Adjure

Sesuai dengan percakapan semalam, tepat jam 11 siang mobil perusahaan ayah Dejun tiba di rumah Elena.

“Siang mbak Elena, perkenalkan saya Alfi.” ucap Alfi ramah saat Elena keluar dari rumahnya.

“Siang mas...” balas Elena sambil tersenyum kemudian Alfi mempersilahkan Elena untuk duduk di bangku belakang sementara Alfi menyetir sendiri.

Sepanjang perjalanan hampir tidak ada percakapan yang terjadi. Alfi fokus menyetir sementara Elena asyik memandangi jalanan Jakarta.

“Sudah sampai, mbak.” ucap Alfi saat mobil mereka terparkir di lobby. Seorang petugas di lobby dengan sigap membuka pintu mobil Elena sementara Alfi turun dari mobil dan memberikan kunci mobilnya kepada petugas lobby lainnya.

“Mari mbak, ikut saya. Bapak dan Ibu sudah menunggu diatas.”

Elena mengiyakan kalimat Alfi. Ia berjalan tepat di belakang Alfi menuju ruangan milik ayah Dejun.

Begitu sampai, Alfi membukakan pintu dan mempersilahkan Elena untuk masuk. Di dalam ruangan itu sudah ada papa dan mama Dejun yang sedang menunggu kedatangan Elena.

“Selamat siang, om tante...” sapa Elena ramah, memecah keheningan di ruangan itu.

Mama Dejun yang sedang sibuk dengan ponselnya dan Papa Dejun yang masih berkutat dengan setumpuk kertas di mejanya dengan kompak menoleh ke arah Elena.

“Oh, Elena ya? Silahkan duduk.” sambut Papa Dejun seraya ia bangkit dari kursi kantornya dan berjalan menuju sofa untuk bergabung dengan Mama Dejun dan Elena.

“Elena sudah tau kan ya, om dan tante siapa?” tanya Papa Dejun begitu ia duduk di sofa. Elena mengangguk pelan.

“Sudah berapa lama Elena kenal dan pacaran sama Dejun?” Papa Dejun kembali bertanya.

“Kenalnya sejak kuliah, Om. Tapi pacarannya baru mau jalan sebulan.” Elena menjawab pertanyaan Papa Dejun dengan sopan. Baik Mama ataupun Papa Dejun hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Elena.

“Sekarang kamu kerja apa dan dimana, nak?” gantian kali ini Mama Dejun yang bertanya.

“Saya sekarang ini jadi freelance designer, Tante.”

“Papa Mama kamu kerja apa?” tanya Papa Dejun lagi.

“Ngg... Papa saya kerja di kedubes Om, saat ini sedang bertugas di Singapura. Mama saya ikut Papa saya.”

Papa Dejun mengangguk-angguk lagi. Untuk sesaat ketiganya sama-sama terdiam.

“Oke, Om nggak akan lama-lama lagi karena masih banyak pekerjaan disini. Elena tau kan, kalau Dejun akan menikah? Pernikahannya akan digelar 2 minggu lagi.”

Tenggorokan Elena seperti tercekat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Papa Dejun.

“Karena Dejun keras kepala, jadi Om minta sama kamu langsung untuk bisa lebih mengerti dan memahami kondisi Dejun. Sampai disini paham kan ya, maksud Om?”

Elena hanya mengangguk pelan. Berat untuk ia lakukan, tapi tidak ada pilihan lain selain mengiyakan perkataan Papa Dejun siang itu.

“Maaf ya, nak. Tante tau ini sulit, tapi kalau memang Elena sayang sama Dejun, Elena bisa memahami hal ini. Jadi, tolong Tante dan Om ya, nak?”

“Iya, Tante.” lagi-lagi Elena hanya mengangguk menjawab pertanyaan Mama Dejun. Mama Dejun tersenyum tipis sambil mengelus-elus punggung Elena.

“Alfi, tolong antar Elena kembali ke rumah.” ucap Papa Dejun via telepon kantornya.

Elena buru-buru bangkit berdiri dari duduknya, “Nggak usah, Om. Saya pulang sendiri aja. Terima kasih banyak, Om dan Tante. Elena pamit dulu.” Elena berpamitan kepada kedua orangtua Dejun dan ia segera pergi dari situ.

Di pintu Elena berpapasan dengan Alfi. Sekilas Alfi dapat melihat genangan air mata di pelupuk Elena, yang perempuan itu coba sembunyikan dengan rambut panjangnya.