Truth Hurts
Begitu tiba di airport, Dejun segera menuju terminal 3 sesuai info yang ia terima dari Alfi. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya ia menemukan Elena yang sedang berjalan menuju antrian imigrasi.
“Elena!!” panggil Dejun sambil menarik lengan Elena agar perempuan itu keluar dari barisan antrian.
“Apa-apaan sih?! Lepasin, Jun.” protes Elena seraya berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Dejun.
“Aku yang harusnya tanya. Kamu ngapain disini?” tanya Dejun dengan suara agak keras, membuat calon penumpang yang ada di sekitar mereka refleks menoleh.
Elena tidak menjawab, ia hanya menunduk agar matanya tidak bertemu dengan mata Dejun yang terus menatapnya.
“Pulang yuk, Len...” bujuk Dejun dengan suara pelan. Bukannya menjawab, Elena justru meneteskan air matanya yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.
“Len?” Dejun hendak memeluk Elena tapi perempuan itu mendorong Dejun menjauh, “Jun, kita udahan aja. Jangan pernah cari aku lagi. Semoga kamu bisa bahagia sama perempuan itu.” ucap Elena pelan sambil menghapus air mata dari wajahnya dengan cepat.
“Elena, ayo kita nikah.”
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Dejun, “Kamu sama aja sama papa kamu, Jun.”
“Please, udah. Aku capek sama kamu dan keluarga kamu. Let's break up. Kita ternyata emang nggak akan pernah bisa sama-sama, Jun. Terima kasih udah pernah jadi bagian dari hidup aku.” Elena menutup kalimatnya lalu ia bergegas pergi menuju bagian imigrasi yang sudah lengang.
Dejun masih berusaha mengejar Elena tetapi pihak keamanan bandara menahan Dejun.
“Elena!!”