaupun segudang rasa sakit hati masih ia simpan.

“Kak, aku boleh duduk disini? Kebetulan mau sarapan juga.”

Elena mengangguk, mengizinkan Yangyang untuk bergabung di mejanya. Setelah itu, seperti reunian tidak terduga baik Elena dan Yangyang terlarut dalam percakapan yang tiada hentinya.

“Aku baru inget, dulu suka manggil kamu Ryu. Abisnya kalo manggil Yang aneh.”

Yangyang tertawa, “Nah, tuh inget! Kakak liburan disini? Atau kerja?”

“Kerja besok senin. Mumpung ada waktu kosong hari ini mau keliling dulu, udah lama nggak ke Singapur.”

“Aku temenin, gimana?” tawar Yangyang.

“Emangnya nggak kerja?”

“Ah, gampang. Bisa dikerjain besok.”

“Eh seriusan deh Ryu, kamu kerja dimana? Aku kayaknya tadi belum nanya.”

“Di Creativans, kak. Kakak?”

Elena melebarkan matanya, “Aku juga disana!!” jawab Elena semangat.

Yangyang menutup mulutnya yang terbuka karena tidak percaya mendengar jawaban Elena, “Kak, serius? Ih hari senin ngantor bareng dong!”

“Iya, serius. Omg, kirain aku bakalan jadi lonely and sad girl lagi disini, untung ada kamu, Ryu.”

Yangyang mengerutkan dahinya, “Hah? Lonely and sad girl kenapa kak?” tanya Yangyang penasaran.

Elena menyeruput kopi panasnya sebelum menjawab, “Aku sebenernya kerja disini karena putus dari pacarku, Ryu. Papanya yang kirim aku kesini buat kerja. Ya, itu versi halusnya. Kasarnya sih, aku diusir supaya pernikahan anaknya alias mantan aku itu berjalan lancar tanpa aku.”

“Ih jahat banget!!” protes Yangyang, “Tapi, kok kakak mau sih kesini? I mean, kok mau aja gitu nurutin papanya mantan kakak itu?”

Elena mengangkat bahunya, “No choice, Ryu. Creativans is a good deal for my career, dan kalau aku pergi dari Jakarta at least aku bisa move on.”

“Padahal awalnya aku ke Jakarta buat cari pacar, sekarang malah kabur lagi ke negara lain karena patah hati. Sedih banget, ya?” sambung Elena seraya tersenyum pahit.

“It's okay, kak. Berarti hari ini tugas aku buat bikin kakak nggak sedih lagi.”

Lagi-lagi Elena hanya tersenyum mendengar celotehan Yangyang, “Ryu, kamu dari dulu selalu jadi happy virus. Nggak berubah.”

Mendengar pujian dari Elena, Yangyang hanya tersenyum lalu ia kembali menyantap kaya toast pesanannya.

... 'Kak, lo juga nggak berubah. Masih jadi idola gue sedari dulu.'