Papa
Dejun tiba di gedung kantor perusahaan ayahnya yang terletak di kawasan Sudirman. Saat ia berjalan untuk menemui ayahnya di ruang kantornya, hampir seluruh orang yang berpapasan dengannya menatap Dejun. Tidak ada satupun di gedung kantor itu yang tidak mengenal Dejun.
“Selamat siang... mas Dejun?!” Alfi, sekretaris pribadi ayah Dejun terlihat tidak percaya melihat Dejun berdiri di depan mejanya.
“Papa saya ada? Saya mau ketemu.”
Alfi mengangguk cepat. Ia menekan tombol telepon dan langsung tersambung dengan papa Dejun, “Pak, ada mas Dejun mau ketemu bapak.”
“Mas, masuk aja.” ucap Alfi begitu ia mendapat persetujuan dari bosnya. Dejun mengangguk lalu ia membuka pintu ruang kerja ayahnya.
Bukan sebuah sapaan yang diterima Dejun melainkan tamparan keras dari sang ayah, “Anak kurang ajar!” ujar ayah Dejun emosi.
Dejun menghela nafas, berusaha untuk tidak terbawa oleh emosi ayahnya.
“Kamu memang benar-benar mau menghancurkan papa ya, Dejun. Kamu pikir perjodohan kamu itu cuma antara kamu dan Almira aja? Bukan! Perjodohan kamu itu punya impact besar untuk perusahaan keluarga kita!”
“Kalau kamu menikah dengan Almira, papa bisa jamin sampai kamu punya anak cucu, hidup kamu akan sejahtera. Kamu nggak akan kekurangan uang karena dua perusahaan besar bersatu!” papa Dejun mengeluarkan segala uneg-unegnya kepada Dejun
“Tapi Dejun nggak sayang sama Almira, Pa!” balas Dejun tidak mau kalah.
“Kamu ngerti apa masalah cinta-cintaan? Buat apa menikah dengan cinta kalau hidup kamu sengsara?!”
Dejun mendengus, “Papa memang nggak pernah anggap aku sebagai anak. Papa cuma anggap aku sebagai mesin pencari uang untuk papa sendiri.”
“Maaf Pa, tapi Dejun nggak mau hidup kayak Papa. Dejun hidup bukan untuk uang. Kalau Papa masih ngotot sama pernikahan ini, mulai detik ini juga silahkan anggap Dejun sebagai orang asing, bukan anak Papa lagi. Karena Dejun nggak akan pernah menikah sama Almira sampai Dejun mati.”
Dejun menutup kalimatnya dan ia pergi keluar meninggalkan sang ayah sendiri di ruang kerjanya.