Sincerity
“Ryu, ini banyak banget lho...” komen Elena saat melihat isi dari dua kantong makanan yang dibawa Yangyang malam itu.
“Aku nggak tau kakak mau makan apa, jadi aku beli aja semuanya.” balas Yangyang setelah ia meneguk air putih botolan yang ia beli sebelumnya.
-
Setelah memutuskan untuk menyantap bakmi Hokkien udang dari antara semua makanan yang dibeli Yangyang, Elena dan Yangyang memilih untuk menyantap makan malam mereka di ruang TV sembari menonton tayangan Netflix.
“Enak nggak? Ini aku baru pertama kali coba beli bakmi deket kantor. Biasanya beli deket kostan.”
Elena mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Yangyang, “Enak kok, Ryu. Nih, cobain aja.”
“Nggak usah, kakak aja. Kalo enak besok bisa beli lagi.” balas Yangyang sambil terkekeh pelan. Sesaat kemudian keduanya terdiam, Elena masih menyantap makan malamnya sementara Yangyang asyik menonton tayangan Netflix sambil makan snack yang ia beli; fish skin salted egg.
“Masih sakit nggak perutnya?” Yangyang kembali membuka topik pembicaraan.
“Masih, tapi nggak separah tadi pagi. Tadi pagi rasanya kayak udah mau mati aja.”
“Hush! Kakak kalo ngomong suka ngaco deh.” protes Yangyang mendengar jawaban ngasal Elena, “Trus seharian ngapain aja? Tadi siang makan apa?”
Elena terdiam sesaat sebelum ia menjawab, “Hmm... Nggak ngapa-ngapain. Cuma balesin beberapa email dari kantor aja. Tadi makan siang dibeliin Dejun.”
“Dia itu mantan kakak, ya?” tanya Yangyang cepat. Nada bicara yang biasanya terdengar seperti bercanda berubah menjadi serius saat menanyakan status Dejun.
“Hah? Oh, iya.” jawab Elena seadanya.
“Ryu.” panggil Elena lagi setelah ia menyelesaikan makannya. Yang dipanggil cuma menoleh ke arah Elena.
“Perkataan kamu waktu itu... kamu serius?” tanya Elena hati-hati.
Yangyang terlihat bingung, “Yang mana ya?”
“Waktu kamu bilang kita pacaran...”
Yangyang membulatkan mulutnya, “Oooh, itu. Kenapa? Kakak udah ada jawabannya?”
Elena menggigit bibir bawahnya lalu ia mengangguk, “I-iya...”
Yangyang menaruh bungkus snack nya di atas meja lalu ia bergeser mendekati Elena yang duduk bersila tidak jauh darinya. Setelah itu, ia menatap Elena lekat-lekat.
Elena memberanikan diri membalas tatapan Yangyang yang duduk dengan jarak kurang dari 1 meter dari dirinya.
“Apa jawaban kakak?”
Elena terdiam. Karena tidak ada jawaban dari perempuan itu, perlahan Yangyang mendekatkan kepalanya dengan Elena hingga jarak antara kedua bibir mereka tersisa 5cm, membuat Elena refleks memejamkan matanya.
... ... ...
Elena perlahan membuka matanya dengan perasaan bingung, dilihatnya Yangyang yang kembali mundur ke posisinya semula dan kembali menyantap snack fish skin nya.
“Ryu?” tanya Elena bingung.
“Kak, aku suka sama kakak. Dari awal kenal kakak di kampus. Tapi aku tahu kok, kakak nggak pernah suka sama aku. Sampai saat inipun di hati kakak cuma ada satu orang aja.”
Jawaban Yangyang membuat Elena mengerutkan dahinya, sementara Yangyang hanya tersenyum melihat reaksi Elena.
“Kakak masih sayang sama Kak Dejun, kan?”
“Ryu, kamu kok-”
“Stop bohongin perasaan kakak sendiri.” potong Yangyang seraya bangkit dari tempat duduknya. Ia membuang bungkus snacknya yang sudah habis di dapur, lalu kembali ke ruang TV sambil meneguk kembali air putih botolannya.
“Gih, mumpung orangnya masih nungguin kakak disini. Jangan sampe kakak nyesel.” sambung Yangyang yang kini bersiap untuk pulang dari apartemen Elena.
“Kamu sendiri, gimana?” tanya Elena yang ikut berdiri dan menyusuli Yangyang yang sudah berjalan ke arah pintu keluar.
“Aku? Ya aku nggak papa. Aku nggak mau egois, kak. Lagipula aku nggak mau pacaran sama orang yang hatinya nggak buat aku.”
Jawaban to the point Yangyang membuat Elena tertegun.
“Udah ya kak, aku balik dulu. See you besok di kantor.” pamit Yangyang kemudian ia membuka pintu apartemen Elena dan pergi dari situ, meninggalkan Elena yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.