Deep Talk

“Hai, ma.” sapa Dejun saat mamanya membukakan pintu untuknya.

“Hai, sayang.” balas mama Dejun. Dejun segera memeluk mamanya dalam waktu yang cukup lama, “Maaf, ma.” ucapnya lirih.

Mama Dejun mengelus-elus punggung putranya lembut, “It’s okay, Jun.” lalu mama Dejun melepaskan pelukan putranya itu, “Kamu pasti capek kan? Laper nggak? Mama bikinin nasi goreng ya?”

Dejun tersenyum. Ia tahu mamanya berusaha untuk mengalihkan pikirannya sesaat dari papanya. Ia mengangguk, “Iya, aku kangen nasi goreng buatan mama.”

“Oke, yuk masuk. Mama masakkin sebentar. Kamu beberes dulu gih.” ucap mama Dejun sambil mengajak Dejun masuk ke dalam rumah mereka.

——

“Elena gimana, Jun?” tanya mama Dejun saat mereka berdua duduk di meja makan. Dejun sibuk menyantap nasi goreng buatan mamanya sementara mama Dejun sendiri hanya duduk di sebrang Dejun, memperhatikan putranya yang ia rindukan.

“Baik, ma. Ohiya, kita udah balikan. Hehe...” balas Dejun salah tingkah sendiri. Mama Dejun tersenyum lebar melihat Dejun yang terlihat bahagia saat membicarakan Elena.

“Besok telfon dia ya? Mama kepengen ngomong sama Elena.”

Dejun mengangguk, “Oke, ma.”

“Ohiya ma, by the way mama gimana bisa tahu masalah papa? Kenapa nggak cerita sama Dejun?” sambung Dejun.

“Sayang, yang namanya seorang istri itu pasti akan tahu apa yang diperbuat suaminya. Mama nggak pernah cari tahu papa kamu ngapain aja, tapi ya begitu, ada aja yang kasih tau mama.”

“Makanya kamu juga sebagai laki-laki, kamu nggak pernah boleh bohong sama pasangan kamu. Seburuk apapun, sepahit apapun kenyataannya, kamu harus jujur.”

Nasihat mama Dejun panjang lebar menyadarkan Dejun akan kejadiannya dahulu dengan Elena, saat ia tidak jujur akan perjodohannya dengan Almira.

“Iya, ma. Sekarang mama ke papa, gimana? Mama bakal tetep dukung papa?”

Mama Dejun mengangguk, “Mama nggak akan pernah ninggalin papa kamu.”

“Mama terlalu baik buat papa.”

“Hush, nggak boleh ngomong gitu. Kamu boleh marah sama papa, tapi jangan pernah benci dia. Papa memang karakternya keras, ambisinya besar, tapi mama tahu dia begitu karena dia mau lindungin kita berdua, nak.

Dejun termenung. Sekilas, ia teringat akan kenangan masa kecil dirinya dengan papanya. Papanya yang selalu mensupport dirinya. Hanya saja waktu berlalu, dirinya semakin dewasa dan keinginannya semakin bertolak belakang dengan kemauan papanya, membuat hubungan keduanya merenggang.

“Dejun kangen papa yang dulu, ma.”

“Papa nggak pernah berubah, Jun. Karena kamu semakin dewasa, kamu semakin bisa melihat papa kamu seperti apa.”

“Aku mau bantu papa, tapi papa kayaknya udah benci aku.”

“Nak, papa nggak pernah benci kamu. Mama yakin, sebenarnya dia seneng banget pas lihat kamu tadi, cuma ya gitu, papa orangnya keras.”

“Ohiya satu lagi. Kalian itu punya satu kesamaan.”

“Apa, ma?”

“Kalau punya masalah sama-sama seneng dipendem sendiri. Pusing mama.”

Dejun tersenyum lebar, “Maaf ya ma, kalau Dejun juga egois dan nggak mikirin perasaan mama.”

“Nggak perlu minta maaf, nak. Kamu malem ini tidur disini ya?”

Dejun mengangguk antusias menjawab permintaan mamanya.