goldeneunoia

Decision

Waktu menunjukkan pukul 6 pagi saat Dejun menyelesaikan pekerjaannya di studio. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya lalu ia bangun dari kursinya untuk mengambil air putih.

Selesai minum, Dejun menghampiri Elena yang tertidur pulas di sofa, dengan selimut flanel milik Dejun yang biasa lelaki itu pakai jika harus tidur di studio. Dejun mendekati sofa lalu berjongkok tepat di depan wajah Elena. Ia memandangi wajah mungil perempuan itu untuk waktu yang cukup lama lalu berakhir dengan mengelus pipi Elena.

Elena perlahan membuka matanya, “Dejun...” panggilnya dengan suara nyarist tidak terdengar karena tenggorokan yang tersekat pasca bangun tidur.

“Hai, Len.” balas Dejun pelan lalu ia mengusap-usap kembali pipi Elena dan mencium kening perempuan itu, “Tidur lagi aja, nggak papa.” sambung Dejun.

Elena menggeleng. Ia bangun dari tidurnya lalu meminta Dejun untuk duduk di samping kanannya,” Sini.”

“Kenapa? Maaf nggak bermaksud bangunin kamu.”

Elena menarik pelan lengan Dejun, memaksa lelaki itu untuk merebahkan kepala di atas pangkuannya.

“Sekarang gantian kamu yang tidur. Aku nggak mau kamu sakit.” ucap Elena sambil mengelus-elus puncak kepala Dejun.

Dejun tersenyum, ia mengangguk lalu mencari posisi rebah yang lebih enak dan memejamkan matanya.

“Len, what makes you to make up your mind?” tanya Dejun saat ia mencoba untuk tidur di pangkuan Elena.

“Actually, Pat.” jawab Elena singkat, tangannya sesekali mengelus dan memainkan rambut Dejun.

“Pat?”

“Iya. Dia ceramahin aku.”

“Ah... Jadi bukan karena kamu sendiri?” terdengar nada kecewa dari pertanyaan yang dilontarkan Dejun.

“Are you upset?”

Dejun mengangguk, membuat Elena refleks tersenyum, “Pat itu cuma kasih pencerahan ke aku. But all decision is on me. I decided to fight for you cause I do really love you, Dejun.”

“Semakin aku deny kalau aku bisa baik-baik aja tanpa kamu, semakin aku sadar kalau aku udah bener-bener sayang sama kamu. Sebelum aku terlambat dan menyesal.”

Dejun tersenyum jahil mendengar pengakuan Elena. Elena yang menyadari akan hal itu mendorong pelan Dejun dari pangkuannya, membuat lelaki itu hampir terguling jatuh kalau saja ia tidak buru-buru pegangan.

“Ih, aku serius malah senyam-senyum begitu. Kesel ah.” ambek Elena lalu ia melipat kedua tangannya di dada.

Dejun bangkit berdiri sambil tertawa pelan, “Makasih ya, sayang. I do really love you too.”

“Terserah.” balas Elena lalu ia membuang pandangannya ke arah lain.

“Len.” panggil Dejun pelan. Elena menoleh,mendapati wajah Dejun yang tepat berada di depannya dengan jarak sangat dekat. Untuk sesaat keduanya saling terdiam sebelum akhirnya Dejun meraih dagu Elena dan mencium bibir perempuan itu lembut.

“Jangan bete lagi. Cari sarapan yuk?”

Incipiency

Tidak perlu waktu lama untuk Dejun tiba di studionya. Setelah memarkirkan mobilnya, ia turun dan bertemu Mang Ecep yang sudah menungguinya.

“Elena dateng naik apa, Mang? tanya Dejun sambil mengunci mobilnya.

“Taksi, Mas. Maaf kalau saya ganggu Mas, soalnya Mbak Elena bilang mau ketemu sama Mas Dejun.” jawab Mang Ecep polos.”

“Iya, nggak papa, Mang. Saya juga perlu bicara sama dia.” balas Dejun lalu ia segera memasuki studionya sementara Mang Ecep kembali ke pos kecil di depan studio Dejun.

“Len?” panggil Dejun saat melihat Elena yang duduk di sofa, sedang menunggu dirinya datang.

Mendengar Dejun memanggil dirinya, Elena bangun dari sofa dan menghampiri Dejun, “Jun, sorry aku dateng malem-malem gini.”

Dejun refleks memeluk Elena begitu perempuan itu mendekat, “Len, please dengerin penjelasan aku dulu. Mau ya?” tanya Dejun lalu ia melepaskan pelukannya agar dapat melihat wajah Elena.

Elena hanya mengangguk pelan. Lalu Dejun pun menuntun Elena untuk kembali ke sofa dan keduanya duduk berdampingan.

“Len, maaf ya aku nggak jujur sama kamu. Sorry aku udah ngerusak kepercayaan kamu.”

Dejun berhenti sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Awalnya, aku pikir aku bisa selesaiin perjodohan ini secepatnya. Tapi aku salah. Aku nggak nyangka akan jadi kayak gini. Maaf, Len.”

“Tapi, jujur aku nggak ada maksud untuk bohongin kamu karena pada dasarnya aku cuma sayang sama kamu, Len.”

Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Dejun hanya menunduk, sementara Elena terus memandangi Dejun.

“Dejun, aku juga sayang sama kamu. Sayang banget sampe rasanya sakit saat denger kabar tadi siang. Dan sekarang pikiran aku kalut.”

Dejun menoleh mendengar Elena angkat bicara.

“Aku nggak tau aku harus ikutin isi kepala aku atau hati aku. Hati aku egois, dia kepengen tetep sama kamu, tapi otak aku ngelarang. Kamu bakal nikah sama orang lain dan-”

“Aku nggak akan pernah nikah sama dia, Len! Nggak akan!” Dejun memotong kalimat Elena.

“Tapi orang tua kamu?”

“Len, bisa percaya sama aku lagi? Sekali lagi kasih aku kesempatan. Let's fight this together. Kamu mau kan?”

Elena tidak langsung menjawab. Dilihatnya mata Dejun yang menatapnya sendu lalu ia mengelus pelan pipi Dejun untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Dejun.

“I love you, Dejun.” ucap Elena lembut lalu ia kembali mencium bibir Dejun. Dejun merangkul leher Elena, membalas ciuman perempuan itu dengan dalam dan intens.