Late?
Sekitar pukul 2 siang Dejun tiba di Changi Airport. Setelah berurusan dengan bagian imigrasi yang untungnya tidak memakan waktu lama, ia segera bergegas pergi menuju apartemen Elena dengan taksi.
Tiba di apartment Elena, bukannya bertemu dengan perempuan itu tapi Dejun mendapat penolakan dari staff resepsionis.
“I'm sorry, sir. Miss Elena isn't on her place for now and we can't reach her now so we can't give you access to her apartment. If you want, you can wait her on lobby.”
Dejun mengacak-acak rambutnya frustasi mendengar penjelasan dari staff resepsionis. Singapura terlalu luas bagi Dejun yang memiliki waktu sedikit untuk memperjuangkan hubungannya dengan Elena.
“Fi, Elena ngga ada di apartnya.” ucap Dejun begitu ia terhubung dengan Alfi.
“Coba kantor, mas. Mungkin aja lagi aja project.”
“Ohiya, bener juga. Thanks, Fi. Saya coba kesana.”
Setelah mendapat pencerahan dari Alfi, tanpa berlama lagi ia kembali pergi dengan taksi menuju Creativans.
***
“Kak Elena, kok nggak bales chat aku sih?” protes Yangyang begitu ia melihat Elena yang terlihat sibuk menggambar di iPad. Karena Elena tidak menjawab, Yangyang berjalan mendekati meja Elena.
Dari kejauhan Elena terlihat seperti baik-baik saja, tapi tidak saat Yangyang mendekat. Elena berhenti menggambar dan walaupun dalam keadaan menunduk, Yangyang dapat melihat air mata Elena jatuh membasahi iPadnya.
“Kak? Are you okay?” tanya Yangyang bingung. Elena menjawab pertanyaan Yangyang dengan tangisnya yang semakin terdengar jelas.
“I can't forget him, Ryu. Aku terlalu sayang sama dia.” ucap Elena sesenggukan, berusaha untuk menghentikan tangisnya namun ia tidak bisa. Yangyang memutar sedikit kursi kantor beroda yang diduduki Elena, lalu ia berlutut satu kaki di depan perempuan itu agar bisa melihat wajah Elena lebih jelas.
“Ryu, aku harus lupain dia, tapi gimana caranya?” sambung Elena. Yangyang tidak menjawab apa-apa. Ia hanya merapihkan rambut Elena yang menutupi wajahnya.
“Kak, hari ini aku izinin kakak nangis sepuasnya. Besok kita pikirin caranya ngelupain mantan kakak. Sini, nangis disini.” balas Yangyang sambil menepuk pundak kanannya.
Tidak menjawab apa-apa lagi, Elena langsung membenamkan dirinya dalam pelukan Yangyang.