Make Up

Selesai makan malam di apartemen Dejun, Elena kembali ke unitnya.

Saat ini ia duduk di single sofa di kamarnya, menikmati pemandangan malam Singapura dari jendela apartemennya seraya menyeruput kopi hangat yang ia seduh sebelumnya. Malam itu hujan cukup deras mengguyur Singapura, membuat suasana terasa lebih dingin dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Tubuhnya letih, tetapi tidak dengan pikirannya. Otak Elena masih berusaha mencerna percakapan ia dan Dejun sebelumnya. Hatinya masih terus berusaha untuk menyangkal, walaupun rasanya semakin sulit dan tidak mungkin.

Setelah hati dan pikirannya mencapai kesepakatan yang sama Elena meraih ponselnya. Ia mencoba menghubungi Dejun tapi hasilnya nihil. Karena sudah beberapa kali ditelfon dan masih tidak ada jawaban juga, Elena memutuskan untuk kembali ke unit yang dihuni Dejun.

Dejun masih asyik berkutat dengan peralatan mini studionya ketika ia mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia melirik jam dindingnya, bertanya dengan dirinya sendiri siapa yang datang semalam ini ke apartemennya.

“Elena?” ucap Dejun begitu ia melihat ternyata Elena yang datang malam itu.

Perempuan itu segera memeluk Dejun, “Jun, I'm sorry...”

“Hah? Len? Kamu kenapa?” tanya Dejun sambil mengelus-elus puncak kepala Elena.

“Jun, aku masih sayang sama kamu...” jawab Elena sambil terisak. Dejun kemudian melepaskan pelukan Elena agar ia bisa melihat wajah perempuan itu.

“Terus kenapa nangis?” tanya Dejun lembut sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Elena. Elena hanya menggeleng.

“Nggak tau. Aku merasa bersalah sama kamu tapi aku juga kangen banget sama kamu. Aku akuin, aku masih sayang banget sama kamu.”

Dejun tersenyum mendengar jawaban Elena lalu ia menarik perempuan itu masuk kedalam pelukannya, “Kamu nggak perlu merasa bersalah. It's okay kalau kemarin kamu marah sama aku, karena aku juga nggak bisa perjuangin kamu.”

“Tapi aku sekarang disini, mau buktiin sama kamu kalau aku emang sedang perjuangan kamu. Aku bener-bener serius sama kamu.” balas Dejun.

Air mata Elena kembali mengalir, tapi Elena tau itu adalah air mata haru, “Makasih, Dejun. I'm so lucky for having you in my life.”

“So do I, sayang.” balas Dejun dengan suara lembut khasnya.

“Tidur gih, besok ngantor kan?” tanya Dejun setelah ia melepas pelukannya. Elena mengangguk, “Aku balik ke apart ku ya.”

Gantian Dejun mengangguk, “Good night, sweetheart.” ucap Dejun lalu ia mengecup lembut kening Elena dan membiarkan perempuan itu kembali ke unitnya.